Kang Lukman adalah kiai bersahaja, penuh kesantunan. Selalu mengumbar senyum dan tak pernah menampakkan wajah angker. Namun begitu, tetap saja mengundang rasa sungkan yang besar bagi sejawat dan santri-santrinya.

Pesona Kiai Muda dari Babakan Ciwaringin

SORE itu, pukul 13.00 WIB. Kami akan berangkat ke Jakarta, karena ada rapat pembahasan tentang Ma’had Aly, pendidikan tinggi di pesantren. Sama-sama mengenakan sarung, kami masuk ke dalam mobil.

Sebelum masuk ke jalan tol Cipali, kami singgah di rumah makan. Seperti biasa, Kang Lukman menawarkan makan siang. Karena aku dan Kang Lukman sudah makan di rumah, kemudian hanya sang sopir yang makan. Aku memesan segelas jeruk hangat dan Kang Lukman segelas kopi. Kang Lukman memang tak pernah lepas dari rokok dan kopi. Tak henti-henti seperti minum air putih. Aku mengkhawatirkannya. Aku yang biasa mengopi saja tidak lebih dari tiga gelas dalam sehari semalam.

Setelah selesai makan. Ada seorang pemulung menyandarkan sepeda di belakang mobil. Kang Lukman segera menghampiri. Ada dialog yang tak kudengar. Namun tak lama, sang sopir masuk disertai lelaki tua pemulung itu. Kang Lukman menawarkan lelaki tua makan ternyata. Setelah bertanya kepada kasir penjaga. Nasi di warung makan itu telah habis. Kemudian, Kang Lukman memberikan lembaran uang puluhan ribu kepada lelaki tua itu. Tampak sekali perhatiannya. Kami pun lantas melanjutkan perjalanan siang itu.

Perjalanan menelusuri jalan tol hingga kami sampai Jakarta jam 14.15. Agak terlambat.

Pada rapat di hotel di bilangan Tebet itu, ada dua wajah yang sangat kukenal dan tak asing di televisi: Ulil Abshar Abdalla dan Abdul Muqshid Ghazali. Dua tokoh Islam Liberal yang turut membahas problem pada pendidikan salaf di pondok-pondok pesantren. Agak lucu memang bila dipandang dari sudut ini, apakah mereka akan melakukan liberasi pada kurikulum yang diajarkan di Ma’had Aly? Ah, tidak perlu berburuk sangka sejauh itu. Soal metode dan cara baca keilmuan itu bisa dari sudut pandang mana saja. Bagiku, khazanah (turats) intelektual yang selama ini termaktub di dalam kitab-kitab kuning harus dilihat dari sudut pandang atau alat apa saja sehingga dapat melahirkan hasil (muntijah) yang kaya perspektif.

Kang Lukman adalah kiai bersahaja, penuh kesantunan. Selalu mengumbar senyum dan tak pernah menampakkan wajah angker. Namun begitu, tetap saja mengundang rasa sungkan yang besar bagi sejawat dan santri-santrinya.

Aku mengenal dirinya sebagai sosok yang pendiam. Tanda-tanda kesantunan dan kewibawaannya sudah tercermin semasa sama-sama mondok di Madrasatul Quran, Tebuireng, Jombang.

Waktu itu, terjadi perpindahan santri-santri ke kompleks bangunan yang baru. Kang Lukman ditunjuk untuk menjadi ketua kamar. Keilmuannya yang sudah mapan sejak di Babakan telah menempatkan Kang Lukman sebagai salah satu santri ”senior” yang ditempatkan di kamar khusus. Setelah ada pemindahan, Kang Lukman ditunjuk menjadi ketua kamar di komplek yang baru itu.

Demikian, di samping sekolah di madrasah, menghafal Al-Quran, Kang Lukman pun kuliah di Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (IKAHA). Tiga dimensi program pendidikan yang berbeda. Dan, Kang Lukman mampu menyelesaikan ketiganya dengan baik.

Tahun 1996, aku meninggalkan Tebuireng dan melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Hubungan dengan sahabat-sahabat secara fisik jarang terjadi, meski sesekali dalam pertemuan alumni masih menjumpai mereka. Sejak itu pula, aku tak lagi tahu kiprah dan perjuangan Kang Lukman yang melanjutkan kuliah S2 di Jakarta pada bidang pendidikan.

Dan, untuk mengatakan dia sahabat pun aku merasa terlalu lancang. Aku sebenar termasuk yuniornya dalam keilmuan. Ketinggian ilmunya tak bisa kuikuti, terutama terakhir ia menemukan satu cara efektif di dalam mengakumulasi kesulitan-kesulitan menghafal Al-Quran yang selalu menjadi momok bagi sebagian besar orang. Anggapan menghafal Al-Quran itu susah mulai diformulasikan secara sederhana oleh Kang Lukman.

Jika selama menghafal dikenal dengan pendekatan fiqhiyyah: melalui ancaman dan hukuman, maka memanusiawikan manusia adalah pendekatan yang dilakukan oleh Kang Lukman. Metode humanistik yang dikembangkan olehnya lebih melihat pada potensi, minat, rasa cinta, dan perkembangan karakter seorang santri atau calon penghafal, karena Kang Lukman sadar kemampuan setiap orang itu berbeda. Namun, bukan berarti potensi yang dimiliki oleh setiap orang itu tidak bisa dikembangkan secara sama. Jika potensi cinta itu dibangkitkan. Bukankah setiap orang itu memiliki rasa cinta? Rela berkorban demi cinta?

Foto: Kang Nuam (mantan basis grup band Wali), Kang Lukman, Kang Eko Supriyanto, Kang Uki Marzuki, dan Cak Azizi.

Pendekatan ini sebetul bukan metode yang baru. Namun, sudah dikembangkan dan menjadi tradisi kiai-kiai zaman dahulu. Kecerdasan dan kemampuan setiap orang diukur bukan berdasar hitungan matematis akademik, melainkan dilihat dari potensi dan karakter yang dimiliki oleh sang santri. Hanya saja, pendekatan yang dulu menghubungkan human relation antara kiai dan santri yang erat telah tergantikan oleh peran pengurus dan sistem yang berkembang belakangan. Hubungan emosional antara kiai dan santri terkadang sudah tidak saling mengenal lagi. Kesenjangan yang menjadi kegelisahan sekaligus sudah mulai langka dalam pola pendidikan karakter sekarang. Maka, perkembangan studi santri-santri hanya bisa dilihat dari angka-angka akademis, bukan berdasar kesulitan dan kemampuan yang dihadapi. Maka, tidak jarang, karena terkena vonis, seorang santri mengalami trauma yang besar di dalam pendidikannya, yang terbilang tidak sukses. Ketika sukses hanya diukur dengan angka. Padahal, seorang santri secara psikologis memasuki masa gandrung dan mengidolakan sosok yang menjadi impian masa depannya. Sosok kiai sebagai pengganti orangtua adalah yang menjadi panutannya.

Ada nilai positif yang bisa diambil dari sistem pendidikan di pesantren-pesantren Babakan. Dengan jumlah pesantren yang banyak dan merata, otomatis masing-masing kiai memiliki jumlah santri yang terbatas. Tidak banyak berbilang. Sehingga dengan bilangan yang terbatas ini, pola hubungan emosional antara kiai dan santri terjalin secara langsung dan tumbuh subur. Aktivitas dan kemajuan studi santri dapat terkontrol dengan baik. Tidak seperti pesantren yang besar dan terpusat, hubungan tersebut bisa renggang, karena di samping jumlah santri yang banyak, peraturan pondok pesantren diatur oleh sebuah sistem kepengurusan yang tidak ditangani langsung oleh kiai.

Kang Lukman adalah sosok pendorong perubahan sosial di lingkungan pesantren ini. Gagasan-gagasannya selalu hangat dan kontekstual. Ia tidak banyak memberi petuah, namun pada tindakan-tindakan yang inspiratif. Meski ia seorang tokoh muda, namun ia lebih banyak berperan sebagai the king maker. Ia memberi dorongan dan apresiatif kepada tenaga-tenaga potensial di lingkungannya. Misal, seperti Kang Uki Marzuki yang merasa dirinya mendapat support yang besar untuk berkiprah di PP Lesbumi NU atas dorongan Kang Lukman. Begitu pun, ketika ada tugas kunjungan ke luar negeri, Kang Uki Marzuki dan Kang Lukman saling bergantian pergi. Keduanya pun mendirikan sebuah perusahaan production house untuk pembuatan film Tarling is Dearling. Sebuah film yang mengangkat tema kehidupan pesantren dan seni budaya tarling (gitar/itar dan suling). Sebagaimana tarling yang sering dianggap miring dalam pandangan umum, namun dalam sentuhan ini tarling adalah kesenian yang memiliki kedekatan dan lahir dari rasa seni masyarakat Inderamayu dan Cirebon. Dari sebuah ungkapan filosofis menyebutkan: yen wis mlatar gage eling (andai telah banyak melakukan dosa bersegeralah taubat).

Kini, usaha-usaha Kang Lukman sudah merambah ke berbagai bidang. Mulai dari pimpinan pesantren As-Salafie, pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Biruni, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Pengurus Pusat Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU), juga pimpinan jemaah pengajian kampung Al-Waqi’ah “Permata Hati”. |2015.

Baca selanjutnya…

KANG LUKMAN

============================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Pesantren

1 Comment

rani · Sab 22 Desember 2018 at 15:24

what is the article about?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *