gayatrimedia.co.id

Berita Kritis Islamisasi Nusantara

Gelombang Islamisasi Nusantara telah memunculkan banyak teori dari para pakar keilmuan sejarah dan budaya. Hal ini melahirkan keingintahuan yang tinggi dan minat baca yang serius oleh penggali-penggali sejarah, terutama pengusung ide-ide Islam Nusantara.

Islam Nusantara adalah satu konsepsi yang dilahirkan oleh organisasi keagamaan, Nahdlatul Ulama. Dalam konsepsi yang dibangun telah ditemukan konsep-konsep Islamisasi bumi Nusantara dengan cita rasa yang damai, toleran, jalan tengah, dan seimbang. Hal demikian telah ditemukan di dalam rentang sejarah manusia Nusantara yang berpikiran terbuka dan mampu merekonstruksi pemikiran-pemikiran yang datang dari luar, terutama ajaran dan syariat Islam. Implikasinya menjadi jelas, rekonstruksi tersebut melahirkan cara baca baru masyarakat Nusantara terhadap pemahaman yang baru diterima. Terutama, dalam aspek kebaruan budaya yang ditandai dengan perkawinan.

Perkawinan di sini dapat diartikan dalam artian fisik. Manusia ketemu manusia. Juga, bisa berarti non fisik, seperti pemikiran dan citarasa. Hal demikian menandai pula sejarah di Nusantara tidak bisa dibaca secara gradual yang tiba-tiba jatuh dari langit. Taken for granted.

Kegagalan cara baca penyaji-penyaji Islam Nusantara sehingga tidak mampu dicerna oleh masyarakat awam ataupun yang tidak sepaham dengannya, karena lebih bersifat literal dan justeru tidak kompromistis sebagaimana selayak Islam Nusantara itu sendiri. “Kebenaran” fakta sejarah tidak dilihat dari segi konteks dan sosio-linguistik dari yang disajikan. Kelemahan-kelemahan ini di satu sisi telah membentuk front baru sehingga terjadi perbedaan tajam dari polemik yang tidak berkesudahan. Padahal, tantangan global dalam citarasa common enemy tidak bisa ditanggapi dengan satu strategi yang harus dihadapi. Walhasil, bacaan terhadap Islam Nusantara justeru telah menikam dirinya sendiri.

Di antara pembacaan yang gagal adalah di dalam penggunaan kerangka analisis dan penggunaan idiom-idiom dan terma yang berkembang. Penggunnaan idiom atau sebuah terma dengan tanpa melihat latar sejarah idiom dan terma tersebut telah menjerumuskan konsepsi yang hendak dibangun. Contoh, pemukulrataan dalam penggunaan kata “liberal”, “kapital”, atau “feodal”. Penyajian yang digunakan adalah sajian kembar identik antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Padahal, meskipun dalam susunan konstruk sosial yang sama rumusnya, akan berbeda dalam segi citarasanya. Ini yang terkadang tidak disadari. Dalam penggunaan terma “kapital” yang selalu bersihadap dengan terma “sosial” telah digunakan dalam satu pandangan hal demikian selalu sama. Sejarah katakan demikian selalu berulang, meski dalam bentuk dan rupa yang sama. Pengulangan-pengulangan demikian menjadikan penyamaan-penyamaan peristiwa yang ditarik menjadi “opo jare”. persamaan-persamaan yang kembar identik di dalam pemikiran Jawa biasa disebut sebagai “otak atik gatuk”. Bias pemaknaan ini yang selalu disajikan tanpa memberi ruang kesadaran dari si penulis dan pembaca yang hadir dalam sebuah teks. Ujung-ujungnya, melahirkan saru pandangan yang biasa disebut sebagai pandangan tidak pernah berjarak. Selalu dalam lingkup ideologi tertentu yang secara sadar dan tidak turut memberi sumbangan kepentingan di dalam pemikirannya. Walhasil, Islam Nusantara meskipun benar disajikan dalam bentuk akademis, namun tetap gagal di dalam memberikan penafsiran. Padahal, masyarakat awam butuh sebuah penafsiran bukan pemikiran baru yang membingungkan. Wallahu a’lam.

Trenggalek, 25 Pebruari 2019.

=======================

Penulis:

M. Sakdillah (author, director, culture activities)







gayatrimedia.co.id

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *