1

Surabaya adalah kota penuh luka dimana banyak hidup rakyat jelata, miskin tak punya harta, anak kecil dipaksa jualan di kaki lima, seakan pendidikan tidak ada di kota. Anak anak miskin tidak diperbolehkan sekolah karena biaya, mereka terpaksa menelan pil pahit itu bersama teman lainnya.

Kota yang penuh dengan luka itulah dimana kenangan manis itu muncul, ketika dia berhasil mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang ia impikan, sebuah cinta yang luar biasa, cerita manis yang terngiang di kepala, luka yang menyakitinya dan cita cita yang harus dia raih secepatnya.

Lucky adalah seorang laki-laki dengan mimpi yang setinggi langit, dia tidak pernah menyerah dengan keadaan yang menghimpitnya dalam jurang kemiskinan. Sedari  kecil ia tidak pernah merasakan nikmatnya makanan, baju, rumah yang mewah, dia hanya tersenyum ketika teman-temannya memamerkan mainan atau baju baru kepadanya, ia ingat bahwa ketika ia mengingkan barang-barang yang mahal kepada ibunya justru dia akan menambah beban orangtuanya.

Laki-laki tampan itu tidak pernah mendapat nilai jelek di sekolahnya, dari saat dia duduk di bangku Sekolah dasar sampai kuliah dia selalu mendapatkan peringkat pertama. Lucky tidak pernah mengeluh ataupun malu dilahirkan di tengah keluarga yang miskin. Yang dia tau adalah bagaimana cara dia meraih tebing jurang tersebut untuk keluar dari kemiskinan, dia tidak pernah berhenti belajar setiap harinya, meskipun pekerjaan selalu menumpuk, dia belajar di sela-sela pekerjaan yang mulai menipis. Semangat belajarnya tinggi, karena dia tau betapa mahalnya pendidikan di Surabaya.

Karena alasan itulah majikan orang tuanya membantunya untuk bisa masuk ke fakultas hukum dengan biaya yang lebih ringan. Tetapi bantuan itu tidak cuma-cuma, Lucky harus mengerjakan pekerjaan rumah membantu orang tuanya dari mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membersihkan halaman dan taman, mencuci mobil, sampai akhirnya dia menyelesaikan tugas kuliahnya dengan baik.

“Tidak perlu kau paksakan seperti itu nak, biar ibu dengan ayah yang mengerjakan pekerjaanmu, yang jelas kamu datang kemari dengan tujuan belajar dan merengkuh cita-citamu nak..” ucap ibunya seraya mengelus pundak Lucky yang  dipenuhi debu.

“Itu tidak mungkin ibu, di sini aku ingin meringkankan pekerjaan ayah dengan ibu, tidak pernah terbesit kata sedikitpun keluhan atas baktiku padamu ibu, pendidikan memang nomor satu ibu, tetapi kapan lagi aku harus berbakti padamu kalau tidak sekarang ibu ?” Lucky menunduk menatap surganya yang mulai menua.

“Tapi, jangan sampai kamu lupakan kuliahmu nak, bagi ibu kuliahmu itu yang paling penting. Dan satu hal lagi Lucky, belajarlah dengan tekun jadilah keberuntungan dan kebanggaan ayah dan ibu,” balasnya seraya melangkah meninggalkan Lucky.

Dia tidak pernah mengeluh meskipun pekerjaan seringkali menumpuk dan dia harus menyelesaikan sampai tugasnya terbengkalai. Dia harus lembur untuk menyelesaikan tugas hingga dia tidak sadar kalau berlembar lembar kertas dan belasan buku adalah bantalnya setiap malam. Hingga ia menyadari bahwa adzan subuh telah berkumandang jelas di telinganya. Berdoa, bersyukur kepada Tuhan, terkadang dia mengeluh kepada Tuhan tentang betapa beratnya hidup dalam kemiskinan yang penuh dengan cercaan dan hinaan.

“Suatu kali Tuhan, aku bersama dengan kesendirianku menatap semua benda ciptaanmu, mereka tertawa bahagia tanpa beban sedikitpun dipundaknya, ya Tuhan, aku melihat rumput bergoyang mengikuti alur hembusan anginmu, melihat langit yang membiru malu, dan hewan hewan memikul makanannya dengan bahagia. Bukannya aku tidak bersyukur kau jadikan manusia, tetapi disini aku lebih rendah daripada anjing jalanan yang setiap kali diusir dan ditendang, kenapa aku harus serendah itu dengan label miskinku, tapi aku yakin Tuhan dibalik ini engkau telah menuliskan sedikit kebahagiaan untuk keluargaku ini. Aku sangat bersyukur dilahirkan sebagai pria miskin rendahan, tidak sebagai pria kaya yang rela menjual harga dirinya untuk uang dan harta..” ucapnya mengeluh ketika doa shalat subuhnya.

Pagi mulai menampakkan keindahannya, tidak ada yang lebih panas daripada Surabaya meskipun jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi namun hawa panasnya sudah terasa sejak berakhirnya subuh, Lucky membersihkan taman bersama ayahnya yang tengah mencabuti rumput liar yang tumbuh tidak pada tempatnya. Tangan halusnya terpaksa dia gesekkan dengan gagang sapu yang mencoba untuk merusak kelembutannya, namun ia tidak peduli dengan bagian tubuhnya, dia hanya tau bagaimana pekerjaan ini cepat selesai dan dia bisa kuliah dengan tenang.

Jarang sekali ada hujan di Surabaya, langit selalu tersenyum riang, matahari masih gencarnya memanasi seluruh kota, tetapi angin jarang menyapa, hanya datang sesekali menyejukkan sekilas lalu menghilang entah kemana. Setelah menyelesaikan pekerjaannya dia bergegas untuk menyiapkan keperluan kuliahnya dengan terburu-buru. Untung saja majikannya dengan senang hati mau meminjamkan motor untuknya pulang dan pergi kuliah.

Setelah mengenakan kemeja hitam yang hampir hilang coraknya dia langsung bergegas berangkat ke kampusnya, dia menghabiskan waktu sampai dua puluh menit untuk sampai di kampusnya, belum lagi kalau jalanan sedang ramai di jam jam kerja seperti ini. Tidak diragukan lagi dia cukup aktif dan berprestasi di dalam kelasnya, orangnya supel, mudah bergaul dengan siapapun, tidak pernah memilih teman, dia selalu tersenyum kepada siapa saja meskipun tidak jarang senyumnya terbalas dengan raut wajah benci.

Jalanan kota Surabaya cukup lenggang hari ini, Lucky bisa mengendarai motornya agak kencang untuk cepat sampai di kampusnya. Karena jam kuliahnya yang cukup padat hari ini, belum lagi tugas menggunung dan juga dia mempunyai tanggungan presentasi pada jam pertama. Jadi hari ini dia harus menambah beban dalam tas usangnya.

Tas gendong yang menempel di punggungnya itulah yang ia kenakan setiap hari sejak duduk di bangku kelas dua belas SMA sudah cukup tua untuk menampung buku buku yang berat, sampai akhirnya tas tersebut menyerah dan robek bagian atasnya. Lucky hanya perlu menjahitnya agar tas tersebut bisa dikembalikan ke bentuk semula meskipun tidak sempurna. Dia hanya berharap agar tas itu tidak robek di kampus, karena itu akan membuatnya kerepotan memunguti buku yang berjatuhan.

Setelah sampai di kampus wajah yang mirip dengan wajah orang China itu mulai menunjukkan keceriaannya,  kulitnya putih bersih tanpa ada cacat maupun bentol sedikitpun, memiliki lesung pipi yang dalam, matanya lebar membelalak, hidungnya mancung, rambutnya dipangkas dengan rapi tanpa pomade, sehingga angin bisa membelai rambutnya sampai berantakan, tampilannya agak lusuh yang sekiranya menutupi ketampanannya.

Setelah memakirkan motornya di bawah lindungan langit yang cerah membiru dan awan menggumpal menjadi gugusan awan yang indah, bersama dengan teriknya matahari siang ini. Lucky berlari seraya sesekali menatap jam tangan usang berwarna hitam yang selalu dikenakan di tangan kirinya. Tangan kanannya menggendong beberapa buku tebal, dia peluk buku itu di atas dadanya untuk meminimalisir  kerobekan tas usangnya. Kemejanya belum sempat ia setrika, bukan belum melainkan tidak pernah sempat, tetapi dia tidak pernah lupa mencuci pakaian yang hampir kehilangan warnanya itu.

Ketika langkah kakinya hampir sampai di depan lift tanpa sengaja dia telah menubruk seorang perempuan yang berjalanan dari lawan arah dia berjalan. Semua kertas dan bukunya berjatuhan di lantai. Gadis itu merasa bersalah karena ia juga sedang asik bermain handphone begitu juga dengan Lucky yang terlalu sering menunduk menatap jam tangannya. Sehingga mereka berdua mengambil lembar demi lembar kertas yang berserakan.

“Aku tidak tau bagaimana cara matamu menatap jalan barusan, yang jelas mungkin aku juga yang salah karena terlalu fokus dengan handphoneku ?” ucap gadis itu seraya menunduk memungut beberapa kertas.

“Ya, saya mohon maaf karena membuatmu repot memunguti kertas saya, karena saya juga terlalu sering menunduk, saya sudah terlambat masuk ke kelas,” balasnya seraya melirik gadis yang masih sibuk menunduk itu.

“Bahasamu terlalu formal untuk sekedar meminta maaf denganku, memangnya kamu dari fakultas apa, by the way namaku Stella, kamu siapa ?” Stella menyerahkan lembaran kertas dan mengulurkan tangannya.

“Namaku Lucky, fakultas Hukum, oh iya Stella mungkin cukup untuk perkenalan saat ini,” jawabnya setelah melepaskan jabatan tangannya dan berlari meninggalkan Stella yang masih berdiri mematung menatapnya.

Setelah pertemuannya dengan gadis berparas cantik dari golongan kasta tinggi, kini pikirannya mulai terganggu dengan bayangan gadis cantik yang dia lihat dengan jarak yang snagat dekat, sampai dia hampir bisa merengkuhnya. Mungkin dia tidak dihukum karena keterlambatannya masuk kelas, tapi untuk bengong di dalam kelas dosen  mata kuliah memanggilnya untuk berdiri di depan kelas sampai presentasi dan kelas berakhir.

Hari berjalan dengan cepat, kebutuhan semakin membengkak, belum lagi tugas yang semakin menumpuk. Dia harus bekerja keras demi kuliahnya, dia tidak boleh putus di tengah jalan, karena itu akan mengecewakan orangtuanya yang telah membanting tulang untuk membantu pendidikannya. Untuk menghemat bugdet, ketika teman-temannya membeli buku dengan harga yang mahal, dia memilih untuk meminjam di perpustakaan kampusnya.

“Hari yang sangat cerah untuk disia-siakan di dalam perpustakaan, Lucky..” ucap Stella di balik buku yang tengah menutupi wajah ayunya.

“Kamukah itu Stella ? lantas apa yang membuatmu datang untuk menghabiskan waktu di sini ?”  ujar Lucky tanpa melirik gadis yang berada di depannya itu.

“Tidak, aku hanya ingin tidur disini, mata kuliah hari ini terlalu membosankan, mungkin dosen disini tidak akan berani macam-macam dengan anak rektor.!” balasnya dengan santai.

Lucky masih sibuk dengan beberapa buku telah menunggu untuk ditelanjangi covernya, ia hanya tersenyum melihat tingkah Stella yang beberapa kali menguap, “kamu suka buku-buku Pram Stella ?, aku berpikir bahwa perempuan hanya mengedepankan penampilannya daripada otaknya.” Sembur Lucky.

“Kali ini kamu salah Lucky, Stella bukan perempuan yang hanya dipandang sebagai objek yang terjajah dengan kosmetik dan gadget, apa kamu pernah mendengar cerita tentang Nyai Ontosoroh seorang Nyai yang telah diperbudak oleh seorang Eropa penguasa pribumi yang menguasai nusantara kala itu, aku yakin kamu belum pernah mendengar cerita itu.!” Stella membalasnya dengan sinis.

“Itu adalah gambaran darimu Stella, perempuan hebat yang memperjuangkan kemerdekaannya sebagai seorang Nyai, ketika orang Pribumi memandang nyai Ontosoroh sebagai wanita yang rendahan dan hanya mementingkan kekayaan, kamu sama sepertinya ketika banyak orang mengganggapmu sebagai gadis yang hanya mementingkan penampilan, tetapi orang-orang tidak menyangka bahwa kamu masih memuja buku-buku. Kamu sehebat Nyai Ontosoroh yang belajar tentang budaya, membaca teks belanda, mengendalikan sebuah pabrik sampai pabrik itu besar, dan kamu secantik Annelies.” Lucky tersenyum manis kepadanya sekilas.

Stella agak terheran dengan apa yang baru saja dia dengar, “kamu juga secerdas Minke Lucky, dan aku mulai tertarik kepadamu sekarang..” dia menopang dagu menatap Lucky dengan puas.

“Tapi aku menyadari bahwa tidak layak seorang jongos bermimpi memiliki seorang peri yang hidup diantara kehidupan kapitalis sepertimu Stella, tidak, bukannya aku membenci kaum kapitalis Stella tapi sejak jaman dahulu sampai sekarang, jarak antara orang kaya dan miskin itu memiliki jarak yang jauh, orang kaya cenderung lebih merendahkan harga diri orang miskin dengan membeli harga diri tersebut.” Lucky bersikeras untuk tidak menatap gadis itu.

Stella mengerutkan keningnya, berfikir sejenak untuk mencerna apa yang Lucky lontarkan dengan santai di tengah tengah pembicaraanya yang mulai serius siang ini. Jarang sekali dia menemukan seseorang yang pemikirannya seperti dia. Ketika dewasa ini laki-laki yang hanya memandangnya sebagai pemuas matanya dan mengeluarkan kata menjijikan yang sering disebutnya gombalan, justru Lucky menatapnya sebagai buku yang dia ingin kuak lebih dalam.

Gadis itu masih mengamati rambut yang berterbangan diterpa kipas angin yang menempel di dinding perpustakaan dan sekaligus menunggu jawaban Stella atas pernyataan yang telah dilontarkan, dari raut wajah Lucky pun Stella menyadari bahwa begitu puasnya dia telah berhasil membungkamnya dengan belasan pertanyaan dalam otaknya.

“Tapi mungkin Lucky, aku memahami betapa banyaknya buku yang kamu baca dan kamu tanamkan di otakmu. Jujur aku mengagumimu, ternyata mahasiswa hukum tidak selamanya mengulas tentang hukum pidana, perdata dan sebagainya. Tetapi kamu juga mencintai sastra, Lucky, masalah kasta dan orang kaya aku tidak siap memberikan jawaban Lucky.” Stella mengamati bukunya kembali.

Lucky tersenyum puas ketika mendengar jawaban Stella, ia tidak pernah sekalipun mendapatkan pengalaman diskusi yang semenarik ini di dalam diskusi ketika ia berada di dalam kelas, rasanya agak menyiksa ketika harus bertukar pendapat dengan orang-orang yang ‘menuhankan IPK’ yaitu para mahasiswa yang mau berbicara tanpa dasar dan hanya untuk mencari nilai.

Namun setelah pertemuannya dengan gadis itu, dia merasa bahwa Stella adalah satu diantara seribu gadis kaya lainnya. Namun ada satu masalah dimana kasta memang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kaum kelas atas. Ya, anggapan bahwa seseorang yang mempunyai hubungan dengan orang yang tidak punya apa-apa itu adalah sebuah aib, sedangkan Tuhan tidak pernah membedakan kasta, harta, dan nama.

“Tetapi Lucky, sebenarnya aku serasa akan terbang ketika kamu memujiku seperti itu, tetapi mungkin aku tidak bisa menandingi kecantikan Annelies Lucky, tetapi tak apa lah, tetapi kamu harus menebus kesalahanmu karena kemarin telah menabrakku,” Stella membenarkan kaca matanya.

“Bukannya kemarin aku sudah meminta maaf Stella, kenapa kamu menungkitnya kembali, sudahlah Stella kita anggap ini hal yang wajar.” Balasnya dengan acuh tak acuh.

“Hahaha, sejauh ini tidak ada yang mau berurusan dengan Rektor Lucky kecuali mereka yang berkepentingan..” tegurnya agak sinis.

“Lantas kamu sekarang mengancamku Stella ?” raut wajah Lucky mulai serius.

“Yaa, kecuali kamu mau menemaniku pergi ke Gramedia untuk membeli buku di sana.!” Stella tersenyum.

“Kamu memang terlalu mirip dengan Annelies, sifat manja dan kekanakanmu itu Stella.” Ucap Lucky menyerah.

“Hahahahaha, dan kamu sepatuh Minke, apa kamu mau kupanggil dengan nama Minke Lucky..?”

“Mungkin masih belum pantas, nama Lucky adalah doa ibundaku agar aku selalu beruntung dimanapun aku berada,” tolak Lucky kemudian.

Mereka saling terdiam menikmati buku yang tengah ditelanjanginya, banyak diantara mahasiswa membicarakan tentang keakraban Lucky dengan Stella, karena tidak pernah ada mahasiswa biasa yang berani berteman dengannya, menyapapun mereka tidak berani. Dia cukup dihormati untuk sekelas mahasiswa, dan dijauhi.

Hal itu juga menyiksa Stella, dia tidak dipandang sebagai mahasiswa biasa mereka hanya takut ketika harus berurusan dengan Rektor karena salah bertanya atau salah sikap dengannya, bahkan tidak terlintas dibenaknya dia ingin berlindung di bawah ketiak ayahnya, yang dia inginkan adalah mempunyai teman yang bisa diajaknya berbicara dengan hobi dan keinginan yang ingin ia lakukan hari ini.

“Mungkin cukup menyiksa Lucky ketika aku dianggap berlindung di bawah ketiak papa, aku bukan tipe orang yang suka mengadu, papaku terlalu sibuk untuk mendengarkan celoteh tidak pentingku, bahkan kami jarang berbicara mungkin ketika makan malam, setelah itu kami tertidur di dunia masing masing, tak jarang ketika tengah malam papa masih terjaga untuk menyelesaikan pekerjaanya, tapi aku mana berani mengganggu papaku di tengah tengah pekerjaannya.” Stella menghela nafas panjang.

“Kamu beruntung Stella, kamu terlahir dengan keluarga yang cukup bahkan lebih dari cukup Stella, apa kamu pernah merasakan bagaimana rasanya seorang pembantu mencari uang dengan caci maki majikannya ?” Lucky langsung menanggapi.

“Itu sudah resiko mereka Lucky, kamu tidak perlu menanyakan rasanya bagaimana kepadaku, aku tidak tertarik dengan hal itu, yang harus kamu rasakan adalah betapa indahnya dunia ini, meskipun dunia ini juga Fana…” balas Stella seraya mengamati buku yang tengah dipegangnya.

“Kau tidak selalu benar Stella, kau tidak pernah tertarik karena kamu tidak mungkin bisa merasakan betapa sakitnya, ibuku kamu tau, setiap kali dia berbuat kesalahan, apa yang majikannya katakan ? dasar tidak becus, dan cercaan lainnya, kamu tau rasanya Stella ? ketika aku menyaksikan langsung seorang yang sama jongosnya menghina ibuku dan aku hanya…. ” Lucky menghentikan perkataanya.

“Maafkan aku Lucky, aku memang terlahir cukup dengan materi tapi tidak dengan kasih sayang, bundaku sudah meninggal lama, papaku terlalu sibuk dengan pekerjaannya, aku hanya diurus oleh pembantuku, mungkin materi adalah cara papa memberiku kasih sayang.” Balasnya seraya memberikan tatapan teduh yang berair.

“Jangan kau menangis di sini Stella, apa kamu tidak malu dengan tatapan mereka semua, aiiisshh kau ini Stella, jangan manja seperti ini.” Lucky mengusap air mata yang mengalir pelan di pipi Stella seraya menoleh ke segala arah untuk menghindari perhatian orang lain.

Stella menghapus air mata di pipinya, namun matanya masih kemerahan dan ingus di hidungnya masih saja mengalir. Lucky mulai tersenyum pelan menatap Stella yang membersihkan wajah karena make up.nya berantakan. Dari mulai mascara yang meleleh di sekitar mata, lipstik yang hampir samar warnanya, eyeliner yang berpindah tempat di sekitar alis.

“Kau ini Stella, kenapa tak kamu pakai Mascara yang waterproof saja, sampai kamu belepotan seperti ini, sampai cantikmu hilang, tapi kenapa sih cewek harus dandan setebal itu ?”  tanya Lucky dengan nada sebal.

“Kau sampai tau jenis mascara Lucky, dan kau sampai sedetail itu mengamati bedakku?” Stella agak menaikkan nada bicaranya.

Lucky hanya tersenyum singkat dan menunduk kembali mencari materi yang tengah di carinya. Sedangkan Stella tengah membenahi make up.nya yang berantakan, dengan memupuri celah celah yang luntur di beberapa bagian wajahnya, meskipun itu membutuhkan waktu yang cukup lama.

Perpustakaan mulai senyap, pengunjungnya semakin berkurang, senja mulai datang merayapi langit yang membiru menjadi keunguan. Mereka berdua masih duduk berdua dengan puluhan buku yang mengantarkan mereka menjadi lebih akrab. Terkadang mereka berdua bercanda di sela-sela lelah membaca buku, terkadang saling bertatap muka tak sengaja dan akhirnya tertawa.

Ketika hatinya mulai lelah untuk berjuang atau sekedar hanya beristirahat memanjat tebing kebodohan untuk memandangi bunga yang tengah mekar di ujung tebing, indah, berduri, dan jauh dari pandangan mata. Ia harus berbalik arah untuk mendapatkan bunga itu, tetapi siapa yang akan menjamin kalau itu tidak beracun. Dia hanya perlu memanjat dan memanjat tebing itu namun harus berlawanan arah dengan arah yang sedang dia tuju.

Stella bagaikan bunga mekar di ujung tebing jurang yang sangat curam, terlihat begitu dekat tetapi ketika di pandang lebih jelas lagi dia begitu jauh, indah dan berduri mungkin beracun pula, tidak ada yang menjamin keamanannya ketika ia mampu memiliki gadis ayu itu. Namun tidak menutup kemungkinan kalau dia bersedia ikut bersamanya di kehidupan sederhana yang hanya akan dihidupi dengan kasih sayang dan cinta, bukan harta yang melimpah.

Jam kunjung perpustakaan berakhir mereka berdua berjalan beriringan bersama buku yang dipeluknya, mereka berdua adalah pengunjung terakhir yang keluar dari perpustakaan karena petugas mengusir karena mereka juga membutuhkan istirahat setelah seharian bekerja. Mau tidak mau mereka berdua harus meninggalkan perpustakaan dan melanjutkan di rumah masing-masing.

“Lucky, kamu mau mengajukan beasiswa ? kebetulan pihak kampus membuka pendaftaran beasiswa berprestasi.” Ucap Stella dengan santai.

“Aku tidak yakin Stella, kamu tau kalau seleksi ketat sekali,” Lucky menghela nafas berat.

“Mungkin aku bisa bantu kamu, itupun kalau kamu mau dan aku tidak yakin kamu mau menerima bantuan itu Lucky,” Stella tersenyum puas.

“Ternyata selain cantik kamu juga pandai meramal, tidak Stella, aku ucapkan banyak terimakasih, aku tidak mau seolah-olah aku memanfaatkanmu untuk kepentinganku sendiri, mungkin obrolan kita cukup untuk hari ini, masih ada pekerjaan yang menungguku Stella,” Ucap Lucky berpamitan.

“Dimana ku harus mencarimu kalau aku rindu ?” ucapnya dengan enteng.

“Rindu itu urusanmu Stella, bukan urusan yang harus kuselesaikan seorang diri, tidak aku tidak akan menyelesaikan masalah itu karena mungkin rindu itu bukan pekerjaanku..” balas Lucky seraya berjalan tanpa menoleh sedikitpun.

Stella mendengus sebal mendengar jawaban tak terduga dari Lucky kepadanya, dia juga bingung kenapa ia dengan entengnya mengucapkan kata rindu kepada laki-laki yang baru saja dikenalnya. Biasanya dia tidak pernah mengucapkan hal semacam itu bahkan dengan ayahnya sendiri, dia bukan tipe yang suka mengumbar rasa kepada orang yang disukainya.

Dalam perjalanan Lucky agak menyesal telah melontarkan puisi pedas itu kepada Stella, namun dalam hatinya dia berharap untuk bertemu lagi dengannya, harapan konyol yang dimiliki oleh seorang laki-laki malang yang mulai jatuh cinta. Malam mulai merayapi senja menjadi langit hitam yang dipenuhi oleh bintang-bintang gemerlapan.

Jalanan mulai dipenuhi dengan lalu lalang para pekerja yang pulang dari lelahnya bekerja sepanjang hari, sore itu  juga banyak diantaranya, pedagang kaki lima, pengemis, pengamen mulai berhaburan di pinggiran lampu lalu lintas, ada yang hanya mengadahkan tangan kepada orang yang tengah berhenti, ada yang mengais rezeki dengan memetik gitar ala kadarnya, dan yang lebih miris adalah seorang gadis kecil membawa plastik bekas permen meminta uang di pinggiran jalan.

Tidak heran untuk kota sebesar ini, dia harus memunguti sampah demi uang seribu rupiah untuk makan sehari hari, menunggu orang kaya melintas untuk diberikan setetes rezekinya, itu adalah cerminan bagaimana Tuhan memberikan rezeki dan nasib masing masing, tapi kemungkinan sebelum terlambat menjadi seorang gelandangan, manusia seharusnya berusaha mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Bagi Lucky salah satu usaha untuk merubah kehidupannya adalah dengan belajar keras dan berusaha sebaik baiknya sebagai manusia.

Setelah tiba di kontrakan yang merupakan tempat tinggal bersama orang tuanya, dia tidak beristirahat melainkan langsung menyusul ibunya yang masih bekerja, dia tidak pernah tega melihat ibunya bekerja sampai malam, jadi setiap kali sepulangnya dari kampus dia membantu ibunya menyelesaikan pekerjaannya dan pulang bersama sama untuk istirahat.

Perasaannya tidak jenak saat hatinya mulai mengingat Stella malam ini, padahal dia berusaha untuk menjauhi Stella untuk kebaikannya sendiri, hanya saja hatinya menolak untuk melupakan gadis ramah itu. Memang rindu bukan pekerjaannya, tetapi rindu ini seakan menjadi majikan baru yang mampu memerintah semaunya, rindu tidak pernah ramah untuk orang yang sombong dengan membohongi hatinya sendiri.

Rasanya dia mulai kagum dengan keindahan gadis itu, keramahannya, senyumnya, tawanya, omelan dan celotehnya. Alangkah indahnya ketika dua insan ini bersama dengan satu cinta, memang tidak mudah baginya untuk mulai berani melawan hukum alam bahwa kaum kelas rendahan jatuh cinta dengan kaum kelas atas. Bahkan itu tidak mungkin sekali.

Malam mulai menjelang, adzan insya’ mulai berkumandang dengan lantang menandakan bahwa inilah saat yang tepat untuk berkeluh kesah kepada Tuhan, karena Tuhan adalah tempat curhat yang paling tepat untuk seorang hamba yang tengah bingung dengan hatinya. Tuhan akan membisikkan jawabannya, dan Tuhan akan memberikan jawabannya lewat mimpi.

Ketika tengah perjalanan ke masjid, handphone Lucky berdering, panggilan via whatsapp dengan nomer tak dikenal, dan foto profil yang belum muncul. Mau tidak mau ia menolaknya karena dia sudah berada di dekat beranda masjid. Langsung di kantonginya handphone kedalam saku baju koko putih yang dikenakannya. Dia berdoa kepada Tuhan untuk diizinkan mengagumi keindahan ciptaannya.

Setelah selesai mengungkapkan perasaanya kepada Tuhan, dia membuka aplikasi whatsappnya, jarang sekali dia mendapatkan chat pribadi kecuali teman sekelompokknya, namun ada sepuluh pesan yang belum terbaca di whatsappnya, ternyata yang baru saja menelpon adalah Stella, dia tidak sabaran sekali sampai mengirim pesan dalam per menitnya. Isi pesannya yang tak lain adalah menagih janjinya untuk diantar ke toko buku, Lucky tersenyum sendiri melihat tingkah tak sabaran dalam pesannya.

“Stella, aku tidak yakin sepandai apa dirimu, namun aku kagum dengan kepandaianmu mencuri nomor telponku tadi siang, besok jumat aku tunggu di depan masjid agung Al-Akbar Surabaya, datanglah sesukamu, jam berapapun kamu mau, aku siapkan dua helm untuk kamu dan aku, aku tidak mau naik mobilmu Stella.” Balasnya dengan tersenyum singkat.

“Perkara rindu aku tidak tau kenapa aku sekarang memikirkanmu, rindu tidak pernah menyapaku sebelumnya, tapi sekarang rindu datang menyapa dan aku saat ini merindukanmu, entahlah aku tidak tahu kenapa aku harus memikirkanmu, kita akan bertemu esok, aku suka bagian aku mengucapkan kata kita, karena dalam kita ada kamu dan aku.!” Dia membubuhkan emoticon tersenyum di akhir pesan singkatnya.

“Bukannya sudah kukatakan Stella, kalau rindu itu urusanmu bukan urusan yang harus kuselesaikan, aku tidak bisa merindukanmu Stella, jangankan rindu memikirkanmu pun aku tidak berani, mungkin cukup untuk chat malam ini Stella aku sangat mengantuk dan besok harus masuk pagi.” Balasnya lagi menutup percakapan.

“Padahal aku sangat kesepian Lucky,” dia membubuhkan lagi emoticon sedih.

Setelah mengakhiri percakapan singkat itu, Lucky membantu ibunya bekerja, mencuci piring, mengepel lantai dan menyetrika baju, terkadang ibunya melarang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, karena alasan dia harus belajar untuk besoknya, tetapi seberapapun ibunya melarang dia untuk sekali ini tidak patuh terhadap ibunya. Punggungnya kerap kali sakit nyeri, tetapi dia menahannya bahkan setelah selesai pekerjaannya dia langsung mengerjakan tugas sampai pagi menjelang.

Dia hanya bisa tidur kenyang ketika libur semester datang, karena di sela-sela pekerjaan yang menipis dia bisa tertidur meskipun tidak lama. Dia suka menghabiskan waktu dengan membaca buku buku yang dipinjam dari perpustakaan. Lucky tertidur pada pukul sebelas malam setelah tugasnya selesai, serasa remuk sekali badannya malam ini, setelah meminum segelas air putih dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tipisnya.

Tengah malamnya dia terjaga, entah mungkin dia mimpi buruk atau dia ingin melaksanakan shalat malam. Dia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajah mengantuknya. Setelah selesai ia langsung mengenakan sarung, mulai shalatlah dia, karena banyak orang yang mengatakan kalau shalat di sepertiga malam atau tengah malam doanya akan cepat dikabulkan Tuhan.

Untuk kesekian kalinya ia menangis seraya menghadap kiblat, ada kepayahan di atas kedua pundaknya, wajahnya agak lelah, matanya mulai berkantung, bola matanya memerah, dan mulai berair. Dia berkeluh kesah tentang apa yang dihadapi hari ini, dia bukan malaikat yang harus kuat setiap saatnya, dia hanya manusia biasa.

“Tuhan, izinkan aku memiliki sesuatu yang mungkin tidak kau tuliskan dalam catatanmu ketika aku di Lauhul Mahfuds, tetapi aku sadar kala aku ingin memilikinya aku harus siap untuk kehinaan yang mungkin harus aku terima, tetapi Tuhan kalau bisa hindarkan aku dengan rasa cinta kepada dia Tuhan, aku hanya ingin mencintaimu,” doa Lucky malam ini.

Setelah selesai berdoa dia melipat sajadah maupun sarungnya, dia merebahkan tubuhnya untuk kedua kalinya, karena fajar belum menampakkan dirinya, masih ada waktu sekitar empat jam untuk dia beristirahat meskipun singkat. Mata mungilnya mulai terpejam, bibirnya agak tersenyum, wajahnya mulai menunjukkan raut tenang.

Malam ini bulan bersinar dengan terang, besar membulat tersenyum kepada seorang pria yang memiliki semangat tinggi untuk meraih tebing dan melepaskan rantai belenggu kemiskinan. Namun senyumnya tidak pernah pudar meskipun banyak cibiran dari banyak orang, tapi ia yakin bahwa orang besar itu lahir dari cibiran maupun hinaan orang lain, dia tetap memegang prinsip tersebut.

Adzan mulai berkumandang terdengar, dia terbangun seperti biasanya. Melaksanakan kewajibannya, dia tidak pernah meninggalkan shalat kecuali dia benar benar tidak bisa melaksanakannya, tetapi dia jarang dan hampir tidak pernah meninggalkan shalat lima waktunya. Tubuh perkasanya terguyur air dingin yang menyegarkannya, untuk kota sepanas ini, air dingin tidak lebihnya menjadi air yang hangat. Sekilas menyegarkan namun hilang seketika.

Rambutnya telah basah oleh air, wajahnya mulai segar dan harum. Berbunyilah handphonenya, pesan masuk dari via whatsapp. “Aku yakin kamu sudah bangun pagi ini untuk sembahyang Lucky, jadi aku pasang alarm agar bisa bangun bersamamu pagi ini, aku tidak suka bangun terlalu pagi dan menjamah air, namun karena aku ingin kita berdoa di bawah atap langit yang sama aku rela bangun pagi dan mengenakan mukennah untuk shalat.”  Pesan singkat Stella dia hanya baca sekilas.

Dia lalu membalasnya, “Aku terjaga karena menerima pesan darimu, aku tidak pernah shalat ataupun berdoa Stella, aku selalu tidur sepanjang waktu dan aku harus menyelesaikan tidurku lagi Stella, aku harap kamu tidak kecewa..”

Kali ini Lucky memang tidak bisa mengendalikan hatinya, ingin sekali dia berdoa kepada Tuhan untuk disatukannya di atap yang sama bersama Stella, gadis yang rela melawan kemalasannya untuk terjaga sebelum fajar tiba, bahkan dia berkata sejujurnya bahwa dia ingin berdoa bersama-sama di bawah atap langit yang sama. Bukan, Lucky hanya takut kala harga diri dipertaruhkan demi cinta yang tak punya dosa.

Pagi itu, Lucky bergegas berangkat ke kampus karena ada mata kuliah pada jam pagi buta, karena mahasiswa hukum dituntut untuk tetap siaga pada jam berapapun, Lucky menatap jam yang berderik sombong itu, mengejarnya tanpa berhenti. Bahkan memaksanya untuk berjalan lebih cepat lagi.

Area kampus masih sangat sepi, maklum jam jam segini kebanyakan mahasiswa masih tertidur di ranjang masing-masing. Bahkan kehadiran di kelas juga masih sedikit, nampaknya mereka terlambat untuk bangun, karena kehidupan malam di kota besar begitu menggoda, tidak jarang mereka menghabiskan malam di cafe atau di warung kopi untuk sekedar mengobrol dan bermain game, alhasil mereka terlambat masuk jam pagi.

“Pagi Lucky, kamu tidak lupa sesuatu kan ?” tanya perempuan yang tengah duduk di sampingnya.

“Apa Nis?” Lucky penasaran.

“Ahhh, kamu lupa Lu,, ah kamu ini, kan aku minta bawain nasi goreng buatan ibumu,” gerutu Nisa.

Lucky tersenyum singkat menatap temannya yang tengah cemberut tersebut dan memberikan sebuah kotak makan siang kepadanya, “aku tidak melupakannya Nisa, ibuku sangat mengenal sifat pemarahmu itu, kemarin memang aku tidak sempat bilang ke ibuku, tetapi ibuku menitipkan ini untukmu,” Lucky tersenyum.

“Jadi, ibumu secara tidak langsung merestui hubungan kita, aahh senangnya..” Nisa memeluk kotak makan siang itu dengan erat.

“Mungkin kamu belum sarapan Nis, makanya ngomong nglantur semacam itu..” tegur Lucky seraya menghindar agak jauh dari Nisa.

Mata kuliah pagi ini dimulai dengan presentasi mahasiswa, nampaknya mereka masih terbalut dengan kemalasan dalam kantuknya, tidak ada kelas lain yang sepagi ini. Jadi khayalan tentang kasur empuk semakin menjadi-jadi, satu dua mahasiswa tidak sadar kalau dia telah dipuk puk oleh pemateri dengan materi presentasi yang membosankan.

“Orang tua kalian tidak membayar mahal-mahal untuk tidur di kampus, kalau mau tidur silahkan keluar dan pulang kerumah kalian masing-masing..” teriak dosen itu membangunkan mereka yang tidur dan tidak tidur.

Embun masih saja di atas daun, matahari mulai meninggi, hawa panas mulai terasa, kelas yang semula sejuk berubah sedikit demi sedikit memanas, salah satu mahasiswa menyalakan AC untuk mengurangi rasa panas. Namun sebenarnya AC itu juga membuat kering kulit, berbeda dengan udara alami, menyegarkan, tetapi dimana udara segar di temukan di antara belantara kota besar yang penuh dengan pabrik dan asap.

Lucky masih fokus dengan mata kuliahnya, ia menguap sesekali tetapi tidak mengantuk separah teman yang tertidur tadi. Kini tiba sesi tanya jawab tentang materi yang disampaikan oleh pemateri, tiga orang mengangkat tangan termasuk Lucky, ia diberi kesempatan bertanya setelah dua orang penanya.

Giliran Lucky bertanya tentang sebuah kasus, “terimakasih atas waktu yang telah diberikan kepada saya, begini saya memiliki sebuah pertanyaan tentang kasus seperti ini, seorang wanita berjalan sendirian di jalanan sepi sepulang kerjanya tiba-tiba dia di perkosa oleh seseorang, sebenarnya dua orang tetapi temannya hanya memegangi perempuan itu, perempuan itu sampai tidak sadarkan diri, dan kedua laki-laki itu meninggalkan perempuan itu di pinggir jalan sampai dia sadar sendiri, naluri perempuan yang telah di nodai dia menangis sepanjang jalan, sampai di rumah dia langsung mandi berkali kali membersihkan tubuhnya seraya menangis, yang menjadi permasalahan disini bagaimana perempuan tersebut mendapatkan bukti untuk dilaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian? Terimakasih.”

Moderator menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, sedangkan yang menulis pertanyaan sedikit mendongak tanda kesetresannya. Tidak ada yang lebih menyenangkan kecuali membuat bingung pemateri yang presentasi ala kadarnya, “Pertanyaan yang bagus sekali saudara, meskipun agak rumit, mungkin pemateri akan menjawab pertanyaan saudara lebih dulu.” Ucap Moderator menoleh kepada pemateri yang siap menjawab pertanyaan Lucky.

“Ok, terimakasih banyak untuk waktunya, sebenarnya pertanyaan ini agak rumit karena korban telah membersihkan tubuhnya, sedangkan bukti ada di situ, misalnya rambut korban, bekas air mani yang masih baru, namun ketika korban mandi itu akan menghilangkan bukti, jadi kalau menurut kelompok kami dalam menyelesaikan kasus tersebut adalah korban melapor dulu kepada pihak kepolisian menyebutkan ciri ciri fisik pelaku, kalau polisi tidak percaya atau dianggap mengada-ada korban langsung meminta tes forensik, di dalam tes forensik akan terlihat air mani disitu, kalau sebelumnya dia melakukan hubungan seks misalnya, karena dia sudah menikah, air mani dari semua orang itu kan berbeda jadi bisa terdeteksi adanya pencampuran air mani, lalu polisi akan olah TKP dengan menelusuri tempat dimana korban diperkosa, dan memeriksa beberapa orang untuk menanyakan siapa saja yang sering mangkal disitu.” Jelas pemateri.

“Biasanya tes forensik itu dua hari atau tiga hari sudah tidak terlihat, wanita itu baru terpikir untuk melaporkan kejadian tersebut dua hari setelah kejadian, bagaimana polisi bisa tau itu benar tidaknya?” Lucky tersenyum simpul.

Pemateri berubah serius, “ya, ketika saat itu korban dapat dibuahi, sperma tersebut akan menjadi janin, dan bisa terdekteksi, saya juga tidak yakin kalau bekas kekerasan seksual itu hilang dua hari, mungkin juga ada bekas memar di bagian tubuh yang bisa dijadikan bukti, robeknya baju korban atau rok korban, ya tidak mungkin bukan korban akan diam saja ketika diperkosa, mungkin akan melawan meskipun perlawanan kecil.” Sahut pemateri kemudian.

“Bagaimana saudara, cukup atau ada lagi yang perlu diperjelas,?” moderator mulai mengambil alih.

Lucky mengangguk puas “mungkin sudah cukup.”

Kelas berakhir dengan melelahkan, membosankan dan masih ada tiga mata kuliah yang menunggu, sebenarnya hari ini ia agak malas karena mata kuliahnya tidak terlalu menarik, tetapi dia tidak berpikir untuk tidak masuk, ketika ia berencana untuk membolos dia teringat pesan ibunya untuk kuliah se baik-baiknya untuk masa depannya sendiri.

Dia mengurungkan niatnya untuk membolos jam ini, mau tidak mau dia mengikuti mata kuliah selanjutnya meskipun dia sesekali menguap karena bosan. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar kelas, seorang gadis yang tidak asing di mata Lucky, Stella. Mau apa dia datang ke kelas ini, bukannya dia berbeda jurusan dengan Lucky, tidak mungkin dia pindah jurusan.

“Bukannya kamu jurusan Managemen Bisnis kenapa kamu masuk kesini ?” tanya dosen penasaran.

“Ya saya pengen belajar hukum saja pak, saya pindah jurusan hukum saya sudah bosan di jurusan Management, bapak ada masalah ?” jawabnya lancang seraya mengambil tempat duduk di samping Lucky.

“Apa yang kamu lakukan disini Stella ?” Lucky agak berbisik.

“Ya karena aku nagih janji Lucky, jangan jangan kamu lari, kamu harus tanggung jawab.!”nadanya agak meninggi ketika mengucapkan kata tanggung jawab sampai menarik perhatian mahasiswa lainnya.

“Hussy, tanggung jawab apa Stella, kamu itu mengada-ada saja jangan keras keras itu membuat mereka berpikir macam-macam.” Lucky menutup mulut Stella dengan kelima jarinya.

“Tangan kamu asem, ihhhhh… Jorok banget sih kamu.!” Stella mengusapi bibirnya dengan tissue dalam tasnya.

“Kamu kenapa sih Stella, apa kamu benar-benar pindah jurusan ?” selidik Lucky.

“Iya, aku sudah bilang ke papa kalau pengen jadi pengacara.” Ucapnya seraya cengengesan.

Di tengah tengah mata kuliah hukum islam dosen mata kuliah menjelaskan sekilas di tengah para pemateri tengah mencari jawabannya. Untuk mahasiswa pertengahan, mata kuliah hukum islam adalah mata kuliah wajib untuk mahasiswa jurusan hukum.  Meskipun agak membosankan karena penjelasan dosennya seperti ceramah tetapi bagi Lucky dia harus lulus di mata kuliah ini.

Dan hatinya lebih tersiksa ketika Stella berada di sampingnya, gadis itu konyol sekali dengan pindah jurusan hanya karena menagih janji, dan memilih untuk di samping laki-laki yang tidak punya apa apa untuk diberikan kepadanya. Mungkin gadis itu hanya menganggap Lucky sebagai cinta sesaatnya, tetapi bagi Lucky pribadi ketika hatinya sudah terjerumus dalam cinta sesaatnya dia tidak mungkin bisa melepaskan perasaannya.

Hari yang berat, ditambah dengan tatapan sinis teman-temannya karena kedekatannya dengan Stella, tidak ada yang dibanggakan dari kedekatan dengan seorang anak terpandang di kampus bergengsi ini, yang ada hanya tatapan curiga dari semuanya, mungkin sebagian akan menganggap Lucky hanya memanfaatkan seorang gadis polos.

“Lu, hebat banget udah deket sama anak Rektor ?” ucap teman yang duduk bersebelahan dengannya.

“Ah kamu ngawur, dia cuma ngaco doang aku enggak tau apa-apa, kita ketemu aja pas dia nubruk aku kemarin,” balas Lucky dengan acuh tak acuh.

Tidak ada yang lebih menyiksa daripada pertanyaan semacam itu, tetapi dia menahan gosip yang mungkin akan beredar. Apalagi mulut Arum tidak terkendali keluarnya, mungkin ibunya akan tahu tentang Stella dari ocehannya, dia tidak tahu pula bagaimana tanggapan ibunya ketika mendapat kabar semacam itu.

Nisa memandang Lucky agak aneh, mereka berdua saling pandang diantara tempat duduk Stella yang berada di posisi kanan dan kiri tempat duduk mereka berdua. Lucky nampak memberikan insyarat kepada Nisa untuk bertemu di kantin setelah jam kuliah ini berakhir, Nisa mengangguk mengerti dengan insyarat mengangguknya.

Stella masih asyik duduk mengamati dosen yang tengah menjelaskan tentang sumber sumber hukum Islam, mengapa harus ada hukum Islam di Indonesia, hingga dia mulai tertarik dengan mengacungkan tangannya untuk bertanya. Semua mata tertuju kepada penyusup baru yang mulai penasaran dengan materi tentang hukum pagi ini.

“Iya Stella, mau bertanya tentang apa ?” ujar dosen menunjuk Stella yang tengah mengangkat tangannya.

“Begini ya, kenapa harus ada hukum Islam di Indonesia sedangkan yang saya tahu Indonesia masih mengadopsi hukum dari Belanda dan juga hukum islam seperti pelaku yang mencuri akan dipotong tangannya sesuai nominal yang dia curi, bagi penzina harus dicambuk beberapa kali saya juga lupa, bukannya itu melanggar Hak Azasi Manusia ? terimakasih.” Tanyanya dengan tegas. Lalu dosen menjelaskan dalam jawabannya :

Stella, orang islam juga membutuhkan pedoman dalam kehidupannya sehari-hari, mereka membutuhkan hukum yang akan menjadi batas norma yang berlaku, Islam mengajarkan tentang halal, haram, mubah, makruh dan lain lain Stella, mengapa orang Islam melarang minum minuman keras, mengapa dilarang berzina, mengapa dilarang makan daging babi, mengapa orang mencuri dipotong tangannya, mengapa orang berzina dicambuk.

Satu, larangan minum miras, karena kandungan dari alkohol mengandung racun yang menyebabkan organ organ tubuh rusak, kedua larangan berzina, kenapa ketika kita mampu menikah kita tidak memuaskan keinginan seks kita dengan cara yang halal, daging babi kamu tau dimana babi itu tinggal dan makan apa Stella.

Ketiga, orang yang mencuri itu ketika ada kesempatan dia akan mencuri lagi bukan, untuk memberikan efek jera kepada pelaku meskipun itu melanggar HAM Stella, tetapi itulah hukumnya, dan yang terakhir kenapa hukuman cambuk bagi pezina, karena zina itu berakibat buruk bagi yang berbuat secara tidak syah, dalam zina itu kita bisa terjerumus dengan sifat ketagihan, haus akan seks, tersalurnya penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS, sipilis, hepatitis B dan banyak lagi.

Karena di Indonesia bukan negara Islam atau Khilafah maka hukum Islam itu untuk para kaum muslim saja Stella, dan pemerintah juga menyesuaikan dengan penduduk yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras, dan agama, para pendahulu kita pandai untuk menyesuaikan hukum yang ada di Indonesia, agar tidak terpecah belah antar warga negara, maka dari itu kita punya semboyan ‘BhinEka Tunggal Ika’ itu bahasa pemersatu kita.

Memang kamu benar kalau Indonesia mengadopsi hukum dari Belanda, tetapi tidak semua hukum itu diadopsi dari Belanda, Indonesia punya hukum dan ketetapan sendiri, kalau tidak punya hukum sendiri, tugas dari DPR apa kalau tidak menyusun Undang-Undang beserta ketetapannya. Negara kita punya Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.

Stella manggut-manggut mengerti ternyata dia mulai tertarik dengan dunia hukum, meskipun pertama kali ia tertarik dengan seorang yang baru dikenalnya, Lucky. Sampai dia rela pindah jurusan demi untuk bertemu dengannya setiap saat, namun ketertarikan terhadap hukum tersebut mulai muncul. Dan ternyata tidak selamanya hukum itu membosankan, hukum adalah sebagian dari kehidupan yang menjadi batas perilaku manusia meskipun sifatnya memaksa, tetapi manusia akan tidak menyimpang dari norma norma yang ada saat hukum di tetapkan.

Setelah mata kuliah ini selesai Lucky mewanti wanti untuk tidak bicara apapun dengan ibunya, karena akan menimbulkan masalah yang rumit. Namun belum selesai dia bercakap-cakap dengan Nisa, Stella mendekati mereka berdua. Mereka berdua mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya dengan gelagat yang mencurigakan.

“Hei kalian berdua ke kantin yuk, tenang bakal ku traktir.!” Stella menarik kedua tangan tanpa persetujuan Lucky dan Nisa.

“Tapi kita berdua bawa bekal makan siang, kebetulan dititipin makanan sama ibunya Lucky.” Ujar Nisa menolak ketika ditawari buku menu.

“Ok kalau begitu jangan makan dulu, aku masih mau pesan nasi goreng,”, “mbaaakk, nasi gorengnya satu, duluin aku enggak mau nunggu lama.!” Teriaknya lantang.

Sembari menunggu nasi goreng pesanan Stella datang, Lucky mengeluarkan kotak makan siang bersamaan dengan Nisa. Nasi goreng sederhana di dalam kotak tersebut diberi lauk satu buah telur mata sapi, makanan itu sudah lama dingin. Tetapi rasanya masih tetap nikmat karena dibuat dengan cinta dan kasih sayang.

Setelah nasi goreng pesananya datang, Lucky siap siap untuk menyantap makanan kesukaannya. Belum satu sendokpun yang masuk kedalam mulutnya, Stella menukar nasi gorengnya dengan nasi goreng yang dibawa Lucky, dengan lahapnya dia memakan nasi goreng milik Lucky.

“Kamu itu gimana sih Stella, itu kan nasi gorengku, kenapa harus ditukar ?” Lucky cemberut melihat asap nasi goreng yang masih mengepul.

“Aku tidak suka meniup makanan panas, aku suka yang sudah dingin, sebenarnya sih aku ingin sekali makan masakan yang dibuat dengan cinta, seperti nasi goreng ibumu, ah rasanya seperti masakan mama, ah jadi kangen mama.” Stella menitihkan setetes air mata dan kemudian dia segera menghapusnya.

“Jadi kamu suka masakan ibunya Lucky Stella, ya sudah ambil ini, nasi gorengnya belum aku sentuh kok, kamu bawa pulang saja, nanti setibanya di rumah kamu panasi nasi goreng ini Stella, tidak ada yang abadi di dunia ini Stella, kamu harus belajar mengikhlaskan, jadilah anak kebanggaan mamamu meskipun kamu jauh darinya, kirimi mamamu doa setiap shalatmu itu akan jadi hadiah terindah untuk mamamu.” Nisa menyerahkan kotak makan siangnya dengan berat hati, perutnya kerocongan tetapi melihat Stella menangis dia menjadi iba.

“Kita bisa makan bersama Nisa,” Lucky tersenyum manis kepadanya, senyuman yang jarang dia tujukan kepada orang lain selain orangtuanya, dia bangga kepada kawannya ketika ia mulai bijak dan menghibur Stella hari ini.

“Mbaaakkk, nasi gorengnya satu bawa kesini, dua dibungkus dan minumnya terserah deh.” Teriak Stella tiba-tiba.

Sepulangnya dari kampus perut mereka bertiga telah terisi penuh, awalnya Nisa menolak untuk membawa bungkusan nasi goreng tersebut, namun karena sifat memaksa Stella akhirnya mau tidak mau mereka berdua menerima bungkusan tersebut untuk dibawanya pulang.

Nisa pulang bersama Lucky seperti biasa, karena orangtua mereka bersahabat sejak mereka bekerja di Surabaya. Mereka berdua selalu bersama mengerjakan tugas, jalan jalan, saling mengeluh karena tugas. Sejak saat itu mereka selalu bersama meskipun banyak pertikaian kecil bahkan perdebatan tentang pendapat mereka yang berbeda.

Hari ini Lucky menemukan sisi baik dari dua perempuan sekaligus, Nisa yang selalu bertingkah konyol tetapi selalu membuatnya tertawa akhirnya dia mulai dewasa, Stella yang terlihat dari luarnya gadis yang sombong hari ini dia menyadari betapa rapuhnya dia sebagai seorang anak yatim, dibalik kesempurnaan dengan hartanya ternyata dia punya kekurangan di kasih sayang orangtuanya, namun dia menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

Dia mulai kagum semangat gadis yang baru dikenalnya, Stella gadis bertopeng kebahagiaan, dibalik canda tawanya ternyata menyimpan sejuta tangis dan kesedihan yang dipendamnya. Bukan sekali dua kali dia melihat orang seperti Stella, tapi ini bukan rasa kasihan biasa melainkan rasa yang berbeda. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan dengan mulutnya. Dia mulai jatuh cinta….

(bersambung)

***

Kayangan, 17.36; 6 September 2018.

============================

Penulis: Ucis, novelis tinggal di Trenggalek.

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *