Konsep Bhatara telah dikenal di dalam sistem kepercayaan manusia Jawa sejak masa kepercayaan Hindu-Buddha mulai berkembang. Kata Bhatara atau Awatara (Avatar) adalah jelmaan atau manisfestasi ilahiah ke dalam wujud nyata manusia. Wujud nyata tersebut digambarkan sebagai personifikasi (seseorang) dengan beragam simbol. Ada yang memegang ganitri, menunggang nandi, bertangan empat, dan sebagainya.

Lalu, siapakah Bhatara itu? Apakah dia Tuhan?

Bhatara juga biasa disematkan pada sebutan Dewa-dewa. Dewa Wisnu, Dewa Brahma, Dewa Syiwa, dan sebagainya. Mereka juga biasa disebut Bhatara Wisnu, Bhatara Brahma, Bhatara Syiwa, Bhatara Indera, dan sebagainya. Mereka berperilaku selayak manusia dengan kemewahan-kemewahan mereka. Di dalam kepercayaan Hindu sebetulnya mereka bukan Tuhan sebagaimana pemahaman awam. Mereka hanya manifestasi Tuhan yang memiliki tugas mengatur tatanan Mayapada.

Tuhan di sini bisa diartikan sebagai Yang Maha Adikodrati. Yang tak tampak dan tampak di luar penglihatan manusia awam. Tuhan bisa diartikan Ada dengan Sang Ada. Begitu pula, Yang Tiada dan Sang Tiada (Suwung). Tergantung pemahaman dan konsepsi yang dibangun oleh manusia. Di dalam Islam biasa dinyatakan sebagai wujuduhu ka ‘adamihi. Adanya seperti tiadanya, karena berada di luar nalar dan konsepsi manusia yang terbatas.

Kembali kepada Bhatara. Sebagaimana Bhatara diartikan sebagai jelmaan ilahiah (tuhan) ke dalam wujud nyata seperti manusia yang hidup dengan kemewahan-kemewahan mereka, maka mereka diartikan sebagai Tuhan yang mewujud. Yang bisa hadir kapan pun dan di mana pun.

Di dalam Islam, pengenalan Bhatara hanya bisa dijumpai di dalam tarekat. Karena, pemahaman terhadap Bhatara sama historisnya seperti pemahaman manusia terhadap yang diagungkan dan dianggap suci.

Di dalam tarekat, ada dikenal orang-orang suci dengan tingkat kesalehan mereka masing-masing. Mereka disebut sebagai mursyid atau guru. Orang yang memberi petunjuk jalan ilahiah bagi orang-orang yang memiliki kehendak (murid) menuju jalan ilahiah tersebut. Tentu, dengan latihan-latihan (riyadlah) ruhani sesuai petunjuk sang guru atau mursyid.

Posisi mursyid sebagai jembatan menuju kesemestaan ilahiah tersebut yang sama dimiliki oleh pemahaman penganut Hindu dan juga kemudian Buddha. Posisi orang suci dan dekat dengan Tuhan atau Allah di dalam sesembahan agama Islam. Mereka itu yang dikenal sebagai Bhatara. Orang-orang yang sudah mengenal dekat dengan Tuhannya dan mengisi dirinya dengan hiasan-hiasan (tahalli) kesemestaan ilahiah ke dalam diri mereka.

Bhatara bukan Tuhan itu sendiri melainkan orang yang sudah mampu mengisi dirinya dengan keilahian.

Istilah Hindu diperkenalkan oleh Presiden Soekarno, karena terlalu banyak ragam dan aliran keyakinan yang berkembang di masyarakat Jawa. Ragam dan aliran keyakinan tersebut, karena berasal dari Hindustan, maka disederhanakan dengan sebutan Hindu.

Banyaknya aliran di dalam agama Hindu sama banyaknya aliran tarekat di dalam Islam. Mereka punya karakter dan kepala sendiri-sendiri. Kepala-kepala itu yang kemudian dikenal sebagai mursyid atau Bhatara atau Dewa yang memiliki karakter dan kemewahan masing-masing. Karakter ekstrim atau bisa juga disebut Hindu garis keras di dalam agama Hindu adalah aliran Khrisna.

Lalu, bagaimana dengan Buddha? Sama saja. Buddha adalah manifestasi yang memiliki posisi sama dengan “Dewa” atau “Bhatara” tersebut.

Maka, tidak heran jika kemudian Syiwa (aliran Hindu terbesar di Jawa) dan Buddha Mahayana menemukan titik temunya di dalam pemahaman manusia Jawa, sebagaimana kutipan kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular Pupuh 139, bait 5 yang berbunyi seperti di bawah ini:
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa. Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen? Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Artinya,
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Perbedaan-perbedaan tersebut bukan saja diartikan sebagai perbedaan ragam suku yang ada, tetapi yang lebih esensial dan substantif adalah perbedaan yang muncul dari keragaman aliran dan pemahaman konsepsi manusia terhadap Tuhannya.

Jika sedikit ingin berapologi, kenapa Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah bisa membumi di Nusantara? Maka, jawabnya adalah karena ada kemiripan pola, sistematika kepercayaan, dan posisi manusia dan Tuhan antara Ahlus Sunnah wal Jamaah, Syiwa Sidhanta, dan Buddha Mahayana. Keragaman yang dianut oleh mayoritas.

Trenggalek, 18 April 2019.

===========================

M. Sakdillah (author, director, and culture activities).

Categories: Followers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.