foto koleksi Ririn. gayatrimedia.co.id

Tebuireng, Januari 2018.

Awalnya kami terlibat dalam sebuah diskusi untuk menentukan nama penanya bersama Kang Acep Zamzam Noor. Penyair nasional yang akan mengisi pelatihan literasi di SMA A Wahid Hasyim Pesantren Tebuireng di bawah asuhan Gus Ahmad Faozan. Direktur Unit Penerbitan Pustaka Tebuireng, sekaligus Pengasuh Pesantren Pustaka Tebuireng.

Tapi, Ririn lebih banyak bertanya dan aku hanya mengimbuhkan saja atas dawuh Kang Acep.

foto koleksi Ririn. gayatrimedia.co.id

Tebuireng, Pertengahan 2018.

Aku bertandang ke kediaman Gus Amin Zein. Executive Producer Rumah Produksi Tebuireng. Kami berturkar pikiran dan pengalaman. Pria yang energik itu memintaku menuliskan skrip film drama yang akan dibikinnya. Cerita Beliau, film perdana Rumah Produksi, Binar, telah mendapat apresiasi yang baik dari berbagai kalangan. Pun, sutradara terkenal Hanung Bramantyo.

Aku tersenyum. Menolak. Aku sedang puasa menulis, batinku. Tapi, aku menjanjikan kepada Gus Amin untuk mencarikan penulis bagus alumni Pesantren Tebuireng. Keinginan Gus Amin dan juga Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid) agar produksi film semua ditangani oleh keluarga Tebuireng. Mulai dari pra produksi hingga pasca produksi. Aku mengangguk, mengiyakan.

Pikiranku teringat pada Ririn. Alumni terbaik Pesantren Tebuireng yang kini mahasiswi semester 8 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu. Dia pernah memberikan novel setengah jadinya untuk kubaca. Meski belum tuntas terbaca, aku melihat bakat itu bisa dikreasikan.

Kepandaiannya menjuarai bahasa Inggris dan Arab semasa di Pesantren Tebuireng serta juara Yuk Gresik tahun 2017 sudah lebih dari cukup untuk sekadar bekal menulis skrip film. Belum lagi, Ririn hingga saat ini masih suka menulis puisi, novel, artikel, dan cerpen. Pengalaman menulis skrip film dapat menjadi tantangan baru baginya. Menurutnya, pengalaman menulis sebagian diantaranya adalah ketika menjadi penerima beasiswa aktivis Nusantara angkatan 8.

Lalu, aku menelepon Ririn untuk memintanya menulis skrip film atas permintaan Gus Amin. Alasanku, aku belum berminat pada film drama. Aku coba mendalami dokumenter saja dulu.

Mulanya, Ririn ragu menerima tawaranku. Tapi, setelah bisa kuyakinkan akhirnya dia mau.

Aku kirim novel Ririn kepada Gus Amin. Dan, Gus Amin setuju.

Plong. Tugasku selesai. Berharap Ririn mampu menyelesaikan tugasnya sebagai Penulis Naskah dengan baik. Dengan tanggung jawab baru atas cerita yang dia tulis. Aku menanti hasil karyanya untuk dipublikasikan ke khalayak. Semoga bisa menjadi batu loncatan untuk karya-karya berikutnya.

foto koleksi Ririn. gayatrimedia.co.id

Trenggalek, 13.30, 27 Maret 2019.

=============================

Kurator : M. Sakdillah (author, director, and culture acitivities).

Categories: Sosialita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *