foto koleksi Suwanto. gayatrimedia.co.id

Perjalanan kami tiba di Tuban pada awal Maret 2016. Kota maritim di utara pulau Jawa. Saat itu, kami, tim ekspedisi Islam Nusantara, sudah melewati perjalanan yang dimulai dari Cirebon, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, dan Tuban.

Sesosok yang tampak sibuk mengatur keperluan kami di Tuban ada dia yang kemudian kukenal namanya, Kang Wanto.

Kami diterima dengan pelayanan yang maksimal olehnya. Kami ditempatkan di rumah dinas wakil bupati yang baru akan dilantik. Otomatis, kami mendapat pelayanan dari pihak Kabupaten.

Seusai kami menaruh barang-barang kami dari bis ke rumah inap itu, Kang Wanto berjalan mendekatiku. Kami terlibat obrolan panjang di emperan rumah dinas itu. Entah, sebab apa tetiba kami bisa cepat akrab.

Kang Wanto memiliki pandangan batin yang tajam. Ia bercerita banyak hal tentang Sunan Bonang yang kerap menemuinya. Mistik. Ya, kira-kira begitu. Aku semakin larut dalam cerita-cerita tentang sejarah Tuban. Kang Wanto telah menulis buku, “Tuban Kota Wali”. Dia berhasil mengidentifikasi ratusan makam-makam kuna yang ada di Kabupaten Tuban yang memang kaya dengan situs-situs sejarah.

foto koleksi Suwanto. gayatrimedia.co.id

“Ada mushaf Al-Quran kuna yang tersimpan di sebuah klenteng di Tuban,” ceritanya. “Mushaf itu sangat rahasia.” Kang Wanto bercerita rahasia-rahasia yang tidak boleh dipubikasikan ke khalayak. Dan, aku ditunjuk olehnya titik demi titik situs-situs yang bernilai sejarah tinggi.

Sejak pertemuan pertama di kabupatenan Tuban itu, aku dan Kang Wanto kemudian sering melakukan komunikasi jarak jauh.

Kang Wanto sering memberi advis-advis spiritual kepadaku yang secara tidak sengaja memang sudah garis keturunan, kami diikatkan dalam pertalian leluhur.

Trenggalek, 0.50, 31 Maret 2019.

=======================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Sosialita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *