Melihat hal itu, kiaiku memanggil salah seorang santri. “Tolong panggilkan Acep, suruh bawa mobilnya kemari!”

gayatrimedia.co.id

Cerita pada Suatu Siang

Terik. Mentari seolah mendidihkan ubun-ubun. Angin menghilang. Keringat menderas dari pelipis dan kening. Mengucur hingga ke leher, lalu punggung, menambah basah seragam sekolah yang kukenakan. Hareudang, begitu orang Sunda menyebutnya. Siang itu, dengan keringat yang membanjir, langkahku gegas meninggalkan gerbang sekolah. Menyusur tepian jalan, mencari potongan demi potongan bayang rimbun pohonan. Mencoba menghindari amuk sengatan si raja siang.

Sepuluh menit berlalu. Gerbang pesantren lamat terlihat setelah kuhabiskan dua tikungan di belakang. Tak seperti biasanya, jejal orang-orang begitu menyemut di muka gerbang berpintu besi itu. Para santri, tim keamanan pondok, masyarakat, bahkan polisi dengan seragam cokelatnya.

Hmmm…, polisi? Gerangan apakah yang terjadi? Aku membatin.

Secepat mungkin kuberlari ke arah gerbang. Penasaran. Juga khawatir. Pasalnya, kerumunan itu tampaknya berhulu dari halaman rumah kiaiku. Aku patut khawatir jika sesuatu terjadi dengan beliau. Apalagi pasca kasus para ninja pembantai kiai beberapa waktu ke belakang. Pasca reformasi. Yang membuatku dan santri lainnya harus bergiliran berjaga setiap malam di rumah Pak Kiai. 

Benar saja. Ekor kerumunan di depan gerbang pondok itu berhulu di pintu pagar halaman rumah kiaiku. Tampak wajah-wajah geram penuh amarah berjejal di sana.

“Ada apa, Kang?” tanyaku pada salah seorang keamanan pondok, setelah berhasil merangsek ke hulu kerumunan.

“Ada penipu,” jawabnya, pendek. Kemudian kembali berseru dan mengayun-ayunkan tongkat rotannya, berusaha menghalau massa agar sedikit menjauh dari pagar halaman.

Penipu? Penipu apa? siapa yang ditipu? Siapa penipunya? batinku kian penasaran, namun juga lega sebab jawaban itu menunjukkan: prasangkaku akan keselamatan kiaiku termentahkan.

Belum sempat kembali bertanya, pintu rumah kiaiku terbuka. Kulihat ia tersenyum ramah seperti biasanya. Lalu, melangkah ke batas pagar halaman.

Senyap seketika menyergap. Dengung suara hiruk-pikuk massa yang tadi melebah pun punah. Semua terdiam, menatap sang kiai. Menunggu apa yang akan diwartakan. Membiarkan kepala masing-masing terpanggang garangnya si raja siang. Memeras keringat dengan beragam aromanya yang khas.

“Harap tenang, bapak-bapak, ibu-ibu, juga para santri semua. Saya sudah berkomunikasi dengan pelaku. Hasilnya nanti saya jelaskan. Harap sabar, ya,” ujarnya, singkat, diakhiri senyuman yang sedikit meneduhkan suasana.

Perlahan, ia yang telah lemah dimakan usia ini kembali melangkah ke dalam rumah, untuk sesaat kemudian muncul kembali dari balik pintu sambil menjinjing speaker portable yang biasa digunakan di kelas-kelas pengajian. Dengan tenang, ia kemudian menancapkan ujung colokan speaker itu ke sumber arus listrik, lalu menyalakannya. Setelah memasang mic dan mengatur volume, ia kembali melangkah ke batas pagar.

gayatrimedia.co.id

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuhu,” ujarnya, memulai pembicaraan.

Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh.” Serempak, massa menjawab. Lalu, kembali senyap.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan para santri semua,” lanjutnya setelah membaca hamdalah dan shalawat, “terkait persoalan saya dengan pelaku penipuan sudah saya komunikasikan di dalam. Ia telah meminta maaf dan menyadari kekhilafannya. Saya pribadi pun telah memaafkannya. Tak hendak saya menuntut apa pun. Adapun terkait persoalan antara ia dengan para korbannya, biarkan itu menjadi perkara hukum yang berlaku di negara ini. Tak perlu kita main hakim sendiri. Setiap kita pasti pernah melakukan kesalahan, dan tentunya ingin dimaaafkan. Karenanya, mari kita maafkan bersama dan biarkan hukum bekerja sesuai prosedurnya. Jangan ada yang mengganggu ia ataupun keluarganya, juga harta bendanya. Setelah ini, ia akan berbicara di hadapan bapak-bapak, ibu-ibu dan para santri semua. Mohon didengarkan dengan baik dan tertib, ya. Sekian saja dari saya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Tak panjang kiaiku berucap. Lalu, ia meletakkan mic dan masuk ke dalam rumahnya. Sesaat kemudian, kembali ia keluar sambil menggandeng seorang lelaki yang masih agak muda. Mungkin belum  mencapai empat puluh tahun usianya. Ia menunduk. Wajahnya tampak pucat. Tangannya terlihat gemetar. Langkahnya sedikit diseret, sepertinya kedua lututnya pun ikut gemetar. Takut. Atau, mungkin malu. Bisa jadi pula campuran keduanya. Ya, aku tahu rasanya. Aku juga pernah merasakan hal semacam itu saat disuruh menuliskan PR di papan tulis. Dan sialnya, PR itu urung kukerjakan di rumah. Lupa, sebab keasyikan bermain. Kira-kira, gemetaran semacam itulah aku saat itu.

Setelah diberi mic dan tetap didampingi, lelaki itu mulai mengucap salam. Dengan nada kesal dan ditambah beberapa gerutuan serta makian, massa tetap menjawab meski tak serempak.

Dalam pembicaraannya, pada intinya, lelaki itu mengakui kesalahan dan memohon maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan, baik secara moril maupun materil. Juga, pihak yang tercemar namanya akibat perbuatannya. Khususnya kepada kiaiku. Ia juga berjanji akan mempertanggungjawabkan perbuatannya serta mematuhi hukum yang berlaku.

Pembicaraan selesai. Lelaki itu kembali dituntun ke dalam rumah. Massa masih tetap menyemut di sekitar gerbang pondok dan rumah kiaiku. Masing-masing saling berbicara dengan kawannya. Menghasilkan dengung suara yang tak beraturan.

Penasaran, aku mendekati salah seorang anggota keamanan pondok, lalu bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Jawaban keamanan yang sebelumnya kutanya dan penjelasan kiaiku serta orang yang disebut penipu tadi belum sanggup menjawab rasa penasaranku akan kejadian sesungguhnya.

Dari anggota keamanan yang kutanya belakangan inilah, aku mendapat jawaban yang cukup memuaskan. Katanya, lelaki yang tadi berbicara didampingi kiaiku itu adalah seorang penipu. Ia menipu banyak orang di beberapa wilayah. Ia mengaku-aku sebagai menantu kiaiku. Bermodal nama besar kiaiku itulah, ia berhasil mengutip uang puluhan juta rupiah untuk kepentingannya. Namun saat para korban menagih uang tersebut dan ia tak kunjung mengembalikannya, mereka pun datang ke rumah kiaiku untuk meminta pertanggungjawaban. Tetapi, saat tahu yang sebenarnya, bahwa lelaki itu bukan menantu kiaiku, melainkan entah siapa, mereka bingung dan marah. Hingga akhirnya, kiaiku bersedia membantu mereka untuk menemukan orangnya dan menyelesaikan masalahnya sesuai hukum yang berlaku. Kira-kira, seperti itulah garis besar kisahnya yang kuterima.

Belum rampung aku berbincang, seorang polisi tampak keluar dari dalam rumah dan langsung menuju mobil patroli polisi yang terparkir tak jauh dari gerbang. Dengan cekatan, ia memundurkan mobil itu ke arah pintu pagar halaman rumah kiaiku. Massa menyeruak memberi jalan. Perhatian kembali terpusat ke rumah kiaiku.

Sesaat berselang, lelaki yang disebut penipu itu tampak keluar diikuti oleh kiaiku, petugas polisi dan beberapa orang. Ia lalu dinaikkan ke atas mobil patroli polisi. Riuh. Massa kembali melebah. Teriakan umpatan dan ekspresi kemarahan bersahutan. Suasana menghangat. Tanpa komando, massa bergerak mengepung mobil patroli polisi yang hendak bergerak. Teriakan-teriakan kemarahan kian santer terdengar. Hingga akhirnya, saat mobil itu benar-benar mulai bergerak hendak meninggalkan halaman, dengung teriakan massa kian memuncak. Diikuti beberapa kepalan tangan yang mulai melayang ke arah si lelaki yang terbaring di kursi mobil patroli. Petugas berusaha meredam massa. Mobil itu urung bergerak sebab jalan terhambat kerumunan.

Beruntung, dengan cekatan si pengemudi memundurkan kembali kendaraan yang baru melaju beberapa meter dari pintu pagar halaman. Lelaki tersebut lalu diturunkan dan dimasukkan kembali ke dalam rumah. Massa berhenti merangsek. Tak berani mereka mendekati batas pagar rumah orang yang dihormati dan dicintainya. Namun, suara-suara teriakan kemarahan masih terdengar bersahutan.

“Mohon semuanya tenang. Jangan emosi! Seperti tadi yang telah saya katakan, biarkan hukum yang berbicara! Kita serahkan prosesnya kepada para petugas yang berwenang. Jangan ada yang main hakim sendiri! Menyesal nantinya.” Terdengar kiaiku berujar dengan nada sedikit ditinggikan agar terdengar. 

Mendengar teriakan itu, hiruk-pikuk mulai mereda. Namun massa tetap menyemut di sekitar halaman hingga gerbang pondok.

Melihat hal itu, kiaiku memanggil salah seorang santri. “Tolong panggilkan Acep, suruh bawa mobilnya kemari!”

Meski perlahan, ucapan kiaiku itu masih sanggup kudengar dari tempatku berdiri. Maklum, jarakku dengan beliau hanya terpaut sekitar dua atau tiga meter saja.

Santri tersebut bergegas pergi. Menghilang di tengah kerumunan. Melaksanakan tugas yang dibebankan.

Tak lama berselang, sebuah mobil kijang kotak tua dengan cat, entah merah tua atau cokelat, dan mulai mengelupas di sana sini, terlihat merapat ke arah gerbang pondok. Massa tersibak tanpa diminta. Mereka tahu siapa yang datang. Putera tertua sang kiai nan dihormati. Sang kijang pun merayap pelan menuju pintu pagar halaman. Senyap. Semua orang menanti.

Dengan tenang, kiaiku dan beberapa orang polisi serta anggota keamanan mengiringi si lelaki itu keluar dari dalam rumah hingga tiba di ujung pintu pagar. Lelaki itu lalu dimasukkan ke dalam mobil yang telah siap menunggu. Sesaat kemudian, sang kijang melesat meninggalkan halaman. Membawa si lelaki itu menuju kantor polisi. Kali ini tanpa hambatan. Siapa berani menyentuh mobil putera sang kiai?

Perlahan, massa mulai bubar, hanya tinggal beberapa orang keamanan pondok saja yang berjaga di batas pagar. Aku pun beranjak kemudian, saat mentari mulai bergeser lebih jauh dari puncak langit. Kali ini, tak ada lagi udara panas kurasakan, melainkan kesejukan sanubari atas pelajaran dari sang kiai yang kusaksikan. Duhai, betapa indahnya memaafkan. Betapa mudahnya hidup ini, jika ilmu dan akhlak saling erat berkelindan. Betapa sejuk dunia ini, jika lautan kesabaran berpadu padan dengan samudera keikhlasan. Tak hanya orang lain yang terselamatkan, melainkan dirimu sendiri pun teragungkan, tanpa harus berkubang kesombongan.

Terima kasih, Kiai, telah kau ajarkan apa yang selama ini banyak diteorikan orang-orang. Dan, engkau mengajarkannya tanpa harus menjejali kami dengan beragam dalil yang kian berserakan.

Yogyakarta, 18 Maret 2019, menjelang isya.

Mengenang kiaiku, ajenganku, almarhum KH. Ilyas Ruhiat.

Catatan:

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1999 akhir atau awal 2000-an. Detail cerita yang ditulis ini hanyalah upaya penulis di dalam mengisahkan ulang pengalaman pribadi. Mohon dimaafkan jika ada pihak-pihak yang merasa kurang berkenan dengan tulisan saya ini!

===============================

Mang Asep Salik, penggiat budaya tinggal di Yogyakarta.

Categories: Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *