Saya dididik kemiskinan
Dan hidup pun tanpa perayaan

foto koleksi Amin Sahri. gayatrimedia.co.id

Saya dididik oleh “kemiskinan” dan “hidup tanpa perayaan”. Kemiskinan telah melatih saya untuk legawa, hidup sederhana, apa adanya, prihatin, dan tidak neka-neka. Sebelum kelas 1 SD, saya sudah berlatih puasa Ramadan. Kelas 1 Sekolah Dasar (SD) tentu juga puasa saat Ramadan, dari subuh sampai maghrib, meski ada batalnya (lupa batal berapa hari). Saat kelas 2 SD, selain menjalani puasa wajib, kadang-kadang juga puasa Daud. Saya semangat berpuasa karena kata ibu: pahalanya sangat besar.
.
Saya jarang jajan sewaktu SD. Jarang dapat uang saku. Saya baru bisa sering jajan kalau di kampung sedang musim panen padi. Saya dan teman-teman sepermainan biasa “ngasag“, dapat 2 atau 3 kg biasa dijual ke warung. Dapat duit beberapa ribu, senangnya bukan main.
.
Saat teman-teman lain dengan mudahnya bisa jajan dan beli mainan/barang kesukaan, saya hanya bisa bersabar. Waktu kelas 4 SD, ada penjual mainan anak di hajatan tetangga. Saya melihat ada poster Timnas sepakbola yang juara Piala Dunia 2002. Saya pengin banget punya dan memandangi poster itu dengan mata berbinar-binar. Tapi, saat itu, saya tidak ada duit. Minta ke orangtua pun tidak dikasih. Saya sedih dan mengubur dalam-dalam keinginan itu.
.
Saat SD, sekali saya rangking 2 dan sisanya selalu rangking 1. Tapi, orangtua tidak pernah memberi hadiah. Tidak pernah mengucapkan selamat. Saya baru menyadarinya saat sudah dewasa. Ketika masih kecil, saya tidak mempermasalahkan hal itu. Saat kelas 6 SD, saya sudah punya adik 6 (enam). Kadang, saya malu kalau orang-orang meledek: “kecil-kecil, kok, adiknya banyak!” Saat kecil, saya baper kalau diledek seperti itu. Namun, saya sekarang bangga punya banyak adik.
.
Desaku termasuk desa yang sangat pelosok. Tapi, saat saya kelas 4 SD, beberapa teman kelas perempuan saya ada yang membuat pesta perayaan ulang tahun. Yang diundang semuanya juga anak perempuan. Anak-anak lelaki tidak ada yang diundang. Anak-anak lelaki pun tidak ada yang merayakan ulang tahunnya dengan sebuah pesta. Itulah sejarah awal saya mengenal istilah “ulang tahun.”
.
Kemudian menginjak SMP, berlanjut ke SMA, saya jadi tambah tahu. Ternyata, banyak orang yang terbiasa merayakan ulang tahun. Kalau di SMP/SMA, saya mulai tahu: ternyata, ada yang merayakan ulang tahun dengan lempar-lemparan tepung dan telor. Padahal, waktu saya kecil di kampung, telor adalah lauk yang sangat spesial dan jarang bisa dinikmati dengan mudah. Tempe yang dibalut tepung atau potongan wortel/kobis/sayur kecil-kecil yang dibalut tepung sudah termasuk lauk yang sangat mewah di keluarga kami. Tapi, di kehidupan kota, itu bisa dibuat mainan dan dibuang-buang dengan perasaan riang gembira.
.
Saat kelas 4 SD, pada ujian Mapel Keterampilan, guru menyuruh kami praktik memasak. Teman-teman kelas menyambut dengan suka cita. Cuma, saya yang sedih. Kemudian, dengan lantang, saya mengungkapkan keberatan, “Maaf, Pak! Saya usul lain, saya pengin buat kerajinan tangan, Pak. Kalau masak, saya tidak punya uang untuk beli sayur, lauk, dan bumbu.” 95 persen suara di kelas setuju dengan ujian praktik memasak. Ada teman yang bilang, “Kan, nanti uangnya iuran?” Saya bersikukuh usul buat kerajinan tangan dengan bahan yang lebih murah. Akhirnya, saya dan seorang teman membuat sangkar burung dari bambu. 37 siswa lainnya praktik memasak.
.
Kebetulan waktu SD, angkatan kelasku tidak melakukan study tour. Tapi, teman-teman saya biasa liburan kalau hari raya tiba. Selama SD-SMP, saya hanya sekali diajak liburan oleh bapak ibu. Dan, itu kebetulan, karena berbarengan dengan acara keluarga besar. Teman-teman pada liburan, saya tidak bisa karena pasti membutuhkan uang untuk membayar transportasi dan tiket masuk ke tempat wisata. Saat itu, saya tidak iri dan tidak mempermasalahkannya. “Kemiskinan” dan “Ketidakpunyaan” telah mendidik saya untuk maklum; cukup cari kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana dan tanpa biaya mahal.
.
Saat SMP, sekolah mewajibkan siswa untuk study tour. Ada beberapa anak yang mengajukan keberatan. Sepuluh orang mungkin ada. Ada yang karena gampang mabok kendaraan, ada yang karena sudah pernah ke Jakarta, dan saya karena tidak punya uang. Saya memang tidak berbicara kepada orangtua. Tapi, saya sudah melihat: kalau di rumah bapak dan ibu sering bingung karena kerja cuma dapat duit sedikit, sementara kebutuhan keluarga lebih banyak–sampai sering berhutang.
.
Saya baru bisa merasakan pergi ke luar kota saat kenaikan kelas 12 MA. Saya bersama seorang teman diutus sekolah untuk mengikuti event “Liburan Sastra di Pesantren” di Kaliopak, Piyungan, Bantul. Selepas acara 3 hari, kami menginap di rumah saudara teman saya. Kemudian, kami eksplor tempat-tempat wisata di Jogja selama 3 hari juga. Peristiwa inilah yang juga membuat saya jatuh cinta pada Jogja dan membatin, “Kelak, saya ingin kembali lagi ke sini.” Sepulang dari Jogja, selang beberapa hari, kelas 12 study tour ke Jakarta dan Bandung. Saya ikut karena saat MA, segala biaya sekolah saya ditanggung oleh Bapak Angkat. Allah memang baik, Dia ngasih kesempatan kepada saya setelah sekian lama bersabar.
.
Menyinggung “hidup tanpa perayaan”. Orangtua saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya. Mengucapkan pun tidak pernah. Saya pun tidak meminta (tidak mengharuskan). Keluarga kami memang berbeda dengan keluarga orang kaya yang bisa membuat perayaan. Ucapan ulang tahun itu mudah, tapi bapak ibu saya tidak melakukannya. Mungkin, hal semacam itu hanya cocok untuk keluarga harmonis nan romantis. Dan, tidak punya hutang tentunya. Kerepotan mencukupi kebutuhan primer dan kepayahan hutanglah yang sudah menyita pikirannya. Orangtua saya pun lebih sering membentak dan memarahi (karena kami bandel, pemalas, tidak bisa bekerja sesuai harapannya), jadi agak kikuk kalau tiba-tiba romantis dengan berkata, “Selamat ulang tahun!”
.
Saat SD saya rajin belajar, rajin sekolah, dan lumayan rajin mengaji. Meski berprestasi, orangtua jarang banget mengapresiasi. Hampir gak pernah memuji anaknya. Saat kecil sering kudengar “Buat apa pinter sekolah kalau kerja gak pinter…?” “Percuma rangking 1 kalau males kerja.” Beliau sering marah dan jengkel pada anak-anaknya. Sering membanding-bandingkan kalau tidak seperti anak-anak orang lain yang pinter “nyambet gawe” (kerja). Tapi, saat dimarahi, saya hanya bisa diam, tidak melawan.
.
Saat SMP, saya sekolah di kota dan tinggal di rumah saudara. Di SMP, tidak banyak yang bisa kuceritakan. Prestasi pun hanya peringkat medioker. Lulus SMP saya vakum sekolah satu tahun. Melanjutkan Madrasah Aliyah, saya mulai rajin belajar lagi. Kelas 10, saya bisa rangking 1 dan 2. Kelas 11 dan 12, saya rangking 10 besar (tepatnya saya lupa). Saat kelas 11 dan 12, saya tidak begitu getol mengejar prestasi akademik. Mungkin, fokus terpecah, karena saya sibuk membaca karya-karya sastra, dan sering berlatih menulis puisi dan cerpen (intinya, saya ndak pinter menyeimbangkan, ndak pinter memanajemenkan kegiatan). Tapi, berkat tulisan-tulisan saya yang terbit di koran dan majalah dengan membawa nama sekolah telah membuat daya tarik guru-guru untuk sering menceritakan saya pada adik-adik tingkat, terutama guru-guru bahasa Indonesia. Ada satu puisi saya yang dijadikan materi soal bahasa Indonesia (saat saya sudah lulus). Nilai UN bahasa Indonesia saya juga tertinggi di sekolah.
.
Saya terbiasa hidup tanpa perayaan dan agak asing jika hadir ke sebuah perayaan. Seperti momen penting acara perpisahan kelas 12. Saya tidak hadir, karena saya tidak punya dress code yang cocok. Mungkin, pinjam bisa, tapi saya bingung mau pinjam ke siapa. Sempat terpikir juga, kalau saya pakai dress code orang lain rasanya; “ini bukan saya yang sejati”. Saya tidak mau membohongi diri sendiri.”
.
Saat saya kuliah. Saya berpikir, jika kelak nanti saya wisuda: “biarlah tidak usah ada perayaan! Saya tidak meminta keluarga untuk hadir, juga teman-teman. Saya asing dengan perayaan. Saya tidak akrab dengan hal-hal seremonial.”
.
Namun, cinta mengubah pandangan ini. Dalam artian, saya mau hadir ke acara wisuda seorang perempuan yang telah mengilhami saya menulis beberapa puisi. Saya mulai berpikir akan mempersembahkan kado/hadiah untuknya. Saya pun sudah punya baju hem terbaik untuk bisa menghormati momen spesialnya (agar saya tidak terlihat terlalu gembel saat sesi foto bersama). Tapi, sayang, dia tidak mengundang saya dan sekarang dia sudah menikah dengan orang lain. Peristiwa ini semakin mengajariku tentang “hidup tanpa perayaan”.

Jogja, 29 Januari 2019.

==========================

gayatrimedia.co.id

Author: Amin Sahri, mahasiswa dan pelapak Rindu Buku di Sapen, Jogjakarta.

Categories: Sosialita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *