gayatrimedia.co.id

Dr. Soetomo

Dokter Soetomo itu adalah seorang pahlawan Nasional yang berasal dari Desa Ngepeh, Nganjuk. Jadi, kira-kira lahir tahun 1888. Ia adalah putera seorang pamong, tapi pada waktu mau masuk sekolah HIS itu tidak bisa, karena bukan anaknya pejabat. Kemudian, di-nunut-kan pada pamannya yang menjadi wedana. Nah, kemudian sekolah di HIS, kemudian di HBS dan kemudian bisa melanjutkan ke STOVIA. Sekolah Kedokteran Jawa di Jakarta.

Nah, Soetomo adalah mahasiswa kena motivasi dari Dr. WAhidin Soediro Hoesodo yang waktu itu lagi bergerak untuk memajukan masyarakat Jawa, yaitu mengusahakan study fund atau dana pendidikan guna anak-anak yang cakap tapi tidak mampu. Nah, pada waktu dia ceramah di STOVIA itu kemudian menggugah Soetomo dan teman-temannya itu untuk mendirikan study fund itu. Maka, kemudian diadakanlah suatu rapat yang isinya adalah tujuan umumnya untuk meningkatkan derajat dari budaya Jawa dengan memajukan pendidikan dan kebudayaan. Salah satunya adalah melalui pendidikan itu.

Nah, yang agak lain: yang dilakukan Dr Soetomo ialah yang dikerjakan itu ditulis, jadi tanggalnya. Pertemuan itu ditulis kemudian yang hadir juga ditulis kemudian hasilnya juga ditulis dalam bentuk notulen yang itu menjadi dokumen historis sebagai sumber sejarah.

Saya pernah duduk dengan Pak Yudi Latif di suatu seminar mengenai masalah–apa namanya–mengapa Boedi Oetomo itu bisa dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional, tetapi Serikat Dagang Islam yang didirikan oleh Tjokro Adi Soerjo di Bogor itu kok tidak? Saya sampai begitu. Memang, di dalam lingkungan santri itu, kan, tidak biasa untuk mendokumentasikan sehingga ada event-event tertentu yang kemudian–apa namanya–terlewatkan seperti halnya gerakan Tjokro Adi Soerjo dan teman-teman pada waktu di Bogor, mendirikan Serikat Dagang Islam itu. Kenapa demikian? Karena sejarah itu ilmu yang mempelajari satu peristiwa yang hanya sekali terjadi. Oleh karena itu, ia harus punya bukti peninggalannya sebagai barang bukti untuk melakukan rekonstruksi. Ilmu sifatnya harus empiric, artinya dapat diamati. Sedang peristiwanya hanya sekali terjadi atau unik. Lah, makanya, kalau peristiwa itu penting ada peninggalannya.

Nah, peninggalan itu minimal ada tiga; yang pertama dalam bentuk minded fact yaitu kesan, ingatan, dan sebagainya. Yang kedua dalam bentuk socio-fact yaitu perilaku yang disaksikan. Jadi, seperti perkawinan itu ada saksinya, kemudian bahwa kita itu anak ini anak itu juga, kan, ada saksinya. Yang ketiga adalah arty fact jadi mesti ada peninggalan dari barang-barang yang dipakai untuk keperluan kejadian itu. Jadi, ini sejarah.

Kembali pada Dr Soetomo, jadi salah satu pentingnya Dr Soetomo itu adalah bahwa berdirinya Boedi Oetomo yang bertepatan dengan rapat pertama dari mbahas STOVIA untuk menghimpun dana bagi anak-anak muda Jawa yang cakap untuk kemudian menjadi titik tolak dari Hari Kebangkitan Nasiona. Jadi, punya nilai sejarah, karena punya sumber-sumber sejarahnya.

HOS Tjokroaminoto

Pak Tjokroaminoto itu adalah tokoh sejarah dan legendaris. Mengapa? Pak Tjokro itu masih ada hubungan darah, hubungan genealogi, dengan Kiai Kasan Besari dari Tegalsari. Nah, kenapa Kiai Kasan Besari punya catatan sejarah? Iya, karena salah seorang isteri dari Kasan Besari itu adalah puteri Triman dari keraton Kartosuro. Triman itu adalah anugerah puteri dari kalangan keraton, dianugerahkan karena jasanya yang besar sekali.

Lha, kenapa, kok, Kiai Kasan Besari mendapat anugerah puteri dari keraton Kartosuro? Iya, karena Pakubuwono II pada tahun 1742 pada Geger Cina di Kartosuro atau Pacinan di Kartosuro; Raja itu sampai keplayu atau mengungsi ke Ponorogo. Lha, salah satu tempat untuk beriyadoh itu adalah di masjid Tegalsari. Oleh karena itu, Raja itu bersumpah nanti kalau seumpamanya sudah kembali aman dan kembali ke Kartosuro, maka Kiai Kasan Besari itu akan diparingi anugerah. Lha, kemudian dari keturunannya ini, ada yang menjadi Bupati di Ponorogo.

Lha, yang kemudian menjadi kakek dari Tjokroaminoto. Nah, oleh karena itu Tjokroaminoto termasuk darah biru. Dan, ia pendidikannya adalah di MOSVIA, yaitu sekolah pamong praja. Hanya, pertama kali, ia menjadi Ajun Bupati di Ngawi. Tapi, naluri kerakyatannya, naluri kesantriannya, itu nggak tahan melihat penderitaan orang-orang Jawa yang dijajah. Kemudian, ia berhenti dan mencari pekerjaan yang bebas sebagai wartawan di Surabaya. Nah, di Surabaya inilah, Tjokroaminoto ketemu sama Haji Samanhudi yang waktu itu juga lagi mendirikan Sarekat Dagang Islam. Jadi, Sarekat Dagang Islam itu ada dua; yang tua didirikan oleh Tjokro Adisoerjo di Bogor, yang kedua di Solo.

Nah, di Surabaya inilah Samanhoedi ketemu sama Tjokroaminoto yang kemudian terjadi komunikasi dan Tjokroaminoto tertarik pada pekerjaan itu. Maka, kemudian, Tjokroaminoto dijadikan salah seorang pengurus dari Sarekat Islam. Sejak itu, Sarekat Islam mengalami kemajuan yang luar biasa.

Dari segi kepemimpinan, Pak Tjokro ini memang unik, jadi beliau dapat dikatakan sebagai Raja Tanpa Mahkota. Jadi, kalau pidato, ya waktu itu, namanya menggebu-gebu. Itu dan ia bisa, meskipun dari kalangan santri, beliau bisa menerima anak didiknya dari berbagai macam unsur. Nah, jadi pada waktu di Peneleh Surabaya, dia selaku wartawan juga selaku hoobstore dari Serikat Islam itu. Ternyata, di sana pada hari-hari berikutnya, yang berguru itu cukup beraneka ragam. Jadi, dari sahabatnya, Pak Soekeni itu, ya dititipi anaknya yang bernama Koesno atau Soekarno yang waktu itu sekolah di HBS Surabaya. Dia terima. Tapi, waktu itu Soekarno Islamnya belum tebal. Yaitu mempraktekkan ajaran teosofi, oleh Pak Tjokro diberi kebebasan. Juga ada Alimin, tokoh komunis. Kemudian juga ada Kartosoewirjo yang nanti menjadi tokoh DI/TII yang waktu itu sekolah di NIAS. Sekolah Dokter Jawa di Surabaya.

Sarekat Islam

Kemudian, Pak Tjokro ini juga–apa namanya–sebagai seorang intelektual, sebagai seorang pimpinan partai, beliaulah yang pertama kali berhasil mengadakan kongres nasional Serikat Islam di Surabaya tahun 1913. Oleh karena itu, kemudian Sarekat Islam berkembang dengan sangat pesat. Bahkan, pada tahun 1916 bukan main. Tapi, akibat perkembangannya itu tidak terkontrol. Nah, Pemerintah Belanda juga berusaha untuk mencegahnya. Atau, untuk melarangnya. Tapi, nggak bisa. Karena apa? Karena Serikat Islam–apa namanya–yang besar itu kemudian tidak boleh berdiri secara sentral. Maka, kemudian, Serikat Islam memecah diri menjadi Sarekat Islam lokal. Sedangkan yang dibuat namanya sentral Sarekat Islam. Jadi, di bawah koordinasi pengurus pusat begitu. Nah, dalam pada itu kemudian bersinggungan dengan ideologi-ideologi lain yaitu misalnya ideologi sosialis-komunis yang dilaksanakan oleh Sneevliet yang pada tahun 1913 mendirikan ISDP (Indische Sociaal Democratische Partij). Gerakan atau partai sosial politik di Jawa yang berhaluan sosialis. Nah, tapi karena kontradiksi-kontradiksi dari ajarannya yang diberikan itu adalah tidak cocok dengan pribadi orang Jawa yang harmonis, maka ini sukar masuk.

Nah, tetapi ada tokoh-tokoh lain lewat Sarekat Islam kemudian bisa menggerakkan Sarekat Islam itu menjadi dinamis dan revolusioner. Maka, muncullah Sarekat Islam Rakyat dulu, kemudian setelah itu menjadi Sarekat Islam Merah. Dan, karena Sarekat Islam Merah itu, gerakannya itu yang kemudian beralih kepada gerakan Marxis, maka SI mengadakan disiplin partai. Pada tahun 1923, pecahlah SI menjadi ada SI Putih dan SI Merah.

Nah, yang sebelumnya tahun 1920, SI Merah sudah memproklamirkan yaitu menjadi Partai Komunis Hindia Belanda yang dalam foto-foto itu dapat dikatakan sebagai anak kembar begitu. Nah, tapi kemudian di dalam tubuh SI, ada disiplin partai yang diantaranya ada Agus Salim, maka barangsiapa yang menjadi anggota SI kemudian tidak mentaati asas, maka ia harus keluar. Maka keluarlah ini resmi menjadi Partai Komunis Indonesia.

Nah, ini hebatnya Pak Tjokro. Bung Karno setelah selesai dari HBS di Surabaya, ia melanjutkan ke Bandung. Nah, ada kisah yang dramatis bagi Bung Karno, mengapa? Pada suatu waktu, keluarga Pak Tjokro itu dipenjara. Kemudian…e saya lupa, apa Pak Harsono apa awal Tjokroaminoto itu sunat, khitan? Bu Tjokro itu ndak punya apa-apa, karena dipenjara, maka menurut Cindy Adam di dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat itu dikatakan Bung Karno tidak tahan melihat penderitaan itu. Maka, sepeda satu-satunya yang dipakai sekolah di HBS dijual untuk ikut membantu biaya khitanan anaknya Pak Tjokro itu.

Nah, kemudian Bung Karno curhat juga kepada adiknya Pak Tjokro, yaitu Pak Abikoesno Tjokrosoejoso, tapi waktu itu sudah di THS di Bandung. Melihat kondisi Pak Tjokro yang sedemikian rupa, maka Pak Abikoesno juga menyarankan, “Ya, Koesno kalau kamu ingin berbuat baik kepada keluarganya Pak Tjokro, maka nikahilah Oetari! Jadi, Oetari adalah putera dari Tjokroaminoto dinikahi oleh Bung Karno.

Nah, pernikahan terjadi. Tapi, Oetari sebagai isterinya Bung Karno nggak pernah kesenggol. Karena apa? Pada waktu kecil yang momong itu dia. Kalau bahasa Jawanya pada waktu kencing dan nyewoki itu dia. Jadi tidak mentolo gitu, lho.

Nah, tapi dia ikuti. Dia ikuti. Dia taati Pak Abikoesno Tjokrosoejoso itu. Nah, itu yang terjadi.

Nah, oleh karena itu, Pak Tjokro, kan, di Surabaya juga diangkat sebagai pahlawan nasional memperoleh anugerah dari Pemkot Surabaya, yaitu satu rumah di Ngagel I selatan sebelah selatannya toko Uranus itu, lho. Itu, kan, ada rumah, tapi yak opo, ya? Sudah ndak layak. Semestinya harus direnovasi. Nah, kemudian dalam kehidupan politiknya, jadi beliau pula pernah menjadi Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat Belanda). Nah, SI sendiri kemudian juga mengambil sikap dari cooperation menjadi non cooperation. Menjadi peralihan radikal. Dan, pada tahun 1929, mengubah SI menjadi Partai Serikat Islam Indonesia. Mengapa demikian? Ya, karena pada tahun 1928 itu, ada Sumpah Pemuda yang mengakui: Bertanah air satu tanah air Indonesia, Berbangsa satu bangsa Indonesia, Berbahasa satu bahasa Indoensia; dan mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Jadi, sebagai partisipan politik, Sarekat Islam tidak mau ketinggalan. Tapi, kesehatan Pak Tjokro sudah sangat menurun. Maka, pada tahun 1934, jadi sehabis melakukan kewajiban partai di Banjarmasin, kalau ndak salah, kemudian kembali ke Jogjakarta setelah sakit, kemudian meninggal di Jogjakarta. Ini kalau ndak salah tahun 1934 itu.

Cak Durasim dan Parindra

Boleh jadi, karena apa? Memang, untuk melakukan perjuangan itu dengan berbagai cara. Di antaranya dengan politik, kemudian agama, kepemudaan, juga lewat seniman itu. Nah, saya belum mengamati secara intensif dengan cara itu, tapi itu juga tidak mustahil. Mengapa? Kalau kita baca novelnya Hamka, Tenggelamnya Kapal van Der Wijke; itu, kan, tahun 1927. Itu permainan tonil atau drama; itu, kan, sangat berkembang. Lha, salah seorang pemainnya; itu, kan, Zainuddin, mantan pacarnya Hayati di dalam novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijke itu? Boleh jadi, karena ludruk itu suatu kesenian yang muncul di tengah masyarakat kemudian dikemas sebagai apa? Bingkainya itu kontekstual, maka diisi dengan lagu-lagu perjuangan. Lagu perjuangan itu namanya gandangan. Tidak secara eksplisit, tapi secara implisit, yang mengandung–apa namanya–perumpamaan atau sanepo, atau peribahasa.

Lha, itu pada waktu jaman Belanda. Nah, pada waktu jaman Jepang, itu ludruk itu kemudian menjadi sarana, yaitu termasuk kritik sosial. Jamannya Belanda, ya kritik sosial. Lha, kritik sosial itu disalurkan lewat sanepan, atau paribasan, dalam bentuk lagu gandangan itu, misalnya Jula Juli.

Nah, salah satu hal di Surabaya, kan, waktu itu banyak orang ngamen, ya? Ngamen itu secara pribadi atau sendirian; itu menayangkan jenis-jenis tertentu: ya ada tandak, ada komedi bedes (monyet, red.) kemudian ada ludruk. Yang individual itu yang dimainkan oleh orang yang bernama Cak Durasim.

Nah, Cak Durasim ini di mana-mana mendendangkan, yaitu “Pagupon omahe doro, melu Nipon tambah soro”. Nah, ternyata, itu juga menggugah kesadaran masyarakat betapa sengsaranya orang dikuasai, dijajah oleh Nipon. Nah, dulu, pada awal-awal tahun 1950, penderitaan dan kesengsaraan itu masih ada. Mengapa? Dulu, itu, kan, masih ada kere. Kere itu orang yang ndak punya apa-apa. Cuma punya tongkat dan tempat minta sedekah itu, lho? Kemudian berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, meminta-minta. Nah, kemudian ada orang yang macak kere. Ssebenarnya bukan kere, tapi sudah dianggap kere; itu dengan nggereti pakaian bekas gombal. Oleh karena itu, kan, ada ajian gombale mukio. Nah, itu dulu ada. Sekarang sudah tidak ada.

Nah, mereka ini tidur di bangku-bangku pasar. Di bangsal-bangsal pasar itu. Karena, pasar kalau malam, kan, sepi. Nah, itu tidurnya di situ. Nah, Pakdhe saya itu karena belater, ya? Belater cakra itu kemudian pada waktu jaman Jepang; itu ingin mencoba rasanya menjadi Romusha. Ternyata, di Romusha itu, dia ditempatkan, ya digepuki! Ya, makannya nggak teratur kemudian dia minggat. Tapi, dengan macak kere itu tadi, sampai di Wonokromo situ. Nah, karena berbulan-bulan ndak mandi kemudian mencari paman saya yang lain, ke rumah paman saya yang di sabrangan itu tidak dikenal. Kan, yang kelihatan hanya giginya saja. Wes, tujuannya di situ. Kemudian, nggak pernah mandi. Ya, kalau sekarang, air kan mudah ya? Nah, dan di waktu itu. Kemudian di sana, kemudian ngaku nama saya ini ini ini… teringat, karena dia kakak bapak saya. Jadi, seminggu itu ndak boleh keluar, dimandikan, dikasih makan supaya gemuk gitu.

Nah, kembali kepada ludruk, karena Surabaya pada waktu itu banyak orang-orang rendahan, banyak orang-orang menderita dan sebagainya. Maka, apa yang disampaikan oleh lewat gandangannya Pak Durasim itu kemudian dianggap berbahaya oleh Jepang. Maka, ia ditahan. Ya, disiksa di markasnya Kampetei. Di mana markasnya Kampetei itu? Yaitu, yang sekarang menjadi tugu pahlawan. Dulu, merupakan sebuah gedung yang megah namanya Raad van Justicie. Jadi, gedung pengadilan untuk orang Eropa di Surabaya. Nah, jadi tempatnya pas di muka gubernuran itu. Jadi, kalau ada parade itu, gedung gubernuran itu, yo katut, lah Raad van Justicie itu juga katut. Di sana, digepuki sampai meninggal. Sampai tewas.

Meninggalnya tahun berapa, kira-kira tahun ’44. Karena itu, kejam-kejamnya Jepang. Nah, jadi, setiap malam itu selalu ada lengkingan-lengkingan cerita orang Jepang itu oleh markas Kampetai. Kampetai itu adalah polisi rahasia Jepang. Itu Cak Durasim.

Nah, kemudian, setelah kemerdekaan dan masa Orde Baru. Pembangunan meliputi termasuk seni budaya, maka dibuatlah satu gelanggang dinamakan Gelanggang Cak Durasim di Gentengkali 33. Teman-teman guru, tahun berapa gitu, unjuk rasa ke Citraland. Mengapa? Di Citraland itu adalah mencitrakan Kota Singapura yang ada di Surabaya. Lha, di sana itu juga dulu dibuatkan patung-patung Van Beathoven, yaitu komponis dari Eropa sana. Itu oleh teman-teman guru diunjuk rasa., diprotes. Wong, kita itu punya seniman Pak Durasim dan sebagainya, kok. Sampai mengambil orang asing. Mengapa kita ndak punya? Akhirnya, Van Beathoven itu patungnya digeraji, dipotong, dan diturunkan.

Tradisi sebagai Sumber Sejarah

Nah, ini salah satu peranan dari Cak Durasim. Nah, karena itu juga tidak ada barangkali tidak ada media yang memberitakan. Yah, boleh jadi kemudian yang–namanya apa–‘urf atau every reafering, tradisi yang hidup, atau tradisi yang diketahui itu menjadi salah satu sumber sejarah.

Jadi, di Surabaya itu kan meskipun kota modern, tapi kan juga masih terdapat dalam tanda petik, kemasan-kemasan peninggalan dari zaman yang lalu. Jadi, dalam bentuk sanepo, pasemon, paribasan itu. Jadi, di dalam gending-gending yang disampaikan dalam pertunjukan ludruk itu kemudian juga tembang-tembangnya, gandangannya itu tak ada yang pantah, pasemon semua. Sehingga dengan demikian ndak dikenali atau tidak begitu dikenali atau tidak diketahui pihak penjajah, khususnya Jepang. Jadi, sampai dengan awal kemerdekaan itu dulu tahun 50an berapa gitu, saya masih tahu sendiri, jadi di bawah jembatan Wonokromo, di bawah Jembatan Dinoyo, di bawah jembatan Kayun, di bawah jembatan Peneleh itu banyak gelandangannya. Jadi, orang itu ngiyupnya di bawah jembatan itu. Bambung. Sampai tahun ’63-64, ada aksi sepihak terhadap tanah-tanah absentee yang harus sebagian itu kemudian menduduki tanah-tanah itu. Nah, sekarang menjadi tanah yang bersurat hijau.

Yah, yang pertama, Dr Soetomo selalu berjuang dengan cara kerjasama, cooperation, bekerjasama dengan penjajah. Artinya apa? Sepanjang ada kebijakan-kebijakan yang dapat dipakai untuk meningkatkan derajat dan hidup rakyat. Itu mesti ditempuh. Itu yang ditempuh partainya Dr Soetomo atau Parindra.

Jadi, yang membedakan, yang pertama Dr Soetomo orang yang terpelajar dari pendidikan tinggi, yaitu kedokteran Jawa. Kemudian yang kedua, karena sifatnya yang terpelajar itu, kemudian Dr Soetomo dan teman-temannya mengambil strategi perjuangan cooperation atau kerjasama pihak penjajah, yaitu di mana ada kebijakan-kebijakan penjajah yang dapat dipakai untuk meninggikan derajat kehidupan masyarakat. Di Jakarta, salah satu pimpinan Parindra adalah Moh Husni Tamrin. Lha, salah satu perwujudannya itu yaitu perjuangan yang cooperation itu lewat pendidikan, kemudian lewat kepanduan, jadi suryawirawan, kemudian juga lewat seni. Yang tadi dikatakan ludruk itu.

Mengapa ludruk? Ya, di Surabaya ini, meskipun kota modern, waktu itu masih mengamalkan atau melaksanakan adat-adat tradisi dari masa-masa sebelumnya dengan baik. Nah, kemudian juga, di Surabaya itu, karena jauh dari pusat kekuasaan, maka feodalisasi dalam kebudayaan itu juga relative kurang. Jadi, kalau di Jawa itu, misalnya, kena pengaruh Mataraman. Di sana, ada strativikasi bahasa, jadi ada bahasa kromo hinggil, kromo, dan ngoko. Minimal, ya. Yang banyak itu di Jogja dan di Solo, di sana ada sebelas strativikasi bahasa. Tapi, di Jawa Timur umumnya adalah tiga itu.

Lha, di Surabaya itu tidak begitu kentara. Jadi, masyarakatnya terbuka. Kemudian, pekerjaannya bermacam-macam, tidak hanya dari beberapa jenis pekerjaan. Kemudian, tempat tinggalnya itu tidak eksklusif. Jadi, dalam satu kamar tersendiri gitu, antara kelompok satu dengan kelompok lain. Nah, juga karena di Surabaya itu dapat dikatakan Indonesia in small. Indonesia dalam arti kecil, dalam bidang kemerdekaan. Bhineka etnisnya, bhineka budayanya, bhineka ekonominya, bhineka masyarakatnya. Oleh karena itu, di dalam pergaulan dapat dikatakan terbuka, jadi kalau bicara dengan orang kedua mestinya nggak ada panjenengan, sampean, kula, itu. Yak iku kon, peno–apa artinya–ya blakasuta namanya. Kemudian bahasanya juga bahasa ngoko dan bahasanya bahasa yang dipakai kalangan bawah. Jadi, sangat demokratis.

Jadi, paman saya yang ada di Sabrangan itu; saya berkunjung ke sana tahun ’63. Jadi, kalau adiknya datang, yo wes kono. Awakmu ngglundung-ngglundung kono. Wes mbadhok opo urung? Kan kasar itu, ya? Tapi, bagi Surabaya itu tidak. Aku mau mari nyekek, Cak. Jadi, seperti itu ndak kasar. Kalau ketemu orang di terminal lama; itu ya, dancuk kon iku! Anggak nggak tahu, matamu kui! Itu nggak dirasa kasar, karena terbiasa terbuka, ungkapan yang kocak, dan sebagainya itu. Nah, ini kemudian menjadi salah satu wahana untuk menyampaikan protes-protes sosial pada yang berkuasa, yaitu dalam bentuk seni-seni ludruk dan sebagainya.

Nah, di dalam seni tradisional yang berani ngritik, ya hanya ludruk. Karena, itu sarana menjalankan kritik secara terselubung di dalam penampilan seni. Ada seni ketoprak, itu kultus. Kenapa? Selalu ada strativikasi, selalu membenarkan pejabat, selalu membenarkan penguasa, kemudian ada pula seni yang di Surabaya itu adalah tandak. Ya, itu biasa. Kalau di Jawa Tengah, itu gambyong. Tapi, di Surabaya, karena masyarakatnya sudah industri, ada perusahaan dagang. Itu kalau nanggap tandak, itu tidak malam, tapi pada waktu siang. Jadi, siang itu mulai jam tiga. Waktu bekerjanya itu pulang sampai jam 9 atau 10 malam. Meskipun, di dekatnya itu: ada masjid, ada mushalla, ada langgar yang azan. Itu, ya tidak berhenti. Dan, santrinya juga nggak marah. Nah, baru tahun ’63-64an, tatkala ludruk itu dipakai sebagai alat propaganda partai tertentu, kemudian juga–apa namanya–paribasanya itu ngenyek atau menghina. Itu baru kemudian timbul konflik mengenai masalah seni budaya itu. Lha, ini yang terjadi.

Kembali kepada Cak Durasim, jadi apa yang dinyanyikan Cak Durasim itu sebenarnya biasa, tapi menjadi sangat peka dan sangat sensitif. Karena, Jepang waktu itu sudah ngalami turning point, artinya mundur dari belakang dari pertahanannya yang semula. Jadi, dalam pertemuan Wildway tahun ’42 sudah mundur. Nah, supaya masyarakat itu tidak bergejolak seperti halnya Kiai Zainal Mustofa di Jawa Barat, kemudian nantinya itu Supriyadi di Blitar; itu kemudian ditekan itu. Salah satunya biar nggak menjalar, si sumber, salah satu sumbernya itu diamankan, yaitu Cak Durasim dengan gandangannya yang solo itu.

Dari sudut sejarah, yang memandang itu–apa namanya–teman seperjuangan Cak Durasim, kemudian juga melihat dengan matakepala sendiri. Maka, derajat sumber berita adalah sumber primer. Jadi, sumber yang berasal dari jaman peristiwa itu berlangsung. Nah, kalau sumber primer sudah barang tentu mesti ada ceritera sejarah. Kisah sejarah yang diriwayatkan oleh para tokoh yang melihat atau yang mengamati Cak Durasim itu sendiri. Nah, jadi saya masih menangi pada waktu menulis peristiwa 10 November, tokoh-tokoh yang pada waktu Cak Durasim itu; ada yang masih hidup. Jadi, misalnya, Pak Ruslan Abdul Ghani, kemudian Bung Tomo sendiri, kemudian juga Dul Harnowo, yang di Surabaya itu wartawan Wiwik Hidayat namanya. Kalau Cak Suwarto Broto, saya kira nggak, karena dia masih di SMP. Jadi, ada saksi mata yang kemudian dia menceritakan dan dalam tulisannya itu ada kesaksian. Jadi, kesaksian itu ditulis oleh yang bersangkutan yang menyaksikan itu. Jadi, satu contoh, Cindy Adam itu yang menulis Bung Karno itu. Jadi, Cindy Adam yang mewawancara Bung Karno itu. Jadi, bukan cerita yang ditulis tanpa melibatkan tokoh yang ditulis itu.
Seni dan tradisi bisa dijadikan fakta sejarah!

Tradisi sebagai Fakta

Bisa. Kalau memang tak ada sumber, ya bisa. Kalau di dalam bahasa Arab ‘urf, ya? ‘Urf itu adalah tradisi yang telah menjadi kehidupan sehari-hari. Misalnya, tradisi mauludan, tradisi khitan, tradisi walimatul ‘ursy, dan sebagainya. Itu pasti benarnya. Kemudian, yang di Indonesia sendiri seperti tradisi nanggap wayang pada waktu ada satu peristiwa penting yaitu pemberian sima atau tanah perdikan.

Dulu, tanah satu perdikan dari raja diberikan kepada kepala desa yang berjasa itu nanggap wayang. Nanggap wayang itu dilakukan pada waktu upacara nyadran. Nyadran itu dari kata srada. Yaitu, menduabelas tahuni orang yang telah meninggal. Artinya apa? Nyadran itu kemudian di Indonesia menjadi tradisi untuk memberi selamatan pada arwah nenek moyang yang telah meinggal, karena bertahun tahun menjadi semacam ulang tahun gitu. Ini di salah satu desa itu masih nanggap wayang. Ini adalah salah satu ‘urf yang hidup. Nah, di dalam bahasa Belanda disebut over lifering. Life itu hidup, over itu terus berjalan, jadi sesuatu yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, satu contoh, ya? Kan, ada tradisi yang kemudian dibakukan jadi tradisi lisan, yaitu ceritera, misalnya ceritera Malinkundang. Jadi, Malinkundang itu ditokohkan sebagai figur anak yang durhaka pada orangtua, perempuan khususnya. Lha, karena ini ndak baik kemudian dari generasi ke generasi didongengkan gitu. Lha, kalau orang nggak anu, kan, dianggap dongeng. Itu sebenarnya berisi ajaran yang melarang yang mentabukan anak yang durhaka kepada kedua orangtua; itu nanti akan terkutuk. Lha, di Jawa Barat ada, jadi larangan untuk menikahi seorang perempuan yang itu ibunya sendiri meskipun cantik, tapi masih muda. Itu ada larangan dalam bentuk ceritera Sangkuriang. Itu tersimpan dalam tradisi lisan. Tapi, kalau kemudian ditanya datangnya kapan, itu ya sukar? Karena, itu terus berjalan.

Lha, sejarah, kan, memang ada tiga konsep? Yang pertama, konsep perubahan, yang kedua adalah konsep waktu, yang ketiga adalah konsep kontinuitas. Artinya apa? Sebenarnya, peristiwa itu terjadi karena ada perubahan. Apa lahirnya? Apa meninggalnya? Apa peran ini peran itu, ada perubahan. Perubahan itu tidak lepas dari setting waktu, time, ya. Jadi, kapan-kapan itu. Nah, yang ketiga kemudian adanya perubahan itu; ada kontinuitas yang menyertainya. Jadi, dampak yang menyertainya, entah itu kecil atau besar, berhasil atau tidak. Itu unsur sejarah. Jadi, kalau ada ludruk dalam konteks sejarah, itu ya karena apa? Karena saluran kritik terhadap penguasa itu tersumbat. Oleh karena itu, masyarakat mencari modifikasi supaya itu dapat tersalur. Lewat apa? Lewat penampilan seni, khususnya ludruk, tapi karena ini merupakan sesuatu yang terlarang pada zamannya, kontinuitasnya kalau sampai melanggar, dianggap melanggar pasti kena apa? Kena seperti Cak Durasim itu. Itu, kan, akibat saja. Sebab akibat itu. Jadi, sudah barang tentunya adanya sebuah perubahan pemerintah Jepang yang bertindak tegas pada kritik dibanding pada masa pemerintah Hindia Belanda.

Kepahlawanan Seorang Seniman

Jadi, pahlawan itu, kan, sebagai sosok yang penuh pengorbanan, penuh pemikiran, penuh dedikasi, yang melampaui jangkauan di mana ia berada. Jadi, zaman Cak Durasim jangakauannya jauh. Kemudian, juga ada pengabadian dan sebagainya. Nah, di dalam kriterianya itu bisa diusulkan sebagai pahlawan. Pertama, oleh komunitasnya, bisa. Yang kedua oleh keluarganya, juga bisa. Jadi, Soekarni itu dulu, beberapa tahun yang lalu diusul oleh keluarganya. Kemudian, kalau HR Muhammad itu oleh–apa namanya–disponsori oleh kaularganya. Karena, cucunya ada yang menjadi sekretaris Menko Kemaritiman. Nah, tapi kalau misalnya yang saya tahu Trunojoyo oleh keluarganya, tapi tidak berhasil. Kemudian juga, Pak Roeslan Abdul Ghani itu oleh keluarganya, tapi nggak disetujui, kemudian juga Bung Tomo. Itu juga oleh komunitasnya. RRI tempatnya dulu bekerja.

Surabaya, November 2019.

========================

Wawancara: Prof. Dr. Aminuddin Kasdi (guru besar sejarah, tinggal di Surabaya).

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *