Berulangkali, ia mengundangku untuk menyaksikan setiap pertunjukannya yang spektakuler. Namun, keinginan yang ada tak terpenuhi dengan keterbatasan fisikku yang terdera. Sesekali berjanji akan bertemu di Surabaya, sesekali pula ia memberitahu bila sedang berada di Jombang. Lelaki baik hati yang selalu menghargai diriku bak seorang menteri itu.

Meimura. Nama yang kemudian membuat kami kian akrab. Penampilannya yang santai selalu meredakan emosiku yang beregejolak. Kami sering terlibat dalam obrolan panjang seperti tak mengenal waktu. Bagai adik kakak yang saling melepas rindu. Mungkin sekilas, orang melihat keakraban kami sebagai sesama seniman Tapi, aku bukan seniman sehebat dan setangguh Cak Mei yang telah menghabiskan usianya untuk kesenian yang digelutinya. Sementara aku hanya sebatas pelajar seni saja darinya.

Aku bisa saja memanggilnya dengan sebutan Bapak atau barangkali Ayah. Tapi, aku lebih suka memanggilnya dengan kata “Cak” di awal namanya. Untuk mengakrabkan diri: dia adalah sosok tokoh yang gigih. Sebagaimana tokoh-tokoh besar di Jawa Timur.

Dalam gelaran ludruk yang kami dalami dari sejarah Cak Durasim telah terbuka lebar tentang tokoh legendaris itu. Cak Mei menyimpan banyak memori tentang perkenalannya dengan keluarga Cak Durasim. Meski dia mengenalkan diri sebagai orang teater di Jawa Timur, Cak Mei lebih memilih genre ludruk dalam setiap penampilan panggungnya. Beragam inovasi cerita yang tak terduga muncul dan dikreasikan olehnya. Dalam satu diskusi kecil denganku saja, langsung bisa dijadikan cerita panggung yang panjang olehnya. Betapa kecerdesan sudah menjadi bakatnya. Memang, terasa agak sulit bagiku mengikutinya. Ada banyak langkahku tertinggal darinya. Aku masih berpikir konsep, tapi Cak Mei sudah melangkah ke dalam gagasan aktual dalam setiap aksi mingguannya di Balai Budaya Balai Pemuda Surabaya.

Dari obrolan panjang pula, kami mencita-citakan gagasan besar. Semoga dalam waktu yang panjang, kami dapat mewujudkan cita-cita dalam kolaborasi yang kami inginkan.

 

Tak Lupa Belajar

Meskipun sudah malang melintang di dunia ludruk, Cak Mei senantiasa belajar dari sesama seniman panggung yang lain. Emha Ainun Najib (Cak Nun) yang besar di Yogyakarta tak lepas dari perhatiannya. “Serasa mendapat tambahan energi baru, begitulah yang kurasakan setelah menyaksikan pertunjukan Teater Perdikan berjudul Sengkuni 2019 di Balai Budaya Balai Pemuda Surabaya. Bertemu Jujuk Prabowo Sutradara pertunjukan malam itu, Luhur Kayungga Sutradara Teater Api yang akan pentas keliling dengan naskah Putu Wijaya berjudul DOR, Mustofa Akbar Sang motivator kesenian di Surabaya sejak tahun 80-an yang kini tinggal di Jakarta dan Heru Ketua Bengkel Muda Surabaya yang sedang bekerja keras untuk Bengkel Muda Surabaya,” ceritanya untuk menyebut nama-nama beken penggila panggung tanah air. “Pertunjukan malam itu seakan reuni, Cak Nun melalui naskah Sengkuni yang ditulisnya, mengingatkan kita sebagai Bangsa Indonesia bahwa tahun 2019 adalah saat yang tepat untuk bercermin, menatap wajah sendiri yang terpantul. Siapa bisa menjamin bahwa wajah di balik cermin kita masing masing atau bersama-sama itu ternyata beraura Sengkuni, berpotensi Sengkuni, atau bahkan memang Sengkuni itu sendiri. Bangsa ini membutuhkan keikhlasan dan ketajaman untuk jujur kepada dirinya sendiri. Pertunjukan berdurasi 3 jam garapan Jujuk Prabowo memukau 700 orang penonton yang memenuhi gedung Balai Budaya malm itu,” lanjutnya dengan riang.

Sengkuni

Pertunjukan Sengkuni hari terakhir 8 Maret 2019 di Balai Budaya Balai Pemuda Surabaya produksi Teater Perdikan Yogyakarta. Dalam sesi diskusi Cak Nun mengajak membuat Ludruk Rek untuk menandai kebangkitan Ludruk Jawa Timur. “Ayo siapa yang mau gabung? Cak Nun juga mengijinkan ceritanya, Geger Ngoyak Macan dan Slilit Sang Kyai tak Ludrukno,” ungkap Cak Mei. “Ketika Cak Kartolo naik panggung suasana semakin gergeran, Cak Kartolo kuatir, nanti kalo orang ludruk sudah kumpul Cak Nunnya yang gak bisa datang, sontak semua penonton ngakak pool. Malam itu, situasinya sangat guyub dan rukun. Selamat dan sukses Bangbang Wetan, Teater Perdikan, selamat juga untuk teman-teman Ludruk Jatim, kyaine wis ngajak, lho?” pungkasnya.

Dari kejauhan, kami masih saling bersapa dengan hati. Cak Mei tak pernah berhenti membangkitkan semangatku untuk tak berhenti melangkah.

Trenggalek, 11 Maret 2019.

==========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Followers

1 Comment

Meimura · Sen 11 Maret 2019 at 05:54

Sampean memang menyenangkan, triims

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *