Paradigma analisis sosial telah muncul pada dua dekade di Eropa. Paradigma yang kemudian menyentuh pada aspek filsafat dan gerakan sosial tersebut telah memunculkan beragam varian. Sebagaimana Mazhab Frankfurt di Jerman atau Post-modernisme di Perancis. Begitu pula muncul paradigma Post-tradisional dan Post-kolonial. Paradigma. Bagi pengkaji-pengkaji non filsafat akan sulit memahami dan mengikuti paradigma-paradigma tersebut. Namun, yang jelas, semua berangkat dari analisis perkembangan mutakhir gerakan pemikiran dan perubahan yang sedang melanda masyarakat.

Kajian-kajian paradigmatik menjadi sangat penting, ketika ingin melihat variabel-variabel yang digunakan. Paradigma Post-modernisme memiliki materi dasar modernisme yang berkembang di Eropa beserta kerangka-kerangka konseptual dan analisisnya. Begitu pula, paradigma Post-tradisional yang berkembang di Inggris, melihat orientasi tradisi yang masih bertahan dalam struktur hierarkisme kekuasaan. Pun, Post-kolonialisme yang melanda dunia ketiga.

Namun demikian, jawaban-jawaban paradigmatik tersebut tidak sepenuhnya memuaskan dan menjawab persoalan. Sebab, dalam kajian Post-modernisme, misalnya, tidak semua negara di dunia telah mencapai pemenuhan-pemenuhan modernitas yang telah usang di Eropa sendiri. Begitu pula, kajian Post-kolonial tidak bisa digunakan sebagai kerangka acu bagi Eropa di dalam menghadapi dan menyikapi problem-problem mereka. Ini yang kemudian sering salah kaprah dilakukan oleh para pengembang pemikiran di dalam mengadopsi sebuah pemikiran, karena tidak memenuhi selera yang dapat berdampak secara langsung di dunianya masing-masing.

Mengenal Paradigma Post-pesantren

Tradisional bisa digunakan di dalam kerangka berpikir yang cukup luas, karena tradisi menjadi elan vital setiap manusia dan bangsa. Meskipun berbeda-beda obyek kajiannya, namun teori tersebut dapat berkembang daripada modernisme. Sebab, setiap suku bangsa memiliki tradisi. Hanya saja, ketimpangan dan miring muncul ketika diperhadapkan pada modernisme. Modernitas yang sejatinya sudah usang di Eropa terus digunakan sebagai alat untuk mendiskreditkan tradisionalisme.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang belakangan hadir: kisi-kisi yang dibangun oleh paradigma modernisme maupun tradisionalisme mulai pudar. Sendi-sendi pertahanan, baik modernisme maupun tradisionalisme dengan problem masing-masing telah kehilangan arah dan kocar-kacir. Belum lagi, kebenaran-kebenaran yang dipandang baku perlahan mengalami pemudaran. Meskipun identitas-identitas yang masih dipertahankan dan dibela terus diupayakan dengan gigih. Contoh soal dalam perkembangan hoax yang marak di media-media sosial, tidak saja telah meruntuhkan sendi-sendi tradisi melainkan juga merubah pola dan kondisi psikologis masyarakat.

Begitu pula pada kisi-kisi modernitas yang gugur akibat mementingkan pola layanan menjadi lebih mudah. Kesuksesan tidak dipandang dari sudut kemegahan, melainkan kepada ukuran relationship. Hubungan relationship ini mementingkan sebuah integritas pribadi yang lebih baik di dalam membangun hubungan.

Kembali ke Pesantren

Pesantren merupakan wadah yang masih memelihara tradisi di satu sisi. Sementara di sisi yang lain menerima modernitas sebagai sebuah keniscayaan realitas kehidupan. Di saat dunia perbukuan, misalnya, melanda bisnis dan usaha penerbitan tak berdaya melawan media elektronik. Justeru, pesantren semakin menumbuhkan produktivitas intelektual yang massif.

Trenggalek, 20 Maret 2019.

============================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).



Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *