gayatrinedia.co.id

Kampung Pecinan

Ekspedisi Laksamana Cheng Ho tahun 1406 – 1409 Masehi adalah pelayaran pertamanya dalam rangka mengelilingi Asia dan Afrika dengan membawa 60 kapal besar dan 27.000 awak. Dalam pelayarannya yang sampai tujuh kali tersebut, rombongan Cheng Ho selalu mengunjungi Jawa hingga tahun 1430 Masehi. Bahkan, Kerajaan Wilwatikta memberi izin membuka pangkalan baru di pesisir barat yang kemudian diberi nama Sampo Toalang (Semarang).

Dampak dari ekspedisi Cheng Ho tersebut membawa gelombang orang-orang dari negeri China datang dan menetap di Lasem, apalagi Kerajaan Wilwatikta membebaskan pajak pelayaran bagi pendatang-pendatang dari negeri China tersebut. Orang-orang berkebangsaan China tersebut datang dari daerah-daerah Fukien, Kwangtung, sebagian Kwangsi, Hunan, dan Kiangsi. Mereka berdagang dan dipekerjakan. Bahkan, mereka pun membuka perkampungan baru di Lasem (wo-shen). Ada dugaan beberapa bangunan kelenteng di pantai Utara Jawa pada umumnya dahulu adalah mesjid-mesjid yang didirikan oleh anak buah Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam dan bermazhab Hanafi. Tercatat dalam kronik Sam Po Kong, sebagaimana dikutip Syamsudduha, Sejarah Sunan Ampel (JP Press, 2004), mereka mendirikan mesjid Ancol di Jakarta, Sampo Toalang di Semarang, Sembung di Cirebon, Lao Sam di Lasem, Tuban, Tse tsun di Gresik, Jiaotung di Joratan, Cangki di Mojokerto, dan Jepara.

Bonang Binangun

Bonang adalah nama tempat yang digunakan oleh Syekh Makhdum Ibrahim dalam menyebarkan Islam di wilayah kadipaten Lasem. Desa Bonang dikenal juga dengan sebutan desa Kemuning, meski ini pendapat yang terakhir. Namun, Bonang adalah nama alat yang digunakan dalam kesenian Jawa.

Penyebaran Islam di Bonang dilakukan tidak secara frontal, melainkan gradual. Media dan simbol tidak serta dihapus dan dihilangkan. Hal ini terlihat pada batu bekas telapak kaki dan pasujudan. Sebagaimana Sunan Bonang dikenal melakukan “Tapa Kebo Lanang” di sana. Sebuah tata cara atau kaifiyah di dalam meningkatkan ketebalan kerohanian. Masyarakat Jawa, terutama yang memiliki pengalaman “agama” Kapitayan, sangat mengutamakan kerohanian sebagai bentuk “sambung rasa” antara hamba dan Sang Hyang. Melalui kerohanian ini kemudian Syekh Makhdum Ibrahim menyalurkan ajarannya melalui kerohanian (kebatinan). Pelajaran yang di dalam Islam adalah bagian yang tak terpisahkan. Di dalam ajaran Islam: syariat, hakekat, makrifat adalah bagian yang tak terpisahkan dalam satu kesatuan. Sementara penegakan syariat di masyarakat dilihat dari konteks: situasi dan kondisi, atau berangsur-angsur. Dari sini kemudian, Islam mengajarkan kemudahan.

Tapa atau semedi yang sudah dikenal di masyarakat dapat dimengerti sebagai riyadlah (latihan) bagi orang-orang yang khusus ingin mempertebal keimanan dan keyakinan. Namun, bagi masyarakat umum sudah diatur hubungan (muamalah) yang tidak memberatkan. Kesaktian dan santi aji sudah dikenal sebagai bagian budaya yang tak terpisahkan dari masyarakat Nusantara, maka melalui tapa (riyadlah) tersebut masyarakat dikenalkan pada pengalaman mereka sendiri, sehingga pemaknaan hakekat yang dalam telah diajarkan oleh para walisanga melalui perjalanan spiritual melalui suluk-suluk dan tradisi tutur lainnya.

gayatrimedia.co.id

Lasem sebagai Kota Santri

Ada beberapa predikat yang sudah disematkan pada Lasem. Di antaranya, sebagai Kota Santri, Petit Chinois (Tiongkok Kecl) atau The Little Beijing Old Town, Kota Batik, dan Kota Tua.

Sebagai Kota Santri, dewasa ini telah bermunculan ulama-ulama besar dari Lasem, seperti KH Ma’some, KH Baidlowi, KH Kholil, dan KH Masduqi. KH Ma’soem (Mbah Ma’soem) dan KH Baidlowi adalah dua dari beberapa tokoh kharismatik di tanah air, penggagas dan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi pergerakan ulama-ulama dalam rangka merebut dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. KH Masduqi adalah ulama alim yang pernah bermukim dan menjadi salah satu mufti di Mekah.

Sebagai Kota China, Lasem memiliki kebudayaan yang bernilai unifikasi tersendiri, sebagai pewaris budaya yang unik dan mencerminkan multi-kultur yang kuat, terutama antara Jawa dan China. Menurut N.J. Krom, perkampungan China di masa kejayaan Wilwatikta antara tahun 1294 – 1527 Masehi dapat dibuktikan dengan bangunan-bangunan tua, seperti pemukiman yang khas dan kelenteng-kelenteng tua yang ada di sepanjang sungai Babagan. Dan setelah tahun 1.600 Masehi, orang-orang China dari Fujian banyak bermigrasi ke Lasem.

Sebagai Kota Batik, Lasem disebut sebgai salah satu varian klasik (pakem) dengan pola dan corak yang khas, yang juga terdapat di Musem Batik Nasional. Batik Lasem dikenal dengan sebutan Kendoro Kendiri atau Pesisiran Laseman yang terkenal dengan ragam corak tiga negeri dan empat negeri. Batik Lasem sangat liat bercirikan egalitarian, berbeda dengan batik Solo atau Jogja yang terkesan eksklusif dan keningratan. Karena batik ini sangat dipengaruhi oleh kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413 Masehi, sebagaimana diuraikan dalam Carita Lasem; “Anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan isterinya Na Li Ni (yang berasal dari Campa) memilih menetap di Bonang setelah melihat keindahan alam Jawa. Di tempat mukim baru ini, Na Li Ni mulai membatik bermotifkan burung Hong Liong, bunga Seruni, banji, mata uang, dan warna merah darah ayam khas Tiong Hwa.”

Dan, sebagai Kota Tua, Lasem sudah disebut di dalam naskah Negarakertagama dan Pararaton.

Demikian, Lasem telah meninggalkan rekam jejak kejayaan Nusantara, dan dari pesantren Sarang Lasem didapat informasi; Syekh Abdullah bin As’ad bin Ali Al-Yafi’i Al-Yamani Asy-Syafi’i (696-768 H/1275-1347 M) memiliki guru Syekh Mas’ud Al-Jawi. Ia menulis kitab Al-Irsyad wa Tathwin yang memuat tema: keutamaan zikir kepada Allah, membaca kitabNya yang Mulia, Auliya, dan Faqir Miskin. KH Muhammad idrar Maimun (lahir 1985) menginformasikan; kitab tersebut ditemukan, ketika ia mengaji di Mekah. Dari sini dapat diketahui, jika ulama yang berasal dari Nusantara sudah disegani di tanah Arab.

Rembang, 8 April 2016.

========================

M. Sakdillah (authir, director, and culture activities)

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *