gayatrinedia.co.id

Pada masa berakhirnya belajar kepada Imam Maliki selama kurang lebih 20 tahun sampai pada akhirnya Imam Maliki menghembuskan napas terkhirnya. Masa-masa terindah baginya belajar bersama gurunya Imam Maliki. 

Imam Syafi’i melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke Yaman.

Yah, perjalanan yang cukup jauh.

Dalam perjalanan itu, ia memutuskam untuk mempelajari ilmu kepemimpinan.

Bayangkan dari seorang ahli ilmu pindah ke ahli kepemimpin. Pada suatu ketika

Imam Syafi’i mendapat fitnah di Yaman. Fitnah dari seorang pemimpin yang terkenal mudah mendengarkan ungkapan masyarakat, baik isu ataupun yang lainnya mudah sekali diterima pemimpin itu.

Imam Syafi’i dituduh bergabung ke dalam kelompok, 9 orang termasuk dirinya. Sebagai pemberontak di masa itu. Sembilan orang itu yang mengaku turunan nasab Nabi Muhammad SAW.

Ketika Imam Syafi’i ditangkap. Ia memberi salam kepada pemimpin itu, “Assalamua’laikum wahai pemimpin yang bijaksana.”

Lalu pemimpim itu menjawab: “Wa’alaikum salam”

Setelah itu pengawal langsung membawa Imam Syafi’i untuk dijatuhkan hukuman pancung kepadanya.

Pemimpin Yaman dibawah pimpinan Baghdad saat itu ialah Harun Arrasyid yang tentunya bijaksana dan baik hati.

Lalu Imam Syafi’i mengatakan: “Engaku menjawab salamku, berarti Allah telah memberi rahmat kepada engkau dan aku, tetapi mengapa engkau menangkapku saat engkau berada dalam keadaan marah?”

Imam Syafi’i kemudian dikawal bersama kelompok 9 orang lainnya untuk dijatuhi hukuman pancung.

Sebelum itu terjadi Harun Arrasyid sebagai pemimpin di Bagdhdag memerintahkan murid Abu Hanifah yaitu Muhammad Bin Hasan As-syaibani. Lalu ia menguji 9 orang itu termasuk Imam Syafi’i.

Muhammad Bin Hasan As-syaibani kemudian melihat Imam Syafi’i ini adalah sebagai ahli ilmu, wajahnya yang bercahaya itu. Kemudian, Muhammad Bin Hasan As-syaibani membawa Imam Syafi’i untuk belajar dengannya.

Itulah akhir dari penempuhan perjalanan ahli ilmu ke ahli kepemimpinan Imam Syafi’i.

Bayangkan bila saat itu Imam Syafi’i mati terbunuh. Entah bagaimana jadinya.

*Allahumma Sholi Ala Syaidina Muhammad wa ala alihi Syaidina Muhammad*

Sumber, Budi Ashari (Ahli Sejarah Islam)

Tasikmalaya, 2018.

========================

Abdul Jalal (penyair, tinggal di Cipasung, Tasikmalaya)







gayatrimedia.co.id

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *