foto koleksi M. Najib. gayatrimedia.co,id

Sukses Membangun Usaha Desa

Membangun usaha desa yang merata di seluruh tanah air memerlukan kiat dan strategi yang terencana. Di samping memerlukan kerja-kerja kemitraan. Kekayaan dan tanah yang subur masih tidak menjamin pola-pola usaha desa dapat meningkat, bahkan pemerataan yang sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 33. Kendala-kendala utama yang dihadapi masyarakat desa pada dasarnya adalah akses distribusi, pasar yang jelas, permodalan, dan koperasi. Tiga hal tersebut masih sulit dipecahkan oleh masyarakat desa, karena keterbatasan-keterbatasan diantaranya: sumberdaya manusia yang cakap, pengemasan hasil produk usaha, serta permodalan. Dengan kata lain, dalam pengembangan usaha desa dibutuhkan kerja-kerja kemitraan dari pihak ketiga.

foto koleksi M. Najib. gayatrimedia.co.id

Namun demikian, kendala-kendala tersebut coba dipecahkan oleh Moh. Najib, pengusaha yang memiliki komitmen untuk pengembangan usaha desa melalui kerja-kerja kemitraan bersama Badan Usaha Milik Desa. Hal ini dilakukan guna meningkatkan mutu dan pelayanan usaha-usaha desa agar semakin meningkat dalam hal kemasan dan pemasaran.

Dengan semangat seorang motivator, Moh.Najib memberikan advis-advis nyata pada Badan Usaha Milik Desa. Baginya, salah satu motivisi yang harus dimiliki oleh usaha-usaha desa adalah passion. Sebagaimana arti passion secara sederhana adalah mencintai yang dikerjakan dan menanti hasilnya dengan kesabaran. Hati harus jauh lebih berperan untuk menyintai pekerjaan. “Kalau kita tidak memiliki passion, semua akan dianggap beban, sehingga mudah menyerah, grusa grusu dan akhirnya menyalahkan orang lain,”ujarnya. Pengalaman usaha-usaha desa dalam menginkubasi para entrepreneur desa menunjukkan, bahwa mereka yang sejak awal memiliki passion terbukti lebih berhasil ketimbang yang menjalankannya dengan beban. Yang satu sering mencari terobosan dan yang satu lagi sering mengeluh, bila menghadapi masalah. Contoh peternak domba yang dibimbing dengan cara menimbang dombanya untuk bisa mengukur perkembangan bobot. Dia melakukannya dengan senang dan semangat. Mentor dari usaha-usaha desa juga harus membimbingnya dengan hati. Semua bisa dilakukan karena keduanya punya target bersama, maka usaha pun dapat berkembang dan sama-sama sejahtera. Dengan demikian, “Temukan passion kita dulu, apa yang kita suka? Baru kita cari peluang bisnis di situ. Jangan mau seumur hidup kita dibebani dengan hal-hal yang tidak perlu!”ungkapnya.

foto koleksi M. Najib. gayatrimedia.co.id

Perempuan Enterpreneur

Di dalam melakukan kemitraan bersama usaha-usaha desa, perhatian Moh Najib tidak hanya bagi kalangan lelaki saja. Ia juga menggandeng kerja-kerja kemitraan bersama entrepreneurs perempuan yang dipandang olehnya juga memiliki potensi yang sama. “Hasil riset dari sejumlah negara menunjukkan: entrepreneur perempuan berpeluang lebih sukses ketimbang laki-laki. Saya belum menemukan penelitian sejenis di Indonesia. Baginya, perempuan memiliki: (1) perempuan adalah pengambil resiko yang bijaksana; (2) perempuan tidak over confidence; (3) perempuan lebih ambisius; (4) perempuan punya perencanaan jangka panjang; (5) perempuan lebih mampu menghadapi tantangan.”

foto koleksi M. Najib. gayatrimedia.co.id

Di Indonesia, 43% pemilik pelaku usaha kecil dan menengah adalah perempuan. Menurut survey yang dilakukan oleh Mastercard, 62% perempuan yang memulai bisnis, dikarenakan adanya kebutuhan. Mereka cenderung berwirausaha pada sektor informal yang tidak terlalu berbasis pada teknologi, berskala kecil, dan dalam bentuk bekerja untuk diri sendiri.

“Jadi jelas, bila ekonomi negeri ini mau tangguh, fokus pada Women Entrepreneurs. Ingat, sebagian besar usaha di Indonesia adalah mikro, kecil dan menengah,” tegasnya.

Trenggalek, 10.00, 27 Maret 2019.

=========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities)

Categories: Lapak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *