Di antara sekian banyak personalia di kantor PBNU, dia adalah sosok paling kukenal sejak pertama menginjakkan kaki di sana.

Ada kemistri yang membuat lengket. Perjumpaan demi perjumpaan.

foto koleksi Abdullah Alawi. gayatrimedia.co.id

Aku ikut-ikutan memanggilnya Abah. Penampilannya yang nyantri banget tidak mengesankan dirinya seorang yang piawai di dalam mengolah kata dan mendalam pengetahuannya tentang budaya Sunda.

Abah Alwi, demikian orang-orang memanggilnya, adalah salah satu senior journalist di media resmi PBNU, NU Online. Ia orang yang tabah menghadapi laptopnya ketika teman-temannya bepergian berkunjung ke daerah-daerah. Abah Alwi masih tekun menata kata manakala penyakit pinggangnya kambuh. Ada beberapa waktu, aku tak dapat menjumpainya.

Ia memang jarang turun atau meliput di daerah. Justeru, kesempatan itu digunakannya secara maksimal untuk merekam jejak-jejak orang, baik yang terkenal atau tidak. Terutama, orang-orang unik yang memiliki spesifikasi keunikan di bidang masing-masing yang datang berkunjung ke kantor PBNU.

foto koleksi Abdullah Alawi. gayatrimedia.co.id

Meski pada jiwa yang terlelah sekalipun, Abah Alawi akan selalu tersenyum tersipu. Kesan yang dapat mengelabui. Dan, akan membuat orang kaget ketika melihat keadaan sebenarnya.

Aku semakin akrab dengannya, ketika mendapat jatah menjadi anggota tim Ekspedisi Islam Nusantara yang berkunjung di 40 kota di tanah air pada 2016. Susah senang dam panas dingin antara cuaca siang dan dingin AC telah membuat kami seiya sekata. Sempat jengkel dengan perilakunya yang sering memelas. Aku pikir itu hanya trik, tapi tidak. Abah memang sedang rindu berat dengan pacarnya yang tak akan lama lagi dinikahinya. Dia meracau ke sana kemari berbicara tentang perempuan yang jauh dari obyeknya. Halus dan simbolik.

foto koleksi Abdullah Alawi. gayatrimedia.co.id

Dan, benar. Kerinduan itu ia tumpahkan di barisan pasir, tanpa sepengetahuanku.

Abah Alawi pandai merangkai syair. Ia hapal banyak bait puisi para penyair Nasional. Yang justeru asing di telingaku.

Aku terkagum.

Abah yang senantiasa membuatku tidak sungkan bila menjumpainya di kantor PBNU di jalan Kramat Raya 164 Jakarta.

“Ayo ngopi!” ajaknya di setiap kesempatan.

Aku tersenyum, kalau ingat boyoknya. “Jangan banyak-banyak ngopi, Bah! Nanti kumat!”

Abah masih tersenyum simpul.

Trenggalek, 20.53, 27 Maret 2019.

========================

M. Sakdillah (autor, director, and culture activities).

Categories: Sosialita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *