Kala itu, saya menjadi relawan sebuah lembaga lingkungan hidup di Palembang. Atas biaya lembaga tersebut, saya melakukan kerja-kerja pendampingan. Hanya sayang, pekerjaan itu tidak maksimal, karena ibu sedang sakit payah yang tidak bisa ditinggal lama dalam menanti kehadiran saya.

Di antara suku-suku yang ada di Indonesia, saya cukup lama melakukan interaksi lapangan bersama Suku Anak Dalom. Interaksi ini menghasilkan pengalaman menarik dari kisi-kisi manusia yang masih hidup liar di alam bebas. Tidak berpakaian rapi, namun kebal penyakit.

Kala itu, saya menjadi relawan sebuah lembaga lingkungan hidup di Palembang. Atas biaya lembaga tersebut, saya melakukan kerja-kerja pendampingan. Hanya sayang, pekerjaan itu tidak maksimal, karena ibu sedang sakit payah yang tidak bisa ditinggal lama dalam menanti kehadiran saya.

Setahun mengenal Suku Anak Dalom, dari cara mereka hidup. Jauh dari kata miskin untuk menyatakan gaya hidup mereka, karena mereka memang hidup dari alam yang melimpah, meskipun telah mendapat “pembinaan” dari pemerintah daerah untuk mendapatkan fasilitas yang layak seperti manusia kebanyakan di perkotaan.

Namun, hutan adalah rumah mereka. Mereka terbiasa hidup dalam kepungan gelap hutan dan hujan. Bahkan, binatang buas pun seolah sungkan kepada mereka. Mereka menelusuri air sungai hingga ke hulu. Mengejar ikan yang mudik. Pada musim bertelur, ikan sungai memang memiliki kebiasaan beranjak ke hulu. Orang-orang pedalaman mengenal habit ini: mengenang masa Ikan Mudik.

2013 adalah masa penjelejahan serius saya menelusuri jejak orang-orang Suku Anak Dalom. Ada sekelompok manusia yang sudah difasilitasi dengan tempat tinggal oleh pemerintah daerah di desa Bumimakmur. Sebuah pemukiman konsentrasi di tepi hutan industri, milik seorang pengusaha tokoh nasional. Di daerah itu, bila musim kemarau, debu berterbangan kala truk-truk besar pengangkut pohon-pohon Akasia yang hendak digunakan sebagai bahan industri kertas. Akasia, tanaman indsutri yang mudah tumbuh, yang sempat dulu ditanam di halam sekolah.

Suku Anak Dalom di desa Bumimakmur itu dapat dijumpai bahasa dan gaya hidup mereka yang khas. Bau tubuh mereka menyengat hidung. Bagi yang tidak terbiasa akan segera terasa mual. Namun, itulah mereka. Yang belajar dari alam. Di sana, ada seorang relawan yang menikahi seorang puteri dari Suku Anak Dalom. Dari pernikahan itu, ia melakukan perubahan-perubahan real. Bertahun-tahun sebagai relawan. Anak-anak Suku Anak Dalom di sana mulai mengenal sekolah. Meski terkadang tidak ada murid.

Kelompok kedua Suku Anak Dalom yang menjadi sasaran pendampingan saya adalah yang berada di desa Muaratiku. Oh, ya, di Ulu Tiku, sebuah anak sungai, terdapat air terjun yang sangat indah di perut gunung. Air terjun Tujuh Tingkat yang membentuk danau. Terdapat ikan-ikan yang masih besar-besar. Namun, medan jelajahnya sangat sulit. Di Muaratiku, Suku Anak Dalom lebih maju pendidikan mereka. Sebagian besar telah mengenyam pendidikan sekolah di bawah bimbingan relawan misionaris. Mereka mulai mengenal pengetahuan dan beragama.

Kelompok ketiga yang menjadi obyek studi banding kami adalah Suku Anak Dalom yang berada di Bukit Duabelas, Jambi. Bukit Duabelas yang dijadikan cagar alam oleh Presden Abdurrahman Wahid. Di sini, perhatian Gus Dur terhadap suku-suku tertinggal begitu besar. Melalui sebuah Kepres, Bukit Duabelas menjadi percontohan Suku Anak Dalom memanfaatkan hutan menjadi rumah bersama. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mandiri mendidik masyarakat Suku Anak Dalom mengenal radio sebagai alat komunikasi. Lembaga itu benar-benar mandiri, lepas dari founding dan bantuan pemerintah. Mereka mengelola hutan menjadi hutan lindung komunitas dan produktif. Tak bisa bicara konflik dan kapitalisasi industri hutan di sini. Mereka cukup nyaman, karena tidak dikejar-kejar sebagai suku yang miskin. Soal pakaian? Tentu masih orisinal dan fantastis.

Musirawas, 2013.

=========================










gayatrimedia.co.id

Kurator: M. Sakdillah, author, director, and culture activities.

Categories: Rekreasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *