Penggunaan yang Salah

Kesalahan dalam menggunakan anggitan akan berdampak pada penyalahgunaan dan penyimpangan makna (deviasi). Seperti kata FEODAL, BORJUIS, PROLETAR, MISKIN, DHUAFA, dan lain sebagainya. Karena dari segi sejarah penggunannya memiliki ruang dan waktu tertentu. Dari segi pemaknaan pun akan berakibat denotatif dan konotatif.

Dalam kasus proletar misalnya, bagi kalangan aktivis digunakan sebagai perlawanan terhadap kaum Borjuis Eropa yang menguasai tanah dan juga industri. Ketika sejarah industri sedang berlangsung di Eropa. Lalu, apakah tepat anggitan itu dibawa ke Indonesia?

Dalam rentang waktu kekinian mungkin bisa. Karena, Indonesia sudah dan sedang mengalami masa industri tersebut, baik skala kecil maupun besar. Seperti industri pulp, sawit, atau bahkan karet.

Lalu, bagaimana pada masa pra kemerdekaan? Hal demikian bisa saja terjadi setelah Belanda memperkenalkan industri gula dan tebu, ketika eksploitasi tenaga manusia yang diburuhkan. Namun tidak demikian pada masa masa sebelumnya, ketika raja raja memberi lahan pertanian dan perkebunan. Raja Mpu Sindok memberi lahan sawah untuk dikerjakan tidak bisa dikatakan sebagai feodal Eropa. Belum ada bukti otentik pengerjaan paksa dilakukan oleh raja raja sebelum masa Belanda. Justeru, pada lahan yang sangat luas karena penduduk yang masih sedikit, kebebasan masyarakat mengelola lahan sangat luas. Di Sumatera, ada hitungan tombak. Satu lemparan tombak biasanya menjadi batas ukuran tanah garapan. Tidak ada orang lain yang berani menggangu setelah lahan garapan itu diberi tanda pembatas. Itu dalam musim yang terbatas. Setelah musim berlalu, bisa saja mereka berpindah lahan.

Jadi, penggunaan anggitan harus juga disesuaikan dengan masa, waktu, dan tempatnya. Kasus di satu tempat tidak bisa sama di tempat yang lain, meski ada kemiripan struktur sosialnya.

Tebuireng, 19 Pebruari 2019.

Sejarah sebuah anggitan ditelusuri melalui filologi. Sama seperti kaligrafi yang menelusuri sejarah penggunaan huruf.

Sebuah anggitan (istilah) digunakan dalam waktu dan tempat tertentu. Plus, di dalam peristiwa dan kejadian tertentu. Penggunaan anggitan yang salah, meski sekadar dalam sebuah analog logika, akan membawa sebuah penafsiran kemudian menjadi menyimpang. Hal ini sering dilakukan di dalam sebuah kerangka ilmiah atau doktrinasi sebuah stressing ideologi.
Orang mengenal anggitan “abangan” misalnya. Jika telusuran Ricklef benar; muncul pada abad ke-19, maka muatan sematan itu perlu digali identitas dan tegasan muatan kepentingan anggitan tersebut digunakan. Padahal, manusia pada dasarnya memiliki kebebasan “cap” dan “ideologi” tertentu. Hanya karena sematan tersebut menjadikan dirinya terkekang pada sematan itu. Cap dan sematan itu sering sangat menyakitkan bila diterima, bahkan terkadang tidak jarang juga menjadi kebanggaan. Orang yang ingin membebaskan diri akan berkata dirinya dengan senang hati sebagai abangan, karena konotasi makna belakangan akan menempatkan sebuah predikat dirinya tidak terikat pada syariat agama tertentu. Meskipun ia akan menolak jika dirinya tidak beriman dan bertuhan.

Trenggalek, 21 Maret 2019.

=====================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *