“Tanah air adalah sajadah kita, barang siapa mencintainya, tumbuhkan-lah benih-benih kedamaian, benih cinta atas tanah air, karena tanah air adalah sajadah kita untuk sujud kepada Allah SWT.”

gayatrimedia.co.id

Munculnya gejala intelektual di sebuah pesantren menunjukkan geliat kajian-kajian tidak hanya sebatas pada rutinitas mengaji saja, melainkan juga melakukan pembacaan produktif di dalam mengembangkan wacana-wacana keagamaan. Hal ini mutlak diperlukan guna reinterpretasi tafsir-tafsir agama dalam menjawab problem-problem masyarakat. Adalah kewajiban para santri dan generasi muda bangsa untuk mengakumulasi problem-problem yang harus diselesaikan di lingkungan masyarakatnya. Untuk mengakumulasi problem-problem masyarakat tersebut, Pesantren Pustaka Tebuireng yang membidangi penerbitan buku-buku karya sesepuh memberi cara alternatif untuk mengenal dan menanamkan semangat membaca dan literasi sejak dini. Salah satu metode yang dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan susastra: cerita. Sebagaimana revolusi literasi di China maupun Jepang dalam mengenalkan sejarah bangsa adalah melalui cerita.

Kehadiran sastrawan nasional, D. Zawawi Imron, pada Anniversary ke-44 SMA A. Wahid Hasyim, Sabtu (16/3) di halaman sekolah, mengingatkan pentingnya sebuah penguatan literasi, sebagaimana ilmu diperoleh melalui transformasi membaca. “Dengan tekun, tabah, dan vitalitas, pintu ilmu akan terbuka bagi siapa yang ikhlas menjalaninya. Dan, jika pintu ilmu sudah terbuka, maka etos kerja akan siap dihadapi oleh para pemuda,” ungkap pemuisi Ibu ini, sebagaimana dikutip dari Tebuireng.Online.

Selain membicarakan pentingnya ilmu, Penyair Celurit Emas ini juga mengingatkan pentingnya semangat cinta tanah air. Bagai sajadah, D. Zawawi Imron melukiskan secara simbolik, “Tanah air adalah sajadah kita, barang siapa mencintainya, tumbuhkan-lah benih-benih kedamaian, benih cinta atas tanah air, karena tanah air adalah sajadah kita untuk sujud kepada Allah SWT.”

Pesantren Pustaka Tebuireng yang bermarkas di Desa Kayangan digawangi oleh Gus Ahmad Faozan dalam menggali khazanah-khazanah sesepuh Pesantren Tebuireng. Sebagai pesantren yang menjadi barometer kemajuan intelektual di tanah air. Unit penerbitan buku ini terus membina santri-santri pewaris intelektual pesantren secara berkelanjutan dan terprogram di lingkungan Pesantren Tebuireng dan sekitarnya. Sebab, santri-santri pasca mesantren harus dibekali dengan intelektual yang mapan, terutama ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sedang dijadikan kurikulum tetap di Pesantren Tebuireng. Diharapkan, santr-santri pasca belajar di pesantren tidak saja sebatas agent of change, melainkan juga dapat mengambil peran yang lebih besar di leading sector pembangunan bangsa.

Urgensi Pesantren Pustaka Tebuireng mengambil peran jembatan antara pesantren dan masyarakat, serta jangkauan jejaring yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga santri-santri, terutama alumni Pesantren Tebuireng, dapat mengambil peran yang lebih besar. Garapan santri-santri Post-pesantren sangat menantang. Mengingat, mereka sudah mapan di bidang ilmu-ilmu agama, namun belum memiliki orientasi di dalam melakukan aktivitas-aktivitas di luar pesantren. Sebuah dampingan sangat diperlukan. Intelektualitas harus dikawal agar kesinambungan tali silaturahim antara pesantren dan para alumni terus dapat terpelihara.

Trenggalek, 19 Maret 2019.

=========================

M. Sakdillah (author, director, culture activities).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *