gayatrimedia.co.id

Hikmatut Tasyri di Aceh

Kepemimpinan di Aceh dalam lingkup terkecil secara umum dipegang oleh Gechik atau Imam Mukim. Gechik setaraf kepala desa di Jawa atau Tetua Negeri di ranah Minang. Sehingga untuk mencari ketua RT atau kepala desa di Aceh tidak akan ditemui.

Kehidupan msyarakat Aceh dapat terepresentasi dari keseniannya. Kesenian sebagai penggerak spirit masyarakat. Hal ini menjadi tuntunan yang lestari dari generasi ke generasi. Seperti tari Ratoeh Jaroe, Rapai Geleng, dan Saman Gayo.

Dalam struktur terkecil ini, hukum dalam qanun diimplementasikan kepada masyarakat dengan tanpa mengabaikan tradisi dan adat yang hidup di masyarakat.

Transformasi agama ke dalam bahasa adat di Aceh sangat tinggi. Penggunaan syair-syair yang tidak diambil dari kitab-kitab syair pada umumnya seperti AlBarzanji dapat memperlihatkan masyarakat Aceh telah mandiri di dalam menghidupkan inspirasi mereka. Mereka lebih cenderung menggunakan syair-syair Sabilillah dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Syiair-syair tentang perang sabil masa Rasulullah Saw dengan bahasa Aceh yang disampaikan dari mulut ke mulut, turun temurun, diceritakan sebagai alat nina bobo. Penggunaan bahasa tersebut membuat ideologisasi bahasa begitu sangat kuat, seperti Seulaweut untuk salawat tau Ratib Mausekat yang mereka karang sendiri. Dengan kata lain, kemandirian bahasa telah telah memndirikan sikap dan pandangan hidup mereka.

Tentang tari Meuseukat dikisahkan ada seorang ulama yang bernama Teuku Muhmmad Thaib—pemimpin pusat pendidikan agama pada masa Hamzah Fansuri—di Gampong Rumoh Baro desa Medang Ara, Blang Pidie, Aceh Selatan. Teuku Muhammad belajar agama di Samudera Pasai sebelum pergi ke Baghdad. Di Baghdad, ia belajar kepada Ibnu Miskawaih.

Setelah belajar di Baghdad, ia kembali ke Aceh dan tinggal di Kerajaan Kuta Karang. Di Kuta Karang ini, Teuku Muhmmad mengajarkn bahasa Arab, fikih, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya, meratib.

Ratib Meuseukat adalah turunan yang diajarkan oleh Ibnu Miskawaih. Dalam pengertian kamus, kata Meuseukat diambil dari kata muscat, yang berarti ibukota Omn di Persia. Sedangkan Meuseukat dalam bahasa Aceh berasal dari kata sakat yang berarti diam dan khusyu.

Ratib Meuseukat sendiri diciptakan oleh Teuku Muhammad dimainkan oleh 10 orang wanita atau lebih yang mengikuti pimpinan teuku atau guru. Teuku atau guru tersebut sekarang disebut Cahi.

Pada abad ke-19, ratib ini dipimpin oleh Teuku ji Rkibah, anak perempuan Habib Seunagan. Teuku Aji Rakibah menciptakan gerak-gerik tarinya, sedangkan syair dan lagunya oleh Teuku Cik Dikila.

Selain kesenian, masyarkat Aceh juga memiliki destinasi alam dan budaya yang kaya. Budaya minum kopi sudah menjadi kebiasaan pagi masyarakat Aceh. Warung-warung kopi di sepanjang Banda Aceh dipenuhi oleh mobil-mobil orang yang minum kopi. Dan, kopi Gayo dengan berbagai variannya menjadi kopi pavorit yang memiliki kualitas mutu tinggi.

Agama Islam sudah menjadi landasan hidup bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Sebagaimana di Sumatera Barat memiliki adagium: Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Demikian pula di Aceh. Adat dan syariat dilantunkan dalam sebuah filosofi adat bak po teumeureuhom, hokum bak Syiah Kuala, qanun bak Putro Phang, reusam bak laksamana. Sehingga adat menjadi wadah manifestasi yang paling ideal untuk ejawantah syariat dan nilai-nilai ilahiah.

Implementasi syarak ini sudah berlangsung sangat alot dari masa ke masa sejak zaman kesultanan berlangsung. Perbedaan faham antara Syekh Hamzah Fansuri yang bersendi pada pola tasawuf serta Syekh Syamsuddin As-Sumatrani yang berpola fikih belum menemukan ujungnya. Hal yang menggejala secara umum dalam perjalanan sejarah muslim di dunia.

Syekh Abdurrauf Singkil merupakan tokoh tasawuf yang juga memiliki peranan tidak kecil dalam perkembangan sejarah muslim di Aceh. Ia mengajarkan tarekat Syattariyah dan memiliki pengaruh yang besar hingga Trengganu Malaysia dan Jawa Barat. Syekh Abdul Muhyi Pamijahan adalah murid sekaligus pelopor tarekat Syattariyah di pulau Jawa.

Hukum Syiah Kuala yng berperan sebagai mufti kerajaan menerbitkan sebuah kitab yang mengandung pembolehan kepemimpinan perempuan dalam perjuangan. Kitab tersebut adalah Miratut Thullab. Kitab yang secara implisit memuat tentang hukum otoritatif Syiah Kuala.

Dari ekspedisi Islam Nusantara ini dapat diambil kesimpulan, jika Islam itu tetap satu, sekaligus sebagai warisan, baik sebagai agama maupun sebagai budaya. Di mana-mana sama. Tuhan, Rasul, Kitab Suci yang sama. Yang membedakan  adalah cara berislamnya. Islam Nusantara adalah cara orang Nusantara berislam.

Jakarta, 2016.

===========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *