foto koleksi M. Sakdillah. gayatrimedia.co.id

Di ruangan Galeri Indonesia Kaya (GIK) itu, ia kesepian tak ada yang memperhatikan. Anak-anak muda tak menghiraukan. Lalu dan lalang. Aku baru masuk melalui pintu yang ditera kabel dan sound system. Terkejut, aku langsung menyalami dan berkata, “Saya dulu ketemu bapak di Prenduan waktu acara Taufik Ismail,” kataku, mengingatkan. “O, ya?’ sahutnya, sumringah. Bertumpu pada tongkatnya. Wajah itu mulai memerah dan hangat.

Ia pun bercerita banyak tentang Nahdlatul Ulama (NU), pesantren Al-Amin, dan Taufik Ismail. Gaya bicaranya yang memikat menyita perhatianku.

Seusai acara di depan ruang rias, ia menarik lenganku dan mengajarkan kebaikan. “Tidak ada kebaikan, kecuali berbuah kebaikan.” Ia membaca satu puisi yang tidak dibacakannya di panggung. Gerhana, itu judulnya.

Puisi yang menyentuh. Aku ingin berlama-lama dengannya, tapi waktu harus memisahkan. Maghrib menjelang.

Gedung Indonesia Kaya, 24 Maret 2016.

foto koleksi M. Sakdillah. gayatrimedia.co.id

Betapa Akrabnya Kami

Buya Zawawi, agaknya lebih pantas disapa demikian. Sejawat-sejawat sering memanggilnya Pak D.

Categories: Tokoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *