gayatrimedia.co.id

Tak pernah terbayang olehku jauh sebelumnya untuk kembali ke kota Ngawi. Ketika dulu masih kuliah di Jogja, jarak tempuh Jogja-Ngawi kami lalui dengan menaiki sepeda motor. Perjalanan yang memakan waktu empat jam yang melelahkan.

Waktu itu, aku berdua bersama teman yang rela mengantar hingga ke Ngawi. Demi persahabatan yang tak berujung. Meski menjadi momen yang sangat hangat penuh persaudaraan. Di keluarga terpandang di kota itu.
Namun, peristiwa tak ada yang bisa menebak. Semua sudah diatur olehnya, Sang Maha Mengatur.

Puluhan tahun berlalu. Meski sering ke Jawa Timur dan melintasi kota Ngawi, tapi aku tak pernah singgah. Toh, tak terpikir hendak singgah di mana? Tak ada saudara. Memang ada satu kenalan yang sudah lama tak lagi mengingatku.

Tapi, belakangan, ternyata aku salah. Setelah tak sengaja diundang mengisi satu kegiatan menulis di kampus IAI Ngawi. Justeru, sangat banyak teman-teman alumni pesantren yang tinggal di Ngawi. Hingga Ngawi kemudian seperti kampung halaman sendiri, seperti tempat-tempat singgahku yang lain.

Perkenalan dengan sahabat mudaku, Ulil. Dia pembaca yang serius. Meski seringkali membuat patah hati banyak wanita.

Penggemar berat Pramoedya Ananta Toer dan Seno Gumara Ajidharma ini memiliki ingatan cerita-cerita yang tuntas. Sekelumit tampak bijak, namun jiwa mudanya tak pernah berhenti untuk menggoda.

Tubuhnya bagus, karena rajin ke sawah. Kehidupan selayak orang desa. Jarang ada waktu berhenti. Memang tak ada kenal nganggur baginya. Sehingga untuk merepotkan dirinya saja, aku harus berpikir-pikir.

Tidak hanya ke sawah untuk membantu orangtua, tapi Ulil juga sibuk berorganisasi dan membimbing teman-teman menulisnya. Sosok yang teladan di tengah masa yang sudah sibuk dengan bacaan-bacaan ringan di postingan status. Entah, berapa buku yang sudah dilahapnya. Aku tak ingin terlalu berjauh tentang itu. Kami hanya sekadar mengobrol yang ringan-ringan seperti hobi dan pacar. Maklum, Ulil banyak penggemar.

Dia orang baik dan suka melayani. Jiwa pemimpin tampaknya sudah tumbuh di dalam dirinya. Hanya sayang belum siap menjadi penulis yang serius. Masih mudah tergoda karena jiwa muda. Meski sudah ada beberapa tulisan-tulisan singkat yang ditulis olehnya. Mungkin masih mereka-reka mau menulis topik apa. Yang jelas, bakat itu sudah tampak. Hanya butuh pengasahan jiwa untuk memulai. Melihat dirinya seperti melihat diri yang penuh harapan. Moga kiprahnya di kampus IAI Ngawi dan LTN NU Cabang Ngawi dapat membawa angin segar perubahan di tanah air. Ameno.

Trenggalek, 14 Maret 2019. 4.10.

===========================

Author: M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Followers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *