foto koleksi idntimes.com. gayatrimedia.co.id

penulis novel senior ini sangat bersahaja. pertama aku datang berkunjung ke rumahnya di Jatilawang Banyumas, ketika hendak meminta endorsemen novelku.

aku diterimanya dengan sangat baik. dia memberi banyak motivasi kepadaku. aku ditanya: apakah sedang menggarap skripsi atau penelitian. aku jawab, jika aku membutuhkan endorsemennya.

dia hanya membaca sepintas novelku, lalu bercerita banyak tentang dunia menulis.

ketika kutanya: apa yang harus dilakukan olehku sebagai menulis, dia menjawab, “perbanyak istighfar,” katanya.

lelaki sederhana. Ahmad Tohari terlalu baik bagiku. ia selalu bertanya seperti seorang bapak. tentang uang ongkosku. Keluargaku. Dan, selalu mengajak makan setiap aku berkunjung ke rumahnya.

lelaki yang memiliki pengalaman di dunia kepenulisan. sempat diinterograsi pada masa orde baru. untung, ada jaminan dari Gus Dur, sehingga dilepas dari tahanan. demikian ungkapnya.

dia ingin menumpahkan uneg-unegnya. di dalam ceritanya yang panjang.

dan, aku selalu hadir sebagai apa saja padanya. bisa sebagai penulis pemula. sebagai wartawan yang ingin banyak tahu. murid yang menimba ilmu dan pengalaman. atau, sebagai penyaji acara.

ahmad tohari tak mau tahu, meskipun ia sangat peduli: bertanya tentang ini dan itu latar belakangku. tak peduli pula, kalau dirinya mengidap gula darah sehingga selalu mencari teman bila berpergian.

ingin rasanya bercengkerama lebih jauh dengannya. seperti Gus Dur dan Gus Sholah yang tidur ngelekaran di rumahnya berlapis tikar. menyelami kehidupan novelis yang karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 7 atau 9 bahasa asing. kebersahajaan yang sederhana seorang tokoh besar.

Trenggalek, 22 Maret 2019.

==========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Tokoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *