foto koleksi M. Sakdillah. gayatrimedia.co.id

Beranjak dari tempat duduk yang sudah disediakan. Mencari posisi yang paling empuk untuk ditempati adalah cara pas untuk berbincang-bincang dengan KHA Mustofa Bisri bin KH Bisri Mustofa bin KH Zainal Mustofa atau biasa lebih dikenal dengan panggilan Gus Mus. Seusai menyimak pengajian tafsir yang sedia disampaikan olehnya pada setiap pagi Jumat menjelang siang. Aku duduk bersama temanku semasa kuliah di Yogyakarta.
Aku menunggu dengan tepekur setelah wajah yang sumringah itu berlalu. Masuk ke ruang dalam dari ruang tamu yang lebar itu. Ada karpet tebal yang menjadi alas kami dan para tetamu lain yang berjejal untuk duduk lesehan. Sementara Kang Nashrullah alias Kang Munasir tampak sibuk. Hilir mudik, ia menyuguhkan segelas demi segelas hidangan teh hangat dan kue-kue kering di dalam kaleng dan stoples.
Ruang tamu itu memang terbuka. Disediakan untuk umum. Tidak membeda-bedakan strata. Setiap tamu yang datang, entah pejabat tinggi, tokoh terkenal, atau masyarakat biasa akan diterima di tempat itu. Di dinding tampak lukisan wajah KH Bisri Mustofa, Gus Mus dan keluarga, juga kaligrafi. Buku-buku tersusun rapi di lemari. Ada Ensiklopedi NU dan buku-buku baru yang lain.
Aku pertama duduk paling dekat, dan kadang merasa sok dekat dengannya. Dibilang dekat, karena Mbak Sihah (Almarhumah)—kakak iparku dari Desa Waturoyo Margoyoso Pati—adalah yang mengurusi rumah tangganya cukup lama. Atas perantara Mbak Sihah, aku dapat lebih mudah berhubungan dengan Gus Mus. Waktu itu. Begitu pula, ketika kakekku—KH Abdillah dari Desa Bejaten Semarang—menyelesaikan dan mengkhatamkan tafsir Al-Ibriz yang ditulis oleh ayahnya, KH Bisri Mustofa, Gus Mus kersa rawuh untuk turut membacakan doa khataman. (Begitu pula manakala pamanku yang kemudian meninggal dunia tak lama setelah Bu Nyai Fatimah wafat, Gus Mus masih menyempatkan diri bertakziyah ke Salatiga). Suatu kebahagiaan tersendiri bagi keluargaku dan tentu aku dapat berdekat-dekat dengannya.

foto koleksi gusmus.net. gayatrimedia.co.id

Kekaguman pada Mata yang Teduh Itu

Dengan seksama, aku memerhatikannya. Diam-diam. Tanpa berkedip ketika ia bangkit lagi masuk ke dalam setelah duduk sebentar. Ada sesuatu yang dilakukannya. Suaranya keras hingga terdengar keluar. Namun, tak begitu jelas. Seperti sebuah arahan kepada Munasir atau khadim-khadimnya yang lain. Hari itu, ia seperti sedang bersiap-siap akan pergi lagi.
Gus Mus memang dikenal kiai kelana. Sebagai seorang penyair yang selalu mencari inspirasi, ia akan selalu mencari angin dan nuansa baru untuk ditulis. Demikian, tergambar pada sosoknya yang kontemplatif. Setidak itu yang tergambar dalam bayanganku. Seorang penyair—dan belakangan juga ia menulis cerpen—akan selalu mencari dan menyerap suara-suara yang berbicara. Di kedai-kedai, di kampung-kampung, di hotel-hotel, atau di tengah-tengah jemaah dan kesyahduan makam, dan pondok pesantren yang sering dikunjunginya. Di mobilnya tak pernah ketinggalan laptop manakala ia akan menulis sesuatu.
Aku mencoba. Tapi, tidak dengan sesungguh. Karena, akan sulit bagiku untuk melampauinya.
Aku hanya coba merekam jejak-jejaknya. Meski harus membuat tetelan-tetelan bagian dari hidupnya.
Dan, aku sadar diri, tidak mungkin bagiku untuk menapaki semesta jalannya yang begitu luas. Jika seorang sufi seperti Ibnu Arabi—untuk membuka tabir-tabir rahasia kenabian—ia harus menjelajah pengalaman Arab dan masyrakat jauh sebelumnya. Bahkan, hingga pengalaman-pengalaman Isa As, Musa As, Ibrahim As, hingga Adam As. Begitu pula, ketika Imam Ghazali menulis kitab Ihya-nya, ia disaksikan oleh Nabi Isa As. Maka, aku tidak ingin berkurang ajar mengaku bisa melampaui, apalagi mengungguli keilmuan yang dimiliki oleh Gus Mus. Seperti ungkapan kegelisahan warga Nahdliyin mengadukan perihal “pertikaian” politik antara Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan KH As’ad Syamsul Arifin kepada KH Ahmad Shiddiq. Kala itu, KH Ahmad Shiddiq menjawab, “Itu bukan maqam kalian.” Persoalan maqam ini yang membuatku tidak berani merambah lebih jauh.
Jika sudah demikian, benar kata Abahku Husein Muhammad dari Cirebon, ”Aku telah membuka misteri.” Sedemikian hebatkah diriku untuk membuka tabir itu?
Sudah banyak nasehat yang diberikan kepadaku. Baik secara terang-terangan maupun secara simbolik. Apakah aku benar-benar mampu menyelesaikan tugas ini? Seperti aku telah ditegur oleh Mbah Maemun Zubeir, Abah Husein Muhammad, atau Kiai Dian Nafis dari Windan Solo. Semua adalah teguran.
Lalu, apa yang harus dilakukan olehku? Aku menguatkan diri untuk melukiskan: masih ada yang bisa kutulis, meski hanya bersifat latar saja. Pekarangan. Sebuah tafsir seorang awam terhadap Gus Mus yang banyak dikagumi orang. Bahkan, dalam sebutanku sebagai seorang guru dari sebuah kekisruhan. Dagelan dan representasi: apa yang bisa ditangkap dari sebuah sandiwara? Yang itu hanya sebatas anganku sebagai pembaca.
Sebagai seorang penyair atau sastrawan dengan segenap emosi, egoisme, kemandirian, patuh pada prinsip, istiqamah, kehalusan, dan keluwesan yang menggemaskan. Gus Mus sudah memerankan sebagai aktor yang pandai memainkan situasi. Demikian, aku melihatnya. Meski tetap bukan dalam arti sesungguhnya.
Kekisruhan di tubuh NU—organisasi besar yang menjadi sorotan dan dipenuhi banyak kepentingan—pada Muktamar ke-33 di Jombang (2015) yang lalu. Agar tetap terjaga jagad kewirangannya, Gus Mus dalam pandanganku telah mempertahankan atau mempertaruhkan ke-istiqamah-annya untuk memelihara keutuhan NU. Sebagaimana dawuhnya: ukhuwah nahdliyah lebih sulit daripada ukhuwah basyariah atau ukhuwah wathaniyah. Satu sindiran juga ukhuwah islamiyah. Di tengah-tengah masyarakat informasi terbuka saat ini akan mudah menilai dan dinilai oleh keterlibatan massa yang lebih luas. Serta bumbu-bumbu sedap dari nyamuk-nyamuk pers yang tidak memahami kultur pesantren sehingga berita-berita memanas dan menyudutkan. Bahkan, di seluruh dunia.
Dari sini, aku harus memulai untuk: Biografi Seorang Guru dari Sebuah Kemelut.
Di dalam senandung yang ditulis olehnya;

Demi kerinduan akan kejayaan kita
Sebagai insan yang bertenaga untuk bertanya
Mudah-mudahan tidaklah sia-sia.
(2008, vii).

Bahasa Rasa Abah

Aku menguatkan diri untuk melukiskan: masih ada yang bisa kutulis, meski hanya bersifat latar saja. Pekarangan. Sebuah tafsir seorang awam terhadap diri Gus Mus yang banyak dikagumi orang. Bahkan, dalam sebutanku sebagai seorang guru dari sebuah kekisruhan. Dagelan dan representasi apa yang bisa ditangkap dari sebuah sandiwara? Yang itu hanya sebatas anganku sebagai pembaca.
Sebagai seorang penyair atau sastrawan dengan segenap emosi, egoisme, kemandirian, patuh pada prinsip, istiqamah, kehalusan, dan keluwesan yang menggemaskan, Gus Mus sudah memerankan sebagai aktor yang pandai memainkan situasi. Demikian, aku melihatnya.
Saat itu, aku melihat keteduhan di matanya. Ia mengangguk pelan dengan sorot yang redup, ketika aku mengutarakan niat untuk menulis biografi kepadanya. Rasa plong di dadaku setelah mendapat restu sekaligus perkenan untuk menulis riwayatnya. Sebelum itu, aku masih khawatir akan ditolaknya, mengingat dirinya sebagai pemuka yang disegani. Terbayang olehku akan wajah-wajah penuh kecintaan kepadanya akan marah jika kelak aku salah menulis. Tapi, kekhawatiran itu segera sirna, ketika ia mulai antusias menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Seperti ungkapan I Wayan Jengki Sunarta–penyair dari Bali, murid Umbu Landu Paranggi—mengibaratkan seperti dua petarung yang diam seolah saling mengukur kemampuan. Namun, sebagai penulis yang tak banyak dikenal di media massa, tentu aku lebih sadar diri untuk mengatakan hal sebenar. Aku hanya seekor laron yang mendekati cahaya lampu. Yang harus siap jatuh jika telah dekat dengan panas lampu itu.
Juga, tidak ingin seperti Nabi Musa As yang ingin melihat wajah Tuhan. Ketika ia jatuh tersungkur dan pingsan setelah gunung Thursina bergetar.
Demikian, aku juga sadar akan mudah terpeleset pada kekeliruan dan kelemahan ilmu dan pengalaman yang tak seberapa bila dibandingkan dengannya. Gus Mus.

Belakangan, aku lebih suka memanggilnya abah.

Rembang, 20 November 2015.

============================


M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *