Milisi adalah sekelompok masyarakat biasa yang terorganisir ke dalam wajib militer untuk membantu menuju kemerdekaan suatu wilayah atau negara pada masa tertentu dan bersifat non-permanen.

Sejarah kemerdekaan Indonesia memiliki ragam cerita yang bervariasi tentang pembentukan milisi-milisi tersebut. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas.

Masyarakat sipil (biasa) non pemerintah yang dipersenjatai, demikian untuk penyebutannya. Untuk membedakan dengan masyarakat bersenjata atas fasilitas negara.

Sejarah masyarakat bersenjata di Indonesia bisa ditarik jauh ke belakang pada masa-masa kerajaan. Namun, pada pembahasan ini hanya akan dibatasi pada kelompok-kelompok bersenjata menjelang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KNIL

Pemerintahan Kerajaan Hindia Belanda setelah menguasai sebagian besar wilayah-wilayah kerajaan-kerajaan di Nusantara membentuk suatu pasukan khusus yang diambil dari kalangan pribumi atau Boemi Poetera. Pasukan khusus tersebut diberi nama KNIL (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger). Nama-nama yang bisa disebutkan sebagai anggota kesatuan pasukan KNIL tersebut di antaranya adalah Mangkunegara VII, Sultan Hamid II, Oerip Soemohardjo, E. Kawilarang, A.H. Nasution, Gatot Soebroto, Didi Kartasasmita dan T.B. Simatupang.

Pada masa pendudukan Pemerintahan Jepang di Indonesia, sebagian tentara khusus bentukan Belanda dari kalangan pribumi tersebut ada yang melarikan diri ke berbagai negara, di antaranya Australia. Sebagian lagi yang masih bertahan di tanah air mengikuti program-program militer bentukan Jepang yang dipersiapkan untuk membantu Jepang pada Perang Asia Timur Raya.

PETA

Dalam persiapan Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik, Pemerintah Jepang yang berkuasa di Indonesia kembali merekrut masyarakat sipil (pribumi) ke dalam satuan-satuan khusus, di antaranya adalah Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk pada 3 Oktober 1943 atas usulan dari Gatot Mangkupraja kepada panglima tentara Jepang, Letjen Kumakichi Harada. Dibentuknya PETA tersebut berdasarkan peraturan pemerintah Jepang yang disebut osamu seinendan nomor 44.

Pada dasarnya, pembentukan tentara PETA tersebut adalah untuk membantu tentara Heiho yang pada saat itu belum begitu memadai untuk menahan serangan dan desakan dari serangan sekutu pada Perang Duni II. Seiring waktu berjalan, tentara PETA berkembang di Jawa berjumlah sekitar 37.000 orang yang ikut masuk kedalamnya, 20.000 orang dari Sumatera. Khusus di Sumatera tentara PETA disebut dengan Gyugun (prajurit sukarela).

Dari organisasi PETA tersebut dapat disebutkan nama-nama seperti Jendreral Besar Sudirman, mantan presiden Soeharto, Jenderal Gatot Subroto, Jenderal Ahmad Yani, dan lain-lain. Nama-nama tersebut sebelumnya telah meniti karir pada pasukan bentukan Belanda, KNIL.

Heiho

Untuk menyongsong Perang Asia Timur Raya antara Jepang melawan Sekutu (Amerika dan kawan-kawan), terlebih dahulu pada tanggal 2 September 1942, Pemerintah Jepang di Indonesia membentuk pasukan khusus yang diambil dari guru-guru agama dan tokoh masyarakat. Pasukan khusus bentukan Jepang ini dinamakan Heiho.

Berdasarkan instruksi langsung dari markas besar angkatan darat Kerajaan Jepang, organisasi ini dilatih militer keras di darat dan di laut. Jadi, otomatis lebih terstruktur dan terlatih daripada organisasi milisi yang lain. Mereka tidak ditugaskan hanya di wilayah Indonesia saja tetapi di beberapa negara Asia Tenggara yang jauh dari kampung halaman guna memfokuskan diri pada Perang Asia Timur Raya. Jumlah pasukan Heiho mencapai sekitar 42.000 orang, mulai sejak didirikan sampai akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia. Sekitar 25.000 orang berasal dari penduduk Jawa. Dengan demikian, Heiho dibentuk sebelum PETA.

Jibakutai

Selain Heiho dan PETA yang dibentuk perekrutan dari kalangan penduduk pribumi, Jepang juga membentuk bagian pasukan terlatih lainnya. Satu pasukan khusus yang super nekat. Pasukan tersebut didorong khusus untuk meruntuhkan mental lawan yang terinspirasi dari penerbang bunuh diri, Kamikaze. Pasukan tersebut dinamakan Jibakutai.

Kesatuan ini dibentuk pada 8 Desesmber 1944. Kesatuan tersebut sama seperti Heiho dan PETA yang bertujuan untuk membantu Perang Asia Timur Raya,  akan tetapi pasukan ini hanya sebagai pendukung perang, bukan untuk bertempur secara militer. Pasukan ini dibekali bambu runcing saja. Disebut sebagai pasukan super nekat karena berani mati krtika membawa bom, lalu menubrukkan diri kepada pihak musuh. Perbuatan milisi ini sempat menggoyahkan pasukan Inggris di kala itu.

Anggota Jibakutai menghasilkan 50.000 anggota yang tersebar di berbagai daerah. Salah satunya di Bali yg bernama Bo’ei Teisin Tai yang berdiri pada Maret dan Juni 1945.

Dan, sesudah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, kesatuan milisi ini diganti dengan nama BBM (Barisan Berani Mati) yang ikut serta pada gerakan Resolusi Jihad pada 10 november 1945, yang diperingati sebagai hari Pahlawan.

Hizbullah

Setelah beberapa milisi yang didirikan Pemerintah Jepang dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia, para ulama pun berinisiatif untuk membantu para milisi Indonesia yang tersebar dengan membentuk laskar-laskar. Kebanyakan mereka dari pemuda-pemuda santri dari berbagai wilayah ke dalam kesatuan Hizbullah dan Sabilillah.

Milisi tersebut pada mulanya tidak disetujui oleh pihak militer Jepang dan membuat kekecewaan dari kalangan ulama dan santri yang sudah siap membela tanah air. Padahal, rencana tersebut sudah dipikirkan secara matang dan dihukumi wajib oleh para ulama, tapi dari waktu ke waktu perkembangan semakin pesat. Namun, atas ikhtiyar kalangan pesantren yang gigih akhirnya pihak Jepang pun menyetujui ide para ulama-ulama pesantren tersebut. Maka, diresmikanlah milisi tersebut oleh pihak militer Jepang pada 8 Desember 1944 yang diberi nama Hizbullah di bawah komando Masyumi.

Hizbullah bermarkas di Cibarusa Bogor yang dipimpin oleh K.H. Zaenal Arifin dan wakilnya Muhammad Roem. Komandan pelatihan oleh K.H. Mas Mansyur dan Prawoto Mangkusaswito sebagai wakilnya. Ada sekitar 500 pemuda dari Jawa dan Madura. Di situ, para Hizbullah dilatih dan dididik dengan doktrin-doktrin Islam oleh para kiai yang sebelumnya bergabung ke dalam PETA. Pelatihan-pelatihan tersebut diawasi langsung oleh Kapten Yanagawa, seorang perwira Jepang.

Setelah beberapa bulan pendidikan dan pelatihan, para Hizbullah dinyatakan lulus. Setelah itu, mereka disebar di berbagai wilayah Jawa dan Madura untuk mendirikan  kesatuan-kesatuan. Ada juga yang mendirikan Hizbullah sampai ke luar Jawa dan Madura, seperti Sumatera dan Kalimantan. Seiring berjalanya waktu, tentara Hizbullah sudah mencapai puluhan ribu pemuda bersenjata yang terorganisir ke dalam unit-unit batalyon.

Sabilillah

Di daerah Malang terdapat juga milisi dari kalangan pesantren yang tidak kalah beraninya dengan milisi-milisi lainya. Milisi ini dinamakan Sabilillah. Hampir sama dengan kalangan Hizbullah, tapi milisi tersebut khusus berasal dari daerah Malang dan dibentuk atas dasar karena adanya komando Resolusi Jihad yang berpusat di Surabaya guna membantu tentara Indonesia yang sedang bertempur.

Meskipun Sabilillah mayoritas dari kalangan pesantren, tetapi tekad dan keberanian mereka sangatlah tinggi untuk membantu tentara Indonesia mempertahankan kemerdekaan yang masih baru merdeka. Semangat besar laskar-laskar Sabilillah tersebut membuat spirit tersendiri bagi tentara Indonesia dan pemerintah Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Akan tetapi, karena kurang memiliki kemampuan di bidang militer, para Sabilillah diposisikan untuk membantu di bagian garis pertahanan. Semboyan “Merdeka atau Mati” adalah  suplemen bagi mereka yang bertempur di Surabaya pada waktu itu. Sabilillah dipimpin oleh K.H. Masjkur sehingga Surabaya menjadi salah satu wilayah yang sulit untuk ditundukkan oleh sekutu.

Trenggalek, 22 Maret 2019.

==========================

gayatrimedia.co.id

Fastabiqul Khoirot (Diretur Sulaiman Channel Trenggalek, tinggal di Kras, Kediri).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *