Nama saya Istas Pratomo. Saya dosen di ITS. Di sini juga kepala LPPM, merangkap dekan Fakultas Teknik. Background saya seorang engineer teknik elektro. Penelitian saya di bidang informasi teknologi, juga telekomunikasi dan elektronika. Selain bidang yang saya tekuni, saya juga punya hobi memerhatikan sosial media.

Saya kenal ludruk tepatnya tidak tahu, tapi sejak kecil memang hiburannya hanya itu. Hiburan di tv yang lucu-lucu, ya hanya ludruk. Karena, kalau saya melihat wayang, saya nggak seberapa paham. Karena, wayang itu agak serius. Tapi kalau ludruk, setahu saya, itu khas Jawa Timur dan ada lucu-lucunya. Ada nyindirnyindirnya dan ada guyonannya. Itu yang membuat saya tahu ludruk dan mau nonton sampai akhir kalau zaman kecil dulu. Tapi kalau wayang, saya nggak bisa lama-lama nonton wayang. Jadi, semenjak kecil, saya tahu ludruk karena hiburannya hanya itu waktu belum ada tv dulu di panggung.

Sejak ada tv pun, ludruk sering ditayangkan dan saya juga nonton. Meskipun sudah ada musik-musik zaman dulu. Musik-musik tahun 90-an dan saya sudah dewasa waktu itu. Saya sudah SMP/SMA, bahkan beberapa kaset dan lagu dari luar negeri  sudah masuk di sini sehingga mulai bergeser sedikit. Tapi, ya tetep saya pernah mendengar ludruk.

Di ITS sendiri, ada UKM Ludruk. Dan, yang terkenal di elektro ITS itu, ada Ludruk Cap Tugu Pahlawan. Itu anggota personilnya adalah semua angkatan kakak kelas, tiga tahun di atas saya. Jadi saya tahu. Mulai dari Dargombes, Cak Lontong, itu bagian dari ludruk Cap Tugu Pahlawan.

Ternyata, di ITB itu juga ada UKM yang namanya ludruk juga. Dan ludruk ini melegenda karena anggota-anggotanya terkenal dengan berfikiran bebas (out of the box). Mirip-mirip Sujiwo Tedjo, Cak Nun, itu guyonan-guyonannya ludruk itu begitu, jadi mereka anti mainstream/mainframe. Jadi, mahasiswa yang gabung dalam ludruk itu yang pikirannya out of the box. Ya, misalnya, sering tidur di kampus, anti kemapanan-lah, kayak gitu-gitu. Berbeda dengan mahasiswa yang serius, “Besok saya bangun jam 7 maka saya harus tidur jam 9. Supaya besok nggak terlambat.”

Kemudian, ternyata ludruk inilah yang membangkitkan protes-protes di mahasiswa. Kayaknya, anak-anak ludruk ini suka menyindir pimpinan-pimpinan yang misalnya tidak fair atau tidak adil. Itu akan jadi sangat mudah sekali bagi anak ludruk dijadikan guyonan dan sindiran.

Di situ di ludruk, kebetulan S2 saya di ITB dan saya kos di anak alumni ludruk di ITB. Sehingga saya kenalnya, ya hanya itu aja ludruk itu. Jadi, ludruk itu seperti guyonan budaya Jawa Timur yang saling ngenyek tapi sebenernya sayang. Jadi, ungkapan sayang itu diungkapkan dengan cara yang menghina. Misalnya, “Koen kok tambah ireng ae”; itu, kan, artinya dia sayang. Sebenarnya dia care, cuman dia menyampaikannya dengan menghina guyonan. Karena, kalau disampaikan dengan serius terlalu garing. Disampaikan dengan cara menghina, tapi sebaliknya bahwa dia sebenarnya care.

Sekarang itu, perusahaan televisi itu fokusnya ke konten. Jadi dia membeli konten, bukan meng-hire artis. Saya beli kontenmu. Lah, problemnya apa? Youtube itu juga menggunakan konten. Dan, kontennya berasal dari seluruh subscriber-nya. Seluruh mereka yang punya akun di Gmail itu adalah penyedia konten bagi Youtube. Sehingga tv ini akan kalah. Buktinya apa? Banyak acara-acara di tv menggunakan konten Youtube.

Nah, tv-tv ini pakai konten. Masalah ludruk juga sama. Ludruk ini tergerus karena audience itu ingin yang lebih mudah. Saya itu kepinginnya itu akses. Dan, ludruk harus punya pangsa pasar. Ludruk ini targetnya harus pasar. Pasarnya apa? Orang tua, anak-anak, atau dewasa. Kalau ludruk ini ingin mendapatkan income dari penonton yang datang itu sudah gak zaman. Saya sendiri kalau beli barang sudah gak mau datang. Tadi siang, saya beli mikrofon, drone pakai Go-mart. Go-mart itu kalau saya pakai Go-pay, jarak 4 km hanya 4 ribu rupiah.

Jadi, delivery dari konten ludruk ini juga harus mudah sehingga bisa diakses oleh si audience. Pertama, ludruk ini harus punya pasarnya siapa, terus medianya apa, lewat mana. Harus paling yang mudah. Jangan sampai audiensnya pegang hape disuruh lihat di tv. Saya ngirim CV antara lewat email dan whatsapp (WA), I am sure, penerimanya lebih suka lewat WA. Saya ngirim WA format pdf dan image, saya yakin penerimanya lebih suka format image. Kenapa? Langsung keluar bisa dilihat. Tapi kalau format pdf, harus diklik dulu, buka aplikasinya, kemudian jalan.

Jadi, ludruk itu kalau pengen sekarang itu masih tetep ada, dia harus menggunakan media yang paling mudah diakses oleh audiesnnya. Dan, materi-materinya juga harus punya target. Gak masalah kalau targetnya itu yang umurnya sudah tua-tua, its oke. Jadi, guyonan-guyonannya juga guyonan tua-tua.

Saya yakin ludruk ini kontennya tetap, hanya medianya nanti yang akan berubah. Tidak melalui panggung-panggung terpisah, karena untuk membuat panggung itu biayanya mahal sekali.

Surabaya, 27 Juni 2019.

===================

Wawancara : Dr. Istas Pratomo, ketua LPPM UNUSA.

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *