“Menulis adalah caraku untuk mengutarakan perasaan maupun imajinasi yang terus memaki si hati….”

Namaku Sahara. Kini, aku mengenakan pakaian putih abu-abu yang baru berjalan kurang lebih selama lima minggu. Katanya, ini adalah masa dalam menemukan jati diri. Katanya pula, pada masa ini, alunan cinta akan menjadi sebuah nada di setiap langkah cerita.

Kangkah kakiku membuat bunyi hentakan tidak berirama. Sedangkan manik mataku terus menelusuri setiap sudut sekolah, seakan mengiyakan pencarianku di ruang perpustakaan.

Waktu menyelesaikan tugasnya dengan tepat. Retina mataku berhasil menangkap isyarat yang dilambaikan oleh rak buku dari balik jendela. Tanpa a-i-u-e maupun -o tubuh mungilku melesat terselip di antara tatanan rapi lembaran bersampul.

Setelah selang beberapa lama, “Kasihan bangkunya dianggurin,” suara itu terdengar lirih, tapi mengejutkan.

Aku menatap pria itu datar. Dia menghembuskan nafas dengan pelan dan diikutu tawa tanpa suara. Kemudian, aku meraih kursi yang ada disampingku. Sedangkan pria itu membawa punggungnya menjauh dari posisi semula.

Dua minggu berlalu. Semua terasa begitu cepat ketika senja berhasil mengundang semburat jingga untuk menjemput malam beserta gerombolannya.

Kerinduanku pada perpustakaan kini semakin menjadi. Bukan hanya rindu tentang petugasnya yang cogan melainkan rindu akan aksara yang terukir oleh tinta cetak.

Ubin yang saat ini kupijak seakan menuntun dengan sabar. Hingga akhirnya, sampailah aku di depan ruang yang kuharap supaya detik lebih lama bercengkerama dengan menit.

Menulis adalah caraku untuk mengutarakan perasaan maupun imajinasi yang terus memaki si hati. Dengan tenang, penaku mengayun. Perlahan, semua lara gugur kemudian abadi di dalam sebuah karya yang hanya akan diketahui oleh dua bola mataku saja.

“Hmm, ternyata bisa buat puisi juga?” ¬†tanya pria yang telah membiarkan tubuhnya berada di atas kursi, sekira berjarak lima jengkal di hadapanku.

“San-di … Hi-ma-la-ya,” ucapku perlahan sedikit mengeja, ketika melihat name tag di seragam pria itu. “Anak pramuka, ya, kak?” lanjutku.

“Ya, bukanlah, kakak anaknya mama sama papa,” ujar pria itu terkekeh, renyah.

“Ssssttt, jangan berisik, kak!” sahutku, menutup mulut dengan satu jari telunjuk.

Pria itu mengangguk dengan menirukan gayaku, sedangkan aku sibuk menata buku yang akan dikembalikan pada tempatnya. Seutas senyum simpul. Aku tinggalkan dia di sana, lalu menjauhi bangku beserta makhluk yang sedang mendiaminya.

Suara bising menggema, menari, dan menerobos gendang telingaku dengan seenaknya. “Araa!!!” suara itu berlari dari daun pintu menuju kursi kosong di sebelahku.

Aku mengangkat dagu seakan bertanya, “Ada apa?”

“Dicariin, Kak Hima!” ucapnya dengan nafas tergesa.

“Kak Hima siapa?” tanyaku.

“Kak Hima anak D. A,” jawab temanku Sima yang sedang berusaha mengatur nafasnya.

“Emangnya ada? Kak Hima yang mana, sih?” tanyaku, lagi.

“Dasar banyak tanya! Udah samperin aja dulu!” ketus Sima.

Rambutku yang terkucir ekor kuda sesekali bergerak sejajar dengan udara yang berhembus berantakan.

Aku mendapati pria yang berseragam pramuka lengkap, rapi dengan tanda bantara yang terselip di bagian pundak pada tubuh yang tegap, “Eh, kak San-di… Hi-ma-la-ya,” ucapku, ditemani ejaan yang masih melekat.

Pria itu tertawa lebar, “Masih mengeja juga?” tanyanya, ringan. “Panggil saja Hima!” tuturnya.

Aku menyeringai dengan menggaruk pelipis yang sebenarnya tidak gatal. “Kakak yang nyari aku tadi?” tanyaku, sopan.

“Iya, ini mau balikin puisi kamu yang tiga bulan lalu tertinggal di perpustakaan,” jelasnya, sembari mengulurkan selembar kertas yang sedikit kumal ke arahku.

Aku meraih uluran itu. Sejenak, aku mencoba membaca hitam yang telah berhasil menodai kertas putih itu. “Ya Tuhan, aku aja udah lupa kalau pernah nulis ini, lo, kak,” ucapku.

“Emmm, btw… makasih, ya, kak,” tambahku, tersenyum.

“Iya, sama-sama,” sahutnya, disertai senyum dan kemudian berlalu.

Sima si gendut berkacamata ternyata dari tadi menempel di balik daun pintu selayaknya bunglon. “Subhanallah, itu Kak Hima idaman banget!” ujarnya.

Aku menelonyor kepala Sima, “Hus! Nggak boleh gitu! Zina mata itu namanya!” ucapku, seraya melipat kertas berisikan puisi dan menyimpannya ke dalam saku.

“Ehh, Ra? Trauma itu boleh! Tapi, kakunya jangan terlalu! Nanti jadi perawan tua baru tau rasa, lo!” sahut Sima, sewot, yang telah berjalan di sampingku.

“Apa, sih, Sima?! Pamali tau ngomong gitu!” ujarku dengan telapak kaki yang sedang mengendus bau arah menuju kantin.

“Araa!” suara itu tanpa sadar menarikku menuju kerumunan para siswi yang telah heboh oleh pengumuman yang baru ditempel di mading sekolah.

“Selamat, ya, Ra! Aku nggak nyangka! Kalau kamu itu berbakat!” kata salah satu siswi yang kubalas dengan raut wajah bingung.

“Minggir-minggir-minggir-amit?” aku mencoba membelah kerumunan lautan siswi rempong itu. “Haaa?” lanjutku, tercengang ketika mendapati pengumuman yang menyatakan bahwa seorang Sahara Adiwiyata berhasil memenangkan sebuah kontes puisi.

Aku berjalan mundur menyudahi tatap muka di depan mading dan kembali kepada Sima.

Sima menggelengkan kepalanya, bangga, “Hebat! Akhirnya, Sahara Adiwiyata berani mem-publish karyanya!”

“Ta—” ucapanku terpotong oleh tawaran Sima, “Oke, sebagai penghargaan atas kemenangan ini, yuk, ke kantin! Aku yang traktir, deh. Mumpung, aku lagi baik! Mau?”

“Nggak,.” sahutku, singkat. “Nggak nolak maksudnya,” lanjutku dengan ledakan tawa.

Bersambung…

============================

Penulis:

Nofi Krisdiyanti (siswa MAN 1 Trenggalek).

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *