Adapun Martin Van Bruinessen menyampaikan tentang masa depan NU dan akar ekstrimisme dalam tubuh Islam. Karena saat itu sarasehan diselenggarakan pasca peristiwa Charlie Hebdo. Menurut Prof. Martin tidak menutup kemungkinan kader NU menjadi ekstrim. 

Pengalamanku di PCINU Maroko

foto koleksi Alvian Iqbal Zahasvan. gayatrimedia.co.id

PCINU atau Pengurus Cabang Istimewa NU bercikal dari PMNU/KMNU (Paguyuban/Keluarga Mahasiswa NU). Di antara KMNU yang pertama kali eksis adalah KMNU Mesir dan Saudi. KMNU Mesir didirikan oleh Najib Wahab, Gus Dur, dan Alwi Syihab, Quraish Shihab dan kawan-kawan pada tahun 1960.

Membaca sejarah berarti membaca peristiwa dan gagasan. Di balik peristiwa tentu ada tokoh-tokoh sebagai pelakunya. Adapun gagasan didirikannya KMNU adalah guna mengakomodir kader-kader NU yang berada di luar negeri. Oleh karena itu, selanjutnya, KMNU Mesir diganti menjadi PCINU Mesir setelah PBNU membaca peluang untuk meng-internasional-kan NU.

Peristiwa itu terjadi saat muktamar NU ketiga puluh di Lirboyo tahun 1999, ketika itu KMNU Mesir diundang sebagai peninjau. KMNU lalu melakukan lobi agar KMNU disahkan menjadi eksis di struktur resmi NU. Akhirnya, pada Januari 2010, KMNU resmi berubah menjadi PCINU yang pada waktu itu diresmikan oleh KHA Mustofa Bisri atau Gus Mus selaku salah satu Rais Syuriah PBNU. Sungguh suatu proses yang panjang menuju PCINU.

foto koleksi Alvian Iqbal Zahasfan. gayatrimedia.co.id

Di antara KMNU-KMNU selain Mesir yang berubah status menjadi PCINU adalah PCINU Malaysia tahun 1999 tidak lama setelah Muktamar Lirboyo, PCINU Sudan tahun 2000, PCINU Arab Saudi diresmikan tanggal 1 Januari 2000 di Mekkah oleh Prof. Dr. Said Aqil Munawwar yang waktu itu selaku Katib Am PBNU disaksikan 52 kiai dari Indonesia dan ulama Mekkah, Syekh Dr. Muhammad Ismail Az-Zain. KMNU Arab Saudi sudah eksis pada masa-masa sekolah Kiai Said Aqil Siraj di sana. Namun setelah kepulangannya ke Indonesia tahun 1994, KMNU dilanjutkan oleh KH Fuad dengan membuka TPA Al-Nashiriyyah sebagai kelanjutan KMNU dan kemudian PCINU.

PCINU Lebanon dulu bergabung ke PCINU Syiria, diresmikan tahun 2001. Tahun 2008, PCINU Lebanon berdiri sendiri diprakarsai oleh saudara Aziz dan diresmikan oleh KH. Hasyim Muzadi.

Di Madrasah Imam Nafi’, Tangier (baca Tenjer) pada 17 September 2011, KH Maimun Zubair meresmikan berdirinya PCINU Maroko, Alvian Iqbal Zahasfan sebagai Rais Syuriah dan Muannif Ridwan sebagai ketua Tanfidziyah. Tanggal 15 Juli 2012, diadakan Konfercab (Konferensi Cabang) Pertama di gedung INPT Rabat. Memutuskan Alvian Iqbal Zahasfan sebagai Rais Syuriah dan Muannif Ridwan sebagai ketua Tanfidziyah periode perdana 2012-2014 (dua tahun). Sayang, sebelum berakhirnya periode jabatan, saudara Muannif pulang ke tanah air, akhirnya sebagaimana diatur dalam AD/ART organisasi, jika ketua berhalangan atau uzur maka digantikan oleh wakilnya. Oleh karena itu, saudara Ali Syahbana selaku wakil naik menduduki posisi ketua Tanfidziyah (2014).

foto koleksi Alvian Iqbal Zahasfan. gayatrimedia.co.id

Konfercab kedua, dilangsungkan pada tanggal 13 Agustus 2014 di Institut Dar El Hadith El Hassania Rabat. Konfercab memilih Alvian menjabat lagi sebagai Rais Syuriah dan sebagai ketua Tanfidziyah saudara Kusnadi (2014-2016). Pelantikan kepengurusan periode kedua ini diresmikan oleh KH Mujib Qulyubi MA, selaku Pengurus Besar NU diadakan di aula Serbaguna KBRI Rabat dan dihadiri oleh Bapak Dubes RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Mauritania, Bapak Dede.

Awalnya PCINU Maroko berupa Paguyuban Mahasiswa NU (PMNU) yang dipelopori oleh Husnul Amal Masud MA, Dr. Arwani Syaerozi, M. Sabiq El Hadi, Syarif Hidayat, Maryam, Prabowo Wiratmoko Jati dan ;ain-lain. Ketika tahun 2010, KH Said Aqil Siraj mendapat undangan istimewa dari kerajaan untuk menyampaikan ceramah di depan Raja dan para ulama Maroko -acara ini disebut Ad-Durus Al-Hassania- mereka memanfaatkan kesempatan ini supaya KH Said Aqil Siraj bersama rombongan dapat melobi pemerintah Maroko untuk memberi beasiswa belajar di Maroko bagi kader-kader NU.

Proses lobi dan kerjasama berjalan dengan lancar. Akhirnya ditandatangani MoU antara Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman (Wizarotul Auqof was Syu’un Al-Islamiyah) dengan PBNU. Pada bulan Juni tahun 2010 dibuka pendaftaran beasiswa ke Maroko di PBNU. Diantara yang lulus adalah penulis yang mendapat beasiswa belajar di Institut Dar El-Hadith El-Hassania di kota Rabat . Ada 15 orang yang diutus; 10 orang program S1 dan 5 orang program S2.

Pada tanggal 27 September 2010, kami menginjakkan kaki di negeri seribu benteng ini. Waktu bergulir seraya kepengurusan dialihkan karena senior di PMNU (Paguyuban Mahasiswa NU) di Maroko ada yang sudah menyelesaikan kuliahnya sehingga diperlukan regenerasi. Maka, pada tahun 2011 diresmikan berdirinya PCINU Maroko setelah melalui perjuangan yang tidak mudah.

Sudah lima tahun PCINU Maroko berjalan. Ibarat anak maka dia masih butuh banyak ekstra bimbingan orangtuanya. Semoga PBNU selalu memperhatikan kepada anak-anaknya yang berada jauh di luar negeri sana.

PCINU seluruh dunia ada sekitar dua puluhan. Di antaranya PCINU Amerika, Belanda, Jerman, Perancis, Inggris, Maroko, Tunisa, Mesir, Sudan, Yaman, Turki, Saudi, Yaman, Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, Australia dan New Zealand, Lebanon, Syiria dan lain-lain.

Banyak kegiatan yang telah kami lakukan di organisasi ini. Kami juga terus menjalin koordinasi dengan PCINU sedunia. Kegiatan yang menarik dari PCINU Maroko adalah pada awal bulan Januari 2015, kami mendapat undangan PCINU Belanda menghadiri acara sarasehan, maulidan dan peresmian PCINU Belanda yang diresmikan oleh Gus Mus.

Pada acara sarasehan, kami turut andil membagi pengalaman keberagamaan masyarakat Maroko dibandingkan dengan keberagamaan masyarakat Nusantara dan ternyata banyak terdapat kesamaan secara amaliah terutama amaliyah Nahdliyah. Pada acara ini hadir menyampaikan pembukaan adalah Gus Mus dan Prof. Dr. Martin Van Bruinessen seorang pakar indonesianis dari Belanda.

Gus Mus bercerita saat diundang ke Gedung Putih guna menyampaikan ceramah Islam Nusantara, banyak di antara senat dan penasehat Obama heran dengan apa yang disampaikan beliau, “Memang ada Islam seperti ini?” kata penasehat Obama ke Gus Mus. Dijawab oleh Gus Mus, “Karena selama ini Anda melihat Islam merujuk kepada Saudi Arabia dan Timur Tengah.” Artinya, orang Barat selama ini membaca Islam dengan bereferensi kepada Timur Tengah, tidak ke Islam Nusantara yang damai dan beradab.

Adapun Martin Van Bruinessen menyampaikan tentang masa depan NU dan akar ekstrimisme dalam tubuh Islam. Karena, saat itu, sarasehan diselenggarakan pasca peristiwa Charlie Hebdo. Menurut Prof. Martin, tidak menutup kemungkinan kader NU menjadi ekstrim.

Acara sarasehan di Masjid Al-Hikmah, Den Haag, dilanjutkan dengan acara maulidan di Masjid Al-Ikhlas, Amsterdam. Acara maulidan diawali dengan pembacaan shalawat-shalawat oleh putra-putri pengajian PPME (Persatuan Pemuda Muslim Eropa) disusul dengan Barzanji oleh remaja putra-putri PPME dan penulis juga ikut naik panggung sebagai vokalis.

foto koleksi Alvian Iqbal Zahasfan. gayatrimedia.co.id

Acara maulidan dilanjutkan dengan ceramah agama oleh Gus Mus dan ditutup dengan pelantikan kepengurusan PCINU Belanda pertama kali 2015. Setelah acara di atas, kami seluruh PCINU Mediterania dan Eropa; PCINU Jerman, Belgia, Inggris, Belanda, dan Maroko berkumpul dengan Gus Mus guna mengevaluasi keberadaan PCINU dan eksistensi NU secara umum.

Follow up atau tindakan lanjutan dari pertemuan PCINU Maroko dan PCINU Belanda adalah pengiriman delegasi penceramah dan imam di bulan suci Ramadan di Belanda. Setelah koordinasi yang intens dan kerjasama yang solid akhirnya kader-kader PCINU Maroko bisa mengutus dua kader terbaiknya ke Belanda guna mendakwahkan Islam Nusantara kepada masyarakat Indonesia dan Belanda di sana. Sebagai penceramah adalah Muhammad Mahludi Bahran dari Cilacap dan sebagai Imam Azhari Mulyana dari Aceh.

Insya Allah, masih di dalam proses, PCINU Maroko akan  mengirim kadernya ke Brussel-Belgia. Mohon doanya semoga kader NU Maroko bisa mendapat visa ke sana dan berdakwah di benua biru.

Karena sudah saatnya, Islam Nusantara yang rahmatan lil ‘alamin ikut mewarnai Islam Eropa sehingga dakwah di sana tidak melulu didominasi oleh corak Islam Ikhwani atau Islam Wahabi dan Islam Tablighi. Oleh karena itu, doa dan bantuan pembaca menjadi sangat diharapkan oleh kami, para penerus tongkat estafet dakwah para Nabi.

Dilaporkan dari Rabat, Maroko, pada 21 Juni 2015.

===========================
Alvian Iqbal Zahasfan SSI, Lc, MA. adalah Rais Syuriah PCINU Maroko 2014-2016 dan kandidat Doktor di Dar El Hadith El Hassania, Rabat-Maroko.

Categories: Laporan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *