Suatu hari, tergopoh saya memasuki salah satu bangunan yang menjadi kantor jasa pengiriman barang. Masih sepi. Hanya ada petugas admin yang duduk manis di depan komputer.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” sigap, dia bertanya begitu melihat saya masuk.
“Saya mau ambil paket, Mbak. Menurut hasil tracking dari website, paket saya sudah sampai tadi pagi ke kantor cabang sini,” ujar saya sambil masih tetap berdiri di depan meja.
“Bisa saya minta nomor resinya?”
Lalu, saya sebutkan beberapa nomor dan si Mbak admin ini mengetikkannya di komputer.
“Area Mergangsan, ya, Mas?!” tanyanya sambil tetap menatap layar komputer.
“Iya, Mbak.”
“Ini paketnya sudah tiba tadi pagi, tapi petugas kami yang membagikan paket di wilayah itu baru akan berangkat jam sebelas siang nanti. Jadi, paketnya belum bisa diambil karena harus nunggu dia dulu.”
“Lho, kenapa harus nunggu petugasnya berangkat, Mbak?” tanya saya heran.
“Karena nanti petugasnya itu yang akan menyortir paket ke wilayah Mergangsan dan membagikannya. Jadi nunggu dia dulu selesai sortir baru bisa diambil.”
“O, begitu. Kira-kira, jam berapa saya harus ke sini lagi untuk ambil paketnya.”
“Jam dua siang, Mas, untuk amannya. Kalau jam segitu biasanya sudah selesai sortirnya.”
“Kok jam dua siang, Mbak, katanya tadi petugasnya berangkat jam sebelas?”
“Iya, Mas, petugasnya memang berangkat jam sebelas, tapi, kan, setelah itu dia harus sortir dulu paketnya. Nah, nanti kalau sudah ketemu baru dititipkan di admin. Njenengan tinggal ambil ke admin jam dua nanti.”
“Lha gimana, sih, Mbak. Katanya petugasnya berangkat jam sebelas tapi, kok, paket yang mau dibagikannya baru disortir setelah itu. Lha, dia nanti bagiin apa? Harusnya, kan, kalau petugasnya berangkat jam sebelas, berarti jam setengah dua belas saya sudah bisa ambil titipan paketnya, karena, kan, sebelum jam segitu paketnya sudah disortir.”
Petugas admin itu terdiam. Bingung sepertinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” sigap, dia bertanya begitu melihat saya masuk.
“Saya mau ambil paket, Mbak. Menurut hasil tracking dari website, paket saya sudah sampai tadi pagi ke kantor cabang sini,” ujar saya sambil masih tetap berdiri di depan meja.
“Bisa saya minta nomor resinya?”
Lalu, saya sebutkan beberapa nomor dan si Mbak admin ini mengetikkannya di komputer.
“Area Mergangsan, ya, Mas?!” tanyanya sambil tetap menatap layar komputer.
“Iya, Mbak.”
“Ini paketnya sudah tiba tadi pagi, tapi petugas kami yang membagikan paket di wilayah itu baru akan berangkat jam sebelas siang nanti. Jadi, paketnya belum bisa diambil karena harus nunggu dia dulu.”
“Lho, kenapa harus nunggu petugasnya berangkat, Mbak?” tanya saya heran.
“Karena nanti petugasnya itu yang akan menyortir paket ke wilayah Mergangsan dan membagikannya. Jadi nunggu dia dulu selesai sortir baru bisa diambil.”
“O, begitu. Kira-kira, jam berapa saya harus ke sini lagi untuk ambil paketnya.”
“Jam dua siang, Mas, untuk amannya. Kalau jam segitu biasanya sudah selesai sortirnya.”
“Kok jam dua siang, Mbak, katanya tadi petugasnya berangkat jam sebelas?”
“Iya, Mas, petugasnya memang berangkat jam sebelas, tapi, kan, setelah itu dia harus sortir dulu paketnya. Nah, nanti kalau sudah ketemu baru dititipkan di admin. Njenengan tinggal ambil ke admin jam dua nanti.”
“Lha, gimana, sih, Mbak. Katanya petugasnya berangkat jam sebelas tapi, kok, paket yang mau dibagikannya baru disortir setelah itu. Lha, dia nanti bagiin apa? Harusnya, kan, kalau petugasnya berangkat jam sebelas, berarti jam setengah dua belas saya sudah bisa ambil titipan paketnya, karena, kan, sebelum jam segitu paketnya sudah disortir.”
Petugas admin itu terdiam. Bingung sepertinya. Saya juga diam. Bingung dan kesal. Lalu, tiba-tiba sesuatu terlintas di benak saya. Ini Jogja, Bung! Di mana kata berangkat dalam konteks bekerja itu biasanya maksudnya “masuk”. Jadi, maksud ucapan si petugas admin: petugasnya baru berangkat jam sebelas adalah petugas tersebut baru akan masuk kantor jam sebelas. Karena itu, sortis baru dilakukannya setelah dia berada di sini. Setelah jam sebelas. Makanya, ia menyuruh saya datang jam dua. Baiklah, akhirnya kerutan kesal di kening saya mulai memudar. Lalu, saya pun pamit dan berjanji sekitar jam dua itulah saya akan datang kembali.

Case closed.

Yogyakarta, 11.16, 17 Maret 2019.

=========================

Mang Asep Salik, penggiat budaya tinggal di Jogja.
Categories: Lapak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *