foto koleksi Meimura. gayatrimedia.co.id

Cak Durasim

Kalau kita menelusuri tentang sebagai seniman ludruk yang pada saat itu, dia lebih berperan sebagai pelawak. Nah, ludruk itu sendiri sebetulnya sebuah upaya membuat sebuah pertunjukan baru yang berangkat dari ludruk Besutan dari Jombang, yang dikombinasi dengan tonil, yang saat itu memang berkembang di Surabaya-Sidoarjo.

Nah, di dalam pertunjukan tonil ini terdiri dari nyanyian lagu-lagu, kemudian lawak, komedi, kemudian cerita. Nah, dalam tutupnya ludruk itu juga sama. Pertama setelah gending uyon-uyon, kemudian ada tari dulu ngeremo, setelah tari remo ada bedayan. Kadang-kadang dibalik, setelah gending uyon-uyon, bedayan, kemudian baru masuk ngeremo. Setelah masuk ngeremo, ada bedayan selingan namanya, lawakan dan lakon, seperti itu pertunjukannya.

Nah, setelah ada ludruk Besutan yang berperan adalah Besut. Besut itu sajian pertama menari, kemudian ngidung, langsung masuk ke cerita lakon dengan Paman Gondo. Nah, di dalam kebetulan sekali, di dalam pendirian ludruk yang di Surabaya ini, pada zaman pergerakan ini, kemudian ludruk dimanfaatkan oleh komunitas pergerakan sebagai media, media informasi, sebagai media penggerak motivasi, sebagai media menggelorakan semangat perjuangan arek-arek Suroboyo. Karena, pada tahun 1927 itu terkenal dengan pergerakan arek Suroboyo dan sekitarnya di dalam melawan penjajahan.

Pada saat itu, kebetulan penjajahan Jepang. Nah, di dalam penampilan Cak Durasim, ada kidungan yang isinya: pagupon omahe doro, melu Nipon awak tambah sengsoro. Pagupon itu rumah merpati. Pagupon omahe doro, pagupon rumah merpati. Melu Nipon, ikut Jepang. Awak tambah sengsoro, badan tambah sengsara. Artinya, penjajahan pada masa sebelumnya lebih sengsara penjajahan pada zaman Jepang. Nah, seperti itu, riwayat Cak Durasim kemudian karena kidungan itulah pagupon omahe doro melok Nipon awak tambah sengsoro; Cak Durasim menjadi target pendudukan Jepang untuk sampai di penjara beberapa kali. Setiap lolos selesai habis tahanan, dia ludruk lagi, menyuarakan lagi, ditangkap lagi, berkali-kali sampai dia meninggal. Jadi itu, dengan demikian, maka teman-teman seniman memberikan predikat bahwa Cak Durasim adalah pejuang lewat keseniannya, ludruk.

gayatrimedia.co.id

Jadi, itulah figur Cak Durasim yang masuk, yang kemudian dia memang masuk dalam kontribusi politik saat itu. Adanya perjuangan yang di dalamnya ada tokoh-tokoh besar antara lain: ada WR Supratman, ada Bung Tomo yang semuanya tinggal di Surabaya. Jadi, keterkaitan antara zaman pergerakan yang dilakukan oleh para penggerak politik saat itu. Di tahun 1927 di Surabaya, antara Bung Tomo dan WR Supratman itu kemudian Durasim lewat ludruknya menjadi bagian yang integral, yang saling mengisi integritas untuk membangun semangat, memotivasi masyarakat, menggerakkan masyarakat, untuk merasakan, kemudian tergugah sikap pribadi toleransinya untuk bersama-sama melakukan perjuangan pembebasan dari ketertindasan pada saat itu. Dan, ternyata, membuahkan hasil.

Nah, pada saat itu kebetulan juga masyarakat Surabaya itu masyarakat yang sangat kental dengan kesenian. Zaman kecilan saya saja, di tahun 1967, di daerah, di hampir setiap pojok-pojok wilayah, mereka masih ngidung-ngidung di atas becak, jualan-jualan, orang-orang yang cangkruk-cangkruk, itu sambil ngidung, ngidung ala Suroboyoan. Jadi, ketika Cak Durasim ngidung seperti itu; langsung menjadi respon, menjadi sebuah model yang mereka tirukan. Sementara yang lain: teman-teman, atau masyarakat-masyarakat tetangga di sekitarnya mendengar itu menjadi tergugah. Syairan itu sebetulnya meskipun sangat pendek, pagupon omahe doro melu Nipon awak tambah sengsoro; itu semua kalimat yang sangat memukul jiwa masyarakat untuk mengantisipasi apa yang telah dilakukan penjajah di wilayah ini. Oleh karena itu, kalau Jepang kemudian mengejar-ngejar, membuat target Cak Durasim; itu karena ketakutan pergerakan masyarakat yang sudah mulai terbuka, mulai meningkat. Apalagi di barisan belakangnya ada Bung Tomo, ada WR Supratman yang semuanya menyuarakan suara hidup atau mati seperti itu. Perjuangan arek Suroboyo untuk kemerdekaan, untuk kebebasan, untuk perkembangan yang lebih baik. Nah, itulah sebuah nilai-nilai historis Cak Durasim yang sekaligus nilai-nilai kepahlawanan Cak Durasim sebagai seniman yang masuk dalam jaringan politik, yang masuk dalam spirit perjuangan para pelaku-pelaku politik saat itu.

Surabaya, 26 Juni 2018.

========================

Wawancara : Tri Broto Wibisono (penggerak seni tradisi Jawa Timur, tinggal di Surabaya).

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *