Banyak hal yang saya coba cermati melalui indera penglihatan dan perasaan. Tokoh Syekh Siti Jenar yang multitafsir itu, saya mencoba melihatnya lewat tetaer ini. Jika kebanyakan masyarakat menanyakan ajaran, menceritakan riwayat Syekh Siti Jenar secara blak-blakan.

Apa dan siapa Syekh Siti Jenar

Teater KAIN HITAM yang mementaskan kisah absurd seorang Syekh Siti Jenar di Gedung Dewan Kesenian Kota Tangerang, malam, 14 September 2018. Disutradarai oleh Kang Opik Jenggot. Menyajikan keistimewaan dalam sebuah pertunjukan teater.

Sekitar satu jam setengah, saya asyik menonton pertunjukan itu. Entah bagaimana seseorang menanggapi tokoh utama Syekh Siti Jenar yang kontroversi dari masa ke masa. Bahasa dan dialog yang memukau dan penuh gaya. Serta khazanah keilmuan, juga tentunya menghibur penonton itu.

Namun, sebagai penonton saya terkejut ketika adegan-adegan yang disajikan teater KAIN HITAM. Dari mulai menceritakan kehadiran Syekh Siti Jenar dalam dua kerajaan yang sedang berperang Demak dan Majapahit.

gayatrimedia.co.id

Banyak hal yang saya coba cermati melalui indera penglihatan dan perasaan. Tokoh Syekh Siti Jenar yang multitafsir itu, saya mencoba melihatnya lewat tetaer ini. Jika kebanyakan masyarakat menanyakan ajaran, menceritakan riwayat Syekh Siti Jenar secara blak-blakan. Mulai dari yang berbicara secara anarki, seperti Syekh Siti Jenar meninggal dibunuh para wali, atau lenyap begitu saja, atau menjadi cacing. Justru, di teater ini saya hanya melihat Syekh Siti Jenar tidak melakukan ajaran yang dikatakan kebayakan masyarakat pada umumnya.

Teater KAIN HITAM, hanya menampilkan peninggalan lafadz ‘laa Illa ha illallah’ yang menjadi daya tarik adalah out of the boxsnya seorang Opik Jenggot sebagai sutradara teater tersebut. Menyajikan Syekh Siti Jenar yang lenyap ke atas langit, entahlah keabsurdan cerita ini. Namun khazanah keilmuan bagi saya adalah ketika mudahnya masyarakat Indonesia menjustifikasi kata benar dan salah adalah sesuatu yang mudah sekali dilontarkan pada seseorang. Justru teater ini menegaskan bahwa ‘sesuatu hal dari mulut ke mulut akan menjadi besar, entah baik ataupun benar. Seperti kisah Syekh Siti Jenar ini’

Terlebih, satu kritik yang baik terhadap tatanan masyarakat yang sangat mudah mengatakan ‘takbir’ pada segala aspek kehidupan menjadi suatu yang sanggat menyedihkan. Ketika agama hanya mengajarkan bahwa kata ‘takbir hanya pada ibadah yang sudah ditentukan syari’at’ sekarang di zaman yang buruk rupa ini kata itu seperti sebuah ‘lalaban makanan’ yang mudah sekali diucapkan dan menghilangkan kesakralan lafadznya.

Kita tentu tahu, bahwa kebiasaan itu hadir dari masyarakat sendiri, pemahaman-pemahaman yang sangat menyedihkan itu. Tentu harus diperbaiki. Melalui teater ini semoga khazanah keilmuan masyarakat bertambah dan lebih mendalami lagi apa makna-makna dan bagaimna fungsi dari simbol-simbol agama. Tujuan serta penerapan yang sebenar-benar.

Cipasung, September 2018.

========================

Kontributor: Abdul Jalal, Penonton Teater Kain Hitam

Santri Cipasung







gayatrimedia.co.id

Categories: ApresiasiBerita

1 Comment

SAMSUDIN · Ming 17 Februari 2019 at 03:36

Mohon informasinya min …
Siapakah sebenarnya Syekh Siti Jenar tersebut??
Apakah admin tahu secara detail sanat keturunan Syekh Siti Jenar??
Mohon ulasannya min …
Terimakasih salam kenal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *