Love is love – LGBT pride slogan against homosexual discrimination. Modern calligraphy on rainbow watercolor flag. gayatrimedia.co.id

Eskatologi-Teologi

Hari ini, 3 April 2019, Kesultanan Brunei Darussalam mulai menerapkan hukum rajam bagi pelaku-pelaku LGBT. Dan, telah mendapat respon pro dan kontra di dunia.

LGBT adalah akronim dari lesbian, gay, biseksual dan trans gender. Istilah ini muncul sejak tahun 1990an beserta varian-variannya. Karena, cakupannya akan lebih luas.

LGBT sudah menjadi bagian dari hidup manusia sejak pertama. Sisi dan sifat yang membedakan laki dan perempuan, maskulin dan feminin, adalah sisi dan sifat yang dimiliki oleh setiap manusia (tidak lelaki, tidak perempuan).

Hal demikian berlaku pula pada skala eskatologi-teologis. Bahwa Tuhan pun memiliki sifat baik dan buruk, sifat kuat dan lembut, maskulin dan feminin. Dimensi-dimensi demikian oleh sebagian pendapat dikatakan sebagai bangunan “konstruk sosial” yang disepakati, diperkuat, dan diperkokoh oleh lingkungan dan etika sosial. Pemilahan dalam konstruk tersebut jelas, yang mana lelaki dan yang mana perempuan. Sebagaimana digambarkan kemudian di dalam mitologi-mitologi agama seperti Dewa dan Dewi, dan seterusnya.

Istilah “penyimpangan-penyimpangan” pun muncul dari eskatologi demikian. Manusia yang tidak sepakat dengan tata aturan tersebut dianggap “menyimpang”. Pandangan menyimpang ini kemudian yang menjadi problem dunia. Di dalam psikologi dikenal dengan sebutan Patologi. Di dalam agama dikenal dengan sebutan sesat. Dan, lain sebagainya.

Problem Kesataraan

Problem LGBT dunia adalah kesetaraan. Sama-sama memiliki hak dan status, baik di muka hukum, negara, atau adat istiadat masyarakat. Namun, sejak dahulu hak dan status tersebut tidak didapat, kecuali belakangan mulai diperjuangkan oleh kau libertarian. Apalagi agama-agama besar tetap menolak akan kehadiran LGBT.

Norma masyarakat yang menganggap LGBT sebagai penyakit dan penyimpangan belum bisa menempatkan problem kesetaraan hak dan status bagi pelaku-pelaku LGBT. Mayoritas masyarakat masih tetap menolak.

Secara obyektif, LGBT merupakan fakta sejarah sebagaimana telah disebutkan di dalam kitab-kitab suci dan realitas sosial. LGBT memang secara sadar atau tidak merupakan fakta sosial. Di dalam Al-Quran, kisah Kaum Luth secara terang telah disebutkan.

Problem penyimpangan yang dilakukan oleh LGBT sama seperti problem-problem penyimpangan yang lain, seperti prostitusi. Prostitusi adalah problem manusia yang paling purba sejalan makhluk manusia ada.

Penanganan-penanganan problem memang menjadi hal yang pelik dan rumit. Pun, perlu penanganan secara arif dan berproses. Apalagi problem-problem tersebut bersifat material dan emosional yang selalu bertentangan.

Dalam pandangan muslim sebenarnya problem-problem hukum secara jelas telah menyebutkan: hukum terikat pada ruang dan waktu. Terikat dalam tata aturan negara dan warga negara. Semua melalui proses kesepakatan. Tanpa ada kesepakatan, hukum tidak bisa diterapkan secara positif.

Trenggalek, 18.02, 3 April 2019.

====================

M. Sakdillah (aithor, director, and culture activities).

Categories: Etika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *