Demi sebanyak yang harus ditinggalkan
Di dunia nan fana ini
Dan sebaik-baik yang harus ditinggalkan
Adalah amal saleh dan kebajikan
Babakan/20/12/2015.

Babakan Ciwaringin

PAGI itu, 15 Desember 2015, udara sejuk menerpa. Tanah yang tersiram hujan gerimis tak menjadi becek. Sayup-sayup terdengar suara para santri menggemakan lantunan tasbih, tahmid, dan takbir dari arah mesjid di tengah lokasi kawasan pondok pesantren itu. Kokok ayam dan deru sepeda motor menanda aktivitas kehidupan telah dimulai. Sementara Gunung Ciremai berdiri anggun membiru tertutup awan gemawan. Cahaya matari terang membelah bumi. Sungai Ciwaringin yang telah dangkal mengalir tenang, ketika jalan desa itu pun dipenuhi oleh santri-santri yang berseliweran.

Aku terjaga.

Desa itu terletak di pinggir kali. Di ujung barat Kabupaten Cirebon, dekat jalan tol Cipali. Terdapat 47 buah pondok pesantren di sana. Beragam program pendidikan keagamaan bersifat salaf menjadi ciri khas. Kata salaf di sini tidak aku katakan sebagai tradisional, karena akan bertentangan dengan kata modern yang sengaja diciptakan untuk membedakan pola pikir dan pendidikan di Nusantara.

Salaf bagiku adalah jiwa tradisi, di samping merupakan karakter sejarah kebudayaan muslim di seluruh dunia. Karakter yang dapat dipandang dari berbagai aspek, baik berkaitan dengan sosial, ekonomi, pendidikan, politik, maupun pengalaman beragama. Misal di bidang pendidikan, penggunaan metode menghafal yang kuat sebelum menganalisa sebuah pokok masalah merupakan bagian dari ciri khas karakter tradisi ini. Namun, menghafal bukan berarti harus membeo. Bagiku, menghafal tidak selama itu sebagai metode yang buruk dari tradisi yang minor, karena lemah di sisi analisis. Justeru, menghafal merupakan salah satu pra-syarat yang sangat baik untuk menganilisa sebuah masalah. Meskipun meletakkan metode menghafal sebagai satu-satu cara juga memang bukan sebuah cara yang baik pula. Namun dengan meletakkan pola menghafal, karakter tradisi ini telah menempatkan pola kritik di dalam argumen-argumen yang tajam. Terutama, ketika memandang sumber referensi yang original dan akurat. Seperti dalam memandang otentisitas kitab suci Al-Quran. Kitab ini disamping tertulis (transkripsi), juga dipelihara secara hafalan.

Desa Babakan dikenal banyak melahirkan ulama-ulama besar. Dalam ranah sejarah pondok pesantren di Nusantara, sepatut dikatakan sebagai salah satu pondok pesantren tertua di Nusantara. Sebagaimana Kabupaten Cirebon adalah salah satu wilayah bersejarah, ketika pelabuhan Dermayu di masa lalu telah membuka hubungan yang luas ke mancanegara. Maka, tak heran jika kemudian kehidupan di sana sangat beragam dari segi interaksi agama dan budaya dari berbagai suku bangsa.

Tersebut Abah Kiai Jatirah–seorang ulama dan waliyullah–yang membuka daerah tandus di tepian sungai Ciwaringin. Kata Babakan diambil dari perannya yang mbabak-babak (memulai atau membuka lahan). Ia bernama asli KH Hasanuddin. Ia membuka desa Babakan sekitar tahun 1127H/1715 M. Tidak diketahui asal usulnya, tapi diyakini ia berasal dari Pamijahan, Garut. Salah seorang keturunan Syekh Muhyiddin cucu Maulana Ishak Raden Paku atau Sunan Giri.

Sejarah pendirian pondok pesantren Babakan oleh Abah Kiai Jatirah adalah bentuk kontra kolonial. Hal ini sangat dimungkinkan, karena Belanda pada masa itu mulai menanamkan pengaruh dan intervensi pada kekuasaan keraton kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sehingga ada pihak yang pro dan kontra sebagai aksi politik devide et impera (pecah belah) yang dilakukan oleh Belanda. Pihak-pihak yang kontra—terutama ulama-ulama—biasa mencari lahan baru untuk mendirikan pondok pesantren di pedalaman guna menghindar dari pusat kekuasaan keraton yang telah dikuasai oleh Belanda. Maka tidak heran, jika kemudian ulama-ulama yang sebetul sangat dihargai dan dihormati pihak keraton masih dipandang segan.

Begitu pula dengan Abah Kiai Jatirah, ia mulai membuat tajug (musalla) sederhana guna mengumpulkan masyarakat sekitar. Ia mengajarkan ilmu-ilmu agama serta kanuragan. Lama kelamaan pesantren yang didirikan olehnya berkembang pesat dan ramai. Sejak itu, pondok pesantren berdiri dengan sistem pengajaran dan pendidikan yang lebih rapi secara administratif. Pendidikan secara klasikal pun dikenalkan oleh Pondok Pesantren Miftahul Muta’allimin sebagai pondok pesantren pertama menggunakan metode tersebut. Baru kemudian, berdiri program-program pendidikan yang mengutamakan bidang masing-masing seperti bahasa, fikih, hadis, hingga perguruan tinggi dewasa ini.

Mengenal Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin hampir sama dengan pondok-pondok pesantren yang berkembang di Nusantara. Diawali dari kehendak seorang ulama yang ingin mendidik masyarakat dengan suri teladan dan pemahaman keagamaan yang dalam. Tidak saja pada aspek pengetahuan, melainkan pula pada praktek kehidupan sehari-hari, terkhusus berkenaan dengan akhlak karimah. Dan sejak lama, sebagaimana pada umum pondok-pondok pesantren di Nusantara, seorang ulama menguasai bidang tertentu dengan kitab spesial tertentu pula. Seperti Hadrat Syeikh KHM Hasyim Asy’ari Tebuireng yang alim di bidang hadis, KH Munawwir Krapyak yang alim di bidang Al-Quran, telah memberi corak genius pondok pesantren yang diampu. Sehingga fenomena santri kelana pada masa lalu menjadi tipikal tersendiri di dalam sejarah pondok pesantren di Nusantara. Setiap seorang santri yang acap ingin menguasai suatu bidang keilmuan, ia akan berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain sesuai keilmuan yang menjadi minatnya. Begitu pula di Babakan setelah berkembang, kajian keilmuan mengkhususkan diri pada kajian-kajian: ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah), ilmu fiqh, dan tasauf. Tiga corak yang membentuk pengalaman dan basis pengetahuan tersendiri yang telah mengintegrasi ke dalam pola pikir masyarakat Babakan seturut perkembangan zaman. Tiga corak yang kemudian membentuk watak dan karakter.

Pengetahuan yang kemudian disadari membentuk watak masyarakat tersebut kemudian dipercaya oleh masyarakat Babakan, terutama para guru (masyayikh), terus dipertahankan sebagai akar. Sehingga walaupun realitas zaman menghendaki perubahan pola pendidikan, namun di satu sisi tradisi tiga pengetahuan tersebut tetap terus dipertahankan.

Seperti cerita yang kemudian dituturkan oleh Kang Ibi Satibi—alumni, dosen di UIN Sunan Kalijaga yang kemudian menjadi menantu Abah Kiai Sanusi—sangat berkesan pada kehidupannya di pesantren Kebonjambu. Pendidikan salat berjemaah yang dulu senantiasa diterapkan di pesantren terus membekas di dalam hidupnya. Meskipun kemudian, hidup di lingkungan berbeda di luar pesantren. Ia merasa tidak nyaman, ketika tidak menjalani salat berjemaah yang sudah tertanam di dalam jiwanya. Pengalaman paling berkesan yang dialami oleh Kang Ibi, ketika ia menjalani setoran baca kitab (bandongan). Ia selalu ditegur oleh gurunya ketika sedang menahan kantuk.

Di pesantren Kebonjambu–salah satu pesantren di Babakan–diterapkan kebijakan agar setiap santri dapat menguasai bacaan dan arti sebelas kitab elementer standar pesantren seperti Fathul-Qarib dan Safinah. Dengan menguasai kitab standar tersebut diyakini santri-santri sudah bisa mengajar dan terjun ke masyarakat, minimal dalam sekup desa.

Kiai sebagai figur sentral senantiasa memberikan contoh sekaligus memimpin perbaikan masyarakat, bahkan bukan tidak mungkin bila seorang kiai pun menjadi pejuang dan pelopor pergerakan. Seorang kiai menjadi katalisator yang memberi ruang bagi kehidupan yang damai, tenteram, dan sejarahtera. Cita-cita itu senantiasa diimbangi melalui upaya-upaya pembelaan dan perhatian serius bagi problematika yang ada di masyarakat. Jika zaman dahulu, seorang kiai mampu mengobati orang sakit dengan jampi-jampi, maka pada era sekarang kiai—melalui pondok pesantren—membuka layanan-layanan kesehatan seperti rumah sakit dan layanan bersalin. Penguasaan kitab-kitab kuning standar tersebut dapat menjawab problem-problem sosial di lingkungan suatu masyarkat. Karena, dengan tatanan sosial yang baik, perbaikan kualitas hidup tentu akan lebih baik. Hubungan saling tolong-menolong dan gotong royong (ta’awun) telah diajarkan oleh agama, namun dalam praktek sesungguh tertuang di dalam hubungan mu’amalah (relationship) yang dilandasi dengan etika, akhlak, amal perbuatan, dan ibadah. Sikap dasar mu’amalah yang seimbang tidak menghendaki ada sistem tipu daya (gharar). Hubungan tersebut diyakini tidak saja dipersaksikan oleh dua pihak yang bertansaksi, melainkan ada mata Tuhan yang Maha Melihat. Faktor filosofis dan dimensi eternal ini yang diajarkan di dalam kehidupan sosial di pesantren. Seorang santri yang telah tunai belajar di pesantren, saat kembali ke masyarakat, ia dituntut untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang didapatnya. Dan, sebagai pengamal yang baik, santri tersebut bisa dijadikan panutan dengan sebutan yang pantas dan mulia di lingkungan masyarakat sebagai kiai.

Hubungan kiai dan masyarakat merupakan relasi multi dimensi yang meliputi dunia dan akhirat. Dimensi kasat mata dan yang nyata. Yang tak terukur oleh uji klinis sebuah laboratorium. Dengan kata lain, kiai dan masyarakat adalah bagian yang tak terpisahkan dilihat dari relasi ini.

Di samping, seorang kiai secara diametral menyediakan kader-kader mumpuni yang siap menggantikan tampuk kepemimpinan dan pengembangan ajaran-ajarannya. Maka, tersebutlah kiai-kiai besar sepeninggal Abah Kiai Jatirah, seperti Abah Kiai Amin Sepuh, Abah Kiai Abdul Hannan, Abah Kiai Makhtum Hannan, Abah Kiai Sanusi, dan lain-lain pada generasi belakangan di Babakan.

Sesuai dengan karakter dan minat, setiap kiai biasa menguasai suatu bidang dengan spesialisasi. Seperti Abah Kiai Sanusi, pengasuh pesantren di Kebonjambu, memiliki kepandaian sastra dan menyadur kitab-kitab seperti kitab tasauf Safinatun-Najah karya Imam Nawawi ke dalam bentuk nadham (syair).

***

PONDOK Pesantren Babakan dalam pengamatan Kang Mustopa memiliki nuansa berbeda, apabila dibandingkan dengan pondok-pondok pesantren lain. Keunikannya adalah peran perempuan di balik keunggulan kiai-kiai. Ada sebuah cerita lisan yang menyebutkan hal ini, karena ada salah seorang kiai pimpinan pondok pesantren di Babakan yang menikah dengan salah satu puteri keraton. Sang ratu, demikian disebutkan, berperan besar membantu perjuangan sang suami. Peran sang isteri dan kasih sayang seorang isteri yang menonjol ini–di dalam praktek kehidupan di pondok-pondok pesantren Babakan–kemudian berpengaruh pula pada pola kehidupan yang terbuka. Keunikan yang dapat dibandingkan dengan pola-pola kehidupan umum di pondok-pondok pesantren lain.

“Hal itu tergantung persepsi orang menilai,” kata Kang Ibi, ketika menemuiku di ruang perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di suatu sore. Di tengah terjangan hujan yang mengguyur deras.

”Orang bisa melihat dari sisi mana. Positifkah? Atau, justeru negatif? Kalau dilihat dari sisi positif, jelas pola keterbukaan dan kesetaraan membuka peluang lebih luas. Nilai-nilai demokratis, kekeluargaan, penerimaan pada potensi yang datang dari luar akan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan pondok pesantren itu. Dapat dilihat di sana dari integrasi pendidikan pesantren, madrasah, dan sekolah umum berjalan cepat. Ketika sebuah pondok pesantren salaf tidak berani membuka sekolah, karena takut terjadi perubahan pada pola pendidikan dan pengajaran, di Babakan justeru berjalan lebih dahulu. Tanpa meninggalkan dan mengabaikan tradisi di pesantren. Akar dan tradisi pesantren berupa pengajaran kitab kuning tetap terpelihara dengan baik.”

Kang Ibi menyebutkan nama-nama kitab kuning yang dipelajarinya dengan lancar. ”Santri-santri zaman sekarang banyak kurang mendalami pemaknaan, sehingga mereka cenderung saklek. Menghafal Al-Quran tanpa membaca makna dan tafsirnya menyebabkan mereka saklek. Ini berbahaya!”

”Berbahaya kenapa, Kang?” tanyaku.

”Berbahaya untuk generasi mendatang. Sepuluh tahun mendatang, jika banyak yang hafal Al-Quran secara lafal saja, tanpa mengenal makna dan tafsirnya, orang akan berpikir saklek semua. Radikalisme itu muncul, karena orang biasa berpikir saklek.”

”Kira-kira menutup kebenaran lain, begitu, Kang?”

”Iya,” jawabnya antusias. “Tapi, dengan pola berimbang (mu’adalah), kesenjangan itu masih bisa diatasi. Di satu sisi, santri menghafal Al-Quran secara tekstual (lafdhi), di sisi lain santri dituntut memperdalam maknanya melalui kajian-kajian yang sudah diajarkan pesantren sejak lama. Untungnya di Babakan, program takhassus masih berjalan dan dipertahankan.”

Hal yang dapat kurasakan ketika normativitas yang pada akhir menjadi penghalang orang-orang mendalami agama untuk menjadikannya sebagai pengalaman batin. Belajar Al-Quran hanya lafal saja. Belajar bahasa sebatas struktur dan kosakata, tanpa melihat watak bahasa. Belajar pemikiran sebatas dari yang tertulis, tanpa melihat pengalaman batin dan teladan hidup si pengarang atau penulis kitabnya. Kesuksesan hanya dipandang dari segi materi. Pun, kesadaran yang dibangun adalah kesadaran umum dan formal.

”Ilmu-ilmu pesantren seperti ilmu ’arudl masih diajarkan di Babakan,” tutur Kang Lukman, menambahkan.

”Padahal, ilmu semacam itu sudah langka dan jarang diajarkan di pesantren-pesantren lain,” lanjutku.

“Ya, ilmu ‘arudl itu mengajarkan tentang membuat macam-macam puisi berbahasa Arab. Pada zaman dulu, pencipta ilmu itu sedang menikmati keindahan deburan ombak di tepi laut. Deburan-deburan yang esensial itu dirasakan dengan ungkapan-ungkapan estetis. Sehingga muncullah berbagai irama yang di dalam ilmu tersebut dinamakan dengan sebutan bahr (titi nada). Bahr itu dalam bahasa Arab berarti laut. Deburan ombak laut.”

”Berarti di pondok pesantren memiliki disiplin keilmuan yang lengkap, Kang, ya?”

”Betul. Dan, itu kita pertahankan di Babakan.”

“Wah, sayang. Dulu di pesantren, aku tidak mengenal lagi ilmu itu,” sesalku. “Padahal, jika aku sempat belajar mungkin bisa juga membuat syair-syair Arab? Memang sangat disayangkan, belakangan banyak ilmu-ilmu pesantren yang hilang. Santri-santri hanya belajar ilmu hukum saja, tanpa mengenal keindahan bahasanya.”

Problem lain yang dihadapi pondok pesantren adalah apabila kurikulum pemerintah tersebut diterima secara integral ke dalam kurikulum pesantren, maka yang terjadi adalah pendangkalan atau generalisasi keilmuan. Demikian yang disampaikan oleh Kang Ibi. Pelajaran-pelajaran melalui kitab-kitab standar tidak bisa diterapkan. Karena general, maka ilmu yang disampaikan pun bersifat umum dan mendasar sebagaimana yang terjadi pada pola terpadu saat ini. Pelajaran hanya disampaikan pada taraf letterlaijke, tekstual. Tidak sampai pada pemaknaan yang lebih dalam dari sistem pengajaran. Dan, kesenjanganpun terus terjadi. ”Dengan pengajaran dan program tahfidh, misal, santri hanya diajarkan pada menghafal saja, tidak pada taraf pemaknaan. Agama pada masa mendatang dapat dilihat dari sekarang, akan menjadi formal tekstual sebagaimana hafalan itu.

Jika akar pemaknaan yang biasa didapat melalui pengajian kitab-kitab itu hilang, maka generasi mendatang akan berpikir formal semua. Dengan sendiri, masa depan bangsa akan terancam. Sebagaimana kekerasan agama dimunculkan dari santri-santri yang berpikir formal ini.”

”Pengajaran dan pendidikan di pesantren itu bakal membentuk watak santri-santri ke depan. Jika tidak diperkuat segi pemaknaannya, maka mereka menjadi tekstualis. Tidak toleran.”

Pola kehidupan di pesantren-pesantren Babakan memang masih sangat sederhana. Rumah-rumah penduduk dan asrama masih membaur. Sangat alami dan berjalan apa adanya. Relasi santri dan kiai seperti hubungan keluarga. Penuh gotong royong dan kekerabatan. Aku membandingkan pesantren yang katanya modern itu. Pesantren modern cenderung memberi jarak kiai dan santri melalui program-program yang berjalan sendiri-sendiri. Khayalku menerawang menembus awan. Santri-santri pesantren modern sering dikurung dalam sebuah sistem dan struktur yang ketat, disiplin dalam seragam, tanpa keragaman. Padahal, dari sistem itu bisa mengarah kepada intoleran. Kasih sayang kiai sebagai ganti orangtua di rumah masing-masing santri tak tergantikan. Aku merasakan dan mulai membenarkan ungkapan Kang Ibi. Kasih sayang ibu masih terasa denyutnya di Babakan di dalam getaran-getaran halus. Sekalipun ada gejolak, tapi sangat halus dan indah seperti alunan ombak. Mungkin benar kata adik ipar dari sepupuku yang berasal dari Tegal, “Kulon itu ibarat ibu, Wetan itu ibarat Bapak. Mondoklah di Barat walau hanya beberapa hari, baru kemudian ke timur!” Kulon yang dimaksud adalah pesantren wilayah Jawa Barat, sementara Wetan adalah pesantren-pesantren di wilayah Jawa Timur. Akhirnya, tercapai sudah cita-citaku untuk mondok di Kulon, setelah dulu mondok di Wetan.

Selain pondok pesantren yang memakai istilah modern, pola kehidupan pesantren juga mengenal pola sosok. Sosok atau figur seorang kiai yang sangat berpengaruh di dalam pola kepemimpinan. Misal, ketika terjadi pergantian kepemimpinan pondok pesantren, pada mula memang masih memprioritaskan “putera mahkota” laki-laki sebagai pengganti pemimpin sebelum. Jika anak tertua tidak ada yang laki-laki, maka akan diambil dari susunan keluarga yang lain seperti paman atau keponakan sebagai pengganti. Pola pesantren seperti ini menggantung pada sosok seorang kiai. Efek negatif yang dialami model pesantren seperti ini, apabila sang kiai panutan tersebut meninggal dunia, maka akan surut pula pengaruhnya. Yang menyebabkan pola kemunduran, bahkan menyebabkan pesantren tutup, karena tidak ada yang meneruskan. Jatuh bangun sebuah pesantren ditentukan oleh figur seorang kiai.

Untuk menutupi kekurangan pada sektor regenerasi kepemimpinan, pesantren model ini memunculkan fenomena kalangan gus. Yang menarik dalam kehidupan pesantren model terakhir, kehidupan putera-putera mahkota dalam kerangka “gus” yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah sebuah nomenklatur budaya tersendiri yang membedakan diri dari budaya kiai dan santri. Di sini kemudian, peran seorang gus (putera mahkota) sering tampak sebagai fenomena yang menonjol. Sebagaimana dunia kiai adalah dunia tokoh yang sudah dipandang mapan, baik secara mental, spiritual, ekonomi, dan hubungan masyarakat, di samping dunia santri yang memiliki ciri khas sebagai penuntut (pengabdi) ilmu kepada sang kiai. Dengan demikian, dunia gus yang lahir dalam nomenklatur budaya pesantren tersebut tidak begitu tampak di Babakan. Para putera kiai (para gus) tersebut biasa sangat dihormati dan disegani di lingkungannya sehingga pada tindakan-tindakan tidak lazim (nyeleneh) sering disikapi sebagai sebuah kewajaran. Bahkan tidak sedikit, jika hal ini kemudian menumbuhkan pola pandang kultus individu terhadap sosok tertentu.

Namun, sebagaimana pola keterbukaan yang terjadi di Pondok Pesantren Babakan, kepemimpinan pesantren masih mementingkan putera tertua, baik putera maupun puteri. Jika kepemimpinan jatuh pada seorang puteri, maka kepemimpinan secara otomatis akan diambil alih oleh putera menantu. Tentu, dengan pandangan lebih cakap dan memiliki ilmu yang cukup, yang dipersiapkan oleh kiai sepuh. Dengan kata lain, seorang pemimpin pesantren di Babakan tidak harus seorang “putera mahkota” dari keturunan langsung keluarga, melainkan juga seorang menantu dapat mewarisi kepemimpinan seorang kiai sepuh.

Begitu pula, pihak dari luar keluarga pesantren yang berkeinginan mendirikan pesantren sendiri di wilayah Babakan akan diberi keleluasaan dengan kepandaian yang dimilikinya. Dan, nilai kompetitif terselenggara dengan baik, karena tidak ada rasa sungkan dan penghormatan berlebihan. Seperti Kiai Fathoni, seorang guru pendatang yang mendirikan pesantren, kemudian menerima santri.

Dengan demikian, peran menantu lebih leluasa, bisa mewarisi atau membuat pesantren baru. Tanpa mempertimbangkan trah, santri-santri yang pintar bisa berprestasi. Ada toleransi, demokratisasi, dan tentu kekeluargaan.

Fenomena kekeluargaan ini sering ditandai dengan saling mengajak makan bersama antar kerabat di lingkungan pesantren. Seperti sore itu, aku diajak Kang Lukman ke rumah Kang Kholik makan bersama dengan menu kerang sambal yang belum pernah kutemui di daerah lain. Biasa aku sering makan kerang sungai yang sudah terbuka cangkangnya ketika direbus, namun kerang laut yang disajikan dengan sambal itu tidak terbuka. Dengan sendiri, aku harus menghisap rasa pedas dan gurih. Dengan tangan yang berlumuran bumbu-bumbu rempah yang kental. Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Perut terasa kenyang dengan sajian suasana yang akrab.

Tradisi seperti ini jarang terjadi, karena suasana yang terbangun adalah kekeluargaan dengan membangun komunikasi yang jarang terjadi di dalam kultur yang berbeda. Dan aku mengakui, jika tempat komunikasi terbaik adalah di meja makan.

Dari pola budaya terbuka ini kemudian, penerimaan hal-hal yang bersifat baru bisa terintegrasi ke dalam kultur pesantren di Babakan, termasuk di dalam pendidikan. Sementara tegangan sering terjadi antara pesantren dan penyelenggara pendidikan pemerintah seperti penerimaan model sekolah yang hingga sekarang menjadi problem pendidikan di pesantren, justeru dengan lentur bisa diterima. Jarang terjadi, ada sebuah sekolah negeri yang berdiri di tengah-tengah suasana pondok pesantren seperti Madrasah Aliyah Negeri Babakan.

Yang biasa dijumpai, pondok pesantren tidak menerima kurikulum dari pemerintah hingga taraf menutup diri dengan menyandang stigma yang terkadang negatif sebagai pesantren salaf. Pesantren kuno dan kolot. Tidak mengenal budaya luar.

Di satu sisi, tegangan terjadi ketika pihak pesantren menentang penyelenggaraan kurikulum dari pemerintah. Sebagaimana yang terjadi kemudian, kurikulum pemerintah tersebut memaksa menghabiskan waktu kegiatan belajar di sekolah hingga sore hari, tanpa mempertimbangkan jam mengaji santri-santri. Hal ini pernah menjadi wacana nasional sehingga Al-Maghfurlah KHA M Sahal Mahfudh dari PBNU angkat bicara menentang pemberlakuan jam belajar sembilan jam yang akan diterapkan di sekolah-sekolah itu.

Namun di Babakan, hal ini tidak terjadi. Kurikulum asli pesantren masih bisa dipertahankan dengan memberi ruang dan waktu bagi pihak penyelenggara sekolah untuk santri-santri. Sehingga alumni-alumni yang hendak melanjutkan belajar di perguruan tinggi tidak menemui kendala pada formalitas ijazah.

Dari pengalaman ini, program takhassus yang diterapkan di pesantren-pesantren yang ada di Babakan masih dapat mempertahankan akar tradisi keilmuan. Setelah santri-santri diajarkan dengan ilmu-ilmu elementer, santri yang sudah dianggap mampu harus mengaji sorogan untuk memperdalam makna keilmuannya. Agama yang semula dipandang hanya sebatas formal, diperdalam lagi dengan pengenalan-pengenalan makna. Teks-teks agama—yang pada dasar memiliki makna multi tafsir—dapat memahami perbedaan-perbedaan pendapat (hujjah).|2015.

Lanjutkan baca…

==========================

Penulis : M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Pesantren

2 Comments

YULI · Sen 10 Desember 2018 at 02:33

Subhanallah saya ingin nanti anak saya di buat ke psantren agar akhlaknya terbentuk.

ABDUL WAHID · Kam 20 Desember 2018 at 23:45

izin di bgi lagi min

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *