Dangdut yang Dikenal

Kata dangdut bisa dinisbatkan pada akronim: gendang dan dut. Kata “dut” diambil dari nama petikan tali gambus atau gitar yang berbunyi dut. Oleh sebab itu, bukan dinamakan dangdut bila tidak ada dua unsur alat musik tersebut: gendang dan gambus/gitar. Seseorang akan mengenal dangdut dengan baik bila mendengar pukulan gendang dan petikan gambus/gitar.

Dangdut yang kemudian dikenal sebagai musik, irama musik, dan grup musik memiliki ketukan yang sederhana. Tidak banyak intro dan improvisasi. Iramanya sederhana, cukup hanya untuk menggerakkan anggota tubuh.

Selain dua unsur alat musik tersebut, yang utama dari dangdut adalah pantun. Dangdut tidak bisa terlepas dari unsur utama pantun-pantun ini sebagai lirik.

Dengan demikian, tiga unsur atau komponen adalah pembentuk munculnya dangdut.

Rhoma Bukan yang Pertama

Melihat dangdut tidak serta merta menunjuk H Rhoma Irama sebagai pelopor dangdut itu sendiri. Dangdut hanya sebuah pilihan bagi H Rhoma di dalam menuangkan gagasan-gagasan dan rasa seninya.

Sebagaimana unsur utama dangdut adalah pantun-pantun, maka akar sejarahnya dapat ditarik lebih jauh ke belakang. Sejak kapan pantun dikenal di masyarakat Nusantara.

Dilihat dari ragamnya, pantun bukanlah satu-satunya model puisi yang ada di Nusantara. Ada banyak ragam, seperti mantra-mantra yang digunakan oleh para pawang. Namun pada dasarnya, unsur utama pantun tersebut menjadi salah satu pilihan bagi perpuisian di Nusantara. Mengingat rimanya yang konstan.

Dari perpuisian sebenarnya bahasa jiwa menjadi sangat bebas untuk dimaknai. Entah, dengan sebutan komunikasi atau sekadar gumaman belaka.

Dilihat dari unsur utama tersebut, dangdut sebenarnya pula telah memiliki akar sejarah yang panjang sejak kehadiran manusia Nusantara. Manusia Nusantara mengejawantahkan berbagai ragam dan varian di dalam ekspresi perpuisian mereka yang kemudian dimusikalisasikan melalui berbagai ragam dan varian bentuk pula. Sebagaimana ada era Melayu, era Kolonial, modern, dan ragam lokalitas.
Ragam musik Melayu yang kemudian dikenal sebagai orkes Melayu menjadi dangdut spesial dan esensial. Ia menghadapi tantangan besar dari ragam musik yang besar, terutama di era Kolonial yang mengenalkan unsur musik dari Eropa.

Tantangan terbesar adalah dari musik rock yang memiliki akar berbeda dari orkes Melayu. Tantangan tersebut disambut oleh H Rhoma Irama dengan memodernisasikan orkes Melayu/dangdut. Pada lirik-liriknya, H Rhoma mengambil unsur-unsur perpuisian bersajak soneta. Satu rangkaian irama yang datang dari Eropa. Di sini kemudian, unsur rock-dut menjadi ciri khas permusikan H Rhoma Irama.

H Rhoma Irama dikenal sebagai pembaharu dangdut dengan memasukkan unsur Soneta ke dalam lagu-lagunya. Ia telah mencapai masa puncak kejayaannya hingga dikenal sebagai Raja Dangdut dengan jumlah penggemar fanatik yang cukup tinggi.

Namun demikian, bukan berarti ia satu-satunya the Legend di blantika permusikan dangdut Indonesia. Nama Rofiqoh cukup legendaris sebelum H. Rhoma Irama dikenal.

Kaum Santri yang Tersingkir

Kebudayaan Eropa telah mencapai puncak rasionalitas terhadap berkesenian mereka. Slogan the art for the art, seni untuk seni, adalah esensi pembebasan untuk jiwa-jiwa berkesenian. Seni adalah netral, natural, dan universal. Seni tidak untuk siapa dan dari siapa.

Hal demikian berbeda dengan pandangan timur yang menempatkan subyektivitas di dalam cara sikap dan pandangan. Seni mesti ada kepentingannya. Jiwa berkesenian orang timur masih memandang seni itu dari dan untuk siapa diciptakan.

Sebelum kedatangan “pandangan universalitas seni”, kesenian merupakan sarana komunikasi secara umum kepada kekuatan di luar manusia. Sebagaimana kekuatan mantra seorang pawang untuk menundukkan kawanan lebah, buaya, dan rasa takut lainnya. Seni adalah alat komunikasi permohonan atau doa.

Kesenian menjadi salah satu media dakwah yang digunakan oleh kaum-kaum terpelajar. Menjadi bagian dari ritual keagamaan ketika melakukan ritus-ritus tertentu seperti membaca riwayat Nabi atau tokoh-tokoh panutan. Memang ada kepentingan subyektif di dalamnya.

Orkes Melayu yang mendasarkan pada unsur pantun dan sajak dapat dilihat dari pantun-pantun Hamzah Fansuri, Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji, dan sebagainya. Ada sisipan komunikasi permohonan dan doa di dalamnya.

Namun belakangan, seni untuk seni telah mengabaikan unsur subyektif pada dangdut. Dangdut dianggap tidak memiliki “kesan-kesan” dan pesan yang bersifat sakral. Kebebasan menjadi mutlak. Dan tidak jarang, berhenti pada darah dan daging manusia. Eksploitasi tubuh menjadi salah satu komoditas sebagai barang dagangan. Tidak menyentuh pada esensinya.

Trenggalek, 18.56, 4 April 2019.

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Musik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *