foto koleksi Garjon. gayatrimedia.co.id

Dunia komik kembali mulai menggelora untuk dinikmati. Dulu, era sebelum tahun 2000, komik merupakan bacaan favorit masyarakat Indonesia. Bahkan, ada beberapa orang yang membuka agen dan persewaan komik. Tidak saja ide cerita yang menarik, komik menjadi bacaan favorit karena ilustrasi gambar yang ditawarkan. Komikus-komikus lawas dapat dijumpai seperti Teguh Santosa, Wid N.S, R.A. Kosasih, JAn Mintaraga, Hasmi, dan Ganes T.H.

Sejalan perubahan zaman yang mengarah pada digitalisasi yang melanda dunia percetakan, komik pun turut surut. Namun demikian, kemunculan sosok Garjon merupakan fenomena tersendiri. Apalagi pilihan-pilihan tema cerita yang diangkat cenderung antik dan klasik. Berbeda dengan komik Sincan yang merepresentasikan pemberontakan budaya yang sedang melanda tradisi, budaya, dan generasi muda bangsa Jepang di era kekinian.

Siapakah Garjon

Benarkah sebelum saya mengilustrasikan ARTWORK Jaka Tarub, saya sudah bertemu Dewi Nawang Wulan di tempat ini? Ataukah saya sudah pernah bertemu dengan bidadari? Lantas, kenapa saya kembali lagi ke tempat ini setelah ARTWORK itu selesai? Siapa yang saya cari, kembang desa? Atau, bidadari? Biarlah menjadi sebuah pertanyaan atau mitos.

Jogja, 30 Desember 2016.

Ungkapan tersebut disebutkan Ajon Purwo Hanggoro di dalam Akun Facebook-nya. Ilustrator yang sudah suka menggambar sejak kecil itu. Seperti sedang berhalusinasi.

Garjon komikus paling produktif saat ini. Ia mulai fokus menjadi komikus tahun 2005. Karya pertamanya terbit di harian koran Yogyakarta tahun 2008-2009, berjudul Patung Sang Pertapa Emas dan Badut Pembunuh. Ia juga ilustrator komik Mahabarata Garjon.

foto koleksi AJon Purwo Hanggoro

Tak hanya itu, Badut Pembunuh yang pernah terbit di koran dibukukan secara independen dan mendapat penghargaan cover komik terbaik Kosasih Award 2015. Setelah itu, terbit lagi karya-karya lainnya. Dan sampai saat ini, ia masih terus berkarya. Penulis cerita Tegar Noorwira Dwi Pangestu. Seorang penulis freelance. Dunia imajinasi memang sudah menarik perhatiannya sejak masih kanak-kanak. Menerbitkan berbagai judul novel yang terbit secara independen maupun mayor. Beberapa karyanya adalah Reinkarnasi Pangeran Angin, kumpulan cerpen Satu Malam Panjang, Ramayana, cerita-cerita bergenre silat, dan lain-lain. Penulis juga menjadi ceritakus komik, menelurkan puluhan karya dengan nama pena Garjon, berkolaborasi dengan Ajon yang merupakan saudaranya. Garjon adalah singkatan dari Tegar dan Ajon. Beberapa karyanya antara lain Mahabarata 1-12 seri Ramayana, Cabuh Mataram 1-5 yang masih berlanjut. Bunga Telasih Banjarwaru, Badut Pembunuh, dan masih banyak lagi.

Makhluk seram berwujud Rangda menyerang tanpa diketahui penyebabnya dan memiliki kekuatan yang luar biasa, bapak dan anak yang terkenal jago silat di Desa Sawomateng tak dapat berkutik.

Sementara di jalan setapak hutan, Raditya sedang berjalan pergi meninggalkan rumah Ki Tunggalsakti. Tiba-tiba keris Kyai Candra Rekta (Bulan Merah) yang terselip di sabuknya bergetar. Ia tidak mengerti sama sekali, ketika menggenggam keris tersebut seperti ada kekuatan yang menariknya, ia hampir saja terjatuh.

Sebetulnya apa yang sedang terjadi? Siapa makhluk pengacau yang menyeramkan itu? Bagaimana keadaan Chao-Xing, gadis Tionghoa yang ditawan oleh komplotan Bedug dan Gardapati utusan Bupati Kudus?

Nantikan jawabannya di komik silat CABUH MATARAM seri kelima!

Jogja, 23 Maret 2019.
Categories: Koleksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *