Manusia tidak dapat dipisahkan dari air. Air adalah sumber kehidupan. Para filosof awal, mereka berpikir tentang eksistensi dan esensi yang berkaitan dengan empat unsur alam: air, api, udara, dan tanah.

Keberadaan sungai menjadi sangat vital di dalam sejarah peradaan. Di sungai, transaksi ekonomi, hukum, dan politik berjalan.

Di sungai-sungai besar di Nusantara, sungai menjadi pusat peradaban yang vital. Pasar Apung yang masih ada di Kalimantan merupakan contoh nyata jika sungai memiliki peranan tersebut. Maka, tidak asing, jika sungai perlu menjadi perhatian serius di dalam merekonstruksi sejarah.

Dua sungai di Irak, Euphrat dan Tigris, menjadi pusat peradaban pada masanya. Begitu pula, sungai di Sisilia.

Nusantara memiliki kekayaan sungai di setiap pulaunya. Adat perilaku masyarakat tradisional mengenal kata “ikan mudik” sebagai petanda musim ikan bertelur di hulu sungai. Hal ini memberi sumbangan ekonomis tersendiri bagi masyarakat di bantaran sungai.

Di kota Kediri terdapat daerah yang dikenal dengan sebutan Bandar. Bandar tersebut menjadi pusat perdagangan sebelum jalan darat muncul. Sultan Badaruddin II ketika melawan Belanda berakhir di muara sungai. Benteng J.P. Coen yang dialiri oleh sungai Ciliwung sempat menjadi sarana Sultan Agung untuk menebar racun untuk membunuh prajurit-prajurit Kompeni. Dan, masih banyak kasus-kasus sejarah yang terjadi di sungai-sungai lainnya.

Demikian, merekonstruksi pemikiran sejarah melalui jalur sungai menjadi penting untuk mengungkap sejarah masa lalu yang masih gelap agar kesalahan di dalam pengungkapan sejarah secara text book dapat dihindari.

Trenggalek, 14.44, 6 April 2019.

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Esai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *