gayatrimedia.co.id

Teman semasa kuliah yang gigih. Perjalanan secara sporadis telah kami lalui. Dalam rentang yang tidak bentar.

Dulu, dia sering datang ke kosku, karena kami tidak dalam satu jurusan, meskipun dalam satu fakultas yang sama. Yuslim Fauzi namanya.

Masa-masa kuliah adalah yang paling berkesan dalam perjalanan hidup kami. Sama-sama suka merayu bersama angin dan angan. Tapi, tuntutan terhadap dirinya lebih realistis untuk menjadi seorang wirausaha. Ia memulai bisnis sebagai reserver komputer. Semacam jual beli perangkat komputer di bilangan Bimokurdo, Sapen. Jalan teramai dan penuh kenangan bagi mahasiswa-mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga.

Dekat. Kami sangat dekat. Meskipun Yuslim cenderung bersikap apatis. Dan, dia sangat mengerti akan sikapku yang juga cenderung taat pada aturan alam.

Yuslim sebenarnya memiliki referensi literasi yang kuat. Dia bergaul dalam komunitas Layla. Sebuah komunitas sastra yang tak lama, karena Helmi J Fauzi gagal menjadi penulis. Dan, Yuslim tekun di dalam gerak bisnisnya.

Kenanganku bersama Yuslim seperti tak mengenal waktu: sporadis. Ada kalanya kami pulang ke kampung halamannya di Banjarpatoman naik kereta ekonomi malam dari Jogja. Saat kejadian diriku melempar seorang ibu yang hendak turun dari gerbong. Hal yang memilukan, tapi demi keselamatan sang ibu sendiri yang terpisah dari anaknya.

Aku datang padanya tak mengenal waktu. Pun, ketika Yuslim menawarkan diriku pekerjaan untuk menjaga rental komputer. Aku terpaksa bekerja sendirian, karena dia sibuk dengan bisnisnya di luar.

Pernah, suatu ketika setelah kami telah sama-sama selesai kuliah. Yuslim baru memulai usahanya menjadi reseller buku. Aku membawakannya sebuah novel dan hendak meminta endorsement kepada KHA Mustofa Bisri alias Gus Mus. Yuslim memesan nama untuk puteranya. Kepada Gus Mus aku haturkan pesan itu. Dan, Gus Mus memberi beberapa nama alternatif, baik perempuan maupun laki-laki. Nama-nama itu lalu aku serahkan pada Yuslim. Meski belakangan, nama-nama itu tidak pernah dipakai. Dia shock, karena ketika membaca novel yang kubawa, isteri pertamanya meninggal dunia.

Murung. Kisahpun berubah sedih.

Tapi, aku tak pernah melihat matanya berkaca-kaca.

Yuslim suka menceritakan keluh kesahnya semasa kecil yang pahit. Kepahitan yang sudah meranjak pada tahap masochist. Satu tahapan sakit yang tidak bisa lagi dirasakan, karena sudah kebas dan bebal.

Cerita panjang tak bisa terurai penuh di sini. Kami lalui dengan spontan. Kini, ia sudah mencapai kesuksesan sebagai pengusaha besar di Kebumen. Kota yang bukan tempat kelahirannya, tapi yang membesarkannya.

Kini, usahanya kian berkembang dengan karyawan yang kian bertambah. Dari jual buku, jual beli perangkat komputer, hingga batik.

Ada macam-macam corak batik yang dikembangkan olehnya di kota Kebumen. Hal diupayakan oleh Yuslim untuk mengenalkan corak dan khazanah yang memiliki ciri khas masyarakat Kebumen melalui karya yang identik. Dari identitas melalui corak tersebut diharapkan mampu mengangkat hasil-hasil produksi kian meningkat pada level yang jauh lebih dikenal di kalangan yang lebih luas.

Trenggalek, 19.34, 18 Maret 2019.

==============================

Penulis : M. Sakdillah (author, director, and culture activities).


Categories: Sosialita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *