gayatrimedia.co.id

Berkuliah sembari mencari nafkah serasa tidak umum bagi masyarakat Indonesia, namun sering terjadi pada pribadi-pribadi yang pantang menyerah. Apalagi ketika beasiswa kian bertambah banyak seperti saat ini yang jauh lebih mudah didapat. Tapi, tantangan itu bukan persoalan berkecukupan atau tidak ketika berkuliah, melainkan memposisikan diri untuk selalu menjadi pribadi yang siap. Toh, siap atau tidak siap, seseorang harus siap dalam menyongsong hidup yang lebih nyata pada kebutuhan-kebutuhan praktis.

Amin Sahri , nama yang sering kuingat dengan tulisan-tulisannya di status media sosialnya. Memberi inspirasi sebagai pemuda yang pantang menyerah. Mengingatkanku pada masa-masa yang sama ketika di Jogja. Berjuang demi eksistensi.

Amin Sahri Selalu Merindu Buku, demikian tulis sahabatnya, Ngadiyo. Mengawali cerita di dalam bukunya, The Book Store Traveller.

Menulis puisi tentang rindu membuat pedagang buku yang kukunjungi ini mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai penyair. Ia sangat gemar menulis puisi bertema rindu. Kemudian memantapkan diri menamai toko buku kesayangannya dengan Rindu Buku. Buku memang selalu dirindukan untuk diajak berpikir, menghibur, dan memberi edukasi kepada pembaca.

12 Pebruari 2019.

Secara pribadi, aku tak kenal dirinya. Belum pernah berjumpa, meski sering ke Jogja. Tapi, tulisan-tulisannya di status membuatku tertarik akan kegigihannya. Hanya kebetulan dunia kami sama, buku. Dunia yang membuat orang menjadi teralienasi pada imaginasi akan harapan-harapan, kendati ada pula beberapa kasus orang stres dan bunuh diri setelah membaca beberapa buku di dalam kehidupan nyataku.

Tapi, itu tidak penting. Segala sesuatu bisa saja terjadi di dalam benak pikiran manusia. Bagiku, seorang pembaca semestinya harus sadar diri sejak awal terhadap buku bacaannya. Harus bertanya: siapa yang menulis buku itu dan apa maksud dan tujuannya. Jika sudah demikian, dia bisa mengambil jarak terhadap bacaannya dan menetralisir pikirannya sendiri.

Menjalani hidup yang berat seperti Amin pernah kulalui. Menapaki diri pada gelora baca dan imaginasi. Tidak peduli pada dunia sekitar dan egois. Mencari inspirasi kata-kata yang kemudian menjadi sebait dua bait puisi atau selembar dua lembar cerita-cerita pendek kehidupan.

Mencintai buku sama sulitnya menyintai seorang wanita secara bersamaan. Karena keduanya sering berlawanan arah. Tidak semua wanita cantik penyuka buku. Dan, pasti, penyuka buku merindukan seorang wanita cantik. Itu agak mustahil untuk diselaraskan. Masih untung, diriku mendapat anugerah dicintai wanita cantik yang sekaligus cinta buku. Sehingga kami bisa tenggelam dalam imaginasi kami masing-masing. Dalam fantasi yang menarik.

Entah, dengannya. Ada banyak tafsir dan alasan yang hanya bisa dijawab olehnya sendiri. Jalan Timoho itu sudah sangat kuhafal. Dari bising suara kereta cepat, hingga kendaraan-kendaraan yang belakangan mulai padat. Toko-toko yang ramai hingga jam 9 malam.

Selepas numpang Transfer di ATM BCA Alfamart Timoho, saya ke beranda. ‘Ndodok’ sambil Buka WA. Siapa tahu ada orang pesan borongan buku super gokil! 5 buku cuma 75rb!
.
Tiba-tiba ada seorang bapak dan (mungkin) istrinya menghampiri saya. Beliau bertanya sebuah tempat. Lantas saya menjelaskan dengan penuh semangat ingin membantu dan senang memberi petunjuk…
.
“Dari lampu merah situ Pak,” tangan saya bergerak, “belok kiri, maju lampu merah 1, maju lagi lampu merah 2, maju lagi lampu merah 3, maju lagi lampu merah 4. Nah sampai situ belok kanan. Itu jalan Magelang Pak. Terus maju aja… Mungkin sekitar 7 KM sampai di alun-alun Sleman.”
.
“Oh ya… Tapi saya bukan mau ke Sleman mas. Saya mau ke Rutan,” jawab beliau santai. Ternyata telingaku salah dengar Gaes. Padahal tadi njelasinnya semangat banget, sampai diulang 2 kali.
.
“Oh gitu. Nama rutannya apa Pak? Cebongan atau apa?” Setelah saya melihat kertas surat itu, terbaca Rutan Kelas II A Yogyakarta, “kayanya ini yang di jalan Taman Siswa lho pak.”
.
Saya buka google maps, dan benar di jalan taman siswa. Terus saya kasih petunjuk yang benar.
.
“Makasih ya mas. Saya ini dari Solo. Monggo, mas.”

Jogja, 12 Pebruari 2019.

Hari-harinya dipenuhi dengan cerita-cerita suka menolong dan memiliki empati yang kuat. Ia meyakini: filantrofi adalah cara hidup sehat menuju sukses. Sebab, hidup adalah pengalaman yang perlu pembuktian.

Temenku, cewek, berkacamata, tanya, “buku-buku sebanyak ini nanti kalau ada yang gak laku gimana? Apa gak rugi?”

Aku jawab, pasti laku. Ya meski orang lain ada yang berpikir ada resikonya, tapi aku tetap optimis dan yakin pasti laku. Ya soalnya aku udah suka dengan buku, jadi gak berpikir resiko. Aku fokus ke sisi positifnya saja.

Pahit-pahitnya, kalau ada buku yang tidak laku, ya gak papa.

Nanti mau digimanain?

Ya bisa buat bonus kalau ada yang beli banyak, atau gak disumbangkan, atau gak dibaca sendiri.

Jogja, 12 Maret 2019.

Amin membangun citra positif di dalam pikirannya. Menjadi entrepeneur sejak dini memang memerlukan mental. Mental mengatasi rasa malu yang utama. Kultur Indonesia belum bisa menerima seorang menjadi entrepeneur tangguh. Apalagi demi sebuah servent terhadap pelanggan sering dianggap menjilat. Berdiam diri pada zona aman sebagai mahasiswa dapat menjadi dalih murahan. Dan, dapat berlindung di balik status yang elit. Tidak mau bersusah payah untuk belajar hidup mandiri.

Banyak sekali yang mesan buku belum diambil/sebagian cancel, mungkin kalau di total kira-kira ada 5 juta. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka rezekinya lancar dan ada kelapangan waktu untuk bisa mengambil pesanannya. Kalau tidak ya gakpapa, semoga ada pelanggan lain yang mau “mengadopsi” buku-buku ini.

Jogja,12 Pebruari 2019.

Ada berbagai macam alasan logis untuk berpikir/bersikap negatif dan seringkali kita terjebak karena alasan itu. Pikiran negatif, sekecil apa pun itu; tetap berbahaya. Usir pikiran negatif, dan pertahankan pikiran positif. Ini butuh perjuangan, tapi insyaallah kita mampu.

Jogja, 12 Pebruari 2019.

Pun, kala kejengahan datang menghampiri. Dinding-dinding bisu tak bisa diajak bicara. Buku pun hanya memaksa diri untuk mengerti. Merindu seperti burung-burung yang terbang di angkasa.

Kututup mataku
Kutatap hatimu
Kurasakan kedamaian
Rindu tertulis
Cinta tertulus
Dari dirimu

Jogja, 13 Pebruari 2019.

Banyak godaan untuk berpikir-bertindak negatif. Banyak ujian yang berpotensi menimbulkan amarah dan ekspresi negatif. Sekalipun terlihat wajar, tetap jangan turuti kenegatifan. Selalu cari sisi positif, meski itu dalam himpitan. Lalu kembangkan, dan rasakan kebahagian…

Jogja, 15 Pebruari 2019.

Kamar kos udah penuh buku
Kios juga udah penuh buku
Ruang tamu kos juga ada dua kardus buku
Semoga semester depan ada rezeki untuk ngontrak rumah agar lebih leluasa meletakkan buku-buku dan barang-barang
Dan biar kalau ada saudara/sahabat yang mau main ke Jogja bisa nginap di rumah kontrakan, gak perlu nyari hotel/penginapan lainnya
Mohon doanya Gaes….

Jogja, 17 Pebruari 2019.

Mau jemput orang, kurang 250 meter bensin habis. Jarak pom bensin 300 meter (berlawanan arah dengan titik jemput). Mending tuntun motor ke titik jemput, atau isi bensin ke pom dulu Gaes? Uraikan alasanmu…

Jogja, 20 Pebruari 2019.

Jangan bilang lelah meski sebenarnya kamu lelah, coba kalimatnya diganti “aku butuh istirahat sejenak, lepas itu akan bekerja dengan semangat dan senang hati lagi.”

Jogja, 20 Pebruari 2019.

Sajak yang Tertulis Saat Aku Bermimpi Bertemu denganmu
Aku mencintaimu karena aku mencintaimu
Aku mencintaimu tanpa alasan tanpa berharap balasan
Aku tak mencarimu tapi Tuhan mendatangkanmu di hadapanku

Jogja, 23 Februari 2019

Cinta memang tidak butuh alasan, karena ia hadir tanpa diminta. Dia hadir untuk mengisi ruang-ruang kosong yang belum ditempati. Banyak hal yang aneh dijumpai di dalam cerita cinta yang terkadang tak butuh logika.


Kadang Cinta Tak Butuh Alasan
.
Suatu siang saya beli koran pada penjual koran di lampu merah Gramedia Jensoed. Beliau bernama Ibu Suni. Jualan koran sudah lebih dari 30 tahun.
.
Beliau menyatakan masih bertahan jualan koran meski pembeli koran sudah sangat berkurang. Beberapa koran yang dulu ada sekarang tiada, seperti Tempo, Media Indonesia dan Bernas. Dulu koran juga murah, sehingga laris sekali. Apalagi saat Tribun Jogja dan Harian Jogja harga 1.000-an.
.
Sekarang orang jarang baca koran, baca beritanya di HP, kata beliau. Dulu penjual koran di lampu merah ini ada 4 orang, kini tinggal 2.
.
“Lho kok sampean tau?” Kata Bu Suni.
.
Aku jawab, “Karena saya mengamati dan suka baca koran. Dulu saya juga loper koran, tapi di Cilacap.”
.
Bu Suni biasa menjajakan koran dari jam 6 lagi sampai 2 siang. Beliau masih betah jualan koran karena “senang”. Dalam situasi sulit seperti ini, beliau tetap setia jualan koran.
.
“Kenapa suka jualan koran Bu? Apa ibu juga senang baca berita?” Aku penasaran.
.
“Gak mas. Saya gak bisa baca…. Tapi ya seneng aja.” Terang beliau. Aku jadi heran.
.
“Oh…. Mungkin di lihat gambarnya aja ya Bu?”
.
“Ndak juga, kadang kalau udah ambil dari agen ya udah langsung di jajakan aja. Gak sempat lihat dalamnya.”
.
Dari sini saya ambil kesimpulan, Bu Suni memang cinta dengan pekerjaannya. Cinta yang begitu saja, seperti alamiah, tak dibuat-buat dan tak butuh alasan. Cinta pada pekerjaan membuat beliau tetap bertahan meski pekerjaan jualan koran sudah mulai ditinggalkan teman-temannya dulu. Cinta membuat dia bersetia dalam situasi apa pun. Suka atau duka. Mudah atau susah.
.
Semoga sehat selalu dan rezeki lancar buat Bu Suni. Aamiin.

Jogja, 06.46 wib, 28 Pebruari 2019.

Ceburkan dirimu ke dalam pekerjaan sesegera mungkin, maka mau tidak mau kamu akan bekerja. Menunda-nunda membuatmu kehilangan waktu, kesempatan dan kau tak menghasilkan apa pun kecuali kesia-siaan.

Jogja, 11.34 wib, 6 Maret 2019.

Rindu yang merepih. Membawa perasaan mendidih. Mengingat masa lalu yang sudah jauh terlampaui.

Belajarlah menikmati pekerjaan, agar saat kerja, rasanya seperti refreshing. Keliru bila berpikir “kerja itu berat, kerja itu beban, kerja itu susah.” Jika demikian, sepanjang harimu serasa penjara. Dalam pekerjaan memang ada beberapa masalah, tapi perlahan kita bisa belajar mengatasinya. Bahkan, jika tekun, kita bisa menyelesaikan pekerjaan dengan tangkas, cepat, gesit, dan asyik.

Jogja, 18.46 wib, 12 Maret 2019.

Dalam menjalankan usaha, saya hampir gak pernah mikirin dapat untung berapa-berapa. Yang saya pikirin pertama kali tiap ada closing di awal-awal, “lumayan bisa buat buat karyawan.”

Jogja, 22.01 wib, 15 Maret 2019.

Dulu aku pernah ke Semarang. Ujian Mandiri Unnes. Duit bekal dan bayar bus berasal dari utang ke Pak Guru dan sebagian disanguni orang tua. Pakaian lusuh. Bawa kardus. Ketemu beberapa teman seperjuangan juga di angkot, tapi mereka rapi, bawa koper. Ada beberapa orang yang memandang sinis tapi dulu kebetulan aku selalu berpikir positif dan (sok) akrab dengan siapa saja. Endingnya, aku gak lolos Unnes, kemudian memutuskan jadi loper koran dan tahun berikutnya ketrima kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jogja, 23.32 wib, 15 Maret 2019.

Dulu, aku dan temanku sama-sama kuliah di UIN. Pada tahun kedua kuliah, kita sama-sama ikut SBMPTN lagi, daftar UGM. Dia pinjam buku SBMPTN-ku untuk di fotokopi. Dia belajar pakai fotokopian, aku belajar pakai buku aslinya. Dia daftar Filsafat, aku daftar Hubungan Internasional. Saat pengumuman, dia diterima UGM. Aku ditolak UGM.

Jogja, 22.56 wib, 23 Maret 2019.

Tahun berikutnya lagi saya mau coba daftar UGM lagi, jalur Ujian Mandiri. Tapi sayang karena kesibukan kerja, lupa deadline pendaftaran dan akhirnya gagal mendaftar. Memang sih waktu itu Pendaftarannya aja udah mahal, sekitar 300rb. Meski begitu, kalau selo, tentu aku akan perjuangkan ikut UM UGM. Aku kira pengalaman lebih mahal dari uang 300rb. Aku pengin merasakan UM UGM seperti apa, para pesertanya seperti gimana, soal-soalnya seperti apa, dlsb. Setidak-tidaknya sesuatu yang dirasakan dan diamati secara langsung, bisa menghasilkan cerita yang bisa dianalisa dan membukakan banyak ‘celah’.

Jogja, 00.00 wib, 24 Maret 2019.

Bagiku, ruang rindu harus diisi dengan perjumpaan.

Trenggalek, 23.17, 25 Maret 2019.

==========================

Kurator: M. Sakdillah (author, director, and culture activities).


Categories: Lapak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *