foto koleksi Ukil Kentroenk. gayatrimedia.co.id

Saya berterima kasih dan sangat bangga kepada adik-adik saya yang peduli kepada ludruk. Mudah-mudahan ludruk yang saya pertahankan di Jombang ini nantinya tetap bisa jaya dan berkembang. Itu harapan dari saya, salah satu seniman ludruk yang bersikukuh mempertahankan kesenian ludruk yang lahir di kota Jombang.

Saya salah satu tokoh ludruk, saya Pak Jamil dari Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, Jombang. Bahwa, saya tetap semangat melestarikan ludruk sampai kapanpun. Kata orang, ada yang bilang nggak seneng ludruk, “ludruk sekarang mati suri.” Saya bilang nggak, karena saya masih eksis, konsumen-konsumen ludruk masih luar biasa untuk wilayah Sidoarjo, Pasuruan, Lamongan, Gresik. Maka saya bangga dengan saudara-saudara saya yang menggali adanya nama ludruk. Kita lebih semangat lagi kalau ada salah satu adik-adik muda yang ingin menggali ludruk. Saya lebih semangat untuk bersatu dengan seniman-seniman ludruk untuk bisa menciptakan ludruk harus lebih eksis luar biasa. Seperti tahun-tahun yang lalu, ketika masyarakat kita kembalikan lagi untuk cinta sama ludruk.

Jatuh Cinta Pada Ludruk

Awalnya, saya cinta ludruk karena sering melihat pementasan ludruk. Oh, ludruk itu kerjaannya gini, yang diceritakan kisah-kisah atau kejadian sehari-hari masyarakat. Itu yang menjadi saya tertarik, karena saya menjadi salah satu untuk bisa mewakili suara masyarakat. Kalau masyarakat ada perjalanan jelek, omongannya jelek, ludruk ini kemudian bisa langsung menangkap. Bisa diwakili di atas panggung. Kritik untuk pemerintahan tiada henti-hentinya dan tidak takut. Kalau ludruk kita perankan berani ngritik untuk pemerintahan. Pemerintahan jelek kita bilang jelek, pemerintahan bagus kita bilang bagus di atas panggung. Asal ludruk tidak ada agama yang disimpangkan atau dipermaninkan. Kalau ngomong kritik pemerintahan, saya jamin saya berani. Bahkan, cerita-cerita yang sudah ada di Youtube itu ada untuk kritik kepada pemerintah.

Kalau keluarga saya sebetulnya gak ada seniman yang ke ludruk. Karena, saya tertarik pada permainan ludruk itu akhirnya saya terjun jadi pemain dan pelestari ludruk. Sekarang bikin kelompok sendiri. Waktu dulu, kita mendirikan kelompok milik teman yang ada di Lamongan, alhamdulillah, juga berhasil dan sampai sekarang masih eksis. Lagi, di Jombang, Mojokerto juga masih eksis. Lama kelamaan, saya dengan adanya yang sana bagus, yang sini bagus, kemudian banyak teman yang bilang, “Mas, bikin kelompok sendiri aja!” Kebetulan pimpinannya kepala daerah Jombang waktu periode pertama.

“Kamu bisa mimpin ludruk? Saya kasih ludruk Jombang Jaya. Bikin aja nama Ludruk Jombang Jaya. Akhirnya sampai sekarang, saya bikin kelompok ludruk yang namanya Jombang Jaya itu. Itu adalah petunjuk dari Bupati Suyanto dulu. Bahkan, sampai sekarang masih eksis dan sering main di wilayah Pasuruan, Bromo, Tengger. Tanggal 5 nanti ini main di Gempol, Pasuruan. Tanggal 6 di Pucangan, tanggal 11 di Ngoro, tanggal 21 kita main ke Jepara.

Ada yang eksis sampai sekrang, bahkan beliau ngeludruk mulai tahun 60-an dan sampai sekarang masih ada yang ikut main ludruk. Ada salah satu yang sekarang sudah nggak ikut, tapi masih luar biasa waktu ada ludruk Besutan dulu. Dia berperan sebagai Rusmini-nya, namanya adalah Mbah Tajib. Mbah Tajib kalau ketemu saya sangat bangga; melihat saya melestarikan nama ludruk. Generasi penerus adalah kamu, Dek, saya salut dengan kamu semangat untuk melestarikan ludruk.

Yang masih hidup sampai sekarang itu di wilayah Mojokerto, tahun 70-an. Ludruknya Pak Edi Karya, Karya Budaya itu. Bahkan, sampai sekarang masih eksis bagus. Kalau di jombang sini, nama-nama yang mulai tahun 70-an sudah nggak ada. Tapi, pemeran-pemerannya masih banyak yang eksis ikut panggung. Yang mendukung generasi baru untuk melestarikan ludruk itu masih banyak. Kalau nama-nama dulu sudah nggak ada, kita ganti aja menjadi arus-arus modern. Ada Ludruk Campursari. Kurang lebih ada 36 grup ludruk, tapi yang eksis cuman tiga. Satu: Budi Wijaya, Putra Wijaya, dan Jombang Jaya. Sedangkan lainnya nggak begitu laku. Yang menonjol pada tahun 80-an sampai sekarang, ya masalah pelawak. Pelawak harus menonjol. Terutama pelawak harus berani mengkritiki masalah pemerintahan. Terutama di pelawak lewat kidungan. Kalau penari remo termasuk kuncinya ludruk. Dan yang harus menonjol adalah pelawak, karena yang bisa membawa visi-misinya ludruk, pemerintah disampaikan lewat panggung hiburan lawak.

Kalau tahun 80-an kita anggap lebih susah dan gak berani karena pada waktu itu zaman pemerintahan yang memegang kuasanya adalah militer. Jadi, orang awam dalam ludruk nggak begitu berani menonjol dalam mengkritiki, hanya lewat pantun-pantun saja berani. Kalau kritik dalam pemerintahan lokal (desa-kabupaten) masih berani, tapi pada zaman Soeharto kita mengkritiki nggak berani. Tapi, sekarang dengan adanya zaman keterbukaan ini, kita harus berani dan mewakili masyarakat kecil untuk menghantarkan ke atas panggung. Kalau kita mengkritisi lewat dewan saja, rasanya kurang. Saya sebagai pemain ludruk, juga merasa kurang. Tapi, kalau saya di atas panggung sendiri berani. Mengkritisi polisi masalah ditilang-disuap pakai duit saya berani. Kalau di atas panggung berani. Kalau kemudian ada teguran, itu, kan, cerita ludruk. Alasan begitu.

Kalau lagi mengkritisi polisi dan main di alun-alun, penonton luar biasa. Pada sorak semua. Wah, ini yang mewakili saya. Kalau di pedesaan mengkritisi pemerintahan di desa dan masyarkat yang tidak senang dengan pemerintahan di desa tersebut, ya ditunggu sampai buyar. Merasa terwakili mereka di desa itu. Kalau sekarang, siapapun pemimpin negaranya, ya berani kita mengkritisi karena zamannya sudah terbuka.

Ludruk Berdikari

Ludruk itu berdiri di atas kaki sendiri dari dahulu sampai zaman sekarang. Dan support dari pemerintah menurut saya tidak ada. Kalau tokoh seperti Pak Durasim, ya itu dengan munculnya tokoh-tokoh dulu itu banyak. Tapi, untuk mengkritisi pemerintah, kan, nggak berani. Kalau dulu yang paling berani saya sebagai seniman ludruk; kita akui Pak durasim adalah pahlawannya ludruk. Pahlawan dari seorang ludruk. Karena, dia berani mengkritisi masalah pemerintahan dan penjajahan hanya lewat kidungan. Dia ngidung dan sebetulnya nggak sengaja ngidung akhirnya menjadi parikan kemudian menjadi hiasan main di panggung, Bekupon omahe doro melok nippon tambah soro. Sebab itu, kemudian Pak Durasim ditangkap oleh pasukan Jepang, kemudian terbunuh. Dan, Pak Durasim terbunuh di mana, kita nggak tahu?

Dengan terbunuhnya Pak Durasim di masa penjajahan itu karena masalah kidungan. Akhirnya, para seniman-seniman ludruk pada nggak berani muncul dan mengkritisi pemerintah. Khawatirnya, seperti Pak Durasim. Sudah semakin modern kita kalau mengkritisi pemerintahannya baik, ludruk mendapat sambutan yang baik. Tapi, yang jelekkan belum pernah ada yang mewakili. Pemerintahan yang jelek ini harus kita angkat juga, kita kritisi juga lewat kidungan lewat panggung kesenian ludruk. Saya sebagai seniman ludruk harus berani mengkritisi. Jangan hanya baiknya aja yang diangkat di panggung. Jeleknya juga kita tunjukkan di panggung biar masyarakat kecil terwakili oleh seniman-seniman ini. Karena Cak Durasim dulu berani, kita sebagai generasi penerus, kok, nggak berani. Maka, harus kita didik. Di grup saya ini harus berani ngomong mewakili suara rakyat.

Kalau waktu dulu semangat Cak Durasim adalah menentang adanya penjajahan, tapi hanya lewat kidungan. Maka, kita sebagai seniman ludruk menganggap bahwa Cak Durasim seniman dari ludruk yang menjadi pahlawannya ludruk. Sekarang, saya harus berani seperti Cak Durasim. Cak Durasim waktu penjajahan dan kita saat ini sudah merdeka. Kita mengkritisi pemerintahan diajak baik aja. Sekarang untuk Jombang, sepertinya cenderung seolah-oleh kehilangan generasi ludruk yang pemeran-pemeran putra. Kalau pemeran putri banyak. Kalau putra kurang minat dengan adanya ludruk, karena nggak seperti orkes, kata anak muda zaman sekarang. Dan, memunculkan generasi-generasi baru ini yang agak sulit. Dulu, untuk memunculkan generasi baru ada tobongan ludruk. Tapi, sekarang sudah nggak ada tobongan itu. Bahkan, gedung kesenian aja nggak ada, bagaimana kita mau memberikan masukan ke generasi muda yang bisa tertarik pada generasi ludruk?

Regenerasi Ludruk
Kalau ludruk awalnya di Jombang itu pemainnya adalah waria, tapi kalau sekarang jarang di Jombang. Kalau perempuan, ya perempuan beneran, karena ludruk itu saya anggap salah satu seniman anak zaman. Bisa mengikuti arus zaman. Beda dengan ketoprak, karena ketoprak yang diceritakan adalah sejarah kerajaan. Kalau ludruk harus bisa mengikuti zaman. Cerita zaman dulu menceritakan zaman dulu dan kebanyakan ludruk yang diangkat sekarang adalah kejadian sekarang. Ini pemerintahan Pak Jokowi, Pak SBY; ludruk harus berani membawa tentang itu. Mangkanya, kalau Jombang nanti muncul pemimpin baru dan dibangunkan gedung kesenian, insyallah, saya nanti harus bisa memunculkan generasi-generasi ludruk yang baru. Itu harapan saya untuk terus memegang ludruk yang lahirnya dari Jombang ini.

Kalau sekarang cewek-cewek banyak yang bermunculan dan mau menjadi seniwati, ayo monggo saya didik! Apa yang kamu butuhkan untuk tampil di panggung? Oh, saya belum punya konde, kalau mau ke panggung, nanti saya belikan. Yang penting kamu mau tampil, nanti saya belikan. Biar bermunculan generasi baru. Harapan saya begitu. Kalau kamu sudah pintar di panggung, itu milik kamu sendiri.

Cewek-cewek sekarang cenderungnya ke sinden. Sedikit demi sedikit, kita latih untuk pemeran ludruk. Yang di jombang dan agak kesulitan adalah mencari generasi pelawak dan generasi muda. Maka, kita semangat bersama teman-teman ludruk untuk mencari dan mengkader generasi baru. Jombang itu luar biasa, seperti Pak Durasim, Cak Markeso. Cak Markeso itu juga salah satu pahlawan untuk ludruk. Karena, beliau sering keliling sendiri pakai kidungan, jadi sering ngamen, ngidung tanpa pakai gamelan. Ia mengkritisi pemerintah dan berani sendiri. Kalau meninggalnya Cak Markeso, itu sekitar 10 tahun yang lalu. Beliau itu keliling dan ngamen-nya di Surabaya. Dan, beliau adalah pemeran serba bisa. Kalau orang yg nggak tau, cak markeso adalah orang gila. Ngidung sendiri, cerita sarif diperankan sendiri, cerita saropah diperanin sendiri. Itu cak markeso, kelebihannya di situ. Kalau orang nggak tau akan menganggap cak markeso orang gila. La ludruk kok sendirian. Saya anggap dia adalah pahlawan untuk ludruk. Karena kemana-mana yang dibawa adalah kidungan untuk ludruk.

Saya heran waktu itu, kok, nggak ada teman-teman seniman dari Surabaya yang mengabadikan Cak Markeso. Kalau sekadar kidungan dan peranan waktu itu sama, Cak Kartolo sudah direkam untuk diperjualbelikan kasetnya. Tapi, kalau diabadikan lewat film, kok, nggak ada? Dan, saya rasa belum ada seniman yang mengabadikan, baik suara Cak Markeso dulu itu. Jadi, penghargaan dia meninggal di Tunggorono situ, salah satu orang TVRI, ya penghargaannya itu diberi kijingan di makamnya gitu aja. Dan, seniman-seniman juga pada datang semua. Sekarang sudah ditinggalkan Cak Markeso dan penghargaannya hanya kijingan itu.

Makanya, saya sekarang semangat untuk menumbuhkan generasi-generasi baru di ludruk. Biar ludruk tidak mati dan bubar untuk ludruk yang ada di Jombang ini.

Kalau sekarang ada salah satu yang masih memunculkan di ludruk adalah memunculkan tari remo. Kalau tokoh-tokoh yang lain. Kalau pelawak ada dan sering ikut saya main pas lagi manggung di mana? Mulai ludruk tahun 1960-an itu pelawak itu masih eksis. Tapi, kalau penari remo ada di Jombang yang kita sebut tari remo Jombangan itu, ya sekarang masih. Tapi, ya orangnya sudah tua, tidak kuat untuk ngeremo. Kejadian-kejadian salah satu yang menokohi cerita ini, saya rasa nggak ada di jombang. Bahkan, di Surabaya saja sudah nggak ada. Banyak generasi-generasi baru bermunculan dan kalau tokoh-tokoh lama sudah nggak ada.

Ludruk Kekinian

Selama saya ngeludruk di zaman-zaman ini yang menyenangkan kita pentas itu antara pemain putra dan pemain putri yang sangat bersatu dan menjiwai. Akhirnya, kita pentas di panggung itu bisa luar biasa untuk bisa mewakili hati rakyat dan penonton. Terutama, saya mengungkap cerita blandong seloguno, kita menciptakan cerita karangan. Cerita kejadian masyarakat. Itu acungan dari penonton luar biasa karena merasa diwakili. Kita mengrikitisi polisi, polisi hutan, itu merasa terwakili. Jadi, penonton luar biasa terwakili dan kita mewakili dan dapat sambutan yang luar biasa. Jadi, itulah kebanggan kami. Kebanggaan seniman ludruk kalau mewakili hati masyarakat. Itulah kebanggaannya, bukan karena uang.

Misal, mainnya dua jam, tapi kalau masyarakat hatinya sudah terwakili nggak terasa, tambah dua jam lagi. Itulah seniman ludruk, kebanggannya di situ. Besok main di sana, ayo pakai cerita ini lagi dan bagaimana tanggapan masyarakat di sana? Hatinya masih bisa terwakili oleh seniman nggak? Kalau masih bisa main di wilayah sana, angkat lagi. Oh pakai cerita ini masyarakatnya terwakili. Hati penonton itu diwakili oleh seniman, kok. Sambutannya antusias. Berarti penyampaian masyarakat ini kepada siapa? Kan, nggak, tahu masyarakat awam. Ludruk yang mewakili. Pemerintah biar tahu dan yang nggak bener digosok sedikit biar bagus. Itu harapan seniman ludruk.

(nyanyi kidungan)

Nek nang jombang mampiro sengon lemah geneng akeh wedine

Nek gak sambang kirimo ingon, ora seneng opo mestine

ngunu iku salah peno dewe

Cekintung pak tokemat

Gegere mblangkrung watuke kumat

Itulah salah satu kidungan yang ada di Jombang, kidungan parikan Jombang untuk ludruk. Kalau ada kidungan itu adalah milik ludruk bukan milik kesenian yang lain. Diakui atau tidak kidungan munculnya dari ludruk. Maka, kita bertahan untuk ludruk agar tetap berkibar di Jawa Timur.

Kalau ludruk menyangkut Cak Durasim, Cak Durasim salah satu pahlawan dari ludruk. Dia nggak berani perang, tapi perangnya Cak Durasim dilewatkan kidungan. Jadi, untuk mengkritisi pemerintah lewat kidungan. Mengkritisi penjajah zaman dulu lewat kidungan. Kalau ludruk, saya ajak berjuang untuk mengkritisi pemerintahan sekarang lewat kidungan, lewat cerita ludruk, dan kejadiannya. Itu, saya anggap ludruk adalah salah satu media massa penyambung lidah masyarakat. Dan, harus berani mengkritisi pemerintahan zaman sekarang. Kenapa Cak Durasim dulu berani mengkritisi zaman penjajah? Kita sudah di zaman keterbukaan masak nggak berani. Mangkanya, saya ajak teman-teman seniman ludruk di Jawa Timur, ayo kita kritisi jangan ngomong di belakang layar! Tunjukkan keberanianmu di atas panggung.

Jombang, 26 Juni 2018.

=========================

Wawancara : Jamil MZ

Categories: Khazanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *