Beberapa pekan yang lalu, kita sempat dihebohkan dengan adanya postingan di media sosial tentang munculnya Al-Quran Nusantara. Berita ini berawal dari sebuah seminar tentang mushaf Al-Quran kuno (manuskrip) yang diselenggarakan oleh UIN Padang, Sumatera Barat, bekerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), Kemenag R.I. Berawal dari sebuah spanduk yang salah konsep, berita itu kemudian menjadi viral, liar, dan menjadi bahan hujatan, khususnya pihak-pihak yang menyelenggarakan acara terebut. Hujatan itu sejatinya tidak lebih sebuah ekspresi ketidaktahuan sebagian orang tentang manuskrip Al-Quran yang memang jumlahnya sangat banyak dan beragam di Nusantara. Salah satu wilayah yang memiliki manuskrip Al-Quran yang banyak adalah Nangroe Aceh Darussalam.

Aceh tidak hanya dikenal sebagai wilayah dengan masyarakat yang religius, namun juga dikenal sebagai wilayah dengan jejak keislaman yang pajang. Hal ini ditandai dengan kehadiran Islam pertama kali di Nusantara. Jejak keislaman masyarakat ini tidak hanya bisa ditelusuri melalui peninggalan benda-benda bersejarah (artefak) yang banyak terdapat di negeri tersebut, tapi juga melalui karya dan tulisan ulama pada masa silam. Salah satu peninggalan yang menandai semaraknya keislaman di Aceh adalah manuskrip Al-Qur’an kuno, Al-Qur’an tulisan tangan yang terdapat di sejumlah tempat seperti museum, masjid, surau, dan koleksi perorangan.

Aceh merupakan wilayah dengan peninggalan manuskrip Al-Quran terbanyak di Indonesia. Jika di wilayah lain jumlah manuskrip Al-Quran hanya pada kisaran satuan sampai puluhan, maka Aceh bisa mencapai angka ratusan. Banyaknya manuskrip Al-Quran peninggalan ulama ini menandai hidupnya kegiatan Islam masyarakat Aceh pada masa lalu.

Oleh karena itu, kajian manuskrip Al-Quran menarik untuk dikaji lebih jauh. Bagi kalangan filolog, kajian manuskrip Al-Qur’an tidak menarik, karena memang sejak pertama kali diturunkan pada Nabi Muhammad Saw hingga saat ini, Al-Quran tidak berubah teksnya. Jumlah surat dan ayatnya pun bahkan tidak berubah. Kalaupun berbeda itu hanya sebatas ikhtilaf di kalangan ulama ulumul Quran. Berbeda dengan kitab-kitab tulisan tangan ulama masa lalu dalam sejumlah bidang keilmuan yang memang bisa dikaji isi dan kandungannya, konteks penulisannya, subjektivitas pengarangnya dan beberapa faktor lainnya yang bisa dijadikan bahan diskusi dan kajian. Al-Quran tidak seperti itu sehingga kurang menarik perhatian sebagian filolog.

Pada manuskrip Al-Quran itu, sesungguhnya banyak hal yang bisa menjadi bahan kajian dan karya ilmiah. Aspek yang biasa diterapkan pada kajian manuskrip Al-Quran adalah aspek kodikologis dan tekstologis. Aspek yang terakhir ini, lebih sering dibahaskan dengan aspek teks oleh penggiat kajian manuskrip Al-Quran agar tidak tumpang tindih dengan bidang tekstologis yang lazim digunakan para filolog. Pada aspek kodikologis, sesuai dengan namanya, yang bisa dijadikan kajian adalah aspek fisik dari suatu teks seperti jenis kertas, penjilidan, tinta yang digunakan, hingga iluminasi.

Iluminasi atau hiasan pada mushaf misalnya bisa menjadi bahan kajian karena biasanya dibuat berdasarkan ornamen yang menjadi ciri khas daerah tertentu, baik dari sisi bentuk maupun pewarnaan. Iluminasi yang dibuat oleh orang Aceh tentu sangat berbeda dengan iluminasi yang dibuat oleh orang Madura, misalnya. Kertas yang dipakai juga bisa menjelaskan sejumlah hal, seperti teknologi pembuatan kertas hingga umur sebuah kertas. Dan masih banyak lagi hal bisa digali pada aspek kodikologis sebuah naskah.

Dari aspek teks, kita juga bisa mengesplorasi banyak hal diantaranya adalah model khat yang digunakan, keindahan tulisan yang dibuat, rasm yang dipakai, penggunaan qiraat, dan sejumlah aspek lainnya. Semua ini bisa menjadi bahan kajian yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Keindahan tulisan misalnya. Indah dan tidaknya sebuah tulisan ayat Qur’an pada manuskrip Al-Quran bisa menjelaskan orang yang menyalin mushaf tersebut. Jika tulisannya jelek dan tidak rapih, maka besar kemungkinan naskah itu ditulis oleh santri atau orang biasa yang memang membuat mushaf semata-mata untuk dibaca. Tapi, jika tulisan ayat Al-Quran itu bagus dan rapi tulisannya, maka besar kemungkinan mushaf itu disalin oleh kalangan profesional yang dibuat, biasanya, untuk kerajaan, baik dihadiahkan maupun untuk diberikan sebagai cinderamata ke kerajaan lain. Belum lagi qiraat dan pengggunaan rasm.

Manuskrip Al-Quran Aceh dalam hal ini menarik dikaji, karena iluminasi yang dibuat terbilang sangat bagus dan detil. Kemudian yang menarik perhatian adalah jumlah manuskrip Al-Quran Aceh sangat banyak, terutama jika dibanding daerah lain di Indonesia. Banyaknya jumlah manuskrip ini mengindikasikan begitu banyaknya penyalin mushaf di Aceh pada masa lalu. Namun, yang memprihatinkan adalah tidak adanya upaya konservasi dan penyelamatan benda bersejarah ini oleh pemerintah maupun masyarakat setempat. Karena jumlah yang banyak dan model iluminasi yang bagus, manuskrip Al-Quran Aceh sering menjadi komoditas ekonomi yang menggiurkan. Tidak heran, jika kemudian terdapat sejumlah orang yang terang-terangan memperjualbelikan manuskrip Aceh ke pihak lain, termasuk ke luar negeri. Sebagai catatan saja, beberapa museum di luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam (dan mungkin sejumlah tempat lain di luar negeri) banyak yang menyimpan koleksi mushaf Al-Quran asal Aceh dan sejumlah daerah lainnya. Mirisnya lagi, migrasi manuskrip Al-Qur’an itu terus berlangsung hingga saat ini.

Tulisan ini diharapkan bisa membuka kesadaran tentang pentingnya menjaga dan melestarikan peninggalan manuskrip Al-Quran Aceh dan daerah lainnya, karena manuskrip ini bukan hanya membuat ayat Al-Quran yang sakral, namun juga menyimpan identitas dan jatidiri suatu bangsa yang harus terus dijaga dan dilestarikan sebaik-baiknya.

Jakarta, 6 September 2018.

=========================

Kontributor: Mustofa Acep (Peneliti LPMQ, tinggal di Jakarta)

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *