The Lady of Cairo

Namanya cukup dikenal du berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia sejak era tahun ’40an. Suaranya yang merdu mampu menembus kisi-kisi tembok orang-orang kaya, meski dirinya berangkat dari kebersahajaan orang desa. Nuansa lagi-lagunya memiliki ciri khas Mesir-Arab pedalaman, Badui. Mengingatkan pada suasana asli bagi bangsanya.

Ummu Kulthum terlahir pada 4 Mei 1904 (?) di Tummāy al-Zahāyrah, Mesir. Meninggal dunia pada 3 Februari 1975 di Kairo. penyanyi Mesir yang memukau penonton Arab dari Teluk Persia ke Maroko selama setengah tahun. abad. Dia adalah salah satu penyanyi Arab dengan kepribadian publik paling terkenal di abad ke-20.

Ayahnya seorang marbot mesjid dan pemimpin ritual-ritual tradisi agama. Suaranya yang bagus dalam melantunkan ayat-ayat Al-Quran telah mewaris kepada puterinya. Ummu Kulthum belajar menyanyi kepada ayahnya.

Karakter kuat tumbuh dari lagu-lagu Ummu Kulthum. Sejak muda, ia membangun audiens yang mengakar di masyarakat. Ia mengenakan celana panjang seperti lelaki guna memudahkan komunikasinya di atas panggung. Ummu Kulthum menjadi bintang di keluarganya.

Pada tahun 1923, keluarga Ummu Kulthum pindah ke Kairo. Kota Kairo kala itu dikenal sebagai pusat pertumbuhan modernitas di kawasan Timur Tengah. Kehidupan di Kairo yang glamour telah memandang rendah Ummu Kulthum yang berkpribadian pelosok pedalaman. Ia diacuhkan.

Namun, berkat kegigihannya, ia mampu beradapatasi dengan lingkungan baru itu. Dari salon ke salon. Dari panggung teater ke panggung teater lainnya, ia mengelobarasikan diri kepada kalangan menengah ke atas. Ummu Kulthum belajar musik dan puisi kepada pemain dan sastrawan-sastrawan terkenal. Mengasah kemampuan dasarnya hingga menemukan karakternya.

Pada tahun 1920an, Ummu Kulthum memulai rekaman. Lagu-lagunya menembus meja-meja makan di setiap rumah. Menjadi menu dan sajian di pagi hari. Karirnya cepat melejit hingga merambah radio-radio, film, dan acara-acara televisi. Pada tahun 1936, Ummu Kulthum memerankan film perdananya, Wedad.

Sejak tahun 1937, Ummu Kulthum mulai mendedikasikan dirinya kepada musik pop dan meninggalkan lagu-lagu religi. Dia mengisi acara secara reguler setiap hari Kemis, malam akhir pekan di negara-negara Arab. Lagu-lagunya cenderung sederhana dengan bahasa sehari-hari masyarakat.

Bintang Timur

Ummu Kulthum memang seorang legendaris. Ia digelari Kawkab al-Sharq atau Bintang Timur. Memiliki nuansa religius, sentimental, dan nasionalistis. Di tengah-tengah kecamuk dua perang dunia, dan depresi hebat melanda revolusi Mesir tahun 1952, ia mendorong kepribadian sebagai orang Mesir patriotik dan muslim yang taat. Lagu-lagunya untuk mendukung kemerdekaan Mesir, Nashīd al-Jāmiʿah dan Saʾalu Qalbī. Pada tahun 1950, Ummu Kulthum menyanyikan lagu-lagu untuk mendukung pemimpin nasionalis Mesir, Gamal Abdel Nasser. Lagunya Wallāhi Zamān, Yā Silāḥī, diadopsi sebagai lagu kebangsaan Mesir dari tahun 1960 hingga 1979.

Demikian, Ummu Kulthum menjadi penyanyi terlaris di dunia Arab dan negara-negara berpenduduk muslim hingga beberapa dekade setelah kematiannya. Pada tahun 2001 pemerintah Mesir mendirikan Museum Kawkab al-Sharq di Cai untuk mengenang dirinya.

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Sumber:

https://www.britannica.com/biography/Umm-Kulthum-Egyptian-musician

albustanseeds.org/digital/kulthum/her-life/#.XKn80_4xXuo

Categories: Musik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *