Adalah watak Rajapatni Gayatri yang agung, sehingga mereka menjelma pemimpin besar sedunia, yang tiada tandingannya. Putri, menantu, dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi semua tindak tanduk mereka (Negarakrtagama, Pupuh 48)

foto koleksi Asean Haritage. gayatrimedia.co.id

Resi Wanayasa baru saja selesai membacakan Weda kepada Gayatri. Pelataran bebukitan dan pepohonan jati menutupi hamparan Boyolangu.

Keraguan menapaki wajahnya di bawah mendung pagi yang pekat.

Resi Wanayasa memandang penuh kasih. “Sudahkah kau buka hadiah dari Ayahandamu?” tanyanya kepada Gayatri.

“Belum ada minat membukanya, Bapa.”

“Kenapa? Apakah kau tak suka hadiah?”

Gayatri tak menjawab.

“Dirimu akan segera menjadi Ratu Kencana, Gayatri. Bapa sudah renta dan telah memberikan banyak pelajaran padamu.”

“Saya tetap akan berbakti pada Bapa.”

Resi Wanayasa meneracak pandangannya ke puncak bunga-bunga pohon Jati.

“Tapi, Kakang Wijaya tak pernah menjengukku,” jawab Gayatri setengah bergumam.

“Salahmu sendiri. Acap kali ia kemari, dirimu tak pernah mau menyambutnya. Sementara dirimu lebih sukha bermain bersama para candala.”

“Candala-candala itu juga manusia, Bapa,” sergah Gayatri. “Mereka juga manusia seperti kita.”

“Bapa tak bisa menjelaskan, Gayatri. Kalian berdua sama-sama seperti samudera. Pengetahuan kalian bagai samudera yang Bapa sendiri tak sanggup mengarunginya.”

“Bapa jauh lebih tahu dari Gayatri. Gayatri bukan apa-apa. Sejak kecil, Gayatri selalu berbakti kepada Bapa seolah Gayatri tak mengenal Ayahanda sendiri.”

Resi Wanayasa menghempas napasnya yang tiba-tiba memberat. Mata yang waskita itu perlahan berkaca.

“Kenapa, Bapa? Adakah ucapan Gayatri yang salah?”

“Karena dirimu tak mengenal ayahmu sendiri, maka dirimu akan sulit mengenal Wijaya.”

“Wijaya lelaki pujaan Dewata, Bapa. Gagah. Pria berbakti kepada para resi dan negeri. Saya mengenal baik dirinya, Bapa.”

Resi Wanayasa menggeleng-gelengkan kepala.

“Bukankah semua pria seperti itu, Bapa?”

Resi Wanayasa menarik napas dalam-dalam. “Dirimu telah lama tak pulang ke Singasari.”

“Maksud Bapa?”

Mata itu gelisah menatap langit. “Bapa melihat celeret merah di sebelah timur arah Singasari. Bapa khawatir telah terjadi sesuatu pada Singasari,” sahut Resi Wanayasa, tanpa berkedip.

Gayatri berubah kecut. “Bapa,” panggilnya dengan bibir yang menggigil.

“Fajar baru akan muncul, Gayatri. Itu tanda-tanda yang telah diberikan oleh leluhur. Bapa tidak bisa menjelaskannya kepadamu, tapi dirimu akan turut terlibat di dalamnya.”

“Jika itu kekhawatiran, Bapa, Gayatri tak bisa berkata-kata.”

“Wijaya akan kemari menjemputmu. Temui dia! Sudahi masa-masa bermainmu. Sudah saatnya panggilan leluhur menantimu.”

Tenggalek, 19.11, 1 April 2019.

======================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).


Categories: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *