Abah,

Kini aku sendiri lagi
Di kobong
Aku melihat orang-orang
Ke Masjid dan Majelis
Mengaji
Aku seperti sedang melihat kembali
Diriku
Menjadi santri lagi

Harum surga
Tercium di sana
Kitabku masih kosong

Tidak Abah,
Santri tidak akan lupa
Ia akan kembali ke Pesantren
Meski pernah memudar kesetiaannya
Dijebak iklan-iklan di media sosial
Ia akan kembali mengaji

Ia akan sedih bila
Dirinya jauh dari Yang Maha Suci

Abdul Jalal
Maret 2019

gayatrimedia.co.id

Manusia berasal dari ruh yang suci, meski dipenuhi titik hitam yang menggumpal, pasti nyala cahaya itu tetap ada. Sekecil apapun. Dari jutaan keburukannya ada setetes kebaikannya. Tembuslah hijab itu meski kegelapan sangatlah tebal.

Cipasung, 18 Maret 2019.

gayatrimedia.co.id

Kafiran

Daon-daon jatoh di depan pilar, Engkong duduk sambil nyender di bangku depan rumah, ngadep ke kidul.
Seorang bocah membawa kempek. Senin itu, mata ari baru aja nongol, duit receh dikasih Engkong. Ia berangkat ke sekolah dewekan. Upacara bendera takut kesiangan. Nanti ia bisa disetrap sama Bapak guru. Begitu ayah.

(Puisi Bahasa Kab.Tangerang)
Cipasung, 11 Maret 2019.

Dari cintalah, ia menuntunku menuju cahaya dan rahasia. Mengungkap segalanya yang tiada dan ada. Kehidupan dan penderitaan terhapus di dalamnya. Seperti seorang kekasih yang mencintai kekasihnya. Lantas? Apakah seorang manusia akan menuju keabadian. Sementara jiwanya pecah lantaran kalbunya gundah. Mengapa, manusia tak mendatangi cinta atau cinta tak menemukan manusia. Agar keduanya abadi seperti wewangian surga.

Cipasung, 5 Maret 2019.

Dan cinta membangunkanku dari kegelisahan dan ketakutan. Bunga-bunga surgawi tumbuh di matamu. Saat itu, langit berbicara kepada pendengaran bahwa, cinta mengubah kegilaan menjadi kewarasan. Penderitaan hilang, lara tenggelam. Cahaya datang menuntun siapa saja yang bertemu dengan suaranya. Menempuh rahasia-rahasia yang tersingkap. Jatuh dan tumbuh di tiap hati manusia, berapa cinta yang tertanam di hati wanita. Maka penyair itulah yang mengungkapnya.

Cipasung, 5 Maret 2019.

Aktivis mahasiswa dan aktivis non-formal sebaiknya jika tidak memiliki income yang mengalir, sebaiknya memenuhi pemasukan sendiri dengan pekerjaan sendiri. Jangan sampai menjilat sesuatu yang bukan pada tempatnya. Karena jalan menjadi aktivis tentu terjal. Jika siap mati, kenapa tidak siap kelaparan!

Cipasung, 4 Maret 2019.

Saya terlahir dan besar di dunia pesantren murni, kemilitan jiwa, tentu juga konservatif dalam diri saya tertanam nilai dasar beragama. Ketika di dunia formal saya menemukan perbedaan berpikir dalam buku, pemikiran, serta tindakan yang katakan ‘liberal’ agak sedikit terbuka. Hingga fase-fase itu terlewati. Kesakralan ibadah ‘mahdoh’ menurun. Secara sosialis atau ‘ghairu mahdoh’ memang meningkat. Dilematis bagi saya. Sampai akhirnya saya tidak dilema. Bahwa pada akhirnya karakter dan sikap terbentuk dari benturan-benturan menemukan sesuatu yang baru dalam hidup. Di mana satu sisi saya adalah diri saya sendiri yang terlahir dalam dunia ‘salaf’ dan di sisi lain saya adalah mereka yang juga manusia secara sosial yang tidak ekslusif pada golongan atau kaum tertentu.

Cipasung, 4 Maret 2019.

Aku masih terus bertanya, apakah naskahMu ini yang salah kubaca. Atau aku yang lupa bahwa memang begini jalannya. Dunia mati tenggelam, kusadari. Seluruh kesedihan kecil-kecil membesar. Melemparku jauh hingga melupakan. Mematikan hati dari warna dunia. Sunyi tak terbayang bentuknya. Aku ingin meminta kepada-Mu. Apakah ini jalan menuju langit? Atau ini perasaanku yang sempit, Tuhan.

Cipasung, 3 Maret 2019.

Abah. Dunia telah melintas lebih cepat melewati isyarat. Tolong hentikan. Anak-anakmu bisa mati di tengah perjalanan. Kami tak menggenggam langit setabah Sufi. Tak menaklukan rasa setulus Wali. Tolong biarkan, satu persatu dari kami. Hidup normal.

Cipasung, 3 Maret 2019.

gayatrimedia.co.id

Aku bukan penyair sinting, yang telah menghamili kata-kata lalu mengabosinya sampai mati. Mati-matian menulis puisi. Puisi di dalam diri tak tahu diri. Atau menjadi jalang sepertinya lebih terhormat. Aku bukan penyair sinting yang merasa penyair adalah satu-satunya hal paling hidup dari kehidupan. Hari-hari adalah puisi, iyah puisi sinting. Dan orang-orang sinting pasti menyukai hal-hal sinting. Seperti meminum air kencing. Atau memancing agar penyair-penyair sinting keluar dari pengakuan dirinya sebagai penyair yang tidak penyair.

Aku bukan ahli bicara, mimbar-mimbar kupekosa sepertinya menghasilkan amplop dan nista agama. Aku ini sedang bicara kepada para pembicara yang pendusta. Sepertinya aku telah diajarkan kebenaran. Yah, kebenaran berdusta dengan kata-kata. Perbuatan adalah topeng persembunyian. Kupakai untuk menipu siapa saja. Siapa saja yang mengetahui aku ini seorang manusia yang berdiri di atas mimbar-mimbar kebajikan yang kini sebenarnya kupakai untuk membodoh-bodohi seluruh pendengaran.

Aku ingin populer, yah seperti mie sedap atau minyak-minyak buatan yang lenyap. Aku ingin populer seperti ketika Amrozi meledakan boom di Bali. Atau teroris-teroris lainnya. Aku ini populer. Seperi makanan cepat saji itu. Pop mie dan pop cron. Jadi makanan ringan dan bahan pembicaraan. Setelahnya kau tahu apa? Kau itu sampah tak berguna. Lalu dibuang di penampungan umum tempat sampah-sampah dibakar dan menjadi abu lalu dibawa angin. Lenyap dan tak tersisa. Hanya membuat mata sakit saja. Terkena sisa-sisanya.

Tasik 2019

==========================

gayatrimedia.co.id

A Jalal, penyair santri, tinggal di Cipasung.

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *