gayatrimedia.co.id

Dunia yang Lucu

Pesantren bukan dunia yang kaku dan rapi sebagaimana sekolah-sekolah yang mengharuskan berpakaian serba necis dan tertib. Pesantren adalah dunia yang lucu. Dunia yang serba penuh gelak dan canda tawa. Karena memang dunia adalah panggung sandiwara.

gayatrimedia.co.id

Kain sarung, kopiah, kaosan, sandal bakiak, kitab kuning, beserta mansi tutul adalah simbol kesetaraan di pesantren. Bahkan, ketika makan dan tidur di atas talam dan tilam yang sama. Bersama-sama.

Hanya belakangan, ketika pesantren telah menggunakan kurikulum dan kelas berubah secara gradual dan serba terjadwal. Ketika kebersahajaan berubah menjadi keutamaan-keutamaan.

Dunia canda ala santri yang mulai terkikis oleh peraturan dan tata tertib itu, belakangan banyak dihinggapi larangan-larangan. Tapi, itulah pesantren. Kawah Candradimuka yang sesuai dengan kriteria-kriteria pembentuknya.

gayatrimedia.co.id

Upaya memanusiakan manusia yang dilakukan oleh Cak Ukil pada dunia pesantren mulai membuahkan hasil. Pesantren yang terlihat sakral dan terkesan angkuh hanya buah dari pelaksanaan pendidikan yang mengharuskan demikian.

Cak Ukil, Moh. Shuluhil Amin, adalah seorang santri yang menghadirkan dunia peran di atas panggung. Kreasi-kreasinya tumbuh alami, karena di Pesantren Tebuireng tempatnya belajar memang tidak diajarkan materi pelajaran teatrikal di kelas-kelas. Kalaupun ada hanya bersifat spontan dan sporadis.

Dunia peran menuntut kerja-kerja tak terbatas, baik di atas panggung ataupun di luar, sama-sama menuntut. Terlahir di kota ludruk, Jombang, pada 31 Januari 1986, Cak Ukil sudah cukup hapal dengan pola-pola teatrikal yang sungguhan dan tipuan.

Lerok, Besutan, dan Ludruk adalah ragam teatrikal yang tumbuh di Jombang sejak masa-masa pra kemerdekaan. Seni peran, baik dalam arti sungguhan dari rumah ke rumah, dari tobongan ke tobongan, atu bukan dalam arti sungguhan sebagai tontonan dan hiburan saja.

Dari hakikat peran itu bisa ditampilkan ke dalam arti sungguhan atau sekadar hiburan. Korelasi antara yang nyata dan tidaklah yang membedakan. Namun, pada hakikatnya adalah sama. Hanya beda panggung. Pengalaman sehari-hari yang biasa dipentaskan secara tradisional dengan properti seadanya dapat saja dilakukan di manapun berada. Tinggal memindahkan tempat dari kehidupan sehari-hari ke atas pentas dan panggung.

gayatrimedia.co.id

Menjadi Aktor Pentas Mandiri

Hanya saja, dunia sudah terbalik. Imaginasi yang sebenarnya tidak ada dan jauh dari pengalaman hidup sehari-hari sering menjadi tontonan yang jauh dari realitas. Bisa tertawa tanpa sebab.

Sebagai seorang santri yang pernah mesantren di Pesantren Tebuireng, Cak Ukil sangat memahami jerih payah di dunia peran: peran dan ketulusan harus bisa dikorelasikan. Tertawa tentu harus bersebab.

Pengalaman-pengalaman Cak Ukil berteater diawali dari Besutan sebagai aktor figuran, kurang lebih 10 kali. Kemudian, ia menyutradarai pementasan teater: ASU (amergo susah urip) karya Bambang Nyukani, Bom Waktu karya Nano Riantiarno, Suatu Cerita Dari Negri Angin karya Agus S Sarjono.

Teater Komunitas Tombo Ati : Wayang Topeng Jatiduwur, berjudul Wiruncana Murca. 6 kali pentas di Jombang, 1 kali di Gedung Cak Durasim. Anarkis Itu Mati Kebetulan, karya Dario Flo. Pentas 3 kali di Jombang. Belajar komedi, main di televisi lokal Jombang, pentas di pertunjukan wayang dan campursari.
Serta, main film di Rumah Produksi Tebuireng.

Trenggalek, 11.37, 26 Maret 2019.

=====================

Kurator : M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Sosialita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *