Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tiga malam. Kami pulang setelah mengantarkan teman-teman Kang Lukman dan juga Kang Noval. Aku menginap di rumah Kang Lukman dalam suasana pesantren yang syahdu. Aku menjadi santri Kang Lukman untuk beberapa hari.

Pesantren As-Salafie, Babakan, Ciwaringin

PESANTREN ini didirikan oleh Abah Kiai Syaerozie pada tahun 1963.

Malam itu, aku ditemani Kang Noval Maliki menunggangi sepeda motor. Sahabat sepertemanan di Jogja.

Kami berhenti di depan kantor madrasah setelah sejak sore berada di rumah Kang Noval.

Kang Lukman muncul dari arah utara membawa mobilnya yang berwarna putih. Setelah berhenti di dekat tangga kantor madrasah, ia menyuruh sepeda motor Kang Noval ditaruh ke dalam gudang. ”Ikut saya,” katanya, singkat.

Aku menyikut Kang Noval yang tampak bingung.

”Naik mobil?” tanyaku, meyakinkan, karena tak paham mau diajak pergi ke mana.

”Iya,” jawab Kang Lukman singkat. Seperti biasa, ia mengenakan kain sarung berwarna putih bergaris-garis, berbaju putih, dan kopiah hitam.

Tak banyak bicara, akupun mengambil tempat di bangku tengah.

”Di depan saja,” katanya.

”Tidak, Kang. Biar di belakang saja,” jawabku sungkan.

Kang Noval mengambil tempat duduk di dekatku setelah selesai menaruh sepeda motornya di gudang.

Malam itu juga, Kang Lukman tidak berbicara tentang acaranya. Jalan menuju arah Cirebon. Aku berpikir, ia akan mengajak ke hotel tempatku menginap pada malam sebelum di depan stasiun kereta api Pengadegan. Mengikuti rombongan acara peserta pelatihan dai yang digelar pada siang di kampus Al-Biruni miliknya. Tapi, pikiranku meleset setelah Kang Lukman berhenti dan menjemput seseorang.

Tiba di sebuah rumah toko yang baru selesai jadi, telah berkumpul Kang Badrodin dan sejumlah jemaah. Nama yang belakangan kuketahui rajin membina rutinan surat Al-Waqi’ah bersama Kang Lukman, meskipun termasuk memiliki aktivitas yang sangat sibuk.

Surat Al-Waqi’ah adalah salah satu surat dalam Al-Quran yang memiliki fadilah untuk memudahkan urusan. Surat itu biasa dibaca berjemaah secara wiridan seusai salat Maghrib dan Subuh. Pada waktu-waktu tertentu juga sering dibaca di dalam sebuah majelis.

Seperti malam itu. Sebelum pembacaan surat Al-Waqi’ah, terlebih dahulu dibacakan tawasul kepada anggota-anggota keluarga yang telah tiada oleh salah seorang anggota jemaah. ”Di sini, tidak membiasakan kultus individu,” ujar Kang Lukman. Dan, memang yang kusaksikan. Suasana benar-benar cair dan penuh canda. Di samping, masing-masing anggota memiliki hak untuk memimpin dan mengemukakan pendapat. Sehingga tak terlihat jarak yang begitu renggang, meskipun yang hadir adalah pejabat dan pengusaha-pengusaha sukses. Suasana terbangun penuh kekeluargaan. Hampir tak berjarak, karena setiap orang berhak untuk mengeluarkan uneg-uneg dan curahan hati berkenaan dengan problem pribadi. Sehingga tanya jawab membuahkan solusi dan pandangan. Dan, dengan harapan doa yang disampaikan, setiap problem itu bisa diselesaikan.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tiga malam. Kami pulang setelah mengantarkan teman-teman Kang Lukman dan juga Kang Noval. Aku menginap di rumah Kang Lukman dalam suasana pesantren yang syahdu. Aku menjadi santri Kang Lukman untuk beberapa hari.

Aku mendengar suara-suara para santri yang sedang mendaras Al-Quran secara bersama-sama dari dalam rumah. Aku tak tahu model pengajian yang dilakukan. Kenapa di penghujung malam ada santri-santri yang mendaras Al-Quran? Belakangan, aku tahu setelah dijelaskan oleh Kang Lukman. Santri-santri itu mendaras secara bersama-sama untuk saling memperkuat hafalan.

Kang Lukman terus beranjak masuk meninggalkanku. Setelah ia mempersiapkan kamar untukku.

Terlanjur dini, mataku tak bisa terpejam hingga subuh menjelang.

Sejak sepuluh hari kemudian, aku menjadi santri Kang Lukman. Berharap, dia mau memberikan ilmu berharga kepadaku.

Aktivitas kegiatan Kang Lukman hampir dua puluh empat jam. Mulai dari membina pengajian dan menghafal Al-Quran di rumah, mengurusi perguruan tinggi, aktivis di pengurus cabang, wilayah, bahkan NU pusat. Di samping, ia sibuk menghadiri acara-acara keluarga, dan menghadiri undangan. Aku sampai tak tahu persis jam tidurnya. Hanya pagi antara jam delapan sampai jam sebelas. Begitu sebentar. Jam malam, ia juga jarang tidur. Antara Maghrib hingga jam sebelas malam, bila tidak ada tamu yang datang, ia menunggui setoran hafalan santri-santrinya. Kalaupun ada acara di luar sering pula pulang larut malam.

Dan, ia selalu mengontrol kegiatan, membacakan tawasul, atau menyimak bacaan santri-santrinya via telepon genggam. Jarak dan waktu seolah tiada menjadi penghalang. Setiap saat, ia selalu mengecek santri-santrinya. Betapa tekun dan telaten. Fasilitas elektronik, bukan menjadi penghalang bagi hubungan kiai dan santri. Namun, sangat berarti dan efektif bagi kemajuan-kemajuan studi. Sementara relasi guru dan murid senantiasa dibatasi oleh jarak dan waktu. Oleh ruang belajar dan jam sekolah. Hubungan-hubungan batin yang tak terbangun secara emosional, justeru hubungan yang dianggap formal dan rasional seolah ditiadakan.

Namun pula, bukan berarti kewibawaan seorang kiai terlampaui oleh kedekatan ini. Justeru, penghormatan mereka menjadi kian mendalam. Sebagai hubungan emosi yang benar-benar bersambung. Sebuah hubungan cinta guru dan murid. Dan, cinta ini kemudian dijadikan Kang Lukman sebagai dasar menumbuhkan minat menghafal Al-Quran. Sebagai basic need yang menjadi landasan metodenya.

Kang Lukman seperti memang memiliki mobilitas tinggi hingga ke luar Cirebon dan sering ke Jakarta menangani tugas-tugas dari PBNU.

Sebuah novel yang diberi judul Pena Santri cukup detil menggambarkan situasi dan kondisi pesantren As-Salafie yang eksentrik. Sebuah novel yang selayak menjadi biografi penulisnya. Menceritakan tentang pengalaman sang penulis selama berada di pesantren itu. Tokoh-tokohnya tidak banyak yang fiktif, meski ada imaginasi yang bermain, namun tidak banyak. Ahmad Musyafiq demikian nama penulisnya. Dia santri asuhan Kang Lukman. Dia menulis novel setebal 394 halaman lengkap dengan daftar buku-buku bacaan. Sebuah kerja keras yang intens untuk ukuran seorang pelajar alumni sekolah menengah seperti dirinya. Memang, tidak ada banyak pelajar yang tekun di negeri ini dengan tulisan berbobot. Aku baru menemukan satu di antara puluhan, atau ratusan pelajar-pelajar, bahkan mahasiswa yang menulis dan meneliti secara serius. Kalaupun ada, hanya sebatas penulis puisi atau cerita pendek. Itupun juga tidak banyak. Syafiq telah menulis, ketika banyak orang memilih menulis ketika di usia yang sudah lanjut.

Pagi telah datang. Kewajibanpun telah memanggil. Pintu Allah telah terbuka lebar. Segala permintaan pasti terkabulkan.” Syafiq mulai melukiskan suasana pagi di pesantren As-Salafie, suatu hari di waktu Subuh. Ia menceritakan kegiatan para santri yang sudah dipadati sejak dari bangun tidur.

…Dengan suara azan dan semilir angin pergantian musim. Membuat suasana pagi itu layaknya ditusuk oleh ribuan jarum es yang mendinginkan badan. Lentiknya jemari tangan menyentuh air, ubun-ubun bergetar diiringi dengan menggigilnya sang badan. Suara cipratan air terdengar dari kamar mandi para santri. Sepuluh kamar mandi sudah terisi penuh. Begitupun dengan yang mengantri juga penuh….

Begitu, Syafiq membuka suasana.

Dan, seorang siswi madrasah yang bernama Nurlaila menjadi tokoh imaginatif. ”Nur. Sesuai dengan artinya dia selalu berdiri di dekat jendela setiap pagi,” tulis Syafiq. Seorang siswi Madrasah Aliyah Al-Syarifiyah yang mendapat penghargaan tropi dan beasiswa dari Bupati Indramayu sebagai siswi teladan.

Namun, suasana indah nan syahdu itu berubah menjadi insiden kecil. Ketika Syafiq menangkap kedisiplinan yang seharus diterapkan. Insiden itu, ketika segerombolan siswa yang terlambat masuk ke dalam gerbang sekolah.

Berikut, dialog tegangan yang dibangun oleh Syafiq antara satpam penjaga sekolah dan para santri:

BRAKKK.

Pintu gerbang sudah ditutup.

”Yaaa paa?” teriak salah seorang santri.

”Makanya kalau tidak ingin terlambat datangnya lebih pagi,” sahut pak satpam.

”Tapi kan di pondoknya ngaji?” salah satu santri PIM memprotes.

”Iya pa. Apalagi kamar mandinya antri,” timpal yang lain.

”Orang yang cerdas tidak akan mungkin terperangkap  di lubang jebakan yang sama untuk yang kedua kalinya. Cobalah kalian introspeksi diri kalian sendiri! Pihak sekolah sudah memberikan kalian dispensasi sepuluh menit. Di sekolah negeri lain mana ada. Seharusnya kalian lebih bisa membagi waktu kalian. Kalian itu sudah bukan anak kecil lagi. Lihat seragam kalian! Putih abu-abu, bukan putih merah atau putih biru lagi,” tutur Pak Agus, sang satpam.

Dari tegangan ini, Syafiq telah berhasil membangun sebuah konflik cerita yang menarik antara santri, satpam, guru kelas, bahkan santri-santri senior dan abah kiai. Meskipun dalam gambaran ini, ia tidak menghadirkan cerita, kejadian dan tokoh-tokoh lucu. Cerita yang dibangun olehnya berbentuk deskriptif aktivitas sehari-hari di pondok pesantren Babakan. Ia seharus menghadirkan kejadian-kejadian lucu seperti seorang santri yang terjebak oleh kejahilan temannya, ketika terkurung di dalam kamar mandi. Santri itu berteriak-teriak, sementara abah kiai sudah berada di depan pintu kamar mandi itu. Insiden-insiden kecil, namun memalukan sebetul banyak terjadi di kalangan santri yang bisa dikemas dengan baik.

Namun demikian, cerita-cerita Syafiq memuat pula informasi sejarah. Seperti kisah dalam bab Sang Tokoh Selatan. Dijelaskan urut-urutan kiai-kiai berpengaruh di Babakan sejak masa Kiai Jatirah hingga anak turunnya.

Dan tanpa diduga. Cerita-cerita di dalam pesantren seperti dituturkan oleh Syafiq persis yang diinginkan oleh Gus Dur atau Abdurrahman Wahid di dalam kritik sastra pesantrennya. Konflik atau pertarungan bukan saja menghadirkan cerita roman-romanan. Cerita cinta antara dua anak manusia dan romantisisme pesantren dengan rutinitas dan nilai-nilai normatifnya. Cerita yang dihadirkan Syafiq adalah cerita pertarungan kebatinan merebut kebenaran antara guru dan murid. Antara nafsu dan kebenaran Ilahi. Hal yang berbeda dari cerita-cerita film cowboy yang sering menampilkan syerif dan bandit. Antara yang baik dan penjahat kriminal.

Hubungan cinta antara Muhammad Fathir dan Zuhriatul Aini menjadi cerita yang romantis. Cerita yang tak biasa terjadi di pondok-pondok pesantren. Selama ini, asumsi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertutup dari dunia luar, bahkan selalu menjaga hubungan antara laki-laki dan perempuan, digambarkan dalam suasana berbeda.

Fathir dapat menangkap suara Aini ketika sedang mengajar qiraah. Kemerduan, keanggunan, kecantikan, dan kelembutan Aini dapat ditangkap oleh Fathir.

Meskipun dalam koridor yang masih terbalut oleh normativitas pesantren, namun naluri manusiawi Fathir untuk mencintai lawan jenis masih diceritakan secara wajar. Ustadz Sholeh, guru mengaji Fathir, mendorong dan menyarankan agar Fathir berani mengungkapkan rasa cintanya kepada Aini. Berikut dialog antara Fathir dan Ustad Sholeh:

“Ya sudah, ungkapkan saja!”

”Mengungkapkannya? Maksudnya mengatakan apa yang aku rasakan pada Aini bahwa aku mencintainya?”

”Benar.”

”Tapi…”

Dialog tersebut merepresentasikan ketaklaziman yang biasa terjadi di pondok pesantren. Namun, balutan gemerlap cinta itu tidak dibuka secara vulgar. Masih ada batas-batas kewajaran dalam normativitas yang dibalut dalam kesemuan dan rasa malu. Meskipun gejolak pikiran dan rasa di dalam membangun cerita tersebut tidak secara detil, namun masih dijembatani dengan pengungkapan bahasa tulis. Tentu, hal ini mengingatkan cerita-cerita surat yang pernah ditulis oleh HAMKA. Ada keberanian dan ketaklaziman yang juga dilakukan oleh Aini, ketika ia mendahului menulis surat kepada Fathir sang pujaan. Meski dalam bentuk pernyataan terima kasih atas pernolongan yang pernah diberikan fathir kepada Aini.

Cerita dua sejoli ini mengingatkan cerita-cerita masa lalu yang antik dan klasik. Ketika hubungan rasa hanya dilampiaskan melalui kata-kata tertulis. Human relation yang masih mengundang rasa penasaran dan penuh gejolak. Tak dapat dibayangkan dalam situasi yang canggih seperti saat ini, ketika hand phone sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Ketika hubungan perasaan itu hanya bisa dilampiaskan melalui pesan-pesan singkat.

Namun cerita itu digambarkan oleh Syafiq secara klasik. Ketika ia memilih surat sebagai alat komunikasi.

Gayung bersambut. Dua sejoli itu sama-sama memendam rasa. Hati yang berbunga-bunga tak terkatakan. Pijakan serasa di awan. Tak menyentuh bumi. Digambarkan oleh Syafiq: …Semangat belajar Fathir seolah-olah meledak. Ibarat dinamit yang digunakan untuk mencari sumber minyak. Semua kegiatan pondok, baik yang wajib maupun yang sunnah dilahap habis olehnya… Demikian, perasaan Fathir kian membara.

Namun, perasaan demikian tidak berlangsung lama. Konflik cerita kembali dibangun oleh Syafiq, ketika Aini harus menikah dengan orang pilihan ibunya, Zaenal Mustofa. Perasaan berbunga-bunga itu telah merubah hidup Fathir menjadi galau, resah, dan muram.

Dengan perasaan yang tak menentu. Hati yang tercabik-cabik. Fathir harus menerima kerelaan untuk melepas sang pujaan hati.

Cerita berlanjut.

Dunia ternyata memang bulat. Pernak-pernik kehidupan di pesantren memiliki nuansa tersendiri. Terutama cerita cinta Fathir yang gamang.

… Dan di malam ini. Air matanya kembali mengalir di sepertiga malam akibat ketidakberdayaannya melawan gejolak rasa yang terus tumbuh di hatinya. Cinta memang suatu hal yang indah. Mampu mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin….

Jika kemudian cinta dapat dibagi menjadi tiga oleh Sangidu (2008); pertama, cinta yang menggebu-gebu, cinta monyet (hubban syadidan), kedua, cinta yang sangat mendalam (hubban ‘amiqan), serta ketiga cinta yang menyatu (hubban jamman). Maka, cinta Fathir adalah cinta yang acuh. Karena, cinta-cinta dalam tiga kategori tersebut harus diselami dengan pengendapan dan penerimaan (resepsi) sehingga benar-benar berbuah kebijaksanaan. Entah, sebagai cinta Ilahiah atau nasutiah belaka.

Cerita cinta Fathir hanya sebatas pengalaman cinta remaja. Sebagai pemanis dan proses pendewasaan. Belum memasuki cinta penghayatan seperti Laila Majnun, Qais dan Lubna, atau Romeo dan Juliet. Yang melampaui kegilaan cinta. Gandrung cinta.

Cinta dengan penuh keikhlasan. Di dalam menempuh proses menuju cinta-Nya.

Ada banyak cinta yang penuh pengharapan. Pada seseorang yang sering berakhir kandas. Namun, cinta untuk meraih rida-Nya adalah sebenar-benar cinta.

Babakan, Ciwaringin, Cirebon, 2015.

============================

M. Sakdillah (author, director, culture activities).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *