gayatrimedia.co.id

Tulisan-tulisan Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari kembali dirilis oleh
tebuireng.online. Suara resmi Pesantren Tebuireng. Kali ini, tentang filsafat sosial.

Menarik! Dari tulisan tersebut secara otentik dapat diketahui pandangan Hadratussyekh benar-benar membumi dan historis. Tidak normatif dan penuh jargon dan slogan. Dari sini dapat diketahui pula sumber genealogi pemikiran dan gerakan KHA Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid kemudian.

Dalam tulisan ini, saya tidak menarik pemikiran Hadratussyekh dengan pandangan Sosislisme ala Karl Marx atau ideologi sosialisme-komunisme yang berkembang pada saat itu sebagai jawaban realitas sosial. Namun, lebih ditekankan pada pandangan sosial Hadratussyekh secara konten analisis. Hal ini menandakan: Hadratussyekh memiliki pemikiran sendiri tentang filsafat sosialnya.

Wacana Global Abad ke-19

Realitas sosial-politik global abad ke-19 ditandai dengan adanya Revolusi Industri di Eropa sehingga menimbulkan dampak yang lebih luas berkenaan dengan eksploitasi-kolonialisme-imperialisme. Penguasaan terhadap sumberdaya-sumberdaya, baik manusia maupun alam, digalakkan secara massif di belahan Timur. Dari sini kemudian muncul anggitan-anggitan wacana feodal, kapital, nilai tukar, alat, borjuis, dan proletar. Anggitan-anggitan yang semula asing di telinga kemudian menjadi “alat” agitasi dan perlawanan kelas sosial.

Perang dunia ke-1 dan ke-2 hanyalah dampak dari gejolak wacana tersebut. Sentimen-sentimen yang muncul kemudian seperti fasisme telah menggerakkan Jepang, Jerman, dan Italia sangat bernafsu untuk menguasai dunia. Berebut pengaruh dalam rangka penguasaan sumberdaya-sumberdaya, eksploitasi, dan wilayah-wilayah dunia (imperium) sebagaimana telah dilakukan oleh Amerika, Inggris, dan Belanda.

Slogan dan anggitan tersebut berpengaruh juga pada pola dan struktur masyarakat di tanah air. Pengaruh dan campur tangan Belanda yang padat modal terhadap sistem pemerintahan kerajaan menciptakan kesenjangan-kesenjangan sosial sebagaimana kerja paksa, serifikasi tanah, dan industrialisasi perkebunan dan pertambangan.

Di dalam melaksanakan agenda-agenda Imperialisme-Kolonialisme yang disadari kemudian sebagai ancaman bagi bangsa “Indonesia” pada saat itu, Hadratussyekh mengembangkan pemikiran sosial sendiri sebagai jawaban sekaligus alternatif bagi perlawanan kelas.

Pengertian Ideologi Politik Islam

Untuk menjawab realitas sosial saat itu, Hadratussyekh mengembangkan pemikiran “Ideologi Politik Islam” yang dikembalikan pada realitas sosial pada masa Rasulullah Saw. Menariknya, Hadratussyekh memberi analisis yang bersifat historis dan tidak sarat dalil-dalil normatif sebagaimana seruan kepada kalangan internal umat Islam yang tertuang di dalam Qonun Asasi NU misalnya. Di dalam tulisan tersebut, Hadratussyekh menandaskan Islam sebagai ideologi dalam artian “gerakan” politik. Hal ini memberikan informasi gambaran: Hadratussyekh sangat menguasai wacana-wacana keideologian dan filsafat sosial. Hal yang menjadi landasan imperialisme global.

Di dalam artikel yang diberi judul “Ideologi Politik Islam” tersebut, Hadratussyekh melihat sisi historisitas Rasulullah Saw sebagai sosok manusia yang bertulang dan berdaging. Bukan sosok yang datang dengan tiba-tiba sakti. “… Sebelum Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah SWT, beliau suka bersunyi diri, berkhalwat ke gua atau gunung,” tulis Hadratussyekh. “Di tempat yang sunyi itu, beliau berharap mendapat jalan kebenaran. Sebagai orang besar, yang mempunyai rasa tanggung jawab atas kebaikan atau keburukan umatnya. Beliau memandang masyarakat Quraisy adalah masyarakat yang buruk dan jahat.”

Sebagai manusia, sejak muda Rasulullah Saw sudah memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Melakukan refleksi terhadap situasi sosial yang sedang terjadi di kota Mekah. Kota tempat berkumpulnya “kapital” dan pemberhalaan terhadap materi. Sehingga Allah yang sejatinya adalah Zat Adikodrati telah dikalahkan oleh kaum Quraisy melalui manifestasi-manifestasi pemberhalaan terhadap leluhur sebagaimana “Latta”, “Uzza”, dan “Manath” yang monumental disebutkan di dalam kitab suci Al-Quran.

Hadratussyekh melihat kasus tersebut secara jeli. Sehingga asumsi ideologi yang dilakukan oleh Rasulullah Saw sebagai manusia memiliki pandangan sendiri yang berbeda dan tidak populis. Rasulullah Saw memiliki akar pemikiran tersendiri untuk melakukan perubahan sosial. Terlepas, kemudian Beliau mendapat bimbingan wahyu secara normatif untuk melakukan perubahan sosial.

Bagi Hadratussyekh, “…Masyarakat hanya teruntuk bagi orang-orang besar dan orang-orang kaya. Orang-orang lemah, terutama para budak sama sekali tidak mempunyai daya apa-apa.” Dari aspek sosial telah terjadi ketimpangan sosial yang besar. Masyarakat tertindas akibat hegemoni kekuasaan yang melebihi batas. Bahkan, agama pun hanya dimiliki oleh pembesar-pembesar Quraish saja.

“…Mereka boleh diperlakukan oleh golongan yang kuat dengan sesuka-suka hatinya. Mereka tidak dianggap sebagai manusia, tetapi sebagai hewan sahaja. Perampasan hak orang lemah, dapat dilakukan oleh orang kuat dengan sesuka-sukanya, hingga penumpahan darah, pembunuhan di jalanan terhadap siapa saja yang dikehendaki. Hakim tidak ada lagi, kecuali pedang dan tombak.”

Dikatakan “agama” hanya milik segelintir orang secara tersirat dapat diartikan dari pernyataan Hadratussyekh berikut, “…Jabatan-jabatan itu, telah ditetapkan bagi golongan-golongan yang khusus turun menurun. Sedang rakyat umum tidak mempunyai hak politik apa-apa, dan tidak dapat memangku jabatan-jabatan pemerintah….” Golongan-golongan yang khusus turun temurun tersebut menjadi ideologi sekaligus agama di dalam pembenaran tindakan-tindakan kapitalisme Quraish saat itu.

Dan di dalam kerangka ideologis tersebut, Hadratussyekh mengartikan “Ideologi Islam” sebagai jalan alternatif untuk menggerakkan dan melakukan perubahan sosial. “Yang mula-mula dijalankan Nabi Muhammad SAW ialah penyiaran tauhid. Dan di samping itu, menanam semangat persaudaraan Islam, dengan tidak membeda-bedakan antara keturunan, pangkat, kekayaan dan kebangsaan.” Kerangka ideologi terbangun dari solidaritas persatuan (tauhid). Yang eksesnya tidak saja di dalam wujud mengesakan Allah dari berhala-berhala semata, melainkan juga “persaudaraan Islam”. Persaudaraan (the broterhood) yang kemudian melandasi “dasar kerakyatan yang besar”.

Dapat dibayangkan, jika kemudian paham keningratan diteguhkan sebagai alat legitimasi “agama” kaum Quraish di dalam kekuasaan, derajat keturunan, serta memperkuat kemusyrikan (menuhankan leluhur) untuk melindungi kepentingan-kepentingan di dalam memperkuda-kudakan rakyat. Dengan kata lain, agama kaum Quraish telah merampas segala pangkat, kekayaan, kenikmatan, dan kekuasaan terhadap keyakinan manusia.

Pihak pemimpin Quraisy yang berpegang teguh pada paham keningratan menentang dan menghalang-halangi penyiaran Islam. Mereka kuatir apabila maju dan tersiar, dan persaudaraan Islam merata dimana-mana, mereka tidak akan dapat berkuasa lagi, dan derajat mereka akan turun. Dan oleh karena itu, mereka terus menguatkan kemusyrikannya, sebab dengan kemusyrikan itu mereka dapat memperkuda-kudakan rakyat jelata dan memborong segala pangkat, kekayaan, kenikmatan dan kekuasaan di tangan mereka sendiri. Islam dipandang mereka sebagai bahaya besar yang akan merusak kehormatan, kekuasaan, pangkat dan kekayaan mereka.

Jalan Alternatif

Di Medinah, Rasulullah Saw menghadapi situasi sosial yang berbeda ketika agama-agama lain (Yahudi dan Nasrani) telah hadir dan turut meragamkan perbedaan. Persatuan di sini tidak dapat diartikan sebagai tauhid dalam artian internal umat Islam, melainkan dalam kerangka global dan universal, sebagaimana esensi “Islam” yang dipahami memiliki nilai historis (anti ketidakadilan) kemudian disebutkan di dalam Al-Quran sebagai agama para nabi. “Sedatang beliau, maka bertambah luaslah tersiarnya agama Islam, dan di samping itu, diaturlah pergaulan hidup mereka menurut ajaran-ajaran Islam. Soal pemerintahan ditetapkan, soal kehakiman, soal kepolisian dijalankan, hingga soal militer pun demikian pula dilakukan oleh beliau,” tulis Hadratussyekh.

Dengan demikian, persatuan ideologi “politik” Islam ditemukan di Medinah karena unsur-unsur kesamaan di dalam menilai dan berpendapat melalui nilai-nilai persaudaraan. Sehingga persoalan-persoalan dapat dipikul secara bersama-sama dan bergotong royong.

Nilai-nilai tersebut diangkat ke dalam lembaran statuta dan kebersamaan pandangan (world view). Rasulullah Saw tidak berjalan sendiri dengan ide-idenya. “… itu tidaklah berarti bahwa beliau memutusi segala hal dengan semau-maunya sendiri dengan tidak mendengarkan fikiran orang lain. Di dalam hal-hal yang penting beliau seringkali bertanya pikiran sahabat-sahabat yang ahli dan berfikiran dalam dan berpemandangan luas.”

Nilai-nilai universal manusia secara historis tersebut kemudian langgeng di masa-masa sesudah Rasulullah Saw. Setidaknya, ada tiga hal pokok yang disebutkan oleh Hadratussyekh; Menetapkan hak yang sama bagi sekalian Muslimin; Memecahkan kepentingan rakyat dengan jalan musyawarah; dan, Menetapkan keadilan.

Dengan demikian, pandangan Hadratussyekh tersebut tidak bisa terlepas dari pandangan manusia yang historis. Pandangan dalam artian manusia biasa dan wajar. Bagi Hadratussyekh, syariat di dalam artian ideologi Islam dapat dipahami sebagai, “… ternyata, bahwa syariat Islam tidak dapat berjalan dengan sempurna, apabila kepentingan umat Islam berjalan sendiri-sendiri lepas dari ikatan yang tentu-tentu.” Ikatan-ikatan yang bisa dipahami sebagai kerangka referensial (al-ithar al-marji’i) manusiawi yang berupa persaudaraan, musyawarah, dan keadilan sosial sebagai jalan alternatif. Wallahu a’lam.

Trenggalek, 8.39, 31 Maret 2019.

Rujukan :

======================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *