Cak Durasim

Jadi, Cak Durasim itu seniman ludruk yang pada waktu itu masih disebut lerok. Dia hidup di Surabaya lalu ikut mengikuti Loedroek Organisatie, LO namanya. Loedroek Organisatie. Nah, Cak Durasim itu pendidikannya tidak jelas. Saya kira bukan pendidikan tinggi. Cak Durasim itu termasuk pemberani. Cak Durasim itu memperoleh pendidikan nasional dari Dr Soetomo. Dr Soetomo waktu itu aktif di Surabaya yang mempunyai Partai Indonesia Raya yang disebut Parindra itu.

Cak Durasim mempunyai peranan penting di lingkungan sandiwara ludruk. Pertama, sosok Cak Durasim itu menginspirasi gerakan nasional Indonesia lewat sandiwara ludruk. Lalu, Cak Durasim dapat dipakai sebagai suatu ikon perjuangan nasional Indonesia, khususnya arek-arek Jawa Timur. Dan, kemudian ludruknya Cak Durasim itu memberikan suatu warna yang sesungguhnya. Itu juga kelanjutan dari lerok Jombangan, ya, yang masuk ke kota Surabaya memberikan suatu warna: bagaimanakah ludruk itu merepresentasikan kehendak masyarakat pada zamannya? Oleh karena itu, Cak Durasim oleh teman-teman Jawa Timur itu ditetapkan sebagai pahlawan seniman, khususnya pahlawan ludruk di Jawa Timur.

Alur Sejarah

Jadi begini, yang unik berdasarkan dari penelitian, ludruk itu berasal dari Jombang yang dirintis oleh Pak Santik pada tahun 1917. Pak Santik sendiri, itu sebenarnya tokoh ngamen yang mengadakan pertunjukan keliling pada waktu bersama Cak Pono dan Cak Bowo, dia ngamen. Dari tradisi ngamen-nya itu, lerok ngamen ini bergeser menjadi lerok halaman. Lalu, muncullah lerok kolekturan: lerok-lerok yang sebenarnya mereka menamakan diri itu sandiwara stambulan. Jadi, mempunyai pengaruh yang besar dari seni budaya stambul. Sama dengan gerakan seni pertunjukan yang dirintis oleh Dewi Ja. Kalau di Betawi itu ada sandiwara bangsawan lalu ada Mis Cici di daerah Bandung dan seterusnya. Nah, Ludruk mengambil over dari situ.

Nah, kemudian, teman-teman Jombang ini menggarap sandiwara ludruk keliling menuju ke kerapan, sandiwara caravan, ini menjadi seni pertunjukan halaman. Lalu, muncullah karena tokoh utamanya Besut. Nah lalu dinamakan lerok Besutan. Itu tahun 1920 sampai sekitar menjelang ’30. Sebab, setelah itu nanti bergeser. Begitu masuk 1930 dari lerok Besut ini menjadi lerok berlakon, lalu dari teater halaman itu menuju teater panggung.

Nah, waktu itu masih disebut lerok. Lerok itu variasi ujar dari kata lorek. Sehingga orang-orang mengatakan: kenapa lerok? Karena mereka itu merias diri wajahnya dipupur dengan bedak-bedak tebal lalu mereka disebut Wong Lorek. Lalu variasi ujarnya, melihat pertunjukan itu jadi lerok. Pertumbuhan dan perkembangannya sejajar dengan sandiwara-sandiwara yang muncul dari Jawa Tengah; itu ketoprak. Lalu, yang dari Jawa Timur itu Dewi Ja. Nah, yang di tengah-tengah, ini grup lerok itu. Nah, Cak Durasim itu menjadi tokoh penting, karena waktu Loedroek Organisatie main di Mojorejo, waktu itu jaman Jepang, jadi sudah lerok, sudah. Sudah LO, lalu yang menjadi legendaris kidungannya itu. Pagupon omahe doro melo Nipon tambah sengsoro.

Nah, akhirnya, selesai pertunjukan grup itu ditangkap oleh kelompok Kempetai Jepang. Mereka diusut, mengapa mengkritik pemerintahan Jepang? Dan, ada kidungan-kidungan juga yang mengatakan ojo mikir awakmu dewe, pikiren bangsamu sing kapiran. Semacam itu.

foto koleksi youtube.com. gayatrimedia.co.id

Jombang itu masyarakatnya memang unik. Di bidang religiusitas, semua masyarakat tahu: Jombang itu, ya pondok pesantren yang terbesar, ya Tebuireng itu. Tetapi, di sekitar Jombang juga, itu banyak orang-orang yang mempunyai suatu pandangan gerakan-gerakan nasionalis itu. Sehingga secara akronim, Jombang itu dikaitkan dengan kata Ijo-Abang. Yang dimaksudkan ijo, itu gambaran masyarakat religius atau masyarakat pesantren. Nah, abangan, itu kelompok abangan seperti yang dikemukan oleh Clifford Geertz itu. Jadi, ada: santri, priyayi, abangan. Abangan berdampingan dengan kelompok pesantren. Khususnya, dalam perjuangan-perjuangan, baik menghadapi Belanda maupun menghadapi masyarakat, khususnya penjajah dari Jepang. Waktu itu Jepang datang dan diterima dengan baik oleh orang Indonesia. Diperkirakan sesuai dengan pengumuman Jepang; dia adalah saudara tua. Dia akan berjuang demi kemerdekaan Asia Timur Raya. Tetapi, di dalam kenyataannya justeru kita sangat sengsara pada zaman Jepang, karena diperalat untuk kemenangan Jepang di Asia Timur Raya.

Nah, Cak Durasim ada di sana. Ada di perjuangan itu. Masyarakat Jombang, ada di dalam pergerakan itu. Lalu, perjuangan arek-arek Surabaya itu tidak lepas dari pergerakan yang muncul di Jombang, muncul di Mojokerto, juga muncul di Malang. Juga ketika melihat gerakan anak-anak Surabaya 10 November, itu tidak sekadar terdiri dari masyarakat kota Surabaya. Tapi, masyarakat Surabaya yang di-back up, dibantu, didatangi oleh orang-orang dari daerah-daerah yang saya sebutkan tadi. Itu yang unik ada di situ.

Jadi, begini sebenarnya, arek itu berasal dari bahasa Jawa Kuna, ari ika. Ari, ari-ari itu dulur. Ika, itu. Artinya, masyarakat di sebelah timur sungai Berantas itu beranggapan tidak ada orang lain di muka bumi ini. Demikian, dia bertemu dengan teman, maka itu disebut dulur dewe. Lalu, disebut arek. Sama dengan masyarakat Samin, setiap bertemu dengan orang; orang itu bukan orang lain. Lalu, disebut sedulur sikep.

Tapi, kalau kita lacak ke belakang lagi, itu, kita akan melihat latar belakang berdirinya Majapahit. Ketika Majapahit didirikan di kota Tarik, kemudian Prabu Raden Wijaya yang mbabat hutan di sana, babat hutannya oleh teman-teman kita dari Madura. Lalu Prabu Raden Wijaya mengalahkan prajurit kerajaan Kediri itu dengan bantuan tentara Tartar. Tentara Kubilai Khan. Waktu itu yang sebenarnya tentara Kubilai Khan sendiri datang itu karena ingin membalas dendam ke Prabu Kertanegara yang utusan Kubilai Khan itu telinganya dipotong oleh Prabu Kertanegara. Nah, ketika Majapahit berdiri, Raden Wijaya itu sangat membutuhkan tiga kekuatan. Kekuatan pertama itu adalah pengikut Raden Wijaya sendiri, kekuatan kedua itu berasal dari Mojokerto-Jombang, prajurit-prajurit yang dihimpun. Ini juga menjadi satu dengan Kediri. Lalu, berikutnya lagi kekuatannya, itu adalah prajurit dari Singasari. Kita harus ingat bahwa prajurit pada waktu itu petani yang dilatih. Lalu, setiap ada pertemuan itu mereka dalam bahasa kuna waktu itu, Jawa Majapahitan, Jawa Tengahan, bukan Kawi. Mereka mengatakan ana ta sira ari ika ka Kadiri? Ana ta sira ari ika ka Singasari? Dari kata, adalah mereka saudara-saudara kita dari Kediri. Adalah mereka saudara-saudara kita dari Singasari. Nah, kata dari ari ika-ari ika itu dalam ucapan bahasa Jawa Baru akhirnya menjadi arek. Nah, yang unik sudut pandang masyarakat Jawa Timur sampai hari ini, sebutan kata arek itu menganggap tidak ada orang lain. Jadi, dalam bahasa Inggris, the other. Sang lain. Itu sudah nggak ada. Kamu adalah saudaraku. Nah, ini sudut pandang budaya arek yang sangat berbeda dengan sudut pandang budaya priyayi. Melihat orang datang itu tamu.

Jadi begini, ketika berkembangnya Loedroek Organisatie di Jombang; itu masuk ke kota Surabaya. Ludruk itu sudah mengalami kemajuan, ludruk berlakon. Pada waktu periode tahun ’30an, lakon-lakonnya itu diangkat dari cerita lama. Jadi, misalnya, Kembang Joyokusumo. Itu diangkat ke sana. Mirip-mirip ketoprak. Lalu, ada cerita Damarwulan Ngarit. Itu masih menjadi lakon lerok pada waktu itu. Ketika Jepang masuk terjadi perubahan situasi. Jepang itu ingin menghabisi kesan pengaruh pemerintah Hindia Belanda. Lalu, Jepang sangat mendukung orang-orang Indonesia yang membuat cerita-cerita sandiwara ludruk yang anti terhadap penjajah Belanda. Sehingga muncullah cerita-cerita anti Belanda itu seperti di Sidoarjo, cerita Sarif Tambakoso. Di Surabaya, cerita yang Joko Brok Sawunggaling. Lalu, cerita yang berangkat dari Bangil, ceritanya itu cerita Pak Sakerah. Lalu, dengan mudah sekali kelihatan, ludruk yang dikembangkan pada zaman Jepang untuk menggambarkan cerita anti pemerintahan Belanda; tokoh Belanda diangkat ke atas panggung ludruk.

Nah, di situ, ludruk itu keunikannya apa? Bahasanya itu campuran. Kalau istilah sekarang itu disebut hybrid. Jadi, lain dengan ketoprak. Ketoprak itu satu model. Bahasanya bahasa Jawa alus: Jogja-Solo. Tapi, kalau ludruk, bahasanya bisa bahasa Jawa, lalu bisa bahasa Melayu, bahasa Madura. Saya ambil contoh misalnya lakon Joko Brok Sawunggaling. Nah, di sini, tokoh-tokoh Jawa Timuran, Ya Joko Brok. Lah, kemudian Pakde Demang, kemudian juga Bupati Surabaya, Jayengrono. Ini bahasanya, bahasa Jawa Timuran. Tapi, kalau sudah menggambarkan tokoh-tokoh dari Surakarta; ini bahasanya, bahasa dari Surakarta. Nah, untuk menggambarkan penjajah Belanda: seniman ludruk yang berperan sebagai orang Belanda memakai bahasa Melayu. Nah, Bupati Cakraningrat adalah Bupati Sampang yang memihak Bupati Surabaya, Jayengrono. Dia tetap menggunakan bahasa Madura. Nah, yang unik bahasa campuran ini dikerjakan dan dilaksanakan oleh seniman di atas panggung dipahami oleh masyarakat penontonnya. Ini keunikannya sandiwara ludruk Jawa Timur itu.

Sosiologi Masyarakat Jombang

Masyarakat Jombang itu dari segi Sosiologi itu adalah sejak dulu toleransinya antara masyarakat santri dan masyarakat abangan itu menyatu. Gitu lho. Tidak ada perbedaan yang menimbulkan suatu konflik di antara mereka. Itu Jombang. Lalu, ekspresi masyarakat Jombang yang tertuang di dalam cerita-cerita ludruk; orang Jombang banyak yang urbanisasi. Jadi, cerita Besut, ada enam lakon Besut itu. Semua itu menceritakan bagaimana upaya Besut memperbaiki sosial ekonominya dengan cara jadi urban menuju ke kota Suarabaya. Nah, tampaknya sejak dulu, ada itu: pelarian antara orang dari daerah Jombang, Mojokerto memperbaiki nasib ke ibukota Surabaya. Menjadi masyarakat urban. Nah, itu, kita melihatnya seperti itu.

Dari segi antropologis, lalu ada hubungan antara masyarakat Jombang dan masyarakat di Surabaya. Orang-orang itu mengatakan: masyarakat Jawa Timur itu unsurnya durjana. Durjana itu singkatan. Dari kelompok orang-orang Madura, kelompok orang-orang Jawa, dan di tengah-tengah mereka itu ada orang-orang China. Nah, hampir secara historis, antara Jawa dan China itu sejak China masuk ke Indonesia lalu membantu Raden Wijaya, lalu hubungan perdagangan antara Jawa Indonesia; itu menyatu, gitu lho.

Menyatu, sehingga kalau kita akan mempelajari: bagaimana perkembangan Madura, perkembangan Sumenep; sampai hari ini kita ketahui, masjid yang terbesar itu arsitekturnya dari China. Nah, demikian juga di tempat-tempat lain. Itu ada toleransi yang sangat tinggi. Nah, antara penduduk pribumi Indonesia-Jawa, lalu Jawa ini harus kita beri penegasan: Jawa Brang Wetanan. Ada istilah yang berdekatan yang harus kita bedakan betul, kalau orang Jawa tengah itu mengatakan: ada masyarakat Bang Wetan. Bang Wetan itu artinya abang ing wetan. Yang dimaksudkan, tempat matahari terbit. Nah, tempat matahari terbit itu di balik gunung Raung.

Nah, sejak zaman Majapahit yang dimaksud dengan Bang Wetan itu Blambangan. Agak berbeda lagi dengan Brang Wetan. Dari kata, seberangan wetan. Ini di sebelah timur sungai Brantas. Nah, ini kelompok pendukung sisa-sisa kerajaan Majapahit, kerajaan Tumapel; kerajaan Majapahit yang budayanya aslinya itu lalu disebut budaya arek, karena memakai bentuk sapaan antar sesama itu adalah arek. Nah, ciri masyarakat di sini rata-rata bahasanya ngoko. Sehingga sampai hari ini pun orang-orang Jawa Timur yang asli itu sulit memakai bahasa jawa halus yang mengenal level-level, tingkatan-tingkatan, ngoko, ngoko halus, kromo, kromo hinggil. Nah, ini terbalik caranya bercakap-cakap. Bagi saya, orang Jawa Timur yang tidak pandai bergaya bahsa Jogja-Solo, ya biarkan saja: jangan dimarahi! Karena itu, ciri kultur/budaya yang tumbuh dan berkembang ratusan tahun lamanya.

Jadi, pada waktu itu, pada tahun 1930, yang kelompok tonil atau sandiwara muncul dengan tokoh Dewi Ja berasal dari Banyuwangi. Dia dinikahi Pedro. Pedro itu orang Indo-Rusia dari Sidoarjo. Dia mendirikan sandiwara keliling. Modelnya itu kalau zaman sekarang mirip Srimulat. Iringan musiknya itu gabungan antara musik pentatonic dan diatonic. Gabungan antara gitar dan gamelan. Nah, sandiwara ludruk pada waktu itu pun mengenal cerita lakon-lakon, mulai juga tobongan.

Tobongan itu artinya mereka membuat bangunan sementara. Kalau tobongan zaman dulu bisa bertahan sampai satu bulan di suatu daerah, ceritanya itu bervariasi, cerita rakyat sehari-hari setiap malam. Rata-rata pementasan mereka itu jam 8 malam sampai jam 12. Perkembangan terakhir, ludruk tobongan itu sekitar tahun ’90 banyak yang gulung tikar. Kenapa gulung tikar, karena tahun ’90an itu muncul televisi, yaitu televisi, baik TVRI maupun televisi swasta. Nah, ini ada tolak belakang, gitu lho.

Kalau ludruk, orang nonton ludruk itu berarti orang meninggalkan rumah menuju ke tempat pertunjukan. Nah, sedangkan televisi, teknologi modern sekarang ini, televisi itu membuat kebalikan dari tradisi ludruk. Keseniannya yang masuk ke rumah-rumah. Nah, yang ini daya tahan ludruk akhirnya tidak kuat sehingga tobongan itu sejak tahun 1930, lalu zaman kemerdekaan, zaman Jepang berhenti sebentar, karena sosial ekonomi sesudah kemerdekaan berkembang lagi. Tahun ’50, ludruk Marhaen berdiri, keliling. Tahun 1965, kosong sebentar. Karena ada peristiwa besar 30/S/PKI. Ludruk dibina oleh militer, oleh polisi, itu sekitar tahun ’70 sampai sekitar tahun ’80an. Setelah tahun ’80an, ludruk kembali independen lagi.

Hanya, ada perbedaan pokok. Ludruk zaman Marhaen, itu rata-rata ludruk perkumpulan atau organisasi. Tetapi, sesudah Orde Baru, ludruk ini ditinggalkan oleh militer dan polisi, ludruk ini jatuh di tangan orang kaya yang sekarang ini saya beri nama ludruk majikan. Nah, ludruk majikan ini yang berkembang. Ludruk majikan ini berarti seniman dibayar, ikut majikan. Sedangkan zaman Marhaen, itu perkumpulan, organisasi. Ketua yang bertanggung jawab menjadi manager pertunjukan itu. Nah, sekarang ini, tobongan sudah mulai berkurang, tetapi sekitar 2005 ini ada kebangkitan lagi.

Ada kebangkitan, sehingga ludruk itu ada beberapa ragam. Ludruk pertunjukan biasa, itu yang ditanggap orang. Pentas di tempat hajatan. Ini biasanya merdeka, bebas. Mulai dari jam 9 atau jam 8 sampai jam 2 atau jam 3, bahkan yang di desa. Itu sampai jam 4 pagi. Ini yang ludruk tanggapan. Artinya, ludruk teropan. Kemudian, ludruk tobongan berkurang. Nah, sekarang ada ludruk garapan baru. Ludruk garapan baru ini tidak sampai jam 4 pagi. Digarap, pentas jam 9, jam 12, jam 1, selesai.

Nah, demikian itu ada gerakan yang terakhir lagi, yang itu karena teknologi. Ludruk masuk televisi. Ludruk yang masuk televisi ini ada istilah, ludruk alih wahana. Ludruk kekinian yang jadi patokan; dalam ludruk kekinian itu apa? Hanya satu kata, yaitu durasi. Sehingga ludruk yang sekarang ini di televisi itu durasinya ada yang 1 jam. Lalu, sekarang masih bertahan 1 jam. Nah, kenapa? Karena di dalam televisi, itu ditentukan suatu rumus televisi, rating. Nah, kalau terlalu panjang, lalu orang tidak senang. Bosan. Dilihat dulu, sehingga ludruk itu rating-nya masih tengah malam. Rating tertinggi, itu sore hari. Apa yang dikerjakan oleh Cak Kartolo sekarang ini adalah ludruk alih wahana. Ludruk baru. Tetapi, yang dikerjakan itu akhirnya tari remo dipertahankan, menjadi sekitar 7 sampai 10 menit, langsung komedian. Lawak. Lakon-lakon tidak sepenuhnya seperti ludruk di tobongan. Atau, ludruk teropan.

Sekarang ini yang cukup laris misalnya di Jombang. Ludruk teropan itu Budi Wijaya. Lalu, di Mojokerto, ini sangat laris, pada bulan Agustus tahun 2018, ludruk yang dipimpin oleh Pak Edi, lalu menamakan ludruk Karya Budaya, itu mulai tanggal 15, sampai akhir bulan, setiap malam, mentas di berbagai desa. Malam minggu ini termasuk mentas. Pada bulan September ini. Lebih-lebih bulan ini, banyak orang hajatan. Sandiwara ludruk menghadiri teropan-teropan di berbagai tempat. Mojokerto, yang diinformasikan banyak itu lewat facebook, itu adalah daerah Surabaya dan Gresik, serta Lamongan. Lalu, ada gayung bersambut. Ludruk ini diinformasikan melalui facebook. Lalu, ada muncul di Surabaya itu yang dulu ludruk tobongan, yaitu ludruk Irama Budaya, nah, sekarang ini menjadi teropan menjadi laris.

Jadi, media televisi pernah dijauhi sekarang dicoba untuk dimasuki dan dimanfaatkan. Nah, pada periode awal, ketika ludruk itu di-cd-kan, orang merasa memperoleh kerugian. Sebab, ludruk selesai, cd selesai, cd digandakan, cd dijual, senimannya tidak dapat uang. Tidak dapat HR. yang memperoleh keuntungan adalah pedagang cd. Tapi, sekarang nampaknya ada trend lain, yaitu grup ludruk seperti Karya Budaya pimpinan atau majikan ludruk itu sendiri yang akhirnya memproduk ludruk-ludruk cd untuk dipasarkan, uangnya masuk ke organisasi.

Lalu, sekarang ini, grup ludruk itu sebagian besar adalah ludruk majikan, ludruk setengah majikan. Saya katakan setengah majikan, karena di dalam ludruk itu diutamakan dialog. Percakapan. Rapat-rapat. Keputusan diambil berdasarkan keputusan di dalam rapat. Tetapi, managemen tetap di tangan manager atau majikan. Itu trend yang terakhir seperti itu. Lha, kemudian pemerintah berusaha untuk melestarikan ludruk. Lalu, yang punya uang itu ialah lembaga pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan; mereka mementaskan kesenian di Taman Budaya Surabaya dan di Taman Krida Budaya Kota Malang. Rata-rata, di Taman Krida Budaya kota Malang ini, lebih banyak ludruknya daripada kesenian lain. Tampaknya, apresiasi masyarakat Malang, mereka penonton ludruk. Lalu, kalau ada ludruk, mereka hadir.

Malang, November 2018.
==========================

Wawancara : Prof. Dr. Henricus Supriyanto (pengamat ludruk, tinggal di Malang).

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *