Kesiapan Hati Menerima Al-Qur’an

QS. 17: 82, wa nunazzilu minal qur’aani maa huwa syifaa’uw wa rahmatul lil mu’miniin, wa laa yaziiduzh zhaalimiina illaa khasaaraa,

Ayat ini menjelaskan dua tipe orang yang menerima Al-Qur’an. Jika diterima oleh orang mukmin, Al-Qur’an menjadi obat dan rahmat baginya. Namun, jika diterima oleh orang zalim, Al-Qur’an menjadi kerugian baginya. Al-Qur’an menyebut orang zalim secara spesifik ialah untuk menjelaskan bahwa sebenarnya kezaliman merekalah yang menyebabkan mereka tidak bisa mengambil manfaat dari Al-Qur’an. Karena, pada dasarnya esensi Al-Qur’an itu adalah kebaikan, bukan kerugian. Jadi, kebersihan atau kerusakan tabiat seseorang memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana ia menerima Al-Qur’an dan terpengaruh olehnya.

Ini tak ada bedanya perumpamaan orang yang memiliki sikap optimis dan pesimis. Jika ada sebuah gelas yang terisi setengah, maka orang yang optimis akan mengarahkan pandangannya pada separuh yang terisi, sehingga ia menjadi yaqin dan tenang, sementara orang yang pesimis akan mengarahkan pandangannya pada separuh yang kosong, sehingga ia menjadi takut dan khawatir. Keduanya melihat hal yang sama, tapi tabiat keduanya berbeda, sehingga kesan yang didapat dan ditangkap jauh berbeda.

Dalam kehidupan, kita juga bisa menganalogkan dengan penerimaan siaran televisi. Misalnya, engkau mengabarkan kepada seorang teman, ada acara yang sangat bagus di televisi dan menganjurkan untuk menyaksikannya juga dari rumahnya. Di rumah, engkau menyaksikannya dengan sangat jelas dan bagus gambarnya, sehingga engkau menikmati siaran tersebut. Kemudian, esoknya engkau bertemu temanmu dan ia mengeluh tentang buruknya siaran tersebut dan tidak jelasnya gambar. Ini menunjukkan kepada kita, bahwa sebenarnya siarannya bagus, namun alat penerimanya yang rusak, sehingga tidak mampu menerima siaran tersebut dengan sempurna.

Demikianlah posisi kita terhadap Al-Quran. Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah memperbaiki alat penerima yang ada pada diri kita masing-masing, yaitu hati kita, agar kita dapat menerima ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar. Karena itu, mari kita siapkan hati kita, dengan terlebih dahulu membersihkannya dari sifat-sifat negatif, agar kita dapat menangkap dan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari Al-Qur’an yang penuh Makna dan Bimbingan.

Jakarta, 15 Maret 2019.

==========================

Kurator: Fahrur Rozi, staf peneliti LPMQ Kemenag R.I.

Categories: Resensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *