Saya Meimura. Ya, orang bilang, sih, saya aktivis teater. Ludruk juga teater. Jadi, cukup lama saya mengenal ludruk. Di kampung Petemon itu, banyak hidup seniman ludruk. Nah, salah satunya yang terkenal dan membuat kelompok lawak; itu namanya Samin, Sawi, Timin, Temo. Empat orang inilah yang mewarnai ludruk Petemon dan saya ini boleh dibilang salah satu murid mereka berempat.

Ludruk-Patriotisme-Nasionalisme

Ya, kalau mendengar nama itu bergetar saya. Saya tahu, nama Cak Durasim sejak saya kecil. Di Petemon, Cak Samin itu selalu bercerita: teman-teman ludruk itu ndak sekadar menghibur, gitu loh; menyampaikan cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai patriotisme, nasionalisme. Itu yang selalu diputer-puter: kita tidak tahu apa itu patriotisme? Apa itu nasionalisme? Nah, salah satu nama yang disebut seniman ludruk, ya Cak Durasim itu. Ya, saya tahu, e bukan tahu ya, mendengar: Cak Durasim berjuang melalui kidungan di tobong ludruk, sebelum pentas selalu ledang. Ledang itu wara-wara bawa bende keliling dari pasar ke pasar. Nah, kalau posisi pentasnya di Genteng atau GNI, ya dia akan ledang ke jalan Semarang, Kranggan, Kranggan-jalan Semarang, Tembok, muter Petemon, lalu lurus ke pacuan kuda, ke Semrowo, mbalik lagi, Sawahan, balik ke Tembok, lalu mbalik itu. Itu salah satu wilayah yang menurut Cak Samin, Cak Temon, Cak Sawi; itu wilayah ledang.

Kalau sudah berkeliling itu otomatis semua penonton malamnya berdatangan. Wilayah Petemon itu wilayah ludruk. Nah, wara-waranya dengan ngidung. Salah satu kidungnya, ya begupon omahe doro, rek, melok Nipon tambah soro. Terusannya macem-macem. Terusan kidungan itu macem-macem. Yang jelas, memprovokasi masyarakat Surabaya. Cek enak-enak, kon, melok Jepang, podo ambek Londo. Itu yang salah satu menjadi guyonan. Guyonan, yang apa, ya? Membuat penjajah risih. Pada suatu hari ditangkap, dipenjara, dan tidak boleh membuat ludruk. Nah, pada saat itu, saya sudah mendengar Cak Durasim bukan dipenjara, bukan mati, bukan sakit. Dari Cak Samin, Cak Durasim itu keluar penjara, ngeludruk lagi. Dua ludruk. Satunya LTR, satunya lagi LTO, kalau nggak salah. Pokoknya, ludruk yang terakhir ini tambah terang-terangan nyerang Jepang. Akhirnya, dia dikejar. Menurut keterangan saudaranya yang masih bisa dibilang anaknya ponakan, sepupunya-lah, kan; itu Cak Durasim bukan meninggal di penjara. Ketika di atas panggung, manggung, sekarang di taman budaya itu di situlah dia diakhiri hidupnya. Nah, seperti itu. Benar atau tidak, tapi bagi saya creator, ya menarik.

Itulah yang kami pentaskan. Ketika kita ikut Irama Budaya ini, saya ditunjuk sutradaranya ini. Saya garap ikut festival ludruk se Jawa Timur. Alhamdulillah, ludruk Irama Budaya terbaik, salah satu terbaik di antara yang terbaik. Sampai akhirnya kami mentas di sini (gedung budaya) di gedung pernah pentas juga Cak Durasim disaksikan Direktur Bank Indonesia dan kerabatnya dan stafnya, terus di sini juga ketika kami bekerjasama dengan Kemendikbud membuat program nonton bareng kesenian rakyat untuk anak-anak SD, kami mainkan Cak Durasim juga. Nah, di situlah akhirnya keluarga Cak Durasim datang dan mengundang kami ke rumahnya. Itu sebenarnya bukan rumahnya Cak Durasim. Rumah Cak Durasim itu di Gentengsidomukti. Ada di situ yang mengaku keponaknnya juga. Saya bisa bertemu. Ceritanya sama. Nah, Cak Durasim ternyata sudah mendapat penghargaan dari Presiden SBY berupa piagam, medali, penghargaan bukan sebagai pahlawan, sebagai jasalah. Sebagai pejuang. Nah, itulah yang membuat kenapa kira-kira Taman Budaya menjadikan cerita Cak Durasim itu master yang baru. Tentu setelah kisah Syarif, yak an Sakera, Joko Sambang yang terbumbui oleh apa ya? Mitos ya? Tapi Cak Durasim ril, yo ada, saya sempat mendengar dari kesaksian yang mengaku temannya, tapi Cak Samin sudah tua waktu itu. Paling tua ketimbang Cak Sawit, Cak Temon, dan teman-temannya. Saya percaya. Lalu, ya kalau ngomong alternative, cerita alternative, yang untuk sebagaimana misi kesenian ini, menjaga nasionalisme, patriotisme: Cak Durasim menarik untuk diketengahkan cerita yang lain daripada seperti Syarif, Sogo, Joko Sambang, Sawunggaling. Itu dekat pada fakta sejarah. Itu kami ngotot, ini masterpiece nya Irama Budaya, rek, gitu.

Ya, saya mendapat cerita dari keponakannya yang mengaku keponakannya juga sih, tapi ceritanya menarik. Cak Durasim itu punya isterinya namanya Ti’ah, punya kakak. Nah, konon kakaknya ini di Genteng itu, orang yang dipercaya keluarga Dr Soetomo. Dr Soetomo rumahnya di pojok Gentengan itu juga. Mungkin, daerah jalan Kenarilah, yang sempat ditutup ramai itu. Daerah situlah, nah, pengakuannya bahwa beliaulah kakak Cak Durasim ini yang sering ngopeni. Sampai Dr Soetomo sakit, ya ngopeni. Jadi, mulai remaja di situ. Tapi, bukan batur ya. Bukan pembantu. Jadi, mungkin apa ya? Orang yang dipercaya gitu. Cuma dia, pasnya itu, mbakyu, yang ngaku itu maknya, kakaknya Cak Durasim itu yang ngomong dengan saya. Ada orangnya di Genteng situ. Bukan Batur. Jadi, Cak Durasim itu sering diajak oleh kakaknya itu ke rumah Dr Soetomo. Waktu itu ludruk memang primadona. Ono pertunjukan awan, isuk, sore, bengi. Nah, supaya Cak Durasim sekolah, lek isuk ora nontok ludruk, diajak ke rumah Dr Soetomo. Nah, seperti itu. Ceritanya sebatas itu.
Nah, di situ ada tokoh yang lain. Di Genteng itu. Konon, kakak ibunya Pak Tri Soetrisno. Itu tokoh di situ yang punya kedekatan. Yang zaman itu, ya jenenge zaman Jepang. Jenenge zaman Jepang. Opo-opo jarene antri kan gitu. Antriannya Jepang adalah memang orang yang tidak bisa bergeming. Kalau ndak intelektual, sopo sing wani ndek Jepang zaman itu? Rujukan penting saya begitu. Nah, itu pengakuan ponakane Cak Durasim. Nah, Cak Durasim bukan mati di penjara, tapi mati di atas pentas. Ini menarik. Kami seniman panggung, mengagetkan. Betul.

Nah, ada hubungan ceritanya Cak Samin yang memang dicarinya Cak Durasim itu sampai ke oleh Nippon. Dikejarnya. Ditangkap. Kalau soal dipenjara, njaluk dukungane daerah Tembok, daerah Patemon. Dianggap lari sana. Konco-konco ludruk, Nipon teko tunggang langgang dianggap koncone Cak Durasim. Sampai pada saat pentas itu, dia gak mau sebagai laki-laki, kan? Nyamar sebagai perempuan. Lalu berakhirlah hidupnya.

Ya sepengetahuan saya, baik langsung maupun membaca literasi, ludruk itu reporter yang seperti di-creat oleh intelektual waktu itu, nyuwun sewu, kecurigaan saya memang kaum santri ya? Kalangan perempuan memang nggak boleh. Gae perang ae. Gae nyerdasno penduduk. Gae ngelawan Londo gae iki cocoke. Gitu lo. Setelah dari lerok, Santik, dadi Besud, ikut nempel ritual adat kan, sampai ludruk sandiwara? Saya yakin. Iki sing cocok. Kenapa? Ini terbuka sekali ludruk ini. Kalau dia main lakon si Pitung, iso basa Betawi lo rek? Saya tu denger sendiri di kasetnya juga nonton, actor-aktor ludruk iki iso piawai. Lo gue, enaklah waktu itu. Serius. Ini kan tidak orang sembarangan gitu. Begitu juga kalau memainkan Untung Surapati, lo separuh pemain ludruk iso boso Londo. Sing dadi nyonya Londo, serius, bahkan sing dadi intei. Ludruk waktu itu luar biasa. Saya nikmati. Gitu lo. Dadi, lek nonton ludruk. Lek lakon Sawunggaling, lo kok terwakili awak e dewe. Lakon Syarif, lakon Joko Sambang, nah saya termasuk generasi yang kesetrum. Setelah itu ludruk mengalami suatu dilemma waktu itu kan? Terjadi G 30 S, iya kan? Dianggep PKI kabeh, wedih kabeh. Wes, gak karu-karuan ludruk. Akhire, macet. Takut orang mentas ludruk. Nah, sama pemerintah Orde Baru beberapa saat itu, mereka dibina, keren. Kok, Kodam VIII, Brawijaya. Membuat ludruk siji sampe pitu pek. Wijaya Kusuma satu sampai tujuh. Bayangkan, ada seniman berapa yang ada di dalam? Berapa intelektual yang harus nge-creat itu? Lalu, begitu juga kesatuan yang lain. Polisi buat. Semuanya. Ludruk hidup di masyarakat dengan menejeman dan pendekatan beda dengan sebelumnya. Tapi, tetep. Ngomong nasionalis, ngomong patriotis, keren. Nah, setelah itu ludruk bersama perusahaan. Nah, ini ludruk mulai, nilai-nilai itu menjadi apa ya nggak menjadi yang utama. Iya, kan? Mari enak-enak ngelawak mari ngono muncul sponsor. Oh ya serius ini. Waktu itu nggak nyebut product ya. Tapi, kayaknya setelah dia mendapatkan ruang dengan perusahaan atau iya perusahaan. Menyampaikan product itu penurunan. Penurunan yang pertama kesukaan public mulai berkurang. Nah, di situ, saya juga merasakan si pemain ludruk tidak lagi bangga untuk menyampaikan nasionalisme dan patriotism, tapi sing penting ditonton enak wong ngguyu. Nah, ini. Mulai turun juga nilai-nilai itu. Sampai puncaknya ada satu generasi, mungkin generasi anak saya, generasi sampean, ludruk nggak kenal: kemprol, mbuarang. Ngelawak siti, parikane ngelokno wong wedhok. Uasli iku, pak. Nah, kayak gitu itu terjadi. Nah, itu mulai surut.

Nah, kami menyadari itu adalah sebuah persoalan estetika dan etika gitu lho. Maka Irama Budaya berbenah untuk itu. Jadi wes gak ono guyonane arek-arek Irama Budaya wes ngono.
Kesenian Ludruk Irama Budaya menjaga eksistensi budaya ludruk di Surabaya ini kudu tetep ono. Kenapa? Sederhana sebenarnya. Sejak dahulu, kalau orang Surabaya sing ditontok ludruk. Ambek THR. Terus, baru Srimulat. Baru wayang wong, ketoprak. Raden tempatnya. Tapi, sejak ada pameo: Nang Suroboyo nggak nontok Ludruk, urung teko Suroboyo. Nang Suroboyo gak nang THR, urung teko Suroboyo. Nang Suroboyo gak nang kebun binatang, urung teko Suroboyo. Lha, serius iki. Sehingga ketika kami bertahan main setiap malam sabtu dan minggu, kalau lebaran: teman-teman yang berada di luar-luar pulau dan luar negeri datang, pingin nontok ludruk. Bener, kita disuruh main itu. Nah, kayak gitu fenomenanya. Kesadaran, kesenian ini pernah mengisirelung jiwa kita itu, tenan ono. Teman-teman Irama Budaya melakukan inovasi rek, cerita terutama. Generasi saat ini sudah tidak lagi bisa memahamilah. Mitos yang terjadi pada Syarif, mbok urip maneh. Ada sesuatu yang baru. Ada kedekatan dengan persoalan saat sekarang, karena itu Cak Durasim kami angkat. Cerita-cerita baru yang menawarkan konsep pemikiran baru, itu kita sajikan. Contohnya seperti karyanya Usmar Ismail, Ayahku Pulang, itu kan sudah menawarkan sesuatu yang baru. Dalam sebuah keluarga itu kan tidak mesti utuh. Seorang ayah bisa saja lalai, lali, lupa, atau alpa; tapi, apakah kemudian dia harus kita tolak sebagai ayah? Tidak kan? Secara biologi, ia tetap ayah dan seterusnya dan setrusnya. Itulah kemanusiaan yang dibicarakan di situ. Kita mainkan. Penontonnya bagus dan baru, sampai kemarin kita mainkan paman Doblang. Anak-anak kecil yang masuk dalam program regenerasi kita, nah itu main. Masih TK sampai SMP. Main bersama yang senior. Itu juga akan terjadi transformasi roso. Roso ngeludruk iku angel. Roso ludruk iku lo sing angel. Gak iso dirumusno. Nah itu bergaul nontok. Ini yang dipunyai teman-teman senior yang puluhan tahun mengabdi di ludruk. Dan ada lho? Di Irama Budaya itu ada yang namanya Mak Suwono. Mulai lahir mrocot nok tobong. Dadi tandak, suarane uenak. Meneh de’e ngidung. Besok akan ngisi.

Surabaya, 26 Juni 2019.

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *