foto koleksi M. Sakdillah. gayatrimedia.co..id

Perkenalan untuk Belajar

KH Ahmad Tohari, sastrawan penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam pernyataan yang disampaikan olehnya, kiai yang lebih suka disebut sastrawan ini mengungkapkan dengan rendah hati, “Saya sebetulnya tidak punya kompetensi untuk bicara masalah agama, karena saya seorang sastrawan,” katanya, membuka orasi. “Tapi, karena dawuh Kiai Musyaroh ini terpaksa saya berani-beranikan bicara masalah ini.”

“Hadirin sekalian,” dia mengawali,” “tentu Anda sering mendengar atau membaca satu ayat Al-Quran yang dilalahi sering dicetak di dalam surat undangan pernikahan. Itu kalau tidak salah surat al-Hujarat:13 yang kira-kira artinya bahwa manusia diseru dan diberi tahu bahwa dirinya manusia itu diciptakan oleh Allah dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku untuk saling berkenalan. Dan di antara manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang bertakwa.”

Dari kutipan ayat tersebut, KH Ahmad Tohari memberi penjelasan tentang keluasan makna “berbangsa-bangsa” dan “bersuku-suku”. Biasa, para pendakwah mengulas panjang lebar tentang makna “ketakwaan”, namun sering mengabaikan kosakata-kosakata sebelumnya. “Biasanya kita hanya memaknai ayat ini tentang ketakwaan dan kemuliaaan orang yang bertakwa itu,” katanya, lembut. “Mungkin tidak sedikit saya merenungkan sisi lain bahwa di dalam ayat ini ada kosakata-kosakata “bangsa” dan “suku”. Bahwa, bangsa dan suku itu adalah ciptaan Allah sendiri. Kalau demikian eksistensi bangsa dan suku adalah suatu yang haq, diciptakan oleh Allah sendiri.”

Dari pemaknaan tersebut kemudian muncul pemikiran tentang eksistensi manusia. Dan, agar eksistensi itu ada, maka jatidiri itu harus dipelihara untuk menunjukkan identitas melalui kesenian dan budaya. “Maka, bangsa dan suku itu harus tetap eksis. Misalnya, bangsa Indonesia mestinya seperti bangsa Stefan ini, bangsa Swedia. Harus ada. Harus ada suku Jawa. Harus ada. Karena ini ciptaan Allah sendiri. Jadi, ini tafsiran saya, mudah-mudahan tidak salah, kalau salah ya memang manusiawi menafsir kita salah. Bahwa di dalam ayat ini sebetulnya manusia diminta disuruh menjaga eksistensi setiap bangsa dan setiap suku. Untuk menjaga eksistensi setiap bangsa dan suku, maka pasti jatidirinya harus dipelihara. Kalau orang Trenggalek sudah tidak bisa ngomong Jawa…, jatidiri orang Trenggalek itu hilang. Entah, sebutan orang apa namanya?” tanyanya. “Kalau begitu yang tadi terpampang di sini (jaranan, red.) adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga jatidirinya orang Trenggalek. Tadi, saya saksikan mereka, karena eksistensi suatu suku harus tetap ada. Harus tetap maujud. Kalau tidak maujud bagaimana relevansinya dengan ayat Al-Hujarat. Kalau semua orang harus China semua. Arab semua. Atau, Swedia semua kayak Stefan. Gimana?”

Dari jatidiri dan identitas yang mewujud itu kemudian, satu orang dengan yang lain, satu bangsa dengan bangsa lain, berusaha untuk saling mengenal. Sehingga muncul rasa ingin tahu (curiosity) dan minat belajar. “Iya, jadi kita diciptakan bermacam-macam saling berkenalan. Saya kira berkenalan ini perlu ditafsirkan lebih tajam, yaitu saling belajar. Saya kira, berkenalan untuk belajar.

foto koleksi M. Sakdillah. gayatrimedia.co.id

Jadi, kalau kita misalnya berkenalan dengan Stefan, orang Swedia. Kita bisa banyak belajar dari Stefan. Orang Swedia itu tingkat literasinya tinggi. Rasa ingin tahunya tinggi. Kemauan belajarnya tinggi. Kita bisa belajar dari Stefan, okay?” tandasnya, seraya berpaling dan memandang Hans Stefan Danerek di samping kanannya. “Stefan semestinya orang Swedia ini belajar dari Jawa ini tentang keselarasan hidup. Tentang Tuhan, alam, dan manusia yang sudah mati di Barat akan belajar dari sini, karena orang Barat sudah terlalu eksploratif.

Ketika ditanya olehnya tentang sikap eksploratif bangsa Barat tersebut, dengan kening berkerut Stefan menjawab singkat, “Orang yang sudah beradab butuh diperadabkan lagi.”

Menutup orasinya, KH Ahmad Tohari menegaskan tentang isi atau jiwa sebuah kebudayaan. Karena, baju bisa saja sama tapi yang memakai bisa berbeda. Jika di dalam tradisi lokal mengenal kesenian yang menghendaki ritual “mabuk-mabukan”, maka isinya harus diganti dengan isi-isi yang bernilai sufistik, seperti zikir yang sama-sama “mabuk”nya. Bedanya, yang pertama bernilai tradisi an sich, sementara yang kedua lebih bersifat ilahiyah (ketuhanan). Di sini letak keunikan budaya. “Jadi, apa yang saya tadi berada di sini, apa yang diutarakan Pak Agus, bahwa Islam Indonesia adalah Islam Indonesia, yang mungkin ini dugaan saya, dulu, para wali itu ketika membawa Islam ini tidak pernah lupa tentang surat Al-Hujarat ayat 13. Bahwa, bangsa dan suku adalah ciptaan Allah sendiri. Maka, eksistensinya wajib dijaga. Menjaga eksistensi suatu suku adalah bahasanya, tradisinya, keseniannya, nelung dino, matang puluh dino tetap dijaga, biarkan. Yang bisa diwadahi, diberi, diganti isinya itu nanti akan kita kembangkan. Tapi, pasti ada yang dibuang. Seperti tradisi-tadisi dan budaya minum ciu harus ditinggalkan, karena tidak sesuai dengan syariat Islam,” pungkasnya.

Demikian, jika kesenian dan budaya yang berkembang di masyarakat justeru dijauhi oleh pondok-pondok pesantren, maka yang berkembang kemudian hanya tradisi-tradisi yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah. Kesenian dan budaya yang melandaskan pada nafsu semata, seperti mengumbar “materi” dan kenikmatan tubuh.

Malam itu, cahaya-cahaya lampu menyala terang. Masyarakat Kabupaten Trenggalek yang khusyuk menikmati sajian jaranan Turanggayakso yang menyita perhatian, pun puisi syahdu Ajeng Puspo Endah yang mengesima mata. Hingga larut berselimut kabut.

Trenggalek, 10 April 2018.

=======================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Followers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *