Tradisional dalam makna nirpeyoratif masih memungkinkan menjadi kebanggaan bangsa, namun pandangan yang minor seolah menyudutkan, lembaga ini sudah tidak up to date.

gayatrimedia.co.id

Alangkah minor dan diskriminatif pandangan terhadap pesantren? Padahal, sejarah sudah menorehkan dari zaman ke zaman, pesantren merupakan pendidikan asli Nusantara. Lembaga pendidikan ini masuk kategori tradisional.
Apakah karena sudah turun temurun sejarah, sehingga dinamakan tradisional.

Tradisional dalam makna nirpeyoratif masih memungkinkan menjadi kebanggaan bangsa, namun pandangan yang minor seolah menyudutkan, lembaga ini sudah tidak up to date.

Ya sudahlah, zaman telah membuktikan, bukankah lembaga pendidikan yang selama ini dianggap modern pun telah pula mengalami pentradisian. Akar pendidikan karakter yang mentradisi sudah pula mulai ditoleh. Kita sudah terlalu jauh berada di luar nalar sehat. Modernisasi bukan jawaban. Bukan saja di sini yang mengimpor gagasan tersebut, bahkan di tanah tempat gagasan itu muncul pun sudah tidak lagi laku.

Adalah Rene Descartes, filosof Perancis, yang menggagas modernisasi itu. Toh, gelombang pasca modernisasi harus kembali ke akarnya,tradisi.
Demikian pula, tradisi yang berakar di sisi lain, dengan perkembangan zamannya tetap berdiri di kakinya sendiri tanpa mengabaikan sesuatu yang baru.

Pendidikan sekolah umum yang digagas oleh politik etis Belanda, dari zaman ke zaman, belum memberi solusi yang berarti bagi pembangunan manusia Indonesia.

Pesantren memiliki simbol perlawanan pada masa pemerintahan Belanda. Begitu pula, mau tidak mau, pada masa kemerdekaan awal. Tidak semua pesantren mau berkompromi dengan pemerintah. Mereka secara sporadis melakukan perlawanan. Dari sini, muncul organisasi-organisasi yang berupaya menjembatani kebijakan pemerintah dan pesantren. Masing-masing masih setia dengan ajaran pendirinya.

Secara struktural, untuk mengatakan polarisasi pendidikan yang sudah ada, perlu ada suatu gagasan serius untuk pembangunan manusia Indonesia. Sejalan dengan tantangan zaman. Hal ini tidak mungkin mengembalikan pendidikan di Indonesia ke pola sebelum. Meski, di satu sisi, karakter itu memang perlu saat ini. Hal yang paling mungkin adalah secara kultural.

Secara budaya, pola pembangunan karakter harus kembali merekonstruksi pola dan basis pendidikan di Indonesia. Pesantren sebagai pihak yang tetap setia pada tradisi, yang telah mengalami pembauran dalam menghadapi perubahan zaman, perlu diperhatikan. Diteliti ulang untuk diangkat pada nalar berpikir bersama antar elemen bangsa.

Gandusari, 5 Maret 2017.

==========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *